30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Turki Siap Kirimkan Pasukan ke Azerbaijan | Dewan Rusia | Republik Artsakh

Turki Siap Kirimkan Pasukan ke Azerbaijan | Dewan Rusia | Republik Artsakh

Fiqhislam.com - Pemerintah Turki mengaku tidak akan ragu untuk mengirim tentara dan memberikan dukungan militernya buat Azerbaijan. Menurut Wakil Presiden Turki Fuat Oktay, Turki akan menerjunkan tentaranya ke Azerbaijan jika memang ada permintaan langsung dari Baku.

Seperti dilansir laman Al Arabiya, sebelumnya perdana menteri Armenia mengatakan, dia tidak melihat kemungkinan solusi diplomatik pada tahap ini dalam konflik Nagorno-Karabakh dengan Azerbaijan. Ia justru meminta warganya untuk menjadi sukarelawan dalam pertempuran.

Berbicara dalam sebuah wawancara dengan penyiar CNN Turk, Oktay juga mengkritik kelompok Minsk OSCE yang dinahkodai Prancis, Rusia dan Amerika Serikat. Dia mengatakan, kelompok itu berusaha untuk menjaga masalah tidak terselesaikan dan mendukung Armenia, baik secara politik maupun militer.

Armenia dan Azerbaijan yang bertetangga kembali terlibat dalam konflik bersenjata  di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh sejak 27 September.  Insiden itu menewaskan ratusan orang.

Wilayah sengketa Nagorno-Karabakh adalah daerah kantong etnis Armenia di Azerbaijan yang melepaskan diri dari kendali Baku dalam perang tahun 1990-an. Perang saat itu menewaskan sekitar 30 ribu orang. [yy/republika]

 

Turki Siap Kirimkan Pasukan ke Azerbaijan | Dewan Rusia | Republik Artsakh

Fiqhislam.com - Pemerintah Turki mengaku tidak akan ragu untuk mengirim tentara dan memberikan dukungan militernya buat Azerbaijan. Menurut Wakil Presiden Turki Fuat Oktay, Turki akan menerjunkan tentaranya ke Azerbaijan jika memang ada permintaan langsung dari Baku.

Seperti dilansir laman Al Arabiya, sebelumnya perdana menteri Armenia mengatakan, dia tidak melihat kemungkinan solusi diplomatik pada tahap ini dalam konflik Nagorno-Karabakh dengan Azerbaijan. Ia justru meminta warganya untuk menjadi sukarelawan dalam pertempuran.

Berbicara dalam sebuah wawancara dengan penyiar CNN Turk, Oktay juga mengkritik kelompok Minsk OSCE yang dinahkodai Prancis, Rusia dan Amerika Serikat. Dia mengatakan, kelompok itu berusaha untuk menjaga masalah tidak terselesaikan dan mendukung Armenia, baik secara politik maupun militer.

Armenia dan Azerbaijan yang bertetangga kembali terlibat dalam konflik bersenjata  di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh sejak 27 September.  Insiden itu menewaskan ratusan orang.

Wilayah sengketa Nagorno-Karabakh adalah daerah kantong etnis Armenia di Azerbaijan yang melepaskan diri dari kendali Baku dalam perang tahun 1990-an. Perang saat itu menewaskan sekitar 30 ribu orang. [yy/republika]

 

Dewan Rusia

Dewan Rusia: Jika Tentara Turki ke Armenia, Konflik Meluas


Fiqhislam.com - Anggota parlemen majelis tinggi Rusia Alexey Pushkov mengingatkan, jika Turki mengirim pasukan ke Nagorno-Karabakh atas permintaan Azerbaijan, maka konflik bakal meningkat. Skenario damai pi akan dikesampingkan.

Pernyataan Pushkov disampaikan merespons pernyataan wakil Presiden Turki yang siap mengirimkan pasukan militer jika Baku memintanya. "Wakil Presiden Turki Oktay menegaskan kesiapannya untuk mengirim pasukan Turki ke Karabakh jika diminta oleh Baku. Militer Turki di Karabakh? Ini akan mengarah pada perluasan dan internasionalisasi konflik dan mengesampingkan skenario damai. Belum lagi kebangkitan kembali hantu masa lalu," ujar Pushkov dalam cicitan di Twitter resminya, dikutip laman Sputnik, Kamis (22/10).

Pada Rabu (21/10), Wakil Presiden Turki Fuat Oktay mengatakan negaranya akan mengirim pasukan ke Nagorno-Karabakh jika permintaan seperti itu diterima dari Azerbaijan.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Armenia telah merilis rincian dari pertemuan Menteri Luar Negeri Zohrab Mnatsakanyan dan Menlu Rusia Sergei Lavrov yang diadakan di Moskow. "Sebagai kelanjutan dari percakapan telepon Presiden Rusia Vladimir Putin dengan para pemimpin Armenia dan Azerbaijan dan upaya yang dilakukan oleh mediasi Rusia untuk menghentikan permusuhan di zona konflik Nagorno Karabakh, pertemuan Menlu Armenia Zohrab Mnatsakanyan dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov diadakan di Moskow pada 21 Oktober," demikian pernyataan Kemenlu Armneia dilansir Armen Press, Kamis.

Menteri Mnatsakanyan menyatakan bahwa kesepakatan yang dicapai masih di atas kertas karena perilaku berbahaya Azerbaijan dan langkah-langkah yang bertujuan untuk mengacaukan situasi.

Armenia dan Azerbaijan kembali saling tuding melanggar gencatan senjata untuk kemanusiaan yang baru di medan pertempuran Nagorno-Karabakh, hanya beberapa jam setelah kesepakatan disepakati. Gencatan senjata tersebut disepakati pada Sabtu (17/10) tengah malam setelah gencatan senjata yang ditengahi Rusia untuk menghentikan pertempuran antara dua negara bertetangga itu di Kaukus Selatan pekan lalu gagal. [yy/republika]

 

Republik Artsakh

Armenia Minta Republik Artsakh Turut Perangi Azerbaijan


Fiqhislam.com - Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan meminta Republik Artsakh (Karabakh Atas) bergabung dengan negaranya memerangi Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh. Dia memandang rakyat Artsakh adalah bagian dari Armenia.

"Tidak ada Armenia tanpa Artsakh. Karenanya, melindungi hak-hak rakyat Artsakh berarti melindungi hak-hak rakyat Armenia," kata Pashinyan melalui akun Twitter pribadinya pada Rabu (21/10), dikutip laman Yeni Safak.

Dia pun mengisyaratkan seruan untuk berperang. "Hari ini berarti mengangkat senjata dan memperjuangkan hak-hak ini," ujar Pashinyan.

Artsakh adalah sebuah republik yang hingga kini belum mendapat pengakuan. Secara de jure, PBB mengakui wilayah Artsakh sebagai bagian dari Azerbaijan. Sementara secara de facto, wilayah dihuni dan dikendalikan etnis dan separatis Armenia.

Pekan lalu Pashinyan mengatakan negaranya telah menderita banyak korban dalam pertempuran dengan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh. Dia memberi penghormatan besar kepada mereka yang telah tewas. "Saya tunduk kepada semua korban kami, para martir, keluarga mereka, orang tua mereka dan terutama ibu mereka, dan saya menganggap kehilangan mereka adalah kehilangan saya, kehilangan pribadi saya, kehilangan keluarga saya," kata Pashinyan dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi pada 14 Oktober lalu, dikutip laman BBC.

Dia meminta segenap rakyatnya mengerti bahwa Armenia sedang menghadapi situasi sulit. "Ini bukan pernyataan putus asa atau kehilangan harapan. Saya memberikan informasi ini karena saya berkomitmen untuk mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat kita," katanya.

Pashinyan mengungkapkan, meski telah menderita cukup banyak korban dan kehilangan peralatan, pasukan Armena masih dalam terkendali. Menurut dia, serangan yang dilancarkan para tentaranya juga menyebabkan banyaknya korban pada pihak musuh, yakni Azerbaijan. "Kita harus menang, kita harus hidup, kita harus membangun sejarah kita, dan kita membangun sejarah kita, epik baru kita, pertempuran heroik baru kita," ujarnya.

Sejak 27 September lalu, Armenia dan Azerbaijan terlibat konflik di wilayah Nagorno-Karabakh yang dipersengketakan. Lebih dari 600 orang dilaporkan telah tewas selama pertempuran berlangsung. [yy/republika]