30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Operasi False Flag Israel: Bom di Palestina dan Lebanon

Operasi False Flag Israel: Bom di Palestina dan Lebanon

Fiqhislam.com - Rekam jejak Israel sebagai negara yang kerap melancarkan operasi-operasi teror bendera palsu (false flag), dengan menuding pihak lain atas kejahatan yang dilakukannya, Israel ingin mengubah opini publik atas satu pihak dan menjadikan pihak lain berperang demi kepentingannya. Peristiwa ini terjadi di Palestina dan Lebanon dalam waktu yang berbeda.

Satu peristiwa yang kini mungkin telah lama dilupakan adalah ledakan bom di Hotel King David, Palestina, pada 22 Juli 1946, yang menyebabkan tewasnya 91 tentara Inggris. Israel menuding kaum militan Palestina ada di balik ledakan tersebut.

Namun kemudian, terungkap bahwa aksi terorisme tersebut dilakukan kelompok teroris Israel, Irgun, yang berpakaian Arab. Tujuannya jelas, Israel bukan sekadar menginginkan Inggris keluar dari Palestina tetapi juga hendak mengubah opini dunia tentang para pejuang kemerdekaan Palestina.

Terkait dengan Lebanon, pada 1982 saat invasi I Israel ke Lebanon, mungkin orang tak akan pernah lupa ketika sebuah truk sarat bahan peledak menabrakan diri ke barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut. Akibatnya, 241 marinir tewas.

Peristiwa ini berhasil menarik Amerika untuk ikut berperang di pihak Israel. Hanya dalam hitungan beberapa hari kemudian, Israel telah berhasil mengidentifikasi pelaku ledakan sebagai intelijen Suriah dan pejuang Syiah Lebanon. Keterlibatan Mossad dalam peristiwa ini pun kemudian diungkap mantan agennya sendiri, Victor Ostrovsky, dalam bukunya By Way of Deception (1991).

Dua peristiwa tersebut hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak operasi bendera palsu Israel lainnya, seperti pembantaian di Shabra dan Shatilla (1982) dan Lavon Affair (1954). Hiperterorisme 9/11, menurut banyak analis independen, juga tidak mustahil melibatkan Israel. [yy/republika]

 

Operasi False Flag Israel: Bom di Palestina dan Lebanon

Fiqhislam.com - Rekam jejak Israel sebagai negara yang kerap melancarkan operasi-operasi teror bendera palsu (false flag), dengan menuding pihak lain atas kejahatan yang dilakukannya, Israel ingin mengubah opini publik atas satu pihak dan menjadikan pihak lain berperang demi kepentingannya. Peristiwa ini terjadi di Palestina dan Lebanon dalam waktu yang berbeda.

Satu peristiwa yang kini mungkin telah lama dilupakan adalah ledakan bom di Hotel King David, Palestina, pada 22 Juli 1946, yang menyebabkan tewasnya 91 tentara Inggris. Israel menuding kaum militan Palestina ada di balik ledakan tersebut.

Namun kemudian, terungkap bahwa aksi terorisme tersebut dilakukan kelompok teroris Israel, Irgun, yang berpakaian Arab. Tujuannya jelas, Israel bukan sekadar menginginkan Inggris keluar dari Palestina tetapi juga hendak mengubah opini dunia tentang para pejuang kemerdekaan Palestina.

Terkait dengan Lebanon, pada 1982 saat invasi I Israel ke Lebanon, mungkin orang tak akan pernah lupa ketika sebuah truk sarat bahan peledak menabrakan diri ke barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut. Akibatnya, 241 marinir tewas.

Peristiwa ini berhasil menarik Amerika untuk ikut berperang di pihak Israel. Hanya dalam hitungan beberapa hari kemudian, Israel telah berhasil mengidentifikasi pelaku ledakan sebagai intelijen Suriah dan pejuang Syiah Lebanon. Keterlibatan Mossad dalam peristiwa ini pun kemudian diungkap mantan agennya sendiri, Victor Ostrovsky, dalam bukunya By Way of Deception (1991).

Dua peristiwa tersebut hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak operasi bendera palsu Israel lainnya, seperti pembantaian di Shabra dan Shatilla (1982) dan Lavon Affair (1954). Hiperterorisme 9/11, menurut banyak analis independen, juga tidak mustahil melibatkan Israel. [yy/republika]

 

Serangan Bom

Donald Trump: Ledakan di Lebanon Kemungkinan Serangan Bom


Fiqhislam.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ledakan yang terjadi di ibu kota Lebanon, Beirut, kemungkinan adalah sebuah serangan bom. Dia menyebut serangan itu sangat mengerikan karena telah menewaskan sedikitnya 78 orang dan melukai ribuan lainnya.

Trump mengatakan dia telah bertemu dengan beberapa jenderal AS. Mereka menyatakan ledakan itu bukan "semacam jenis ledakan manufaktur". Trump mengatakan menurut para jenderal ledakan itu adalah serangan bom.

"Mereka berpikir itu adalah serangan. Semacam bom. Sepertinya serangan yang mengerikan," ujar Trump.

Dua pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan tidak diketahui dari mana Trump menerima informasi bahwa ledakan di Beirut adalah serangan bom. Tetapi informasi awal tidak menunjukkan bahwa ledakan itu adalah serangan bom.

Para pejabat menuturkan sejauh ini menerima informasi sesuai dengan apa yang telah diberikan pejabat Lebanon secara publik. Mereka menambahkan bahwa informasi ini masih awal dan dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Trump menyatakan pemerintah AS siap memberikan bantuan kepada Lebanon. Selain itu, AS juga akan menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang terkait penyebab ledakan. "Amerika Serikat siap membantu Lebanon," kata Trump.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan ledakan berasal dari gudang penyimpanan bahan-bahan peledak di pelabuhan. Dia menambahkan sebanyak 2.750 ton amonium nitrat telah disimpan selama enam tahun di pelabuhan tanpa dilengkapi dengan keamanan yang memadai. [yy/republika]

 

Israel Tuding Iran

Israel Tuding Iran Selundupkan Senjata ke Pelabuhan Lebanon


Fiqhislam.com - Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Danny Danon menuduh Iran mengeksploitasi perusahaan sipil dan maritim untuk menyelundupkan peralatan pembuatan senjata ke Hizbullah di Lebanon. Ia mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa intelijen menemukan bukti bahwa pasukan Quds Iran menggunakan pelabuhan di Beirut untuk melakukan pengiriman tersebut sejak tahun lalu.

“Pada 2018 hingga 2019, Israel menemukan bahwa barang-barang bekas pakai diselundupkan ke Lebanon untuk memajukan kemampuan roket dan rudal Hizbullah,” ujar Danon dalam pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB di Timur Tengah, dilansir Times of Israel, Rabu (5/8).

Danon menuturkan bahwa Iran dan Pasukan Quds telah mulai memajukan eksploitasi saluran laut sipil, secara khusus di pelabuhan Beirut. Dalam sebuah pernyataan, misi Israel mengatakan ‘agen-agen’ Suriah telah membeli barang-barang bekas dari perusahaan-perusahaan asing dengan alasan palsu dan memberikannya kepada Hizbullah.

Danon kemudian memberikan kepada Dewan Keamanan PBB sebuah peta rute perpindahan Hizbullah yang mencakup pusat-pusat utama di bandara Damaskus, pelabuhan dan bandara Beirut, dan penyeberangan perbatasan resmi antara Suriah dan Lebanon, seperti penyeberangan Masnaa. Ia mengatakan proses transfer itu telah nyata melanggar resolusi PBB 1701, yang mengakhiri Perang Lebanon pada 2006 antara Hizbullah dan Israel.

Meski demikian, Danon tidak merinci barang apa yang diperoleh kelompok teror melalui cara-cara ini atau menyebutkan nama perusahaan di balik pengiriman. Beberapa komandan Hizbullah sebelumnya mengatakan bahwa kelompok itu mengerahkan pasukan untuk persiapan potensi perang dengan Israel, sekaligus memperingatkan bahwa tekanan yang meningkat dari sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran dapat memicu konflik seperti itu lebih cepat terjadi.

Bahkan, pasukan Hizbullah dikatakan sedang mempersiapkan perang di perbatasan Lebanon dan Suriah dengan Israel. Para personel di kelompok itu mengaku lebih siap untuk menghadapi Israel dibanding 2006, setelah mengirim ribuan orang untuk berperang bersama pasukan Presiden Suriah Bashar Al Assad.

Dikutip Arab News, Hizbullah merupakan kelompok yang didukung dan didanai oleh Iran dan digolongkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan sejumlah negara lainnya. Hizbullah saat ini mendominasi politik Lebanon dan mendukung pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Hassan Diab.

Pada tahun-tahun sejak perang yang terjadi pada 2006, Israel telah berulang kali menuduh Hizbullah melanggar resolusi 1701, yang menyerukan semua kelompok bersenjata selain militer Lebanon untuk tetap berada di atas Sungai Litani. Israel menyatakan bahwa kelompok yang didukung Iran tersebut terus melakukan pelanggaran, yaitu dengan menjaga persentase yang signifikan dari arsenal roket dan mortir berkekuatan 100.000 orang di selatan Lebanon, serta melakukan patroli dan kegiatan militer lainnya di sepanjang perbatasan kedua negara.

Pada akhir 2018 dan awal 2019, Israel melaporkan telah menemukan setidaknya enam terowongan lintas perbatasan digali oleh Hizbullah dari selatan Lebanon ke Israel. Kelompok itu diduga telah merencanakan penggunakan terowongan untuk menculik atau membunuh warga sipil atau tentara Israel, serta merebut sepotong wilayah Israel jika terjadi permusuhan.

Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL mengkonfirmasi hal itu sebagai pelanggaran resolusi 1701. Meski demikian, Hizbullah tidak dinyatakan maupun diidentifikasi sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas penggalian tersebut.

Pada Juni lalu, kepala Komando Utara Militer Israel (IDF) Amir Baram, mengancam tindakan terbuka dan rahasia terhadap Hizbullah dan Lebanon, dalam menanggapi upayanya untuk membangun infrastruktur teroris di sepanjang perbatasan. Ia mengatakan kelompok itu tengah “membangun infrastruktur di desa-desa di seberang perbatasan dan mencoba mengancam negara.

Kepala Komando Utara IDF mengatakan bahwa dalam perang di masa depan melawan Hizbullah, Lebanon mungkin harus membayar harga yang mahal karena membiarkan kelompok itu mengakar di sana. Sejak perang saudara Suriah dimulai pada 2011, Israel telah mengakui melakukan ratusan serangan udara di Suriah pada target yang terkait dengan Iran dan Hizbullah.

Israel menuduh Iran berusaha untuk membuat kehadiran militer di Suriah yang dapat mengancam keamanan Israel dan berusaha untuk mentransfer persenjataan canggih ke Hizbullah. Pada 2019, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada Majelis Umum PBB bahwa Hizbullah menyembunyikan fasilitas produksi rudal presisi di bawah Beirut.

Netanyahu juga menunjukkan foto-foto satelit yang dimaksudkan untuk menunjukkan fasilitas rahasia, yang terletak tidak jauh dari bandara internasional di Ibu Kota Lebanon tersebut. Awal bulan ini, ia memperingatkan bahwa jet tempur Israel dapat mencapai mana saja di Timur Tengah, termasuk Iran.

Berkaitan dengan seluruh dugaan Israel tersebut, saat ini Lebanon tengah terguncang oleh insiden dua ledakan besar di Pelabuhan Beirut, yang terjadi tepatnya pada Selasa (4/8) kemarin. Kementerian Kesehatan negara itu sejauh ini mengkonfirmasi 73 orang meninggal dan 3.700 lainnya terluka dalam peristiwa tersebut.

Dalam laporan terbaru dari Mayor Jenderal Lebanon Abbas Ibrahim, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, diketahui terdapat 2.700 tons Amonium Nitrates yang meledak di pelabuhan. Amonium Nitrate adalah bahan yang sangat mudah meledak dan sering digunakan untuk pupuk, tetapi juga tak jarang dimanfaatkan sebagai bahan peledak. [yy/republika]