2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

3 Negara Teluk Dukung Saudi Tolak Laporan Kematian Khashoggi

3 Negara Teluk Dukung Saudi Tolak Laporan Kematian Khashoggi

Fiqhislam.com - Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) mendukung Arab Saudi yang menolak laporan CIA tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Langkah itu dilakukan sehari setelah CIA merilis laporan tidak rahasia yang menyatakan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman terlibat dalam pembunuhan Khashoggi pada 2018 di Istanbul.

Laporan itu menyimpulkan bahwa MBS menyetujui untuk menangkap atau membunuh Khashoggi, karena dianggap sebagai ancaman bagi kerajaan. Laporan itu juga menyebutkan bahwa MBS setuju untuk menggunakan tindakan kekerasan terhadap Khashoggi.

Kementerian Luar Negeri Saudi mengeluarkan pernyataan yang menolak laporan itu. Kementerian Luar Negeri Saudi menggambarkan laporan itu adalah "negatif, salah dan tidak dapat diterima". Mereka menambahkan bahwa, laporan itu berisi "informasi dan kesimpulan yang tidak akurat".

Dilansir Middle East Monitor, Selasa (2/3), Kementerian Luar Negeri Bahrain mendukung penolakan Saudi atas laporan tersebut. Hal ini menunjukkan "peran sentral" yang dimainkan oleh Arab Saudi dalam masalah regional dan internasional.

Sementara, Kementerian Luar Negeri Kuwait memuji peran kerajaan dalam memerangi "kekerasan dan ekstremisme serta dukungannya untuk keamanan dan stabilitas di kawasan dan di seluruh dunia". UEA juga membela Saudi. Dalam pernyataannya, UEA mengungkapkan kepercayaan pada pengadilan kerajaan dan "komitmennya untuk menegakkan hukum secara transparan dan tidak memihak, dan meminta pertanggungjawaban semua yang terlibat dalam kasus ini".

Kepala Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Yousef bin Ahmad Al-Othaimeen, juga menyuarakan dukungan atas pernyataan Saudi tersebut. Menurut laporan Kantor Berita Saudi SPA, Al-Othaimeen mengatakan dia menolak "pemotongan tidak akurat yang dikutip dalam laporan itu, yang tidak memiliki bukti." Al-Othaimeen mengatakan, dia mendukung semua tindakan peradilan yang telah diambil terhadap para pelaku kejahatan dan terhadap putusan yang telah dijatuhkan.

Khashoggi dibunuh ketika dia mengunjungi konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018. Jasad Khashoggi dimutilasi dan hingga kini tidak ditemukan. Mantan Presiden AS Donald Trump secara konsisten berusaha melindungi pemimpin Saudi dari dampak di tengah protes bipartisan yang meluas dengan memblokir rilis laporan CIA. [yy/republika]

 

3 Negara Teluk Dukung Saudi Tolak Laporan Kematian Khashoggi

Fiqhislam.com - Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) mendukung Arab Saudi yang menolak laporan CIA tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Langkah itu dilakukan sehari setelah CIA merilis laporan tidak rahasia yang menyatakan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman terlibat dalam pembunuhan Khashoggi pada 2018 di Istanbul.

Laporan itu menyimpulkan bahwa MBS menyetujui untuk menangkap atau membunuh Khashoggi, karena dianggap sebagai ancaman bagi kerajaan. Laporan itu juga menyebutkan bahwa MBS setuju untuk menggunakan tindakan kekerasan terhadap Khashoggi.

Kementerian Luar Negeri Saudi mengeluarkan pernyataan yang menolak laporan itu. Kementerian Luar Negeri Saudi menggambarkan laporan itu adalah "negatif, salah dan tidak dapat diterima". Mereka menambahkan bahwa, laporan itu berisi "informasi dan kesimpulan yang tidak akurat".

Dilansir Middle East Monitor, Selasa (2/3), Kementerian Luar Negeri Bahrain mendukung penolakan Saudi atas laporan tersebut. Hal ini menunjukkan "peran sentral" yang dimainkan oleh Arab Saudi dalam masalah regional dan internasional.

Sementara, Kementerian Luar Negeri Kuwait memuji peran kerajaan dalam memerangi "kekerasan dan ekstremisme serta dukungannya untuk keamanan dan stabilitas di kawasan dan di seluruh dunia". UEA juga membela Saudi. Dalam pernyataannya, UEA mengungkapkan kepercayaan pada pengadilan kerajaan dan "komitmennya untuk menegakkan hukum secara transparan dan tidak memihak, dan meminta pertanggungjawaban semua yang terlibat dalam kasus ini".

Kepala Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Yousef bin Ahmad Al-Othaimeen, juga menyuarakan dukungan atas pernyataan Saudi tersebut. Menurut laporan Kantor Berita Saudi SPA, Al-Othaimeen mengatakan dia menolak "pemotongan tidak akurat yang dikutip dalam laporan itu, yang tidak memiliki bukti." Al-Othaimeen mengatakan, dia mendukung semua tindakan peradilan yang telah diambil terhadap para pelaku kejahatan dan terhadap putusan yang telah dijatuhkan.

Khashoggi dibunuh ketika dia mengunjungi konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018. Jasad Khashoggi dimutilasi dan hingga kini tidak ditemukan. Mantan Presiden AS Donald Trump secara konsisten berusaha melindungi pemimpin Saudi dari dampak di tengah protes bipartisan yang meluas dengan memblokir rilis laporan CIA. [yy/republika]

 

AS tak Beri Bukti Kuat

Saudi: AS tak Beri Bukti Kuat MBS Otak Pembunuhan Khashoggi


Fiqhislam.com - Arab Saudi menilai laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang menyebut Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mendalangi pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi, tidak memberikan bukti kuat.

"Laporan itu didasarkan pada 'bisa', 'harus', dan 'akan' serta tidak membuktikan tuduhan (Pangeran MBS mendalangi pembunuhan Khashoggi) itu tanpa keraguan," kata Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdallah Al-Mouallimi melalui akun Twitter pribadinya, dikutip laman Al Arabiya, Selasa (2/3).

Menurut dia, Pangeran MBS telah menjalankan kewajibannya sehubungan dengan kasus pembunuhan Khashoggi. "Pangeran dengan berani menerima tanggung jawab moral, menyerahkan tertuduh ke sistem peradilan, dan berjanji mereformasi organisasi intelijen. Kasus ditutup!" ujar Al-Mouallimi.

Kantor Direktur Intelijen AS telah menerbitkan laporan empat halaman tentang pembunuhan Khashoggi pada 26 Februari lalu. Dalam laporannya, mereka menyimpulkan Pangeran MBS bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

"Kami menilai bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyetujui operasi di Istanbul, Turki untuk menangkap atau membunuh jurnalis Saudi Jamal Khashoggi," katanya.

Badan intelijen AS mendasarkan penilaiannya pada kendali Pangeran MBS atas pengambilan keputusan, keterlibatan langsung salah satu penasihat utamanya dan detail perlindungannya sendiri, serta dukungannya menggunakan tindakan kekerasan untuk membungkam para pembangkang di luar negeri, termasuk Khashoggi.

"Sejak 2017, Putra Mahkota memiliki kendali mutlak atas organisasi keamanan dan intelijen Kerajaan, sehingga sangat tidak mungkin pejabat Saudi akan melakukan operasi seperti ini tanpa izin (dia)," katanya.

Presiden Joe Biden merestui penerbitan laporan tersebut. Dia mengubah kebijakan mantan presiden Donald Trump yang menolak merilis laporan terkait pada masa jabatannya.

"Laporan ini telah disimpan di sana, pemerintahan terakhir bahkan tidak akan merilisnya. Kami segera, ketika saya masuk, mengajukan laporan, membacanya, mendapatkannya, dan merilisnya hari ini. Dan sungguh keterlaluan apa yang terjadi," kata Biden di jaringan berbahasa Spanyol, Univision.

Khashoggi dibunuh di gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018. Setelah tewas, tubuh Khashoggi dilaporkan dimutilasi. Hingga kini potongan jasadnya belum ditemukan. Pangeran MBS segera terseret dalam kasus itu dan diduga menjadi dalangnya. Dugaan itu muncul karena keterlibatan Saud al-Qahtani dalam kasus tersebut. Dia diketahui merupakan tangan kanan Pangeran MBS. [yy/ihram]