fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


25 Ramadhan 1442  |  Jumat 07 Mei 2021

Trump Samakan Covid-19 dengan Flu, Salahnya di Mana?

Trump Samakan Covid-19 dengan Flu, Salahnya di Mana?

Fiqhislam.com - Sejumlah dokter merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Twitter yang menyebut bahwa infeksi virus corona jenis baru (Coivd-19) tak ubahnya flu. Hal ini diyakini adalah cara yang buruk untuk mengatasi pandemi, bahkan situs media sosial tersebut sampai menandai cicitan Trump dengan peringatan.

"Bukan cuma pandangan yang buruk, membandingkan flu dengan Covid-19 juga tercela secara moral,” ujar Peter Chin-Hong, spesialis penyakit menular di University of California, San Francisco, dilansir Today, Rabu (7/10).

Sebelumnya, Trump mengatakan musim flu akan datang. Banyak orang mengalaminya setiap tahun, bahkan meskipun vaksin untuk penyakit ini telah ada sejak lama.

“Bahkan, ada yang meninggal karena flu. Tapi, apakah kita akan menutup negara kita? Tidak, kita telah belajar untuk hidup dengannya, sama seperti belajar hidup dengan Covid-19,” kata Trump dalam cicitannya di Twitter.

Beberapa jam kemudian, Twitter menandai cicitan tersebut dengan peringatan yang mengatakan bahwa ini melanggar peraturan karena menyebarkan informasi yang menyesatkan. Cicitan Trump pada Selasa (6/10) pagi itu seolah menunjukkan flu lebih mematikan daripada virus corona jenis baru.

Betulkah Covid-19 bisa disamakan dengan Covid-19? Statistik jelas menunjukkan kebalikannya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, pada musim flu lalu diperkirakan ada 38 juta kasus flu, termasuk 400 ribu pasien rawat inap dan 22 ribu kematian. Sementara itu, sepanjang tahun ini, ada 7,5 juta kasus Covid-19 dan 211 ribu kematian.

Faktanya, ada lebih banyak kematian akibat Covid-19 dalam waktu kurang dari satu tahun di AS daripada gabungan lima musim influenza terakhir. CDC memperkirakan sekitar 22 ribu orang meninggal akibat flu selama 2019-2020, di mana jumlah itu disebut mampu memenuhi salah satu lokasi keremaian di New York, yaitu Madison Square Garden.

Michael Saag, dekan untuk kesehatan global di University of Alabama, Birmingham, mengatakan bahwa ia sangat khawatir dengan jumlah kematian akibat Covid-19. Saag yang juga merupakan peneliti dan dokter dan telah merawat pasien dengan HIV/AIDS sejak 1980-an, mengatakan bahwa tidak ada yang lebih buruk dalam kariernya daripada merawat sejumlah besar orang yang kita tidak punya obatnya seperti saat pandemi ini.

"Gagasan untuk hanya belajar hidup dengannya bukanlah kebijakan atau strategi yang dapat diterima, menurut saya," jelas Saag.

Uji klinis vaksin Covid-19 masih berlangsung. Sebagian besar dari seluruh populasi di dunia saat ini tetap berisiko karena tidak ada kekebalan terhadap virus corona jenis baru, SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

Meski virus influenza berubah dari tahun ke tahun, masih banyak imunitas silang dari virus influenza sebelumnya, serta fakta bahwa jutaan dosis vaksin flu diberikan setiap tahun. Priya Sampathkumar, dokter penyakit menular dan kritis mengatakan, bahkan jika vaksin itu tidak cocok untuk jenis flu, itu tetap melindungi orang-orang 10 tahun dari sekarang.

Dokter spesialis perawatan di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota tersebut membayangkan, 10 tahun lagi, mungkin Covid-19 seperti flu. Itu jika kita memiliki vaksin dan mayoritas penduduk sudah kebal terhadap Covid-19. [yy/republika]