2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Sirte Diujung Perang, Ini Kekuatan Militer Mesir VS Turki

Sirte Diujung Perang, Ini Kekuatan Militer Mesir VS Turki

Fiqhislam.com - Pemerintahan Libya di Tripoli Government of National Accord (GNA)  menggerakan pasukan lebih dekat ke Sirte pada Sabtu (18/7). Sekitar 200 kendaraan bergerak ke arah timur dari Misrata di sepanjang pantai Mediterania menuju kota Tawergha, sekitar sepertiga dari perjalanan ke Sirte.

Namun kelompok Libyan National Army (LNA) pimpinan Jenderal Khalifa Haftar tak tinggal diam.  Seperti dikutip dari Al Arabiya, sebagai penguasa wilayah tersebut, LNA telah menutup wilayah udara 200 kilometer di atas Sirte dan melarang pesawat militer non-LNA terbang di atas wilayah yang ditentukan. Mereka pun telah mengirim pejuang dan senjata untuk meningkatkan pertahanannya.

Keputusan GNA untuk merebut Sirte  dari pasukan Khalifa Haftar bukan tanpa alasan. Wilayah ini merupakan pintu gerbang ke terminal minyak utama Libya. Wilayah ini mengandung lebih dari 60 persen minyak Libya. Pelabuhan minyak Sidra, Ras Lanuf, Marsa al-Brega, dan Zuwetina semuanya dapat diatur dari kota tersebut.

Terlebih lagi, Sirte juga penting secara strategis bagi negara-negara yang mendukung dua kelompok yang berseteru di Libya. Turki mendukung GNA, sedangkan LNA yang menguasai wilayah tersebut didukung Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Rusia.

Ketika kabar GNA menurunkan pasukan mendekati wilayah itu, LNA dan pasukan sekutu bersiap. Mesir bahkan mengambil tindakan dengan parlemennya  memberikan persetujuan untuk Presiden Abdul-Fattah al-Sisi menurunkan pasukan pula ke negara tetangga.

Keputusan ini akan membuat dua negara terlibat langsung dalam konflik di Libya. Menilik dari kekuatan masing-masing, bentrokan cukup besar akan terjadi di wilayah Sitre.

Seperti dikutip dari Forces, sebagai negara yang mengharuskan warganya wajib militer, Turki memiliki pasukan luar biasa. Tenaga militer aktif, sebanyak 355 ribu personel militer aktif dan 380.000 cadangan. Kondisi ini membuat Turki memiliki jumlah tentara aktif ke-15 tertinggi di dunia, dan ke-17 tertinggi jumlah tentara cadangan.

Dalam hal pengeluaran militer, Turki saat ini memiliki anggaran tahunan yang setara dengan 19 miliar dolar AS dan menghabiskan 1,89 persen PDB untuk pertahanan pada 2019. Dana tersebut disalurkan untuk Angkatan Darat Turki (Turk Kara Kuvvelleri), Angkatan Laut Turki (Turk Deniz Kuvvelleri), dan Angkatan Udara Turki (Turk Hava Kuvvelleri).

Sedangkan dari segi armada, Turk Kara Kuvvelleri memiliki 2.622 tank, 8.777 kendaraan tempur lapis baja, 1.278 senjata self-propelled, 1.260 buah artileri tarik, dan 438 sistem roket multi-peluncuran. Turk Deniz Kuvvelleri, memiliki 16 fregat, 10 korvet, 35 kapal patroli, 11 kapal perang ranjau dan 12 kapal selam. Negara ini juga memiliki 206 pesawat tempur, 80 pesawat angkut, 276 pesawat pelatihan, dan 497 helikopter.

Sedangkan Mesir, menurut situs peringkat Global Fire, berada di posisi ke-9 dari 138 negara dalam hal kekuatan militernya. Sebanyak 920.000 personel tentara, dengan 36.075.104 orang dapat dimasukan dalam kategori yang bisa ikut membantu dalam bidang keamanan.

Untuk kekuatan total militer, Kairo memiliki 1.054 aset, yang meliputi 215 pesawat tempur, 294 helikopter, 81 helikopter serang, dan 387 untuk latihan. Terdapat pula 4.295 tank, 11.700 kendaraan bersenjata, dan 1.084 proyektor roket, dan memiliki 316 total aset khusus perairan, di antaranya ada 2 kapal induk, 7 fregat, dan 8 kapal selam.

Dengan kekuatan ini, jika kedua terlibat langsung pertempuran di Sirte, maka diprediksi akan menimbulkan korban yang tak sedikit. [yy/republika]

 

Sirte Diujung Perang, Ini Kekuatan Militer Mesir VS Turki

Fiqhislam.com - Pemerintahan Libya di Tripoli Government of National Accord (GNA)  menggerakan pasukan lebih dekat ke Sirte pada Sabtu (18/7). Sekitar 200 kendaraan bergerak ke arah timur dari Misrata di sepanjang pantai Mediterania menuju kota Tawergha, sekitar sepertiga dari perjalanan ke Sirte.

Namun kelompok Libyan National Army (LNA) pimpinan Jenderal Khalifa Haftar tak tinggal diam.  Seperti dikutip dari Al Arabiya, sebagai penguasa wilayah tersebut, LNA telah menutup wilayah udara 200 kilometer di atas Sirte dan melarang pesawat militer non-LNA terbang di atas wilayah yang ditentukan. Mereka pun telah mengirim pejuang dan senjata untuk meningkatkan pertahanannya.

Keputusan GNA untuk merebut Sirte  dari pasukan Khalifa Haftar bukan tanpa alasan. Wilayah ini merupakan pintu gerbang ke terminal minyak utama Libya. Wilayah ini mengandung lebih dari 60 persen minyak Libya. Pelabuhan minyak Sidra, Ras Lanuf, Marsa al-Brega, dan Zuwetina semuanya dapat diatur dari kota tersebut.

Terlebih lagi, Sirte juga penting secara strategis bagi negara-negara yang mendukung dua kelompok yang berseteru di Libya. Turki mendukung GNA, sedangkan LNA yang menguasai wilayah tersebut didukung Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Rusia.

Ketika kabar GNA menurunkan pasukan mendekati wilayah itu, LNA dan pasukan sekutu bersiap. Mesir bahkan mengambil tindakan dengan parlemennya  memberikan persetujuan untuk Presiden Abdul-Fattah al-Sisi menurunkan pasukan pula ke negara tetangga.

Keputusan ini akan membuat dua negara terlibat langsung dalam konflik di Libya. Menilik dari kekuatan masing-masing, bentrokan cukup besar akan terjadi di wilayah Sitre.

Seperti dikutip dari Forces, sebagai negara yang mengharuskan warganya wajib militer, Turki memiliki pasukan luar biasa. Tenaga militer aktif, sebanyak 355 ribu personel militer aktif dan 380.000 cadangan. Kondisi ini membuat Turki memiliki jumlah tentara aktif ke-15 tertinggi di dunia, dan ke-17 tertinggi jumlah tentara cadangan.

Dalam hal pengeluaran militer, Turki saat ini memiliki anggaran tahunan yang setara dengan 19 miliar dolar AS dan menghabiskan 1,89 persen PDB untuk pertahanan pada 2019. Dana tersebut disalurkan untuk Angkatan Darat Turki (Turk Kara Kuvvelleri), Angkatan Laut Turki (Turk Deniz Kuvvelleri), dan Angkatan Udara Turki (Turk Hava Kuvvelleri).

Sedangkan dari segi armada, Turk Kara Kuvvelleri memiliki 2.622 tank, 8.777 kendaraan tempur lapis baja, 1.278 senjata self-propelled, 1.260 buah artileri tarik, dan 438 sistem roket multi-peluncuran. Turk Deniz Kuvvelleri, memiliki 16 fregat, 10 korvet, 35 kapal patroli, 11 kapal perang ranjau dan 12 kapal selam. Negara ini juga memiliki 206 pesawat tempur, 80 pesawat angkut, 276 pesawat pelatihan, dan 497 helikopter.

Sedangkan Mesir, menurut situs peringkat Global Fire, berada di posisi ke-9 dari 138 negara dalam hal kekuatan militernya. Sebanyak 920.000 personel tentara, dengan 36.075.104 orang dapat dimasukan dalam kategori yang bisa ikut membantu dalam bidang keamanan.

Untuk kekuatan total militer, Kairo memiliki 1.054 aset, yang meliputi 215 pesawat tempur, 294 helikopter, 81 helikopter serang, dan 387 untuk latihan. Terdapat pula 4.295 tank, 11.700 kendaraan bersenjata, dan 1.084 proyektor roket, dan memiliki 316 total aset khusus perairan, di antaranya ada 2 kapal induk, 7 fregat, dan 8 kapal selam.

Dengan kekuatan ini, jika kedua terlibat langsung pertempuran di Sirte, maka diprediksi akan menimbulkan korban yang tak sedikit. [yy/republika]

 

Menhan Qatar dan Turki Bertemu

Menhan Qatar dan Turki Bertemu


Fiqhislam.com - Menteri Pertahanan Qatar, Khalid bin Mohammed al-Atiyya, bertemu dengan Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar dan Menteri Dalam Negeri Libya, Fathi Bashagha di Ankara. Ketiganya membahas tentang perkembangan situasi terkini di Libya.

Seperti diketahui, pasukan pemerintahan GNA yang diakui internasional dan didukung Turki bergerak menuju Sirte, basis terakhir Jenderal Khalifa Haftar. Dikhawatirkan akan terjadi perang besar di Sirte.

Kementerian Pertahanan Turki dalam pernyataannya mengatakan, Akar menyatakan ucapan terima kasih atas dukungan Qatar ke Ankara. Hubungan Ankara dan Qatar semakin dekat dalam beberapa tahun terakhir sejak Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar pada 2017.

Qatar membantu meningkatkan cadangan devisa Turki melalui kesepakatan senilai 15 miliar dolar AS yang diumumkan pada Mei. Bantuan tersebut bertujuan untuk membantu perekonomian Turki yang sedang mengalami kesulitan.

Libya telah jatuh ke dalam kekacauan sejak digulingkannya pemimpin Moammar Qadafi pada 2011. Konflik yang terjadi di Libya melibatkan dua pihak yakni Libyan National Army (LNA) yang dipimpin oleh Khalifa Haftar dan Government of National Accord (GNA) yang dipimpin oleh Fayez al-Serraj.

Turki mendukung GNA dan telah meningkatkan intervensi militernya di Libya. Pada November, Turki menandatangani pakta kerja sama militer dengan GNA. Selain itu, kedua pihak juga menandatangani kesepakatan demarkasi maritim, yang memberikan hak eksplorasi Ankara di Mediterania Timur.

Pada awal Juni Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa negaranya akan terus mendukung GNA. Intervensi Turki di Libya akan memberinya pijakan di Timur Tengah yang kaya sumber daya alam.

Sementara, Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi mengatakan bahwa negaranya memiliki hak yang sah untuk campur tangan di Libya. Dia memerintahkan militer untuk bersiap melakukan misi jika perlu. Mesir memiliki perbatasan yang panjang dengan Libya, dan mendukung LNA. Di sisi lain, hubungan Mesir dan Turki telah berada dalam ketegangan selama bertahun-tahun. [yy/republika]

 

Parlemen Mesir Setuju Kirim Pasukan ke Libya

Parlemen Mesir Setuju Kirim Pasukan ke Libya


Fiqhislam.com - Parlemen Mesir telah mengumumkan menyetujui permintaan Presiden Abdel-Fattah al-Sisi untuk mengirim pasukan ke Libya, Senin (20/7). Momen ini seperti kilas balik peristiwa saat parlemen Turki memberikan restu untuk Presiden Tayyip Erdogan menyatakan akan mengirim pasukan ke Libya pada awal tahun ini.

Sisi mengatakan pada pertengahan Juni, Mesir selalu enggan untuk campur tangan di Libya dan menginginkan solusi politik untuk konfliknya. Namun, dia menilai, situasi saat ini telah berbeda. "Jika beberapa orang berpikir bahwa mereka dapat melintasi garis depan Sirte-Jufra, ini adalah garis merah bagi kita," ujarnya ketika mempertimbangkan pengajuan tersebut kepada parlemen.

Sedangkan, pada akhir tahun lalu, Erdogan mendapatkan permintaan langsung dari Tripoli untuk membantu Government of National Accord (GNA) melawan pasukan Libyan National Army (LNA) Khalifa Haftar yang berbasis di timur. Perjanjian antara dua pihak ini melibatkan kerja sama keamanan dan militer dan mengenai batas-batas laut di Mediterania timur.

Setelah pengumuman itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Erdogan terhadap gangguan apa pun di Libya melalui panggilan telepon. Langkah serupa juga dilakukan Trump kepada Sisi, sebelum Parlemen Mesir memutuskan mendukung keinginan presidennya.

Keputusan Erdogan mengirim pasukan ke Libya karena kondisi GNA yang semakin terdesak, terlebih lagi setelah tentara bayaran Rusia yang dilaporkan dari kelompok Wagner pada bulan September ikut terjun. "Tidak tepat bagi kita untuk tetap diam terhadap semua ini," kata Erdogan merujuk pada kehadiran pejuang Rusia akhir tahun lalu.

Sebelum menurunkan pasukan dan armada langsung, Turki hanya terbatas pada penjualan peralatan militer ke negara tersebut. Namun, setelah persetujuan, Turki mengirim bala bantuan meliputi sistem pertahanan udara dan pesawat nirawak baru, serta penasihat militer. Berkat dukungan Turki pasukan GNA kini sudah mendekati Sirte yang menjadi basis terakhir Haftar.

Sementara itu, militer Mesir mengatakan telah melakukan latihan-latihan yang melibatkan angkatan laut, angkatan udara, dan pasukan khusus di dekat perbatasan sebagai tanggapan atas perubahan besar dan cepat di kawasan itu.

Persiapan ini dilakukan untuk membantu tentara bayaran Rusia dari Kelompok Wagner hingga 1.200 orang dan Suriah yang pro-Haftar dengan dukungan logistik UEA sebanyak 900 orang.

Dalam hal armada, Erdogan merilis pesawat nirawak bersenjata buatan Turki, yaitu Bayraktar TB2 untuk membantu GNA. Menurut laporan Amerika Serikat, pasukan LNA pun mendapatkan dukungan pesawat tempur MiG 29 dan SU-24 dari Moskow pada Mei. Hal ini penambahan kekuatan dari armada UEA yang memasok pesawat nirawak Wing Loong buatan Cina yang telah memberi keunggulan di udara selama beberapa waktu.

Pertempuran udara di Libya juga menjadi sorotan karena penggunaan banyak pesawat udara nirawak (UAV) atau drone. Perwakilan Khusus PBB untuk Libya Ghassan Salame menyebut konflik itu perang drone terbesar di dunia, karena hampir 1.000 serangan udara dilakukan oleh UAV.

Pesawat nirawak Turki lebih kecil dan dengan jangkauan yang jauh lebih pendek daripada Wing Loong. Ditambah lagi pasukan GNA mendapatkan, Rudal Hawk, yang menjaga pertahan dari serangan udara.

Sejak pemimpin lama Libya, Muammar Gaddafi, digulingkan pada 2011, negara ini belum memiliki pemerintahan yang stabil. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Bentrokan antara GNA dan LNA sejak April 2019 telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas dan sekitar 5.500 lainnya terluka. [yy/republika]

 

 

Tags: Sirte | Libya | Haftar | Turki | Mesir