22 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 25 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

Netanyahu: Saya Terima Kasih ke Trump Beri Sanksi ICC

Netanyahu: Saya Terima Kasih ke Trump Beri Sanksi ICC

Fiqhislam.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji langkah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap para pejabat Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Menurutnya hal itu menunjukkan Washington benar-benar sekutu Israel.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden (AS Donald) Trump dan Menteri Luar Negeri (Mike) Pompeo atas keputusan mereka untuk memberi sanksi kepada ICC di Den Haag," kata Netanyahu, dikutip laman Middle East Monitor, Senin (15/6).

Dia menilai ICC memang telah dipolitisasi dan terobsesi melakukan perburuan terhadap Israel dan AS serta negara-negara demokratis lainnya. Namun pada saat bersamaan ICC menutup mata terhadap pelanggar hak asasi manusia terburuk di dunia. "Termasuk rezim teroris di Iran," ujar Netanyahu.

Anggota parlemen Israel Ayelet Shaked juga menyambut keputusan AS menjatuhkan sanksi kepada ICC. "ICC disalahgunakan oleh Palestina dan pihak lainnya untuk mengejar kampanye politik melawan demokrasi, sementara mendistorsi hukum internasional," kata mantan menteri kehakiman Israel tersebut.

AS menjatuhkan sanksi ekonomi kepada para pejabat ICC yang terlibat dalam upaya penyelidikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan pasukan AS di Afghanistan. ICC telah menyetujui penyelidikan tersebut pada Maret lalu.

Pasukan AS telah hadir di Afghanistan sejak 2001. Mereka menjadi sekutu pemerintah dalam memerangi Taliban dan kelompok teroris lainnya. Pada Februari lalu, AS telah mencapai kesepakatan damai dengan Taliban. Dalam kesepakatan damai tersebut, AS sepakat untuk menarik pasukannya secara gradual dari Afghanistan. [yy/republika]

 

 

Netanyahu: Saya Terima Kasih ke Trump Beri Sanksi ICC

Fiqhislam.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji langkah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap para pejabat Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Menurutnya hal itu menunjukkan Washington benar-benar sekutu Israel.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden (AS Donald) Trump dan Menteri Luar Negeri (Mike) Pompeo atas keputusan mereka untuk memberi sanksi kepada ICC di Den Haag," kata Netanyahu, dikutip laman Middle East Monitor, Senin (15/6).

Dia menilai ICC memang telah dipolitisasi dan terobsesi melakukan perburuan terhadap Israel dan AS serta negara-negara demokratis lainnya. Namun pada saat bersamaan ICC menutup mata terhadap pelanggar hak asasi manusia terburuk di dunia. "Termasuk rezim teroris di Iran," ujar Netanyahu.

Anggota parlemen Israel Ayelet Shaked juga menyambut keputusan AS menjatuhkan sanksi kepada ICC. "ICC disalahgunakan oleh Palestina dan pihak lainnya untuk mengejar kampanye politik melawan demokrasi, sementara mendistorsi hukum internasional," kata mantan menteri kehakiman Israel tersebut.

AS menjatuhkan sanksi ekonomi kepada para pejabat ICC yang terlibat dalam upaya penyelidikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan pasukan AS di Afghanistan. ICC telah menyetujui penyelidikan tersebut pada Maret lalu.

Pasukan AS telah hadir di Afghanistan sejak 2001. Mereka menjadi sekutu pemerintah dalam memerangi Taliban dan kelompok teroris lainnya. Pada Februari lalu, AS telah mencapai kesepakatan damai dengan Taliban. Dalam kesepakatan damai tersebut, AS sepakat untuk menarik pasukannya secara gradual dari Afghanistan. [yy/republika]

 

 

Netanyahu: Putin Selamatkan Israel dari Resolusi PBB Soal Palestina

Netanyahu: Putin Selamatkan Israel dari Resolusi PBB Soal Palestina


Fiqhislam.com - Presiden Rusia Vladimir Putin menyelamatkan Israel dari potensi resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada 2016 yang akan memaksa Israel membentuk negara Palestina sesuai perbatasan 1948.

Informasi itu diungkapkan oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Menurut surat kabar Israeli Hayom, sekitar enam bulan lalu, Netanyahu menyatakan dia meminta seorang teman yang dia sebut pemimpin salah satu superpower yang memegang hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk menolak resolusi. Pemimpin itu, menurut Netanyahu, menyelesaikan misi itu.

Surat kabar itu melaporkan lebih rinci kemarin dengan menambahkan, Netanyahu menyebut AS di era mantan Presiden Barack Obama mempelopori Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334, yang menyatakan Israel melanggar hukum internasional di wilayah Palestina yang diduduki pada 1967.

Setelah diinformasikan rincian resolusi itu pada November 2016, Netanyahu menelpon Putin dan menjelaskan itu akan mengacaukan stabilitas regional dan merugikan Israel.

Israeli Hayom menambahkan, Netanyahu meminta Putin menyatakan bahwa dia ingin menggunakan hak vetonya untuk mematikan resolusi itu. Tapi Putin menolak.

Dua bulan sebelum dia melepas jabatan, Obama menyusun resolusi lain yang akan mengharuskan Israel menerima negara Palestina berdasarkan perbatasan 1948.

Sekali lagi, Netanyahu meminta bantuan Putin dan menjelaskan padanya bahwa resolusi baru Obama akan sangat merugikan Israel dan dapat mengacaukan kawasan. (Lihat Video: Evakuasi Seorang Remaja di Bombana yang Dililit Ular Berjalan Dramatis)

Putin diyakinkan, menurut Netanyahu, dan sepakat bahwa jika resolusi itu akan divoting, Rusia akan menggunakan veto untuk memaksa Obama meninggalkan rencananya. [yy/sindonews]