2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Karabakh, Kemenangan Besar Kebijakan Luar Negeri Turki 2020

Karabakh, Kemenangan Besar Kebijakan Luar Negeri Turki 2020

Fiqhislam.com - Dukungan yang tegas, konsisten, dan berorientasi pada solusi untuk Azerbaijan yang membebaskan Nagorno-Karabakh dari pendudukan Armenia, dan pembukaan koridor Nakhchivan adalah kemenangan terbesar bagi kebijakan Turki pada 2020.

Seperti dilansir kantor berita Anadolu, Ahad (31/12), pembukaan koridor tersebut merupakan awal dari era baru politik luar negeri Turki di kawasan yang membentang dari Kaukasus hingga Asia Tengah. Turki menerapkan kebijakan luar negeri proaktif di Mediterania Timur, Libya, Suriah, Irak, dan Kaukasus sambil memerangi virus Corona yang telah memengaruhi seluruh dunia pada 2020.

Di saat Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) Minsk Group tidak menghasilkan solusi apa pun untuk masalah Nagorno-Karabakh, meski ada resolusi PBB, justru upaya militer, politik, dan diplomatik Turki membuahkan hasil.
Perang Karabakh selama 44 hari, yang dimulai dengan pelanggaran perbatasan dan serangan oleh Armenia, kemudian berakhir dengan kemenangan Azerbaijan.

Pada akhir perang, koridor Nakhchivan-Azerbaijan yang telah menjadi impian Turki selama lebih dari seabad, kembali dibuka. Hal itu memulihkan hubungan darat Turki dengan negara-negara Turki di Asia Tengah.

Kemenangan Karabakh dianggap sebagai pencapaian terpenting kebijakan luar negeri Turki pada 2020. Turki kini juga fokus pada peningkatan bobot politik, militer, dan ekonominya di kawasan.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Aygun Attar, ketua Yayasan Kerja Sama dan Solidaritas Persahabatan Azerbaijan Turki (TADIV), menyatakan bahwa peristiwa terpenting yang menandai kebijakan luar negeri Turki pada 2020 adalah kebijakan Karabakh.

Dia mengatakan hal itu jangan hanya dinilai dalam konteks persaudaraan atau "satu bangsa dua negara" saja.

Kegagalan OSCE Minsk Group

Attar menekankan bahwa Rusia terus menyampaikan pesan bahwa negara itu adalah kekuatan dominan di wilayah Kaukasus Selatan, titik risiko geopolitik semakin tinggi. Namun dengan sikap yang gigih, Turki telah mengukir wilayah tersebut menggunakan campuran diplomasi dan kekuatan militer untuk mencapai hasil yang sukses.

Setelah kegagalan OSCE Minsk Group dalam konflik Karabakh, yang berlangsung lebih dari 30 tahun, Azerbaijan memanggil Turki ke meja perundingan.
"Konflik Karabakh menjadi bagian dari kebijakan luar negeri Turki. Turki ikut serta dalam proses tersebut sebagai aktor aktif selama periode perang 44 hari," ujar Attar.

Attar mengatakan sikap bijak Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mempercepat keberhasilan dan memimpin pembukaan "gerbang Eurasia di koridor Nakhchivan".

Dia juga mengatakan bahwa keberhasilan pembukaan koridor Nakhchivan akan memiliki efek yang bertahan lama pada "geopolitik Kaukasus Selatan, yang sangat penting untuk keberhasilan mimpi selama berabad-abad yang akan menjadi kenyataan".

Attar menyebut diplomasi dan dengan kebijakan luar negeri Turki yang berpusat pada Karabakh juga tercatat dalam sejarah sebagai kemenangan diplomatik bagi Turki dan Azerbaijan.

Dia menekankan bahwa undangan yang diberikan kepada Presiden Erdogan untuk menghadiri parade kemenangan Karabakh dan kehadirannya di sana dengan delegasi besar merupakan awal dari era baru di wilayah Kaukasus Selatan.
Dia mengatakan acara ini telah meninggalkan jejak abadi pada tahun 2020. [yy/republika]