14 Jumadil-Akhir 1443  |  Senin 17 Januari 2022

basmalah.png

BERITA INTERNASIONAL

Covid-19 Lintas Dunia 02/04/2020: 932 Ribu Kasus dan 46.809 Meninggal Dunia

884 Orang Meninggal dalam Sehari akibat Corona, Kasus Kematian di AS Tembus 5.000


Covid-19 Lintas Dunia 02/04/2020: 932 Ribu Kasus dan 46.809 Meninggal DuniaFiqhislam.com - Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi jumlah penambahan harian kasus kematian akibat virus corona pada Rabu (1/4/2020) waktu setempat, yakni sebanyak 884 orang.

Dengan demikian jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di AS hingga Rabu malam waktu setempat atau 0235 GMT telah melampaui 5.000, tepatnya 5.116, berdasarkan data Universitas Johns Hopkins.

Dalam kasus kematian, jumlah di AS masih di bawah Italia namun sudah menyusul China sebagai negara awal mula ditemukannya kasus virus mematikan ini.

Johns Hopkins juga mengungkap data kasus terinfeksi di AS yakni mencapai 215.417 orang.

Dari jumlah korban terinfeksi, AS merupakan yang tertinggi di dunia menyusul China dan Italia.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump meragukan penghitungan jumlah korban wabah virus corona di China.

“Bagaimana kita tahu (jika mereka akurat). Jumlah mereka tampaknya lebih sedikit di sisi terang,” kata Trump.

Meski meragukan penghitungan jumlah korban serta menyebut China tak transparan soal informasi virus corona, Trump menegaskan hubungannya dengan China tetap baik, termasuk dengan Presiden Xi Jinping.

Pernyataan itu disampaikan Trump setelah anggota parlemen AS, merujuk laporan Bloomberg yang mengutip sumber di intelijen AS, mengatakan, China kemungkinan telah menyesatkan komunitas internasional tentang infeksi yang dimulai dari Kota Wuhan itu. Beberapa pejabat intelijen menyebut angka yang diugnkap China palsu.

Senator Partai Republik Ben Sasse menyebut data yang disampaikan China sebagai propaganda sampah. [yy/iNews]

884 Orang Meninggal dalam Sehari akibat Corona, Kasus Kematian di AS Tembus 5.000


Covid-19 Lintas Dunia 02/04/2020: 932 Ribu Kasus dan 46.809 Meninggal DuniaFiqhislam.com - Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi jumlah penambahan harian kasus kematian akibat virus corona pada Rabu (1/4/2020) waktu setempat, yakni sebanyak 884 orang.

Dengan demikian jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di AS hingga Rabu malam waktu setempat atau 0235 GMT telah melampaui 5.000, tepatnya 5.116, berdasarkan data Universitas Johns Hopkins.

Dalam kasus kematian, jumlah di AS masih di bawah Italia namun sudah menyusul China sebagai negara awal mula ditemukannya kasus virus mematikan ini.

Johns Hopkins juga mengungkap data kasus terinfeksi di AS yakni mencapai 215.417 orang.

Dari jumlah korban terinfeksi, AS merupakan yang tertinggi di dunia menyusul China dan Italia.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump meragukan penghitungan jumlah korban wabah virus corona di China.

“Bagaimana kita tahu (jika mereka akurat). Jumlah mereka tampaknya lebih sedikit di sisi terang,” kata Trump.

Meski meragukan penghitungan jumlah korban serta menyebut China tak transparan soal informasi virus corona, Trump menegaskan hubungannya dengan China tetap baik, termasuk dengan Presiden Xi Jinping.

Pernyataan itu disampaikan Trump setelah anggota parlemen AS, merujuk laporan Bloomberg yang mengutip sumber di intelijen AS, mengatakan, China kemungkinan telah menyesatkan komunitas internasional tentang infeksi yang dimulai dari Kota Wuhan itu. Beberapa pejabat intelijen menyebut angka yang diugnkap China palsu.

Senator Partai Republik Ben Sasse menyebut data yang disampaikan China sebagai propaganda sampah. [yy/iNews]

Lebih 102.136 Orang Positif Corona di Spanyol, 9.053 Tewas dan 22.647 Sembuh

Lebih 102.136 Orang Positif Corona di Spanyol, 9.053 Tewas dan 22.647 Sembuh


Fiqhislam.com - Keganasan virus Corona terus merenggut banyak nyawa di Spanyol. Hingga Rabu (1/4) waktu setempat, lebih dari 9 ribu orang telah meninggal di Spanyol usai terinfeksi virus Corona, sedangkan jumlah kasus infeksi Coronavirus telah menembus angka 100 ribu kasus.

Spanyol menjadi negara dengan jumlah kematian tertinggi kedua di dunia setelah Italia, dengan virus tersebut telah menewaskan 9.053 orang setelah 864 orang meninggal dalam waktu 24 jam terakhir, angka harian tertinggi di Spanyol. Adapun total jumlah kasus infeksi Coronavirus mencapai 102.136 orang. Dilaporkan bahwa sebanyak 22.647 orang telah sembuh dan meninggalkan rumah sakit.

Namun berdasarkan data harian, tingkat kasus baru terus menunjukkan tren menurun selama sepekan terakhir. Terlebih lagi, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dan mereka yang dirawat intensif di ICU telah menurun. Hal ini menunjukkan bahwa wabah virus Corona telah mencapai puncaknya.

Demikian disampaikan kepala unit koordinasi darurat Kementerian Kesehatan, Fernando Simon, seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (2/4/2020).

"Ini penting," kata Simon yang dirinya juga dinyatakan positif Corona pekan ini.

"Saat ini masalah utama bukan soal apakah kita telah mencapai puncaknya atau tidak, tampaknya kita telah sampai di sana, dan angka-angka mulai menurun," ujarnya.

Dikatakannya, prioritas utama saat ini adalah memastikan sistem kesehatan mampu menjamin perawatan memadai bagi seluruh pasien.

Menurut para pejabat Spanyol, angka-angka belakangan ini memberikan indikasi sangat positif bahwa kebijakan lockdown yang diterapkan sejak 14 Maret lalu, telah berhasil mengendalikan penyebaran virus Corona.

Berdasarkan data terbaru pada Rabu (1/4) waktu setempat, jumlah kasus baru Coronavirus meningkat 8 persen, dibandingkan dengan hampir 11 persen pada hari sebelumnya dan 20 persen pada sepekan lalu. [yy/news.detik]

Angka Kematian Covid-19 Prancis Capai 4.032 Jiwa

Angka Kematian Covid-19 Prancis Capai 4.032 Jiwa


Fiqhislam.com - Otoritas kesehatan Prancis mencatat 509 kematian baru akibat Covid-10 pada Rabu (1/4). Jumlah itu menambah jumlah akumulasi menjadi 4.032 jiwa sekaligus menjadikan Prancis negara keempat dengan kematian di atas 4.000 setelah Italia, Spanyol, dan Amerika Serikat.

Sempat meningkat dua hari sebelumnya, tingkat kenaikan kematian virus corona melambat di Prancis, yang kini menginjak pekan ketiga karantina wilayah untuk menekan penyebaran virus. Data harian pemerintah hanya menghitung mereka yang berada di rumah sakit. Namun, otoritas menyebutkan akan segera menghimpun data kematian dari rumah pensiunan, yang sepertinya menimbulkan lonjakan besar daftar kematian.

Menteri Kesehatan Jerome Salomon saat konferensi pers mengatakan, jumlah kasus meningkat menjadi 56.989 atau naik 9 persen dibanding hari sebelumnya. Menurut dia, terdapat 6.017 orang dalam kondisi kritis, yang juga mengalami peningkatan 8 persen dibanding Selasa (31/3).

Prancis menambah jumlah tempat tidur di unit perawatan intensif dari 5.000 menjadi sekitar 10 ribu sejak awal krisis. Negara itu sedang berupaya agar memiliki tambahan menjadi 14.500 tempat tidur. [yy/republika]

China Lockdown Kota Jia Hadapi Gelombang Kedua Serangan Corona

China Lockdown Kota Jia Hadapi Gelombang Kedua Serangan Corona


Fiqhislam.com - Pemerintah Cina memutuskan lockdown Jia, kota di provinsi Henan untuk menghadapi gelombang kedua serangan virus Corona.

Kota Jia berpenduduk sekitar 600 ribu diharuskan tinggal di dalam rumah. Siapa saja yang keluar rumah diwajibkan meminta izin, suhu tubuh diukur, dan wajib mengenakan masker selama di luar rumah.

Seluruh kegiatan bisnis juga telah ditutup, kecuali pemasok medis, perusahaan logistik, dan perusahaan pengolahan makanan.

Semua toko kecuali supermarket, rumah sakit, pasar makanan, SPBU, apotik, dan hotel telah ditutup.

Mereka yang ingin bekerja mendapat izin khusus. Mobil hanya dapat digunakan untuk hari-hari tertentu tergantung nomor polisinya.

Kota Jia menjadi kota kedua setelah Wuhan yang mengalami lockdown total akibat pandemi virus Corona.

"Lebih baik tidak datang ke kota Jia sekarang. Tak seorang pun bisa masuk atau keluar," kata seorang staf transportasi kota Jia mengkonfirmasi kota itu telah diisolasi sebagaimana dilaporkan South China Morning Post, 1 April 2020.

Seorang warga Jia, Wang Xiao, 23 tahun mengatakan dirinya diberitahu warga desanya tentang Jia lockdown pada Selasa sore.

Menurut Wang, aparat berwenang meminta warga Jia menyiapkan sayuran dan kebutuhan sehari-hari untuk persiapan isolasi.

Setiap keluarga juga diminta untuk menugaskan satu orang untuk ke luar rumah ke toko kebutuhan sehari-hari setiap dua hari.

Wang kemudian merujuk berita media massa bahwa di kota Jia ditemukan 3 kasus infeksi virus Corona.

Seorang dokter yang bekerja di rumah sakit di Jia dilaporkan positif terjangkit virus Corona Sabtu lalu. Dokter dengan nama keluarga Liu kembali dari Wuhan pada Januari lalu dan melanjutkan tugasnya di rumah sakit itu setelah menjalani isolasi mandiri selama 2 minggu.

Namun virus Corona yang bercokol di tubuh Liu telah berpindah ke dua rekan kerjanya di rumah sakit itu dan seorang teman sekelasnya. Hasil tes menyebutkan semua mereka positif terjangkit virus Corona.

Lockdown kota Jia terjadi justru setelah Cina mengalami penurunan total pandemi virus Corona. Provinsi Hubei, di mana Wuhan menjadi ibukotanya telah kembali berdenyut dengan aktivitas warganya termasuk aktivitas ekonomi serta transportasi.Sementara status Wuhan lockdown akan berakhir pada 8 April ini.

Kemarin, Komisi Kesehatan Nasional melaporkan 37 kasus infeksi virus Corona yang baru, satu di antaranya berasal dari luar Cina. [yy/tempo]

Duterte Perintahkan Tembak Mati Warga yang Langgar Lockdown

Duterte Perintahkan Tembak Mati Warga yang Langgar Lockdown


Fiqhislam.com - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte memerintahkan polisi dan militer untuk menembak mati siapa pun yang melanggar perintah lockdown di Pulau Luzon. Pemerintah Filipina telah memberlakukan lockdown selama satu bulan di pulau tersebut sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona jenis baru, atau Covid-19.

"Ini menjadi peringatan bagi kita semua. Ikuti aturan pemerintah karena ini adalah perintah sangat penting, dan jangan membahayakan pekerja kesehatan, serta para dokter, karena itu adalah kejahatan serius. Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada yang membuat masalah: tembak mati," ujar Duterte, dalam pidato nasional di televisi pada Rabu (2/4).

Peringatan Duterte datang setelah penduduk di sebuah daerah kumuh di Kota Quezon Manila melakukan protes di sepanjang jalan raya. Mereka mengklaim belum menerima paket makanan dan pasokan bantuan lainnya sejak lockdown dimulai lebih dari dua minggu lalu.

Petugas keamanan desa dan polisi mendesak warga untuk kembali ke rumah mereka, tetapi mereka menolak. Polisi membubarkan aksi protes dan menangkap 20 orang. Pemimpin aksi protes, Jocy Lopez mengatakan, mereka terpaksa melakukan demonstrasi karena tidak memiliki bahan pangan selama masa lockdown.

"Kami di sini untuk meminta bantuan karena kelaparan. Kami belum diberi makanan, beras, bahan makanan atau uang tunai. Kami tidak punya pekerjaan," ujar Lopez, dilansir Aljazirah.

Kelompok-kelompok aktivis mengecam penangkapan itu. Mereka mendesak pemerintah untuk mempercepat pemberian bantuan tunai yang dijanjikan di bawah program perlindungan sosial senilai 200 miliar peso. Bantuan tersebut diberikan untuk membantu keluarga miskin dan keluarga yang kehilangan pekerjaan karena lockdown.

"Menggunakan kekuatan berlebihan dan penahanan tidak akan memadamkan perut kosong orang Filipina yang sampai hari ini tetap belum memberikan bantuan uang tunai untuk orang miskin," kata kelompok hak asasi perempuan Gabriela. [yy/republika]

Turkmenistan Larang Kata 'Virus Corona' dan Ancam Tangkap Warga Pemakai Masker

Turkmenistan Larang Kata 'Virus Corona' dan Ancam Tangkap Warga Pemakai Masker


Fiqhislam.com - Turkmenistan melarang media menggunakan kata “virus corona” dan mengancam akan menangkap warga yang memakai masker.

Kelompok Reporters Without Borders yang bermarkas di Paris, melaporkan siapa pun yang berbicara soal virus corona di Turkmenistan, akan ditangkap oleh polisi berpakaian preman di negara itu.

Sebuah stasiun radio Turkmenistan mengklaim bahwa agen-agen khusus menguping pembicaraan warga di bus dan tempat-tempat umum, yang membicarakan soal virus corona.

Turkmenistan, negara bekas Uni Soviet, itu mengklaim tidak memiliki kasus virus corona, meskipun berbatasan dengan Iran yang telah melaporkan lebih dari 44.000 kasus infeksi virus corona.

Baca juga: Presiden Jokowi Larang Daerah Blokir Jalan agar Distribusi Logistik Tak Terganggu

Media milik pemerintah di Turkmenistan juga belum pernah membahas topik pandemi virus corona atau melaporkan tindakan pemerintah untuk mengatasi virus corona.

Melansir Daily Mail, Kamis (2/4/2020) Reporters Without Borders melaporkan kata “coronavirus” juga telah dihapus dari brosur informasi kesehatan yang didistribusikan ke sekolah, rumah sakit dan tempat kerja.

"Media yang dikendalikan negara tidak lagi diizinkan menggunakan kata itu," kata Reporters Without Borders, mengutip sumber berita independen Turkmenistan Chronicle, yang dilarang di negara itu.

Presiden Tukrmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov sebelumnya mengatakan kepada para pejabat untuk melakukan pengasapan membakar harmala, yakni ramuan lokal.

Ia mengklaim bahwa dampak pengasapan bisa membasmi virus yang tidak terlihat oleh mata telanjang, jelasnya tanpa menyebutkan Covid-19.

Berdymukhamedov, seorang mantan dokter gigi, telah memerintah negara itu sejak 2006.

Radio Azatlyk, sebuah stasiun berbahasa Turkmenistan, mengklaim bahwa agen layanan keamanan berpakaian preman menahan warga yang berbicara mengenai virus corona.

"Agen khusus mendengarkan percakapan di halte, di dalam bus," kata stasiun radio itu.

Meskipun demikian, pemerintah telah mengambil beberapa tindakan pencegahan kesehatan masyarakat. Liburan sekolah telah diperpanjang tanpa menyebutkan alasannya.

Nasabah bank di ibu kota Ashgabat, diberikan tisu basah dan disemprot dengan desinfektan di mulut mereka.

Temperatur diperiksa di bus kota dan kendaraan dibersihkan dengan larutan klorin. Namun, pertemuan massal belum dilarang.

Pemerintah Turkmenistan mengklaim bahwa negara itu adalah salah satu tempat terakhir di Bumi yang bebas virus corona.

Peringkat terakhir dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2019, Turkmenistan adalah salah satu negara paling tertutup di dunia, kata Reporters Without Borders. [yy/okezone]

 

Tags: Corona | Covid-19