30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Erdogan Bertemu Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan Saleh al-Arouri

Erdogan Bertemu Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan Saleh al-Arouri

Fiqhislam.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan bertemu dengan kepemimpinan Hamas di Istanbul pada 22 Agustus lalu. Dua pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan tokoh nomor duanya, Saleh al-Arouri, yang ditunjuk sebagai teroris oleh AS dan akan diberi hadiah 5 juta dolar kepalanya itu turut menghadiri pertemuan tersebut.

Kepala Badan Intelijen Nasional Turki (MİT) Hakan Fidan, Direktur Komunikasi Kepresidenan Fahrettin Altun dan juru bicara kepresidenan İbrahim Kalın juga hadir.

Pertemuan itu diadakan di tengah meningkatnya ketegangan lintas batas antara Israel dan Hamas.

"Orang Mesir, Qatar dan [Utusan PBB di Timur Tengah] Nickolay Mladenov telah meningkatkan upaya mereka untuk memulihkan ketenangan, tetapi ketenangan hanya bisa datang jika Israel menyetujui tuntutan yang diajukan oleh Hamas dan faksi lain," kata seorang pejabat Palestina kepada Reuters pada 21 Agustus.

Belakangan situasi Palestina memang semakin tegang. Israel sudah lantang menyatakan akan menjadikan kota Yurasalem timur sebagai ibu kota negaranya. Presiden AS Donald Trump sudah mendukung. Bahkan yang terakhir Uni Emirat telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sedangkan kekuatan terbesar dan paling kuat di Palestina, Hamas, terus menolaknya dengan menyatakan siap berperang.

Kelompok Islam Palestina Hamas telah menyatakan dukungannya atas keputusan pemerintah Turki untuk mengubah Hagia Sophia yang ikonik di Istanbul menjadi sebuah masjid. “Pembukaan Hagia Sophia untuk shalat merupakan momen yang membanggakan bagi seluruh umat Islam,” kata Hamas dalam keterangan tertulisnya.

Beberapa waktu sebelum pertemuan ini, Hamas menyambut baik putusan Dewan Negara Turki yang mencabut status ikonik Istanbul Hagia Sophia sebagai museum. Mereka menyatakan keputusan Presiden Erdogan tepat karena berlandaskan hukum dan nilai sejarah.

“Pembukaan Hagia Sophia untuk shalat adalah momen yang membanggakan bagi semua Muslim,” kata Rafat Murra, kepala kantor pers internasional Hamas, dalam sebuah pernyataan tertulis.

Murra mengatakan bahwa keputusan tersebut meman menciptakan "kesedihan" pada kelompok tertentu di dunia Arab.

“Kami tidak pernah melihat mereka mengkhawatirkan Masjid al-Aqsa. Kami belum pernah melihat mereka bersedih ketika Zionis menyerang 'Dome of the Rock'. Ketika penjajah melarang adzan di Masjid Al-Halil atau masjid Palestina. Mereka tidak peduli,” katanya.

Dan memang, pada 10 Juli, Dewan Negara Turki - pengadilan administratif tertinggi di negara itu - membuka jalan bagi konversi Hagia Sophia kembali ke masjid meskipun ada peringatan internasional yang melarang langkah tersebut.

Tak lama setelah keputusan pengadilan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyerahkan kendali struktur ikonik itu kepada Direktorat Urusan Agama (Diyanet) negara itu.

Dalam pidato yang disiarkan televisi kepada negara pada 10 Juli, Erdogan mengatakan doa pertama di bangunan kuno itu akan diadakan pada 24 Juli. [yy/republika]

 

Erdogan Bertemu Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan Saleh al-Arouri

Fiqhislam.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan bertemu dengan kepemimpinan Hamas di Istanbul pada 22 Agustus lalu. Dua pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan tokoh nomor duanya, Saleh al-Arouri, yang ditunjuk sebagai teroris oleh AS dan akan diberi hadiah 5 juta dolar kepalanya itu turut menghadiri pertemuan tersebut.

Kepala Badan Intelijen Nasional Turki (MİT) Hakan Fidan, Direktur Komunikasi Kepresidenan Fahrettin Altun dan juru bicara kepresidenan İbrahim Kalın juga hadir.

Pertemuan itu diadakan di tengah meningkatnya ketegangan lintas batas antara Israel dan Hamas.

"Orang Mesir, Qatar dan [Utusan PBB di Timur Tengah] Nickolay Mladenov telah meningkatkan upaya mereka untuk memulihkan ketenangan, tetapi ketenangan hanya bisa datang jika Israel menyetujui tuntutan yang diajukan oleh Hamas dan faksi lain," kata seorang pejabat Palestina kepada Reuters pada 21 Agustus.

Belakangan situasi Palestina memang semakin tegang. Israel sudah lantang menyatakan akan menjadikan kota Yurasalem timur sebagai ibu kota negaranya. Presiden AS Donald Trump sudah mendukung. Bahkan yang terakhir Uni Emirat telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sedangkan kekuatan terbesar dan paling kuat di Palestina, Hamas, terus menolaknya dengan menyatakan siap berperang.

Kelompok Islam Palestina Hamas telah menyatakan dukungannya atas keputusan pemerintah Turki untuk mengubah Hagia Sophia yang ikonik di Istanbul menjadi sebuah masjid. “Pembukaan Hagia Sophia untuk shalat merupakan momen yang membanggakan bagi seluruh umat Islam,” kata Hamas dalam keterangan tertulisnya.

Beberapa waktu sebelum pertemuan ini, Hamas menyambut baik putusan Dewan Negara Turki yang mencabut status ikonik Istanbul Hagia Sophia sebagai museum. Mereka menyatakan keputusan Presiden Erdogan tepat karena berlandaskan hukum dan nilai sejarah.

“Pembukaan Hagia Sophia untuk shalat adalah momen yang membanggakan bagi semua Muslim,” kata Rafat Murra, kepala kantor pers internasional Hamas, dalam sebuah pernyataan tertulis.

Murra mengatakan bahwa keputusan tersebut meman menciptakan "kesedihan" pada kelompok tertentu di dunia Arab.

“Kami tidak pernah melihat mereka mengkhawatirkan Masjid al-Aqsa. Kami belum pernah melihat mereka bersedih ketika Zionis menyerang 'Dome of the Rock'. Ketika penjajah melarang adzan di Masjid Al-Halil atau masjid Palestina. Mereka tidak peduli,” katanya.

Dan memang, pada 10 Juli, Dewan Negara Turki - pengadilan administratif tertinggi di negara itu - membuka jalan bagi konversi Hagia Sophia kembali ke masjid meskipun ada peringatan internasional yang melarang langkah tersebut.

Tak lama setelah keputusan pengadilan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyerahkan kendali struktur ikonik itu kepada Direktorat Urusan Agama (Diyanet) negara itu.

Dalam pidato yang disiarkan televisi kepada negara pada 10 Juli, Erdogan mengatakan doa pertama di bangunan kuno itu akan diadakan pada 24 Juli. [yy/republika]

 

Israel Gempur Hamas

Balas Serangan Roket, Tank Israel Gempur Hamas di Gaza


Fiqhislam.com - Tank-tank Israel menembaki posisi militer gerakan Hamas yang berkuasa di wilayah Jalur Gaza. Serangan ini dilakukan pada Sabtu (22/8) pagi waktu setempat, beberapa jam setelah sebuah roket diluncurkan ke Israel selatan.

Sebuah pernyataan dari militer Israel mengatakan tank-tank Israel menargetkan pos-pos militer Hamas di Jalur Gaza selatan sebagai tanggapan atas tembakan roket pada Jumat (21/8) tersebut.

Roket, yang memicu sirene di Israel selatan, dicegat oleh pertahanan udara tanpa menimbulkan korban atau kerusakan.

Sumber-sumber keamanan Gaza mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (22/8/2020), tembakan tank pada Sabtu itu menargetkan pos pengamatan Hamas di timur Rafah dan timur Khan Yunis, dan tidak menimbulkan korban.

Israel telah membombardir Gaza hampir setiap hari sejak 6 Agustus sebagai pembalasan atas peluncuran balon yang dilengkapi dengan bom api, atau kadang-kadang, roket.

Pada Kamis (20/8) malam waktu setempat, para militan Gaza menembakkan selusin roket ke Israel, yang menanggapi dengan serangan udara di pabrik roket dan infrastruktur bawah tanah.

Sementara itu, para petugas pemadam kebakaran Israel terus memadamkan api di lahan pertanian dan semak belukar yang dibakar oleh balon api yang diluncurkan dari Gaza.

Delegasi Mesir saat ini tengah mencoba menengahi kedua belah pihak untuk kembali ke gencatan senjata informal.

Mesir telah bertindak untuk menenangkan gejolak yang berulang dalam beberapa tahun terakhir untuk mencegah terulangnya tiga perang, yang telah dilakukan antara Israel dan Hamas sejak 2008. [yy/news.detik]