22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Mengapa Joe Biden tak Juga Hubungi Netanyahu?

Mengapa Joe Biden tak Juga Hubungi Netanyahu?

Fiqhislam.com - Sejak dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari lalu, Joe Biden belum juga menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Padahal, Israel merupakan sekutu dekat AS di Timur Tengah.

Gedung Putih menyatakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan "segera" melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun Gedung Putih belum merinci lebih jauh kapan panggilan telepon tersebut akan dilakukan.

Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan, Biden berharap dapat melakukan pembicaraan dengan Netanyahu untuk pertama kalinya sejak dia resmi dilantik sebagai presiden, Namun Psaki tidak membeberkan lebih jauh kapan panggilan telepon itu akan dilakukan.
"Dia jelas seseorang yang memiliki hubungan lama dengannya, dan jelas ada hubungan penting yang dimiliki Amerika Serikat dengan Israel di bidang keamanan," kata Psaki seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (12/2).

Gedung Putih mengumumkan rencana panggilan telepon Biden kepada Netanyahu setelah duta besar Israel Danny Danon menyindir Biden melalui cicitannya di Twitter. Danon mengatakan, Biden telah melakukan panggilan telepon ke sejumlah negara sekutu, namun belum melakukan panggilan telepon dengan Israel.

"Joe Biden, Anda telah menelpon para pemimpin dunia dari Kanada, Meksiko, Inggris, India, Prancis, Jerman, Jepang, Australia, Korea Selatan, dan Rusia. Mungkin sekarang saatnya menelepon pemimpin Israel sebagai sekutu terdekat AS? Ini nomor telepon perdana menteri: 972-2-6705555," ujar Danon yang merupakan mantan duta besar Israel untuk PBB beberapa jam sebelum Biden berbicara dengan Presiden Cina Xi Jinping.

Netanyahu adalah sekutu dekat mantan Presiden Donald Trump. Di era pemerintahan Trump, AS telah membuat kebijakan yang kontroversial terekait Israel. Mulai dari memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, mengakui klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan, dan menjembatani normalisasi hubungan sejumlah negara Timur Tengah dengan Israel.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menarik kembali pengakuan pemerintahan Trump atas Dataran Tinggi Golan sebagai bagian dari Israel. Blinken mengatakan dalam sebuah wawancara di CNN pada Senin (8/2), dia tak mengamini Golan milik Israel. Hanya saja dia mengakui jika Golan merupakan daerah strategis untuk keamanan Israel. "Sebagai masalah praktis, kendali Golan dalam situasi tersebut menurut saya tetap penting bagi keamanan Israel," ujar Blinken.

Israel menguasai Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada 1967, dan menerapkan hukumnya di daerah itu pada 1981. Tidak ada negara selain AS yang mengakui kedaulatan Israel atas Golan.

Partai-partai sayap kanan yang ikut dalam pemilihan Knesset pada Maret lalu mengatakan, pernyataan Blinken tidak akan menghalangi mereka untuk mengembangkan Dataran Tinggi Golan. [yy/republika]

 

Tags: Biden | Netanyahu | Israel | ICC | Golan