fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

UEA Ingin Normalisasi dengan Turki, Syaratnya Tidak Dukung Ikhwanul Muslimin

UEA Ingin Normalisasi dengan Turki, Syaratnya Tidak Dukung Ikhwanul Muslimin

Fiqhislam.com - Uni Emirat Arab (UEA) terbuka untuk kemungkinan normalisasi hubungan dengan Turki, seorang diplomat topnya mengatakan, demikian dikutip Middle East Eye (MEE). Menteri Negara Urusan Luar Negeri UEA, Anwar Gargash, mengatakan pada Ahad (10/01/2021) bahwa setiap kesepakatan normalisasi akan “menghormati kedaulatan bersama”. Tetapi pada saat yang sama, diplomat itu meminta Ankara untuk mundur dari posisinya sebagai “pendukung utama” Ikhwanul Muslimin.

“Kami tidak memiliki masalah dengan Turki, seperti masalah perbatasan atau masalah lainnya,” kata Gargash selama wawancara dengan Sky News Arabia. Ia menambahkan bahwa jika Turki memutuskan “dukungannya kepada Ikhwanul Muslimin”, Turki dapat “menyesuaikan kembali hubungannya dengan Arab”.

Anwar Gargash tidak menyebutkan peran saingan Abu Dhabi dan Ankara dalam perang proksi Libya atau ketidaksepakatan mereka tentang berbagai masalah regional, terutama di Suriah dan Iraq. Libya telah dilanda kekerasan sejak 2011 ketika pemberontakan yang didukung NATO menggulingkan penguasa lama Muammar Qadhafi.

Menyusul pemilihan yang disengketakan pada tahun 2014, negara itu telah terbagi antara administrasi yang bersaing, dengan GNA yang diakui PBB didukung oleh Turki, sementara UEA dan Mesir telah mendukung komandan militer timur Khalifa Haftar.

Seruan diplomatik juga datang setelah Dewan Kerjasama Teluk (GCC), di mana UEA adalah anggotanya, menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri perselisihan selama bertahun-tahun dengan Qatar, yang telah mendorong negara Teluk itu lebih dekat ke Ankara.

UEA, bersama dengan Arab Saudi, Bahrain dan Mesir, memulai blokade udara, laut dan darat terhadap Qatar pada Juni 2017 atas klaim bahwa Doha telah mendukung kelompok-kelompok Islam dan terlalu dekat dengan Iran – klaim yang dibantah oleh Qatar. Kuartet Negara Teluk awalnya menyusun daftar 13 permintaan yang harus dipenuhi Qatar, termasuk penutupan berita Al Jazeera, agar hubungan bisa dibangun kembali. Tapi pekan lalu negara-negara sepakat untuk mencabut sanksi tanpa Qatar memenuhi tuntutan awal.

Menyusul langkah tersebut, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani menekankan bahwa hubungan Doha dengan Iran dan Turki tidak akan terpengaruh oleh perjanjian rekonsiliasi.

Uni Emirat Arab (UEA) ada corong Amerika di Timur Tengah yang banyak mempengaruhi Saudi. Sementara Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam paling ditakuti rezim otoriter Timur Tengah.

“Hubungan bilateral terutama didorong oleh keputusan kedaulatan negara … [dan] kepentingan nasional,” katanya dalam wawancara dengan harian keuangan itu.

“Jadi tidak ada pengaruh pada hubungan kita dengan negara lain mana pun,” katanya. [yy/hidayatullah]