30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Covid-19 Lintas Dunia 24/08/2020: Positif 23,618,698 | Meninggal 813,114 | Sembuh 16,108,613

Covid-19 Lintas Dunia 24/08/2020: Positif 23,618,698 | Meninggal 813,114 | Sembuh 16,108,613Last updated: August 24, 2020, 12:57 GMT | 19:57 WIB | Worldometers


Fiqhislam.com - Hingga hari ini, total kasus Virus Corona COVID-19 di dunia telah mencapai 23.342.798. Dengan tiga negara teratas yaitu Amerika Serikat, Brasil dan India.

Berdasarkan data Johns Hopkins University, Senin (24/8/2020), total kasus di Amerika Serikat mencapai 5,7 juta kasus dengan 176 ribu pasien meninggal dunia. Jumlah pasien meninggal di AS juga tertinggi di dunia.

Untuk Brasil, jumlah kasus yang terdaftar ada di angka 3.605.783 jiwa. Sementara total warganya yang meninggal akibat Corona COVID-19 yaitu 114.744.

Di Asia, kasus di India mencapai yang tertinggi dengan 3.044.940 juta dengan 56.706 pasien meninggal. Sementara, Rusia mencatat kasus tertinggi di Eropa dengan 954 ribu kasus.

WHO menyarankan agar publik senantiasa mencuci tangan dengan sabun untuk mencegah tertular Corona COVID-19. Publik juga diminta hati-hati saat tangan menyentuh mata, hidung, atau mata mereka.

Jaga jarak juga penting agar bisa menghindar bersin atau batuk dari orang yang mengidap Corona COVID-19. Ketika memakai tisu usai bersin atau batuk, publik juga diminta langsung membuat tisunya dan langsung cuci tangan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan anak-anak berusia 12 tahun ke atas harus memakai masker untuk membantu mengatasi penyebaran pandemi Corona COVID-19 dalam kondisi yang sama dengan orang dewasa.

Sementara anak-anak berusia antara enam dan 11 tahun harus memakainya dengan pendekatan berbasis risiko, demikian dikutip dari laman Channel News Asia, Minggu (23/8/2020).

"Anak-anak berusia 12 tahun ke atas sebaiknya mengenakan masker ketika berada dalam jarak satu meter dari orang lain tidak dapat dijamin dan ada penularan yang meluas di daerah tersebut, kata WHO tertanggal 21 Agustus.

Anak-anak berusia antara enam dan 11 tahun harus memakai masker tergantung pada sejumlah faktor, termasuk intensitas penularan di daerah tersebut.

Dampak potensial pada pembelajaran dan perkembangan psiko-sosial, dan interaksi yang dimiliki anak dengan orang-orang yang berisiko tinggi mengembangkan penyebaran virus itu semakin serius.

"Anak-anak berusia lima tahun ke bawah tidak boleh diharuskan memakai masker berdasarkan keselamatan dan kepentingan keseluruhan anak dari Corona COVID-19," kata WHO dan UNICEF. [yy/liputan6]

Covid-19 Lintas Dunia 24/08/2020: Positif 23,618,698 | Meninggal 813,114 | Sembuh 16,108,613Last updated: August 24, 2020, 12:57 GMT | 19:57 WIB | Worldometers


Fiqhislam.com - Hingga hari ini, total kasus Virus Corona COVID-19 di dunia telah mencapai 23.342.798. Dengan tiga negara teratas yaitu Amerika Serikat, Brasil dan India.

Berdasarkan data Johns Hopkins University, Senin (24/8/2020), total kasus di Amerika Serikat mencapai 5,7 juta kasus dengan 176 ribu pasien meninggal dunia. Jumlah pasien meninggal di AS juga tertinggi di dunia.

Untuk Brasil, jumlah kasus yang terdaftar ada di angka 3.605.783 jiwa. Sementara total warganya yang meninggal akibat Corona COVID-19 yaitu 114.744.

Di Asia, kasus di India mencapai yang tertinggi dengan 3.044.940 juta dengan 56.706 pasien meninggal. Sementara, Rusia mencatat kasus tertinggi di Eropa dengan 954 ribu kasus.

WHO menyarankan agar publik senantiasa mencuci tangan dengan sabun untuk mencegah tertular Corona COVID-19. Publik juga diminta hati-hati saat tangan menyentuh mata, hidung, atau mata mereka.

Jaga jarak juga penting agar bisa menghindar bersin atau batuk dari orang yang mengidap Corona COVID-19. Ketika memakai tisu usai bersin atau batuk, publik juga diminta langsung membuat tisunya dan langsung cuci tangan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan anak-anak berusia 12 tahun ke atas harus memakai masker untuk membantu mengatasi penyebaran pandemi Corona COVID-19 dalam kondisi yang sama dengan orang dewasa.

Sementara anak-anak berusia antara enam dan 11 tahun harus memakainya dengan pendekatan berbasis risiko, demikian dikutip dari laman Channel News Asia, Minggu (23/8/2020).

"Anak-anak berusia 12 tahun ke atas sebaiknya mengenakan masker ketika berada dalam jarak satu meter dari orang lain tidak dapat dijamin dan ada penularan yang meluas di daerah tersebut, kata WHO tertanggal 21 Agustus.

Anak-anak berusia antara enam dan 11 tahun harus memakai masker tergantung pada sejumlah faktor, termasuk intensitas penularan di daerah tersebut.

Dampak potensial pada pembelajaran dan perkembangan psiko-sosial, dan interaksi yang dimiliki anak dengan orang-orang yang berisiko tinggi mengembangkan penyebaran virus itu semakin serius.

"Anak-anak berusia lima tahun ke bawah tidak boleh diharuskan memakai masker berdasarkan keselamatan dan kepentingan keseluruhan anak dari Corona COVID-19," kata WHO dan UNICEF. [yy/liputan6]

Ilmuwan Inggris

Ilmuwan Inggris Sebut Virus Corona akan Ada Selamanya


Fiqhislam.com - Seorang ilmuwan yang merupakan mantan kepala penasihat ilmiah pemerintah Inggris, Prof Mark Walport, mengatakan virus corona akan ada selamanya. Dia menyebut, orang-orang kemungkinan besar membutuhkan vaksinasi rutin untuk melawannya.

Dilansir dari laman The Guardian, Ahad (23/8), Walport yang merupakan anggota Kelompok penasihat ilmiah untuk keadaan darurat menyamakan penyakit Covid-19 dengan influenza. Oleh karenanya, suntikan vaksin berulang dalam skala global hampir pasti diperlukan untuk mengendalikannya.

Dalam wawancaranya dengan BBC Radio, ia menilai virus corona tidak akan menjadi penyakit seperti cacar. Yaitu penyakit yang dapat diberantas dengan vaksinasi.

“Ini adalah virus yang akan bersama kita selamanya dalam beberapa bentuk atau lainnya dan hampir pasti akan membutuhkan vaksinasi berulang. Jadi, seperti flu, orang perlu vaksinasi ulang secara berkala,” ujar dia.

Walport mengatakan ada kemungkinan virus bisa tidak terkendali lagi. Hal itu akan terjadi, jika persentase tes positif meningkat di seluruh Inggris karena angka R berkisar antara 0,9 dan 1,1. Akan tetapi dia mengatakan tindakan yang lebih bertarget dan terlokalisasi dapat digunakan daripada melakukan lockdown.

Ilmuwan itu tak menutupi rasa khawatirnya mengenai penyebaran virus. “Anda hanya perlu melihat apa yang terjadi di Prancis, Spanyol, dan di Korea Selatan, yang berhasil mengendalikannya dengan sangat cepat dan sekarang mengalami peningkatan kasus. Dan infeksi ini ada pada kita,” kata dia.

Dia mencatat mengenai kondisi Inggris saat ini. Menurutnya, saat ini kurang dari satu dari lima orang di seluruh Inggris adalah yang terkena virus. Dan 80 persen orang di Inggris tetap rentan terhadap Covid-19.

“Ini adalah keseimbangan yang mengerikan antara mencoba meminimalkan bahaya bagi orang-orang dari infeksi sambil menjaga agar masyarakat tetap berjalan,” katanya.

Meskipun orang-orang telah membantah dengan sangat keras dan berpendapat bahwa menerapkan lockdown bukanlah solusi dari pandemi. Namun, para peneliti akan menargetkan pendekatan tersebut.

Dia memperingatkan tindakan kejam dapat diberlakukan jika virus tidak terkendali. Hal itu akan menjadi sebuah tragedi besar, di mana banyak orang di rumah melakuakan perawatan karena terjangkit virus. Dan banyak orang meninggal dunia setelah orang-orang keluar dari rumah sakit kembali ke perawatan saat terinfeksi virus corona.

Komentarnya muncul setelah kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dunia harus dapat mengendalikan pandemi dalam dua tahun. Direktur Umum WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan butuh dua tahun untuk mengatasi flu Spanyol pada awal abad ke-20. Namun, dengan kemajuan teknologi memungkinkan Covid-19 dihentikan dalam waktu yang lebih singkat. [yy/republika]

 

India

Kasus Covid-19 di India Capai 3 Juta


Fiqhislam.com - India melaporkan jumlah kasus infeksi virus corona yang mendekati angka 3 juta. Hal ini menambah tekanan kepada pihak berwenang untuk memberlakukan lockdown secara ketat, bertepatan dengan dimulainya festival keagamaan besar.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan federal, India mencatat 69.878 kasus baru. Ini adalah empat hari secara berturut-turut India mencatat penambahan kasus harian di atas 60 ribu.

Menurut data Worldometers pada Ahad (23/8), total kasus virus corona di India mencapai 3,04 juta, dengan kematian sebanyak 56.846. Peningkatan jumlah kasus tersebut menempatkan India menjadi negara dengan kasus terbesar ketiga setelah Amerika Serikat (AS) dan Brasil.

India barat, terutama di ibu kota Mumbai akan menggelar festival keagamaan bagi umat Hindu selama 11 hari. Festival Dewa Ganesha biasanya dirayakan dengan meriah dan melibatkan pertemuan publik dalam jumlah besar.

Mumbai telah mencatat jumlah kasus rata-rata di atas 1.000 per hari. Kasus infeksi virus corona di pusat keuangan tersebut mencapai lebih dari 134 ribu. Pemerintah telah memberlakukan peraturan pembatasan sosial, namun festival tersebut tetap berlangsung, dilansir dari Reuters. [yy/republika]

 

Italia

Kasus Corona di Italia Naik 1.200 dalam Sehari


Fiqhislam.com - Jumlah kasus virus corona (COVID-19) harian yang tercatat di Italia hampir dua kali lipat dalam lima hari terakhir. Pada Minggu kasus melonjak menjadi lebih dari 1.200.

Dilansir dari AFP, Senin (24/8/2020), kenaikan kasus ini terkait dengan perjalanan dan hiburan musim panas bagi warga Italia, menurut laporan resmi.

Italia mencatat 1.210 kasus dalam 24 jam terakhir, dibandingkan 642 pada Rabu, angka resmi terbaru menunjukkan.

Pada hari Sabtu tercatat 1.071 kasus baru, dengan 947 kasus tercatat pada hari Jumat dan 845 pada hari Kamis.

Jumlah kasus terbesar tercatat di wilayah Lombardy utara dengan 239, diikuti oleh wilayah Roma di mana terdapat 184 kasus lebih lanjut dan wilayah Venesia yang memiliki 145 kasus.

Tujuh kematian lebih lanjut dicatat pada hari Sabtu, menjadikan jumlah total kematian akibat virus korona Italia sejak awal pandemi menjadi 35.437.

Meskipun kasus terus meningkat, Menteri Kesehatan Roberto Speranza mengesampingkan pengembalian umum ke penguncian, dengan mengatakan situasinya terkendali.

Negara saat ini memiliki 18.438 kasus termasuk 69 pasien dalam perawatan intensif.

Lebih dari 200.000 orang Italia telah pulih dari penyakit tersebut dalam beberapa bulan terakhir.

Ranieri Guerra, asisten direktur jenderal inisiatif strategis di Organisasi Kesehatan Dunia, mengatakan peningkatan kasus sebagian disebabkan oleh peningkatan penggunaan tes. [yy/news.detik]

 

Prancis

Prancis Catat 4.897 Kasus Corona Baru dalam Sehari, Tertinggi Usai Lockdown


Fiqhislam.com - Prancis pada Minggu melaporkan hampir 4.900 kasus virus korona baru selama 24 jam terakhir. Angka ini tertinggi sejak Mei, karena menteri kesehatan mengakui adanya risiko lonjakan tingkat infeksi.

Seperti dilansir AFP, Senin (24/8/2020), Otoritas Kesehatan Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 4.897 tes positif baru terdaftar pada hari Minggu, naik tajam pada angka hari Sabtu 3.602.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Prancis sejak muncul pada Mei dari penguncian dua bulan untuk memerangi virus yang hingga kini berhasil menekan tingkat infeksi.

"Kami berada dalam situasi di mana ada risiko," kata Menteri Kesehatan Olivier Veran dalam wawancara dengan surat kabar Le Journal du Dimanche saat Prancis bersiap untuk kembali bekerja dari liburan musim panas.

Dia menekankan bahwa situasinya "tidak sama seperti di bulan Februari" ketika virus mulai menyebar di Prancis, dengan COVID-19 sekarang beredar empat kali lebih banyak di antara mereka yang berusia di bawah 40-an daripada di atas 65-an.

Pengujian sekarang telah ditingkatkan sehingga Prancis dapat melakukan 700.000 tes seminggu, tambahnya.

Namun dia menambahkan bahwa risikonya adalah orang muda dapat menularkan virus kepada orang tua, yang jauh lebih berisiko mengalami komplikasi serius atau kematian.

Dia menyesalkan bahwa sebagian besar infeksi terjadi dalam "situasi pesta" yang dihadiri oleh kaum muda di mana jarak sosial tidak dipatuhi.

Tiga persen dari tes sekarang positif, meningkat satu persen pada awal musim panas. Orang yang terinfeksi sekarang menularkannya ke 1,3-1,4 orang rata-rata, tambahnya.

Tetapi Veran mengatakan bahwa penguncian nasional baru "tidak ada dalam agenda" dan tidak seperti di musim semi "kami memiliki lebih banyak pengetahuan dan sarana yang kami miliki", dengan tindakan lokal yang ditargetkan sebagai tindakan terbaik untuk diambil.

Sekarang ada 4.709 orang dirawat di rumah sakit di Prancis dengan infeksi virus korona sementara 383 dalam perawatan intensif, kata otoritas kesehatan.

Satu kematian lagi tercatat pada Minggu, sehingga jumlah total kematian orang yang menderita COVID-19 di Prancis menjadi 30.513.

Veran mengatakan dia mengetahui spekulasi bahwa virus itu sekarang tidak terlalu mematikan karena telah bermutasi tetapi mengatakan argumen itu, sayangnya, tidak memiliki dasar ilmiah.

"COVID yang menyebar sama yang telah menewaskan 30.000 orang Prancis. Hanya profil pasien yang berubah, mereka lebih muda dan gejala lebih sedikit," ujarnya. [yy/news.detik]

 

Tags: Corona | Covid-19