23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Mantan Kepala Intelijen Saudi Pangeran Al Faisal Kecam Keikutsertaan Israel di KTT Keamanan Bahrain

Mantan Kepala Intelijen Saudi Pangeran Al Faisal Kecam Keikutsertaan Israel di KTT Keamanan Bahrain

Fiqhislam.com - Pangeran Arab Saudi Turki Al Faisal, Minggu (6/12/2020), mengecam keras keikutsetaan Israel dalam pertemuan tingkat tinggi keamanan IISS di Manama, Bahrain. Israel diwakili Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi dalam pertemuan yang digelar virtual itu.

Pria yang memimpin intelijen Saudi selama lebih dari 20 tahun serta pernah menjabat duta besar untuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris itu menyinggung soal kemerdekaan Palestina.

Dia menggambarkan Israel sebagai kekuatan penjajah Barat yang memenjarakan warga Palestina di kamp-kamp konsentrasi di bawah tuduhan pelanggaran keamanan. Warga Palestina, kata Al Faisal, dari semua kelompok, tua, muda, perempuan, dan laki-laki dibiarkan membusuk di penjara tanpa melalui proses hukum yang adil.

"Mereka menghancurkan rumah sesuka hati dan membunuh siapa pun yang mereka inginkan," kata Al Faisal, dikutip dari Associated Press.

Pangeran Turki Al Faisal dipandang sebagai tokoh senior yang bisa dianggap mendekati Raja Salman meskipun saat ini tidak memegang jabatan pemerintahan apa pun.

Pernyataan keras Pangeran Faisal ini disampaikan setelah dua negara tetangga, Uni Emirat Arab dan Bahrain menormalisasi hubungan dengan Israel.

Arab Saudi bersikeras, normalisasi hubungan dengan Israel hanya bisa dilakukan bersamaan dengan kesepakatan perdamaian abadi konflik Israel-Palestina melalui solusi dua negara.

Saudi berkali-kali menegaskan dukungan yang tak tergoyahkan terhadap Inisiatif Perdamaian Arab yang diteken negara-negara Arab pada 2002. Isinya, negara-negara Arab siap menormalisasi hubungan dengan negara Yahudi itu hanya jika kemerdekaan bangsa Palestina terwujud di wilayah yang direbut Israel pada 1967.

Sementara itu Ashkenazi menyampaikan penyesalan atas pernyataan Al Faisal. Dia menyebut pernyataan seperti itu tidak memiliki semangat untuk mengubah situasi di Timur Tengah.

“Saya tidak percaya mereka mencerminkan semangat dan perubahan yang terjadi di Timur Tengah,” katanya. [yy/inews]