30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Covid-19 Lintas Dunia 30/04/2020: Positif 3,232,490 | Meninggal 228,508 | Sembuh 1,007,903

Last updated: April 30, 2020, 09:44 GMT | 16:44 WIB - Worldometers


Covid-19 Lintas Dunia 30/04/2020: Positif 3,232,490 | Meninggal 228,508 | Sembuh 1,007,903Fiqhislam.com - Jumlah kesembuhan pasien Corona COVID-19 paling besar kini tercatat di Spanyol, yang mencapai 132.929 dan kini disusul AS dengan  120.720 orang pulih.

Amerika merupakan negara yang memiliki kasus infeksi terbesar mencapai 1.039.909.

Saat ini, Spanyol, Italia, Prancis dan Inggris tercatat sebagai negara dengan kasus infeksi terbesar setelah Amerika Serikat, menurut data Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE yang dikutip Kamis, (30/4/2020).

Jumlah kasus infeksi Corona COVID-19 terbesar kedua tercatat di Spanyol, yang mencapai 236.899 kasus.

Kasus infeksi terbesar ketiga tercatat di Italia, yang mencapai 203.591 kasus dengan 71.252 orang pulih. Lalu 166.543 orang dinyatakan positif mengidap Virus SARS-CoV-2 di Prancis, dengan 49.118 orang pulih.

Pasien positif Corona COVID-19 di Inggris kini tercatat sebagai kelima terbesar, yakni sebanyak 166.441 kasus dan dengan 857 pasien pulih.

Mengutip dari gisanddata.maps.arcgis.com, jumlah kematian karena Virus Corona COVID-19 secara global tercatat sebanyak 227.638 jiwa. Terus bertambah setiap hari.

Dalam data peta penyebaran Virus Corona COVID-19 tersebut kini ada 185 negara dan wilayah yang terjangkit termasuk China dan pasien dari Kapal Pesiar Diamond Princess.

Sementara menurut www.worldometers.info/coronavirus/#countries sudah mencapai 210 negara.

Angka kematian paling besar tercatat di Amerika Serikat, yang mencapai 60.967 jiwa. 

Total kematian terbesar selanjutnya berada di Italia yang mencatat 27.682 jiwa, lalu kini disusul Inggris yang mencapai 26.097 jiwa. 

Sementara Spanyol kini mencatat 24.275 kematian, lalu Prancis dengan 24.087 korban jiwa. [yy/liputan6]


Last updated: April 30, 2020, 09:44 GMT | 16:44 WIB - Worldometers


Covid-19 Lintas Dunia 30/04/2020: Positif 3,232,490 | Meninggal 228,508 | Sembuh 1,007,903Fiqhislam.com - Jumlah kesembuhan pasien Corona COVID-19 paling besar kini tercatat di Spanyol, yang mencapai 132.929 dan kini disusul AS dengan  120.720 orang pulih.

Amerika merupakan negara yang memiliki kasus infeksi terbesar mencapai 1.039.909.

Saat ini, Spanyol, Italia, Prancis dan Inggris tercatat sebagai negara dengan kasus infeksi terbesar setelah Amerika Serikat, menurut data Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE yang dikutip Kamis, (30/4/2020).

Jumlah kasus infeksi Corona COVID-19 terbesar kedua tercatat di Spanyol, yang mencapai 236.899 kasus.

Kasus infeksi terbesar ketiga tercatat di Italia, yang mencapai 203.591 kasus dengan 71.252 orang pulih. Lalu 166.543 orang dinyatakan positif mengidap Virus SARS-CoV-2 di Prancis, dengan 49.118 orang pulih.

Pasien positif Corona COVID-19 di Inggris kini tercatat sebagai kelima terbesar, yakni sebanyak 166.441 kasus dan dengan 857 pasien pulih.

Mengutip dari gisanddata.maps.arcgis.com, jumlah kematian karena Virus Corona COVID-19 secara global tercatat sebanyak 227.638 jiwa. Terus bertambah setiap hari.

Dalam data peta penyebaran Virus Corona COVID-19 tersebut kini ada 185 negara dan wilayah yang terjangkit termasuk China dan pasien dari Kapal Pesiar Diamond Princess.

Sementara menurut www.worldometers.info/coronavirus/#countries sudah mencapai 210 negara.

Angka kematian paling besar tercatat di Amerika Serikat, yang mencapai 60.967 jiwa. 

Total kematian terbesar selanjutnya berada di Italia yang mencatat 27.682 jiwa, lalu kini disusul Inggris yang mencapai 26.097 jiwa. 

Sementara Spanyol kini mencatat 24.275 kematian, lalu Prancis dengan 24.087 korban jiwa. [yy/liputan6]


Corona di AS Capai 1 Juta, Gelombang Kedua Dikhawatirkan

Corona di AS Capai 1 Juta, Gelombang Kedua Dikhawatirkan


Fiqhislam.com - Virus corona yang dikonfirmasi di Amerika Serikat (AS) telah menembus angka 1 juta. Sehingga menjadikan AS sebagai negara dengan kasus virus corona tertinggi di dunia.

Berdasarkan data Worldometers per hari Rabu (29/4/2020), kasus terkonfirmasi di AS ada 1.035.765 dengan total kematian 59.266 dan sembuh 142.238.

Totalnya mencakup kasus-kasus dari seluruh 50 negara bagian, Distrik Columbia dan wilayah AS lainnya, serta kasus yang direpatriasi, menurut CNN.

Meski demikian, sejumlah negara bagian di AS mulai melonggarkan lockdown atau pembatasan sosial seiring tambahan kasus positif virus corona yang mulai menurun. Karena itu pendiri Microsoft Bill Gates khawatir jika gelombang kedua pandemi corona bisa terjadi di AS.

"Jika membuka (lockdown), AS dapat kembali ke pertumbuhan eksponensial (infeksi virus corona)," kata Gates.

Gates mengungkapkan bahwa pembukaan lockdown yang sukses harus dilakukan secara bertahap. Langkah ini juga diharapkan membuka perekonomian yang mulai surut tapi tetap sejalan dengan rekomendasi dari banyak pakar kesehatan dan ekonom, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia  atau WHO.

Selain itu, Gates juga menyarankan agar pemerintah melakukan tes secara besar-besaran guna menghindari gelombang kedua ledakan kasus baru virus corona. Menurut Gates,  pemerintah AS harus melakukan jutaan tes setiap pekan sebelum lockdown dicabut.

"Perlu diterapkan pengujian yang sangat padat sehingga bisa mendeteksi adanya gelombang kedua ke pertumbuhan eksponensial dengan sangat cepat," kata dia.

Lebih lanjut, Gates mengatakan bahwa pemerintah harus melakukan pelacakan kontak kepada setiap orang yang berhubungan dengan pasien Covid-19. [yy/republika]


China Minta Teori Konspirasi tak Dipakai Ungkap Asal Corona

China Minta Teori Konspirasi tak Dipakai Ungkap Asal Corona


Fiqhislam.com - Wakil Menteri Luar Negeri Cina Le Yucheng kembali menegaskan bahwa virus corona baru penyebab Covid-19 bukan berasal dari laboratorium di Wuhan. Terkait hal itu, dia meminta publik mendengarkan keterangan para ahli dan tak menggunakan teori konspirasi.

Le mengatakan penyingkapan sumber virus corona adalah masalah sains yang serius dan kompleks. Hal itu harus dikaji dan diteliti oleh para ilmuwan serta pakar medis.

“Sesuatu yang aneh sekarang adalah bahwa beberapa tokoh politik, yang diduga ekonom dan intelijen, memberikan laporan sensasional soal sumber Covid-19. Secara luas dikonfirmasi oleh para ahli bahwa Covid-19 bukan dari laboratorium,” ujar Le saat diwawancara NBC yang trasnkripnya diterbitkan Kementerian Luar Negeri Cina pada Kamis (30/4).

Dia mengatakan 27 ahli profesional telah menyatakan Covid-19 bermula secara natural dan tidak disintesis secara artifisial. Keterangan mereka diterbitkan di Lancet, jurnal medis kredibel. 

“Kita perlu mendengarkan para ahli, bukan politisi. Kita perlu menghormati sains dan menahan diri dari menggunakan teori konspirasi,” ujar Le.

Amerika Serikat (AS) adalah pihak pertama yang secara terbuka menyampaikan kecurigaan dan dugaannya bahwa Covid-19 berasal dari laboratorium Wuhan Institute of Virology (WIV). Oleh sebab itu, Washington menyerukan penyelidikan independen untuk menguak asal-usul virus dan cara penyebarannya.

Pada Rabu (29/4), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo kembali mendesak Cina membuka akses ke laboratorium WIV. Dia menyebut dunia perlu memahami bagaimana pandemi Covid-19 bermula. 

"Kami masih belum mendapatkan akses, dunia belum memperoleh akses ke WIV di sana. Kita tidak tahu persis dari mana virus ini berasal," kata Pompeo dalam sebuah konferensi pers di Departemen Luar Negeri AS.

Dia menyebut kekhawatiran AS terkait keamanan laboratorium di China tetap ada. "Ada beberapa laboratorium yang terus melakukan pekerjaan, kami pikir, pada patogen menular di China hari ini dan kami tidak tahu apakah mereka beroperasi pada tingkat keamanan untuk mencegah hal ini terjadi lagi," ujarnya. [yy/republika]


Warga Jepang Langgar Imbauan di Rumah Saja

Warga Jepang Langgar Imbauan di Rumah Saja


Fiqhislam.com - Setelah Jepang mengumumkan darurat nasional, masyarakat diminta tidak keluar rumah dan tinggal di rumah. Tapi tampaknya banyak warga yang tidak mengindahkan imbauan tersebut.

Sebagian masih pergi bekerja dengan menggunakan kereta walaupun ada risiko tertular virus corona. Sementara yang lainnya makan malam di luar, piknik di taman dan berkerumun di toko-toko tanpa mematuhi peraturan pembatasan sosial atau jaga jarak.

Jepang memasuki musim liburan yang dikenal 'Golden Week' yakni serangkaian tanggal merah hingga 5 Mei. Pada Rabu (29/4) kemarin banyak orang tua membawa anak-anak mereka berkemah di Taman Shiba, Tokyo.

Daya tarik liburan menguji persatuan masyarakat dalam menghadapi musuh bersama. Karena petugas kesehatan pun sudah memperingatkan peningkatan jumlah kasus infeksi dapat membebani sistem kesehatan di beberapa wilayah.

Para pakar mengatakan rasa kedaruratan di masyarakat tidak ada. Karena pemerintah memberikan pesan yang tidak konsisten dan tidak memberikan insentif untuk tetap tinggal di rumah. Okinawa meminta wisatawan untuk tidak berkunjung untuk 'melindungi kakek dan nenek kami'.

"Mohon batalkan perjalanan Anda ke Okinawa dan tunggu hingga kami menyambut Anda, sayangnya Okinawa tidak dapat memberi keramah tamahan dan sistem medis kami termasuk di pulau-pulau terpencil dalam keadaan darurat," kata Gubernur Okinawa Denny Tamaki di Twitter, Kamis (30/4).

Pandemi virus corona mengadu kelompok yang bersedia mengikuti peraturan tetap tinggal di rumah dengan mereka yang menolaknya. Professor psikologi sosial University of Tokyo Naoya Sekiya mengatakan pemerintah dapat mengirimkan pesan yang lebih keras seperti karantina nasional.

Sementara, Gubernur Tokyo Yuriko Koike kecewa dengan ketidakpatuhan warga. Jepang tidak menghukum warga yang melanggar imbauan tetap tinggal di rumah.

Secara hukum status darurat nasional yang dapat meminta kepatuhan warga. Tidak ada hukuman bagi warga yang melanggarnya. Hanya ada beberapa insentif bagi toko yang ditutup.

Pemerintah Perdana Menteri Shinzo Abe lebih mengutamakan ekonomi dibandingkan kesehatan publik. Ia bersikeras Jepang tidak akan mengadopsi karantina nasional gaya Eropa sehingga melumpuhkan perekonomian. Menteri ekonominya yang memimpin rapat gugus tugas virus corona.    

"Pesan dari pemerintah cenderung ringan, tampaknya menyampaikan pentingnya tinggal di rumah sambil memprioritaskan ekonomi," kata Sekiya.

Sekiya mengatakan rasa kedaruratan masyarakat berbeda-beda. Maka daripada tetap tinggal di rumah mereka berharap yang terbaik dan berasumsi tidak terinfeksi.

Berdasarkan jajak pendapat surat kabar Asahi menunjukkan sepertiga masyarakat mengatakan mereka lebih jarang keluar rumah daripada biasanya. Tapi hanya lebih dari setengahnya yang merasa dapat mematuhi permintaan Abe untuk mengurangi interaksi sosial sebanyak 80 persen dari biasanya.[yy/republika]


Tolak Lockdown, Swedia Catat Rekor Kematian Akibat COVID-19

Tolak Lockdown, Swedia Catat Rekor Kematian Akibat COVID-19


Fiqhislam.com - Swedia mencatat pekan paling mematikan di abad ke-21 yang diakibatkan virus corona atau COVID-19 setelah secara kontroversial menolak tindakan lockdown. Menurut laporan, setidaknya 2.505 warga Swedia tewas selama 6-12 April, artinya 358 kematian per hari.

Peneliti dari badan statistik Statistics Sweden, Tomas Johansson, mengatakan data tersebut adalah data statistik awal. “Penting dilaporkan bahwa selain data statistik awal, jumlah kematian, terutama minggu-minggu terakhir, akan disesuaikan,” ujar dia, seperti dikutip laman New York Post, Selasa, 28 April 2020.

Lonjakan kematian baru-baru ini terjadi ketika negara itu menolak untuk menerapkan langkah-langkah isolasi untuk menghentikan penyebaran virus. Pemerintah Negara Viking itu lebih memilih meminta warga melakukan pembatasan sosial (social distancing) dibandingkan kebijakan lockdown.

"Pihak berwenang dan pemerintah bodoh tidak percaya bahwa epidemi akan mencapai Swedia," kata Bo Lundback, profesor epidemiologi di University of Gothenburg.

Berdasarkan peta sebaran kasus viruc corona, Swedia telah mencatat lebih dari 20.000 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi pada Rabu malam, yang mengakibatkan 2.462 kematian. Sebagai perbandingan, tetangganya yang merupakan negara Nordik seperti Denmark, Norwegia dan Finlandia masing-masing hanya mencatat 443, 207 dan 206 kematian, pada Rabu malam. [yy/tempo]


Jumlah Korban Meninggal Virus Corona di Brasil 5.500 Orang

Jumlah Korban Meninggal Virus Corona di Brasil 5.500 Orang


Fiqhislam.com - Jumlah korban meninggal akibat infeksi virus Corona di Kota Manaus, di negara bagian Amazonas, Brasil, meningkat drastis.

Ini membuat petugas mengubur lima peti mati dalam satu lubang kuburan.

“Situasinya kacau di sini,” kata Maria Garcia, yang menunggu tiga jam untuk mendapatkan sertifikat kematian kakeknya yang berusia 80 tahun seperti dilansir Reuters pada Kamis, 30 April 2020.

Kakeknya meningal dunia pada pagi hari di rumahnya setelah mengalami gangguan pernapasan hebat.

Petugas kuburan sempat menumpuk peti mati di atas peti mati lainnya sebelum praktek ini dihentikan karena protes dari keluarga korban.

Kota Manaus menjadi yang pertama di Brasil kekurangan ruang layanan intensive care unit. Namun, sejumlah kota lain di Brasil juga terancam segera kehabisan ruang ICU ini karena jumlah pasien baru yang melonjak.

Pada Rabu, Brasil mencatat ada 6.276 kasus baru infeksi virus Corona.

Kementerian Kesehatan Brasil mencatat ada 449 orang meninggal selama Rabu kemarin. Sehingga total korban meninggal di Brasil mencapai 5.466 dari total 78.162 orang korban terinfeksi.

Di Kota Rio de Janeiro, sejumlah pemukiman mempercepat pembangunan ruang di atas tanah untuk tempat pemakaman korban infeksi virus Corona.

Presiden sayap kanan Brasil, Jair Bolsonaro, yang meremehkan wabah virus Corona ini, menyebut wabah ini sebagai flu kecil. Dia mendapat kritik keras dari berbagai kalangan terkait meningkatnya jumlah korban meninggal akibat virus Corona ini.

“Terus apa? Saya minta maaf. Tapi apa yang Anda ingin saya lakukan,” kata Bolsonaro kepada media pada Selasa kemarin sambil mengatakan dia tidak bisa membawa mukjizat.

Analis Deutche Bank mengatakan akselerasi jumlah korban meninggal di Brasil menjadi yang paling memprihatinkan di semua negara emerging.

“Manaus menjadi prioritas saat ini karena kondisi bencana yang terjadi,” kata Nelson Teich, menteri Kesehatan baru Brasil. Dia mengatakan pemerintah akan mengirim pesawat berisi ventilator ke Manaus pada Kamis ini untuk para pasien virus Corona. [yy/tempo]

 

Tags: Corona | Covid-19