15 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 18 Januari 2022

basmalah.png

BERITA INTERNASIONAL

Biden Cabut Dukungan untuk Arab Saudi | Houthi

Biden Cabut Dukungan untuk Arab Saudi | Houthi

Fiqhislam.com - Kelompok pemberontak Yaman yang didukung Iran , Houthi , menyambut baik rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk mengakhiri dukungan operasi ofensif di Yaman pimpinan Arab Saudi . Kelompok itu mengatakan keputusan tersebut adalah langkah untuk mengakhiri konflik yang panjang.

"Kami berharap ini akan menjadi awal dari keputusan untuk menghentikan perang di Yaman," kata pejabat politik senior Houthi Hamid Assem kepada AFP.

"Kami optimis tentang itu," imbuhnya.

"Pemerintahan Biden melihat bahwa perang di Yaman membawa biaya besar dan reputasi Amerika telah ternoda oleh pembunuhan rakyat Yaman," sambungnya seperti dikutip dari Al Araby, Sabtu (6/2/2021).

Assem mengatakan Biden telah membuat keputusan setelah menyadari tujuan perang tidak tercapai di negara yang telah terjerumus ke dalam apa yang digambarkan oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

"Kami tahu bahwa Amerika adalah orang yang melawan kami dan senjatanya adalah orang-orang yang membunuh kami dan menghancurkan segalanya di Yaman," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa koalisi yang dipimpin Arab Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melawan Houthi, diperintahkan oleh perintah Amerika.

Gedung Putih mengatakan pada hari Kamis bahwa Biden akan mengakhiri dukungannya untuk perang oleh sekutu Washington di Yaman, dalam pidato kebijakan luar negeri besar pertamanya.

Pernyataan itu kemudian dikonfirmasi oleh Biden. Presiden AS tersebut menjanjikan era baru setelah mengkritik sejumlah kebijakan luar negeri pendahulunya, Donald Trump. Biden menegaskan "Amerika kembali" di panggung global dalam pidato diplomatik pertamanya sebagai presiden.

Dalam pidatonya, Biden mengisyaratkan pendekatan agresif ke China dan Rusia, mendesak para pemimpin militer Myanmar menghentikan kudeta. Dia juga menyatakan diakhirinya dukungan AS untuk kampanye militer yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.

“Kepemimpinan Amerika harus menghadapi momen baru menguatnya otoritarianisme, termasuk ambisi China yang berkembang untuk menyaingi Amerika Serikat dan tekad Rusia untuk merusak dan mengganggu demokrasi kita. Kita harus menghadapi momen baru cepatnya tantangan global dari pandemi hingga krisis iklim serta proliferasi nuklir,” ungkap Biden.

Langkah itu membalikkan kebijakan mantan presiden Donald Trump dalam memberikan bantuan logistik dan menjual persenjataan canggih dalam jumlah besar, seperti bom berpemandu presisi, ke koalisi yang dipimpin Arab Saudi. [yy/sindonews]

 

Biden Cabut Dukungan untuk Arab Saudi | Houthi

Fiqhislam.com - Kelompok pemberontak Yaman yang didukung Iran , Houthi , menyambut baik rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk mengakhiri dukungan operasi ofensif di Yaman pimpinan Arab Saudi . Kelompok itu mengatakan keputusan tersebut adalah langkah untuk mengakhiri konflik yang panjang.

"Kami berharap ini akan menjadi awal dari keputusan untuk menghentikan perang di Yaman," kata pejabat politik senior Houthi Hamid Assem kepada AFP.

"Kami optimis tentang itu," imbuhnya.

"Pemerintahan Biden melihat bahwa perang di Yaman membawa biaya besar dan reputasi Amerika telah ternoda oleh pembunuhan rakyat Yaman," sambungnya seperti dikutip dari Al Araby, Sabtu (6/2/2021).

Assem mengatakan Biden telah membuat keputusan setelah menyadari tujuan perang tidak tercapai di negara yang telah terjerumus ke dalam apa yang digambarkan oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

"Kami tahu bahwa Amerika adalah orang yang melawan kami dan senjatanya adalah orang-orang yang membunuh kami dan menghancurkan segalanya di Yaman," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa koalisi yang dipimpin Arab Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melawan Houthi, diperintahkan oleh perintah Amerika.

Gedung Putih mengatakan pada hari Kamis bahwa Biden akan mengakhiri dukungannya untuk perang oleh sekutu Washington di Yaman, dalam pidato kebijakan luar negeri besar pertamanya.

Pernyataan itu kemudian dikonfirmasi oleh Biden. Presiden AS tersebut menjanjikan era baru setelah mengkritik sejumlah kebijakan luar negeri pendahulunya, Donald Trump. Biden menegaskan "Amerika kembali" di panggung global dalam pidato diplomatik pertamanya sebagai presiden.

Dalam pidatonya, Biden mengisyaratkan pendekatan agresif ke China dan Rusia, mendesak para pemimpin militer Myanmar menghentikan kudeta. Dia juga menyatakan diakhirinya dukungan AS untuk kampanye militer yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.

“Kepemimpinan Amerika harus menghadapi momen baru menguatnya otoritarianisme, termasuk ambisi China yang berkembang untuk menyaingi Amerika Serikat dan tekad Rusia untuk merusak dan mengganggu demokrasi kita. Kita harus menghadapi momen baru cepatnya tantangan global dari pandemi hingga krisis iklim serta proliferasi nuklir,” ungkap Biden.

Langkah itu membalikkan kebijakan mantan presiden Donald Trump dalam memberikan bantuan logistik dan menjual persenjataan canggih dalam jumlah besar, seperti bom berpemandu presisi, ke koalisi yang dipimpin Arab Saudi. [yy/sindonews]

 

Houthi Yaman

AS Berniat Cabut Sebutan Teroris untuk Gerakan Houthi Yaman


Fiqhislam.com - Amerika Serikat (AS) mengatakan pada Jumat (5/2/2021) bahwa pihaknya berniat mencabut sebutan teroris untuk gerakan Houthi Yaman sebagai tanggapan atas krisis kemanusiaan negara itu.

Pencabutan cap teroris itu, yang dikonfirmasi oleh seorang pejabat Departemen Luar Negeri, dilakukan sehari setelah Presiden Joe Biden mengumumkan penghentian dukungan AS untuk kampanye militer yang dipimpin Arab Saudi di Yaman, yang secara luas dipandang sebagai konflik proksi antara Arab Saudi dan Iran.

"Tindakan kami sepenuhnya karena konsekuensi kemanusiaan dari penyebutan teroris pada menit-menit terakhir dari pemerintahan sebelumnya. PBB dan organisasi kemanusiaan menjelaskan bahwa kampanye militer akan mempercepat krisis kemanusiaan terburuk di dunia," kata pejabat itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menggambarkan Yaman sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia, dengan 80 persen rakyatnya membutuhkan bantuan.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo memasukkan Houthi ke daftar hitam pada 19 Januari - sehari sebelum Biden menjabat.

Pemerintahan Trump mengecualikan kelompok bantuan, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Palang Merah, dan ekspor komoditas pertanian, obat-obatan, dan perangkat medis dari ketentuan yang terkait dengan Houthi tersebut. Tetapi, kalangan pejabat dan kelompok bantuan PBB mengatakan pengecualian ketentuan itu tidak cukup dan mereka menyerukan agar keputusan yang memasukkan Houthi ke daftar hitam dicabut.

Pejabat Departemen Luar Negeri menekankan bahwa tindakan itu tidak mencerminkan pandangan AS tentang Houthi dan "perilaku tercela" mereka.

Koalisi militer yang dipimpin Saudi melakukan intervensi di Yaman pada 2015, mendukung pasukan pemerintah yang memerangi Houthi - yang bersekutu dengan Iran.

Pejabat PBB berusaha menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian, saat negara itu juga menghadapi krisis ekonomi dan pandemi Covid-19.

Senator Demokrat Chris Murphy menyambut baik keputusan itu. "Penyebutan teroris itu ... menghentikan pengiriman makanan dan bantuan penting lainnya di Yaman dan mencegah negosiasi politik yang efektif," katanya melalui pernyataan. [yy/sinarharapan]

 

Tags: Arab Saudi | Houthi | Yaman | Iran