25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Isi Buku John Bolton: Trump Minta Bantuan China hingga Soal Uighur

Isi Buku John Bolton: Trump Minta Bantuan China hingga Soal Uighur

Fiqhislam.com - Buku memoar berjudul 'The Room Where It Happened' karya mantan penasihat keamanan nasional AS, John Bolton membuat publik heboh. Buku itu membongkar rahasia-rahasia pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang tak terekspos. Berikut ini beberapa poin kontroversial dalam buku tersebut.

Sebagaimana diketahui, John Bolton dipecat Trump pada September 2019 lalu karena pandangannya yang hawkish (suka menyerang negara lain). Seperti dilansir AFP, Rabu (11/9/2019), Trump mengumumkan pemecatan Bolton ini via Twitter pada Selasa (10/9) waktu setempat. Disebutkan Trump bahwa dirinya sangat tidak setuju dengan Bolton untuk beberapa kebijakan.

"Saya meminta John untuk mengundurkan diri, yang telah diajukan kepada saya pagi ini," tulis Trump dalam pernyataan via Twitter. Ditambahkan Trump bahwa pengganti Bolton akan diumumkan pekan depan.

Diketahui bahwa Bolton merupakan pejabat keempat yang menjabat Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun terakhir. Secara terpisah, Bolton menyebut Trump tidak memecat dirinya dan bersikeras menyebut dirinyalah yang berinisiatif mengundurkan diri.

"Saya menawarkan diri untuk mengundurkan diri semalam dan Presiden Trump mengatakan, 'Mari kita bicarakan itu besok'," tegas Bolton juga via Twitter.

Berbulan-bulan kemudian, Bolton pun menulis buku memoar berjudul 'The Room Where It Happened'. Buku itu berisi rahasia pemerintahan Trump yang didapatkan Bolton saat masih menjadi penasihat. Berikut ini beberapa poin buku itu yang dirangkum oleh The Guardian:

1. Trump Meminta Bantuan China Agar Menang Pilpres AS 2020

Menurut isi buku Bolton yang diterbitkan oleh Wall Street Journal, Trump meminta China untuk menggunakan kekuatan ekonominya untuk membantunya memenangkan pemilihan kedua.

Dalam satu contoh, Trump dan Presiden Xi Jinping sedang mendiskusikan permusuhan dengan China di AS. "Trump kemudian, secara menakjubkan, mengalihkan pembicaraan ke pemilihan presiden AS mendatang, menyinggung kemampuan ekonomi China dan memohon kepada Xi untuk memastikan dia menang," tulis Bolton.

2. Trump Mendukung Gagasan Penghapusan Batasan Masa Jabatan Presiden

Trump juga tampaknya mendukung gagasan Xi untuk menghilangkan batasan masa jabatan presiden. "Xi mengatakan dia ingin bekerja sama dengan Trump selama enam tahun lagi, dan Trump menjawab bahwa batas konstitusional dua periode masa jabatan presiden harus dicabut untuknya," tulis Bolton.

3. Trump Menawarkan Bantuan Penutupan Kasus

Buku Bolton dilaporkan merinci kasus-kasus di mana Trump mencoba menutup penyelidikan kasus kriminal sebagai bantuan kepada para pemimpin otoriter. Satu insiden yang dimuat di media Washington Post termasuk diskusi 2018 dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Bolton mengatakan Erdogan memberi memo kepada Trump yang mengklaim bahwa perusahaan Turki yang sedang diselidiki di AS tidak bersalah. "Trump kemudian mengatakan kepada Erdogan bahwa dia akan mengurus semuanya, menjelaskan bahwa jaksa distrik selatan bukan orangnya, tetapi orang-orang Obama, masalah yang akan diperbaiki ketika mereka digantikan oleh rakyatnya."

4. Trump Setuju dengan Penahanan Muslim Uighur

Menurut Bolton, Trump juga setuju dengan Xi yang membela soal penahanan massal Muslim Uighur di kamp-kamp penahanan di China.

"Menurut penerjemah kami," Bolton menulis, "Trump mengatakan bahwa Xi harus melanjutkan pembangunan kamp-kamp, yang menurut Trump adalah hal yang tepat untuk dilakukan."

Menurut dokumen partai Komunis yang bocor yang diterbitkan pada bulan November 2019, setidaknya 1 juta Muslim Uighur ditahan di kamp.

5. Trump Memakai Kasus Jamal Khashoggi untuk Mengalihkan Isu soal Ivanka

Trump menjadi headline pada November 2018 ketika ia merilis pernyataan aneh yang membela putra mahkota Saudi Mohammed bin Salman atas pembunuhan Jamal Khashoggi. Itu termasuk komentar seperti "Dunia adalah tempat yang sangat berbahaya!" dan "mungkin dia melakukannya dan mungkin dia tidak melakukannya!"

Menurut buku Bolton, menjadi headline adalah inti dari usaha Trump. Sebabnya, kisah tentang putrinya, Ivanka, yang menggunakan email pribadinya untuk urusan pemerintah juga menjadi berita pada saat itu.

"Ini akan mengalihkan perhatian dari isu Ivanka," kata Trump. "Jika saya membaca pernyataan itu secara langsung, itu akan mengambil alih masalah Ivanka," imbuhnya.

6. Mike Pompeo Mengejek Trump di Belakang

Dari apa yang telah dilaporkan, sepertinya buku Bolton memberikan salah satu wawasan paling jelas tentang keputusasaan para pejabat tinggi Trump di belakang layar.

Dalam satu contoh yang diberikan oleh New York Times, Bolton mengklaim dia menerima catatan dari Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo, setelah pertemuan Trump 2018 dengan Kim Jong-un Korea Utara, yang menyebut "Dia (Trump) sangat penuh omong kosong."

Di atas semua ini, Pompeo juga diduga mengatakan sebulan kemudian bahwa upaya diplomatik Trump dengan Korea Utara memiliki "probabilitas nol keberhasilan".

7. Trump Mengira Finlandia adalah bagian dari Rusia

Buku Bolton membongkar beberapa lubang besar Trump dalam pengetahuannya. Dalam satu contoh, Bolton mengatakan Trump sepertinya tidak memiliki pengetahuan dasar tentang Inggris.

Trump disebut pernah bertanya kepada mantan perdana menteri Inggris, Theresa May: "Oh, apakah Anda seorang tenaga nuklir?". Selain itu, Bolton juga menulis bahwa Trump pernah bertanya apakah Finlandia adalah bagian dari Rusia, dan berulang kali mencampuradukkan presidennya saat ini dan mantan presiden Afghanistan.

8. Trump Ingin Menyerang Venezuela Agar Tampak Keren

Menurut Washington Post, Bolton juga menulis dalam bukunya bahwa Trump mengatakan bahwa menyerang Venezuela akan terlihat "keren", dan bahwa negara itu "benar-benar bagian dari Amerika Serikat" [yy/news.detik]