30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Iran Sebut Berita Pembunuhan Tokoh Al-Qaeda di Teheran Rekayasa AS dan Israel

Iran Sebut Berita Pembunuhan Tokoh Al-Qaeda di Teheran Rekayasa AS dan Israel

Fiqhislam.com - Iran membantah laporan media asal AS, New York Times, yang menyebut tokoh al-Qaeda telah dibunuh secara diam-diam di Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengatakan, laporan itu hanya didasarkan pada informasi yang dibuat-buat.

Dia juga membantah keberadaan salah satu anggota kelompok itu di Iran. Khatibzadeh pun menuding dua musuh bebuyutan Iran, Amerika Serikat dan Israel, sebagai otak di balik rekayasa informasi tersebut.

“Keduanya (AS dan Israel) mencoba mengalihkan tanggung jawab atas tindakan kriminal (al-Qaeda) dan kelompok teroris lainnya di kawasan itu dan menghubungkan Iran dengan kelompok-kelompok tersebut dengan kebohongan dan dengan membocorkan informasi yang dibuat-buat ke media,” ungkap
Khatibzadeh dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP, Sabtu (14/11/2020). Khatibzadeh menuduh AS dan Israel telah menciptakan al-Qaeda melalui cara yang salah. Dia pun menyarankan media AS untuk tidak jatuh ke dalam perangkap “skenario Hollywood” yang dibuat oleh para pejabat Amerika dan zionis.

New York Times melaporkan pada Jumat (13/11/2020) waktu AS bahwa pimpinan al-Qaeda bernama Abdullah Ahmad Abdullah ditembak dan dibunuh di Teheran oleh dua operator Israel dengan sepeda motor atas perintah Washington DC. Abdullah didakwa di Amerika Serikat atas peristiwa pemboman kedutaan besar AS di Tanzania dan Kenya pada 1998.

Pemimpin senior al-Qaeda yang punya nama alias Abu Muhammad al-Masri itu dikabarkan tewas bersama putrinya, Miriam—yang juga janda dari putra Osama bin Laden, Hamzah—demikian laporan media AS itu mengutip sumber-sumber intelijen.

Washington DC menuduh Teheran menyembunyikan anggota al-Qaeda dan mengizinkan mereka melewati wilayah Iran pada 2016. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh para pejabat Iran pada saat itu.

“Meskipun Amerika pernah membuat tuduhan palsu terhadap Iran di masa lalu, pendekatan ini sudah menjadi rutinitas dalam pemerintahan AS saat ini,” kata Khatibzadeh.

Dia menuduh pemerintahan Presiden Donald Trump sedang mengejar agenda “Iranofobia” sebagai bagian dari perang ekonomi, intelijen, dan psikologis habis-habisan melawan Teheran. “Media seharusnya tidak menjadi pengeras suara untuk publikasi kebohongan Gedung Putih yang bertujuan melawan Iran,” ucapnya. [yy/iNews]

 

Iran Sebut Berita Pembunuhan Tokoh Al-Qaeda di Teheran Rekayasa AS dan Israel

Fiqhislam.com - Iran membantah laporan media asal AS, New York Times, yang menyebut tokoh al-Qaeda telah dibunuh secara diam-diam di Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengatakan, laporan itu hanya didasarkan pada informasi yang dibuat-buat.

Dia juga membantah keberadaan salah satu anggota kelompok itu di Iran. Khatibzadeh pun menuding dua musuh bebuyutan Iran, Amerika Serikat dan Israel, sebagai otak di balik rekayasa informasi tersebut.

“Keduanya (AS dan Israel) mencoba mengalihkan tanggung jawab atas tindakan kriminal (al-Qaeda) dan kelompok teroris lainnya di kawasan itu dan menghubungkan Iran dengan kelompok-kelompok tersebut dengan kebohongan dan dengan membocorkan informasi yang dibuat-buat ke media,” ungkap
Khatibzadeh dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP, Sabtu (14/11/2020). Khatibzadeh menuduh AS dan Israel telah menciptakan al-Qaeda melalui cara yang salah. Dia pun menyarankan media AS untuk tidak jatuh ke dalam perangkap “skenario Hollywood” yang dibuat oleh para pejabat Amerika dan zionis.

New York Times melaporkan pada Jumat (13/11/2020) waktu AS bahwa pimpinan al-Qaeda bernama Abdullah Ahmad Abdullah ditembak dan dibunuh di Teheran oleh dua operator Israel dengan sepeda motor atas perintah Washington DC. Abdullah didakwa di Amerika Serikat atas peristiwa pemboman kedutaan besar AS di Tanzania dan Kenya pada 1998.

Pemimpin senior al-Qaeda yang punya nama alias Abu Muhammad al-Masri itu dikabarkan tewas bersama putrinya, Miriam—yang juga janda dari putra Osama bin Laden, Hamzah—demikian laporan media AS itu mengutip sumber-sumber intelijen.

Washington DC menuduh Teheran menyembunyikan anggota al-Qaeda dan mengizinkan mereka melewati wilayah Iran pada 2016. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh para pejabat Iran pada saat itu.

“Meskipun Amerika pernah membuat tuduhan palsu terhadap Iran di masa lalu, pendekatan ini sudah menjadi rutinitas dalam pemerintahan AS saat ini,” kata Khatibzadeh.

Dia menuduh pemerintahan Presiden Donald Trump sedang mengejar agenda “Iranofobia” sebagai bagian dari perang ekonomi, intelijen, dan psikologis habis-habisan melawan Teheran. “Media seharusnya tidak menjadi pengeras suara untuk publikasi kebohongan Gedung Putih yang bertujuan melawan Iran,” ucapnya. [yy/iNews]

 

Agen Mossad Habisi Orang Nomor 2 al-Qaeda

Agen Mossad Habisi Orang Nomor 2 al-Qaeda di Teheran, Begini Versi Media Iran


Fiqhislam.com - Agen Mossad Israel dilaporkan melakukan operasi senyap yang menewaskan orang nomor dua al-Qaeda di area jalan di Teheran pada Agustus lalu. Media Iran membuat laporan dengan versi yang berbeda.

New York Times yang berbasis di Amerika Serikat (AS) melaporkan operasi senyap Israel atas permintaan Amerika telah menewaskan pemimpin nomor dua al-Qaeda Abdullah Ahmed Abdullah alias Abu Muhammad al-Masri, yang merupakan warga Mesir. Laporan yang mengutip para pejabat intelijen itu menyebutkan al-Masri dan putrinya; Maryam, yang merupakan janda putra Osama bin Laden, Hamza bin Laden, tewas pada 7 Agustus di area jalan Teheran oleh dua pembunuh dengan sepeda motor.

Operasi semacam itu mengingatkan kejadian serupa di Malaysia beberapa tahun lalu, ketika ilmuwan Hamas ditembak mati pria yang mengenderai sepeda motor.

Al-Masri selama ini diburu FBI atas tuduhan medalangi serangan mematikan dia dua kedutaan besar AS di Afrika, yakni di Kenya dan Tanzania, tahun 1998. Lebih dari 200 orang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam serangan tersebut.

FBI menawarkan hadiah USD10 juta yang mengarah pada penangkapan al-Masri. Sampai hari Jumat atau saat New York Times merilis laporannya, dia masih ada dalam daftar orang paling dicari FBI.

Namun, media Iran; Fars pada Sabtu (14/11/2020), mengklaim orang yang dibunuh adalah seorang profesor sejarah asal Lebanon yang diidentifikasi sebagai “Habib Daoud” dan putrinya, Maryam. Media tersebut tidak memperkuat laporan sosok yang dibunuh itu sebagai pemimpin nomor dua al-Qaeda. Bahkan, juga tidak disinggung tentang adanya operasi Mossad di balik kematian pria terebut bersama putrinya.

Teroris dan keturunannya itu dilaporkan diawasi secara ketat oleh intelijen Iran setelah pembebasan mereka, meskipun Iran mengklaim pada 2018 bahwa agen al-Qaeda yang muncul di negara itu ditangkap dan dikembalikan ke Afghanistan.

Iran menyatakan al-Qaeda tetap menjadi musuh bebuyutannya, dan kehadiran al-Masri di negara itu memicu pertanyaan yang belum dijelaskan rezim Teheran. [yy/sindonews]

 

Tags: Qaeda | Iran | Israel