27 Rabiul-Akhir 1443  |  Kamis 02 Desember 2021

basmalah.png

Raja Salman Sengaja Tidak Diberitahu soal Kunjungan Benjamin Netanyahu

Raja Salman Sengaja Tidak Diberitahu soal Kunjungan Benjamin Netanyahu

Fiqhislam.com - Raja Arab Saudi, Raja Salman, dilaporkan tidak diberitahu soal kunjungan rahasia Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Saudi minggu ini untuk melakukan pembicaraan dengan Putra Mahkota Mohammed Bin Salman.

Sumber Arab Saudi dan diplomat mengatakan Raja Salman sengaja tidak diinformasikan tentang kunjungan rahasian Benjamin Netanyahu, menurut laporan Reuters, 28 November 2020.

Meskipun Raja Salman memimpin pertemuan virtual KTT G20 akhir pekan lalu, desas-desus tentang kesehatannya yang menurun telah beredar sejak dia dirawat di rumah sakit musim panas ini.

Sebuah video bocor selama KTT G20 yang menunjukkan Mohammed bin Salman mengoreksi ingatan raja yang bingung, sebuah kebocoran yang menurut sumber disengaja.

Sumber Saudi dan seorang diplomat asing di Riyadh mengatakan pada Jumat, bahwa normalisasi Arab Saudi dengan Israel tidak akan terwujud selama Raja Salman masih hidup.

Times of Israel melaporkan analisis sumber pejabat senior Israel juga mengatakan hal serupa pada Kamis.

Raja Salman, 84 tahun, dilaporkan menentang normalisasi tanpa pembentukan negara Palestina, sementara putranya, penguasa de facto kerajaan, dianggap lebih terbuka untuk berhubungan dengan Israel.

Pertemuan Ahad kemarin juga dihadiri Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan kepala Mossad Israel, kata media Israel.

Pompeo, yang telah mencoba membujuk Arab Saudi untuk mengikuti jejak Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan dalam menormalisasi hubungan dengan Israel, menolak untuk mengkonfirmasi pertemuan tersebut. Tetapi para diplomat di wilayah tersebut mengatakan dubes AS secara pribadi telah mengkonfirmasi pertemuan itu berlangsung.

Benjamin Netanyahu menolak mengomentari pertemuan tersebut. Dia belum mengunjungi UEA dan Bahrain sejak hubungan formal dibentuk, dengan restu diam-diam dari Arab Saudi.

Ada pembicaraan terbatas tentang pertemuan itu di media sosial Saudi, tetapi beberapa tokoh oposisi mengecam kunjungan tersebut. Analis politik mengatakan penolakan Saudi atas pertemuan itu bisa menjadi cara untuk menilai keadaan di dalam negeri.

Arab Saudi, tempat kelahiran Islam, telah melunakkan sikap kerasnya terhadap Israel dalam beberapa tahun terakhir, tetapi mengisyaratkan belum siap untuk secara resmi menormalisasi hubungan, yang menurut para analis akan menjadi langkah sulit bagi Raja Salman dengan tidak adanya perdamaian Israel-Palestina.

"(Pertemuan dengan Netanyahu) bertujuan untuk menyoroti bahwa MBS (Mohammed bin Salman) lebih berkeinginan daripada ayahnya untuk mengambil langkah-langkah menuju normalisasi tanpa terlebih dahulu mencapai solusi dua negara," kata Neil Quilliam, Associate Fellow di lembaga think tank Chatham House.

Sumber senior Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Channel 12 Israel bahwa tidak akan ada kemajuan dalam normalisasi selama Raja Salman naik takhta.

"Israel memahami bahwa tidak akan ada terobosan dengan Saudi dalam waktu dekat karena Raja Salman mengambil sikap yang berlawanan tentang masalah normalisasi dengan Israel dengan putranya," kata laporan itu, seperti dikutip dari Times of Israel.

Pembicaraan yang belum pernah terjadi antara kedua pemimpin di kota Laut Merah Saudi, Neom, bersama dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, disebut-sebut membahas Iran dan normalisasi.

Seorang penasihat pemerintah Saudi mengkonfirmasi pertemuan dan perjalanan ke The Wall Street Journal, mengatakan bahwa pertemuan yang telah berlangsung beberapa jam itu berfokus pada Iran dan pembentukan hubungan diplomatik antara Riyadh dan Yerusalem, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan yang substansial.

Bocoran pertemuan Pangeran Mohammed dengan Netanyahu mungkin disengaja dari Israel, menurut Reuters, ketika sebuah jet eksekutif digunakan untuk penerbangan langsung dari Tel Aviv, yang dengan cepat terlihat pada pelacak penerbangan sipil, dan sensor Israel tidak berupaya untuk menghentikan laporan yang beredar tentang penerbangan itu.

Kebocoran itu memberi Netanyahu kesempatan untuk mempermalukan saingan politiknya, Menteri Pertahanan Benny Gantz, yang akan mengambil alih sebagai perdana menteri setahun dari sekarang di bawah perjanjian pembagian kekuasaan.

Upaya ini termasuk berita bahwa Netanyahu belum memberi tahu Gantz tentang penerbangan itu, yang pada dasarnya menyiratkan kepada para warga Israel bahwa politisi sentris itu tidak dapat dipercaya untuk merahasiakannya, menyusul spekulasi bahwa pemilihan awal sudah direncanakan.

Netanyahu telah mengakui bahwa dia juga merahasiakan Gantz tentang negosiasi rahasia dengan UEA yang mengarah pada normalisasi.

Benny Gantz menyebut kebocoran itu "tidak bertanggung jawab". Sementara Menteri Pendidikan Israel Yoav Gallant mengkonfirmasi perjalanan itu, menyebutnya "pencapaian luar biasa".

Namun, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan membantah bahwa Netanyahu atau pejabat lain dari Israel telah mengambil bagian dalam pertemuan dengan putra mahkota, yang disampaikan melalui cuitan Twitter beberapa jam setelah laporan mulai beredar.

Kantor Netanyahu belum mengomentari perjalanan dan pertemuan yang dilaporkan, tetapi perdana menteri tidak menyangkal bahwa pertemuan itu terjadi, sambil membuat pernyataan samar di awal pertemuan faksi mingguan Partai Likud pada hari Senin.

Channel 12 mengutip sumber-sumber Israel yang mengatakan bahwa Arab Saudi marah karena berita pertemuan itu bocor. Namun, situs berita Ynet mengutip dua pejabat yang terlibat dalam pembicaraan yang mengatakan putra mahkota Arab Saudi tidak keberatan dengan pertemuan yang dipublikasikan.

Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan telah mencapai kesepakatan untuk normalisasi hubungan dengan Israel dalam beberapa bulan terakhir, meskipun kesepakatan serupa dengan Arab Saudi sejauh ini masih di luar jangkauan. [yy/tempo]