21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Jumlah kematian akibat virus Corona di Spanyol tembus 849 jiwa dalam sehari. Angka ini membuat jumlah korban meninggal menjadi 8.189 jiwa. Sementara itu jumlah kasus COVID-19 di Spanyol telah meningkat dari 85.195 pada hari sebelumnya menjadi 94.417, menurut data dari Kementerian Kesehatan Spanyol yang dikutip Russia Today, Selasa (31/3/2020).

Peningkatan jumlah korban tewas di negara itu jumlah tertinggi dalam satu hari sejak wabah virus Corona merebak di negara itu. Meskipun demikian, angka ini masih menandakan peningkatan persentase yang sedikit lebih rendah dibandingkan hari-hari sebelumnya.



Kepala kesehatan darurat Spanyol, Fernando Simon, dites positif terkena virus Corona pada Minggu malam. Ia kemudian digantikan oleh wakil kepala, Maria Jose Sierra, yang mengkonfirmasi bahwa setidaknya 12.298 petugas kesehatan telah dites positif terkena infeksi COVID-19 sejauh ini. Jumlah ini menyumbang sekitar 14 persen dari total infeksi di negara ini.

Sementara itu, hampir 20.000 orang telah pulih dari infeksi, yang telah menghancurkan sistem perawatan kesehatan negara. Spanyol menjadi negara terdampak wabah Corona terburuk kedua di Eropa setelah Italia. [yy/sindonews]

Jumlah kematian akibat virus Corona di Spanyol tembus 849 jiwa dalam sehari. Angka ini membuat jumlah korban meninggal menjadi 8.189 jiwa. Sementara itu jumlah kasus COVID-19 di Spanyol telah meningkat dari 85.195 pada hari sebelumnya menjadi 94.417, menurut data dari Kementerian Kesehatan Spanyol yang dikutip Russia Today, Selasa (31/3/2020).

Peningkatan jumlah korban tewas di negara itu jumlah tertinggi dalam satu hari sejak wabah virus Corona merebak di negara itu. Meskipun demikian, angka ini masih menandakan peningkatan persentase yang sedikit lebih rendah dibandingkan hari-hari sebelumnya.



Kepala kesehatan darurat Spanyol, Fernando Simon, dites positif terkena virus Corona pada Minggu malam. Ia kemudian digantikan oleh wakil kepala, Maria Jose Sierra, yang mengkonfirmasi bahwa setidaknya 12.298 petugas kesehatan telah dites positif terkena infeksi COVID-19 sejauh ini. Jumlah ini menyumbang sekitar 14 persen dari total infeksi di negara ini.

Sementara itu, hampir 20.000 orang telah pulih dari infeksi, yang telah menghancurkan sistem perawatan kesehatan negara. Spanyol menjadi negara terdampak wabah Corona terburuk kedua di Eropa setelah Italia. [yy/sindonews]

Sehari 418 Orang Meninggal Akibat Virus Corona di Prancis

Sehari 418 Orang Meninggal Akibat Virus Corona di Prancis


Fiqhislam.com - Otoritas Prancis melaporkan 418 kematian akibat virus Corona dalam 24 jam di wilayahnya, yang merupakan angka kematian tertinggi dalam sehari. Lebih dari 45 ribu orang positif virus Corona di Prancis, dengan lebih dari 3 ribu orang di antaranya meninggal dunia.

Seperti dilansir AFP, Selasa (31/3/2020), dengan tambahan 418 korban meninggal dalam sehari, maka total 3.024 orang meninggal akibat virus Corona di Prancis.

Jumlah korban meninggal di Prancis ini terdiri atas pasien yang meninggal di rumah sakit dan mereka yang meninggal saat menjalani perawatan di rumah atau di panti jompo setempat.

Lebih lanjut, laporan otoritas Prancis pada Senin (30/3) waktu setempat menyebut total 20.946 orang yang terinfeksi virus Corona tengah menjalani perawatan medis di rumah-rumah sakit setempat. Dari jumlah itu, sekitar 5.056 orang di antaranya dalam perawatan intensif.

Total ada 45.170 kasus virus Corona yang terkonfirmasi di wilayah Prancis saat ini. Pejabat tinggi kesehatan Prancis, Jerome Salomon, menuturkan kepada wartawan bahwa jumlah total kasus sebenarnya bisa saja lebih tinggi, karena hanya orang-orang dengan risiko tinggi yang sejauh ini diperiksa.

Prancis memberlakukan lockdown sejak 17 Maret dalam upaya memperlambat penyebaran virus Corona. Pemerintah berulang kali memperingatkan warganya bahwa dibutuhkan waktu cukup lama bagi langkah-langkah tegas itu membuahkan dampak positif.

Dalam pernyataannya, Salomon memperkirakan jumlah kasus di Prancis belum akan mengalami penurunan. "Kita berada di tengah-tengah epidemi," sebutnya.

Dia menyinggung soal laju penularan di Italia, negara tetangga Prancis, yang disebutnya 'relatif melambat' dalam beberapa hari terakhir. Diharapkan Salomon bahwa angka di Prancis akan menunjukkan peningkatan ke arah lebih baik pada akhir pekan ini.

"Tujuan dari isolasi adalah secara besar-besaran mengurangi kontak antara orang-orang. Tujuan kita setiap hari adalah memiliki sedikit mungkin kontak. Jika kita mengurangi kontak, virus ini tidak akan bisa lagi menulari dari satu orang ke orang lainnya dan jumlah orang yang terinfeksi seharusnya menurun," tandasnya. [yy/news.detik]

Iran: 41 Ribu Orang Positif Corona, 2.700 orang Meninggal

Iran: 41 Ribu Orang Positif Corona, 2.700 orang Meninggal


Fiqhislam.com - Jumlah kasus virus Corona di wilayah Iran melebihi 41 ribu kasus, sedangkan jumlah korban meninggal melampaui 2.700 orang. Pemerintah Iran memperingatkan publik bahwa pandemi virus Corona bisa berlanjut hingga beberapa bulan ke depan dan menewaskan lebih dari 10 ribu orang.

Seperti dilansir AFP, Selasa (31/3/2020), dengan jumlah kasus dan korban meninggal terus bertambah, Presiden Hassan Rouhani dituduh gagal mengambil langkah cepat oleh sejumlah rival politiknya.

Tuduhan muncul setelah Komisi Anti-virus Corona Iran merilis laporan kajian terbaru yang menyebut negara itu mungkin akan berjuang menghadapi pandemi virus Corona setidaknya hingga awal musim panas.

Pejabat setempat, Parviz Karami, mempublikasikan kajian itu via Instagram, yang menyebut bahwa 11 ribu orang akan mati jika pemerintah melakukan intervensi menengah, termasuk langkah-langkah yang telah diambil pemerintah Iran.

Disebutkan kajian itu bahwa proyeksi jumlah korban meninggal akan menurun ke angka 7.700 orang dengan intervensi 'maksimum', seperti melarang pergerakan di dalam kota-kota dan memberlakukan karantina.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianoush Jahanpour, mengumumkan 3.186 kasus baru dalam sehari. Total jumlah kasus virus Corona di Iran sejauh ini mencapai 41.495 kasus.

Jahanpour juga melaporkan 117 kematian dalam 24 jam terakhir, sehingga total jumlah korban meninggal kini mencapai 2.757 orang.

Diumumkan juga oleh Jahanpour bahwa jumlah pasien virus Corona yang sembuh di Iran bertambah menjadi 13.911 orang.

Iran menjadi salah satu negara yang terkena dampak parah akibat pandemi virus Corona. Sejak kasus pertama dilaporkan pada 19 Februari lalu, otoritas Iran masih berjuang mengatasi virus yang menyebar dengan cepat ini.

Setelah beberapa pekan bertahan untuk tidak memberlakukan lockdown atau karantina ketat, otoritas Iran pada pekan lalu mulai memberlakukan larangan perjalanan antarkota. Larangan itu diberlakukan hingga 8 April mendatang. Hingga kini, tidak ada perintah lockdown resmi di wilayah Iran, namun pemerintah berulang kali mengimbau warga Iran untuk tetap di rumah demi membatasi penyebaran virus Corona. [yy/news.detik]

Jerman Catat Hampir 62 Ribu Kasus Virus Corona, 583 Orang meninggal

Jerman Catat Hampir 62 Ribu Kasus Virus Corona, 583 Orang meninggal


Fiqhislam.com - Robert Koch Institute (RKI) Jerman mencatat, jumlah kasus positif virus corona Covid-19 meningkat menjadi 61.913. Sementara, total kematian akibat Covid-19 di Jerman menjadi 583 jiwa.

Kasus virus corona harian meningkat pada Selasa (31/3) sebanyak 4.615 dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sementara, jumlah kematian meingkat 128 dari hari sebelumnya.

"Pandemi (di Jerman) terus berlanjut dan akan berlangsung selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan," kata kepala Robert Koch Institute, Lothar Wieler dikutip Deutsche Welle, Selasa (31/3).

Sementara itu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa hanya 41 persen orang Jerman percaya bahwa Covid-19 berbahaya. Dibandingkan dengan Italia dan Spanyol, Jerman termasuk negara anggota Uni Eropa yang relatif rendah tingkat kematian akibat corona.

"Saya ingin meminta semua orang untuk menganggap serius penyakit ini," katanya. [yy/republika]

Kenapa Italia, AS, India Tak Bercermin dari Cina Hadapi Corona?

Kenapa Italia, AS, India Tak Bercermin dari Cina Hadapi Corona?


Fiqhislam.com - Perdana Menteri India Narendra Modi boleh jadi kepala pemerintahan pertama yang meminta maaf secara terbuka akibat ketidakbecusan dalam memutus rantai penularan virus Corona.

Modi mengakui keputusan lockdown tidak didahului dengan perencanaan matang. Sehingga niat mau memberangus Corona, malah menghancurkan hidup para pekerja lepas harian yang terpaksa jadi pengangguran dan memutuskan mudik karena tidak ada pilihan lain untuk bertahan di kota akibat lockdown.

Ribuan pekerja lepas bersama istri dan anak-anak mereka berjalan kaki beratus-ratus kilometer ke desa tempat tinggal mereka untuk bertahan hidup. Lockdown telah menutup operasional transportasi umum.

Lockdown yang diberlakukan selama 21 hari sejak Rabu pekan lalu membuat seluruh aktivitas bisnis dihentikan termasuk transportasi umum, sekolah dan kampus ditutup, dan pembangunan konstruksi dihentikan. Sebanyak 80 kota di sejumlah negara bagian di India berstatus lockdown di antaranya New Delhi, Mumbai, Kolkata, Chennai, dan Bengaluru.

Warga India diperintahkan tinggal di dalam rumah dan polisi memantau dengan ketat aturan dilarang keluar rumah.

Setelah memohon maaf pada hari Minggu, 29 Maret 2020, Modi tidak membatalkan atau mencabut lockdown. Meski langkah itu sudah memakan korban lebih dari 5 warga miskin India yang bukan penderita virus Corona.

Dengan sisa waktu dua minggu lagi, Modi berupaya memperbaiki lockdown agar tidak merugikan warga yang hidup dalam kemiskinan di India. Bersamaan itu, penularan virus Corona di India terus meningkat.

Modi kemarin melakukan pembicaraan dengan hampir semua duta besar India untuk membagikan informasi tentang pengalaman mereka menyaksikan negara tempat mereka bertugas memutus rantai penularan virus Corona.

Di akhir pertemuan itu, Modi sebagaimana laoran Times of India tidak menjelaskan dengan rinci langkah perbaikan yang dilakukan sehubungan chaos akibat lockdown dilakukan tanpa perencanaan matang.

Menurut Channel News Asia, India tidak akan memperpanjang lockdown setelah menyaksikan dampak yang tidak masuk dalam pertimbangan para pengambil keputusan.

Kasus virus Corona di India, tidaklah separah di Cina, Italia, Amerika Serikat, atau Spanyol. Setidaknya data resmi Kementerian Kesehatan melaporkan jumlah kasus infeksi ada 1.071 kasus dan 29 orang tewas.

Apa pelajaran berharga dapat dipetik dari Cina, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat dalam penanganan pandemi virus Corona?

Badan Kesehatan Dunia, WHO, memuji Cina yang melakukan langkah tegas dan tepat dengan melakukan lockdown total  Wuhan, ibukota provinsi Hubei. Kemudian  lockdown  diterapkan ke seluruh wilayah Hubei sejak 23 Januari lalu.

Wuhan terkunci dari dunia luar. Ribuan orang tewas dan ratusan ribu orang terinfeksi virus Corona. Hubei kehilangan triliun rupiah akibat lumpuhnya perekonomian.

Namun, dalam tempo 3 bulan lockdown, jumlah kasus dan kematian akibat virus turun cepat di Wuhan dan Hubei. Pada 8 April ini, Wuhan bebas dari lockdown.

Presiden Xi Jinping membuat keputusan bersejarah yang belum pernah terjadi dengan membuat Hubei bagai kota mati selama 2 bulan. Sekitar 300 perusahaan termasuk perusahaan-perusahaan asing di kota terbesar nomor empat di Cina tutup. Pemerintah memasok semua kebutuhan warga hingga dipastikan tidak ada yang kelaparan maupun kesulitan akses kesehatan.

Namun Amerika Serikat, Italia, dan Spanyol sepertinya kesulitan membuat kebijakan atau setidaknya memetik pelajaran  dari Cina dalam memutus rantai penularan virus Corona.

Justru, jumlah kasus infeksi dan kematian akibat Corona melampaui apa yang terjadi di Cina. Mengapa?

Time melaporkan, kurang dari sebulan sejak virus Corona menjangkiti Italia dengan diawali temuan tiga kasus di kota wisata terkenal Lombardy, jumlah kematian sudah mencapai 463 orang dan sedikitnya 9.172 orang terinfeksi virus di seluruh negeri.

Jumlah kasus infeksi virus Corona meningkat 50 persen pada 8 Maret saja.Setelah situasi demikian parah, Perdana Menteri Giuseppe Conte baru memutuskan pemberlakukan lockdown. "Tidak ada waktu lagi," ujarnya.

Lockdown di seluruh Italia diputuskan berlangsung hingga 3 April ini.

Dalam waktu cepat, jumlah kematian dan kasus infeksi Italia pun melampaui Cina yakni 11.591 orang per 30 Maret. Situasi Corona di Italia pun dilaporkan yang terburuk di Eropa.

Virus ini menyebar cepat di Italia, menurut keyakinan beberapa pejabat Italia disebabkan keberadaan virus itu tidak terdeteksi. Alasan lain, virus sebagian besar menyerang para lansia dengan imunitas tubuh lemah dan memiliki riwayat penyakit terkait pernafasan. Ini terkait dengan Italia sebagai negara dengan tingkat harapan hidup tertinggi di dunia dan Eropa. Sehingga warga Italia banyak berusia di atas 65 tahun.

Sebenarnya sebulan sebelum kasus pertama Corona ditemukan, Kementerian Kesehatan Italia telah membuat gugus tugas untuk mengendalikan virus Corona, Italia menjadi negara pertama dalam Uni Eropa yang melarang semua penerbangan dari dan ke Cina.

Namun, kebijakan itu mengandung sejumlah kelemahan seperti ada celah bagi orang-orang yang masuk ke Italia dengan penerbangan transit, tidak menjelaskan asal negara keberangkatannya ke Italia. Sehingga penularan virus tidak terdeteksi.

Setelah situasi semakin buruk, pemerintah Italia baru mengeluarkan kebijakan lockdown disertai tindakan tegas bagi pelanggarnya. Mulai dari menutup seluruh penerbangan, menjatuhkan sanksi denda bagi mereka yang pergi ke luar tanpa izin, semua kegiatan publik dilarang termasuk sekolah ditutup.

Seluruh tahanan juga dilarang menerima tamu, sehingga memicu protes di 27 penjara.

Siapa saja yang melanggar lockdown dijatuhi hukuman maksimal 3 bulan penjara atau denda $ 234.

WHO memuji langkah pemerintah Italia. "Langkah berani dan membuat pengorbanan yang tulus," ujar WHO.

Sayangnya, Italia membayar sangat mahal dengan kehilangan 11 ribu warganya.

Kerap mengejek Cina bahkan mempersalahkan negara ini atas pandemi Corona, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kritik dari sejumlah gubernur negara bagian atas kelambanan membuat keputusan untuk menekan penularan virus itu.

Hingga berita ini dilaporkan, jumlah kasus infeksi virus Corona di AS melampau Cina dan Italia hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan sejak kasus pertama dilaporkan, yakni 160.698 kasus dan kematian mencapai 3.003 orang.

Trump membatalkan lockdown yang diberlakukan Gubernur New York Andrew Cuomo karena akan melumpuhkan kota itu.

Cuomo melakukan lockdown untuk New York sejak Minggu malam, 29 Maret. Namun Presiden Trump mengejek Cuomo terlalu ketakutan dan berlebihan dalam menyikapi situasi Corona.

"Lockdown tidak diperlukan," kata Trump melalui Twitter. Sebagai gantinya, Trump mengeluarkan travel advisory atau imbauan perjalanan.

Beberapa negara bagian di AS melakukan kebijakan parsial dengan pembatasan pergerakan keluar masuk ke wilayah mereka dengan mengetatkan pemeriksaan di perbatasan dan meminta setiap pendatang melakukan karantina mandiri.

Trump dan parlemen sepakat menyiapkan dana stimulus terbesar dalam sejarah AS yakni US$ 2 triliun atau Rp 32.800 triliun  untuk membantu perekonomian akibat pandemi Corona.

Presiden Trump percaya diri bahwa pemerintahannya siap menghadapi puncak penularan virus Corona dengan ketersediaan alat bantu pernapasan, penerapan jaga jarak atau social distancing, dan kesiapan tenaga medis serta rumah sakit. [yy/tempo]

16 Negara yang Belum Terjangkit Pandemi Corona

16 Negara yang Belum Terjangkit Pandemi Corona


Fiqhislam.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan virus korona baru Covid-19 sebagai pandemi dan tak ada tempat yang aman dari efeknya. Namun sejauh ini, setidaknya terdapat 16 negara yang belum melaporkan kasus Covid-19.

Negara-negara itu tersebar di kawasan Asia, Afrika, dan Pasifik. Dilaporkan laman Bernama, terdapat tiga negara di Asia yang hingga kini belum memiliki kasus Covid-19 yakni Turkmenistan, Tajikistan, dan Korea Utara (Korut).

Di Afrika, negara yang belum melaporkan kasus Covid-19 antara lain Lesotho, Sudan Selatan, Yaman, Sierra Leone, Burundi, dan Malawi. Sedangkan daftar negara di Pasifik adalah Tonga, Samoa, Vanuatu, Cook Islands (Keplauan Cook), Niue, dan Tuvalu.

WHO telah mengatakan wabah Covid-19 belum akan usai di kawasan Asia dan Pasifik. Negara-negara diminta mempersiapkan diri menghadapi penularan masyarakat berskala besar.

“Biar saya perjelas, epidemi ini masih jauh dari selesai di Asia dan Pasifik. Ini akan menjadi pertempuran jangka panjang dan kita tidak bisa mengecewakan penjaga kita,” kata Direktur Regional Pasifik Barat di WHO Takeshi Kasai pada Selasa (31/3).

Menurut dia, dengan semua tindakan yang telah diambil risiko penularan di kawasan Asiadan Pasifik tidak akan hilang selama pandemi berlanjut. “Kami membutuhkan setiap negara untuk terus mempersiapkan transmisi komunitas skala besar,” ucapnya.

Kasai mengatakan negara-negara dengan sumber daya terbatas, seperti negara di Kepulauan Pasifik adalah prioritas. Sebab mereka harus mengirim sampel ke negara lain untuk diagnosis. Pembatasan transportasi membuat hal itu semakin sulit dilakukan.

Untuk negara-negara yang telah melihat pengurangan kasus, mereka tidak boleh lengah. Kasai memperingatkan bahwa virus mungkin datang kembali.

Berdasarkan data yang dihimpun John Hopkins University and Medicine (Coronavirus Resource Center), saat ini terdapat lebih dari 857 ribu kasus Covid-19 yang tersebar di 180 negara. Sementara korban meninggal telah melampaui 42 ribu jiwa. [yy/republika]

Total kasus terkonfirmasi di AS, Terinfeksi 184 Ribu, Korban Jiwa 3.700 Orang

Total kasus terkonfirmasi di AS, Terinfeksi 184 Ribu, Korban Jiwa 3.700 Orang


Fiqhislam.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Selasa berpacu membangun ratusan rumah sakit (RS) darurat dekat kota-kota besar. RS darurat ini dibangun untuk mengatasi tekanan pada sistem perawatan kesehatan yang kewalahan saat Presiden Donald Trump memperkirakan situasi dua pekan mendatang akan 'sangat menyakitkan'.

Korban meninggal akibat corona di AS, yang dihitung Reuters, menyentuh 800 pada Selasa dan menjadi angka tertinggi dalam sehari sejauh ini. Hampir separuh korban meninggal itu ada di negara bagian New York, pusat pandemi corona. Wali Kota New York Bill de Blasio minta penegakan hukum dari pemerintahan Trump.

"Inilah titik di mana kami harus siap untuk pekan depan, saat kami memperkirakan peningkatan sangat tinggi dalam jumlah kasus. Apa yang saya minta jelas, pekan lalu, yakni personel medis militer dikerahkan di sini," ujar de Blasio di Pusat Tenis Nasional Billie Jean di Queens, tempat rumah sakit lapangan dibangun terburu-buru.

Pusat tenis itu digunakan untuk Kejuaraan Tenis AS Terbuka yang dijadwal akan berlangsung 24 Agustus tahun ini. De Blasio, dari Partai Demokrat, mengatakan dia telah meminta ke Gedung Putih tambahan 1.000 perawat, 300 ahli terapi pernapasan, dan 150 dokter pada Ahad.

Lebih dari 3.700 orang meninggal akibat corona di AS selama wabah, melebihi korban tewas serangan 11 September 2001. Total kasus terkonfirmasi di AS jadi 184 ribu atau naik 21 ribu dari Senin.

Ahli kesehatan Gedung Putih mengatakan antara 100 ribu hingga 200 ribu orang dapat meninggal akhirnya karena penyakit pernapasan di AS meski ada perintah di kebanyakan besar kota-kota besar menahan warga Amerika tinggal di rumah. Lebih dari 30 negara bagian memerintahkan orang tinggal di rumah untuk menahan virus. Hal ini menghambat perekonomian dan membuat jutaan orang tak menerima penghasilan.

Trump yang berbicara di Gedung Putih pada Selasa, mengatakan bahwa dua pekan mendatang akan sangat menyakitkan bagi negeri ini. "Kami ingin warga Amerika siap untuk hari-hari sulit yang membentang di depan. Kita akan melewati dua pekan yang sangat keras dan kemudian, dengan penuh harap, seperti yang diramalkan para ahli....Anda akan melihat seberkas cahaya sesungguhnya di ujung terowongan," kata Trump.

Korsa Insinyur Angkatan Bersenjata AS tengah mencari hotel, asrama, pusat pertemuan, dan ruang terbuka luas untuk mendirikan 341 rumah sakit sementara. Pernyataan ini diungkapkan Letnan Jenderal Todd Semonite kepada ABC News dalam program Good Morning America. Para insinyur itu sudah mengubah Pusat Konvensi Jacob Javits New York City menjadi sebuah rumah sakit dengan 1.000 ranjang dalam sepekan. [yy/republika]

Update Corona Dunia 1 April: 185.180 Pasien Berhasil Disembuhkan

Update Corona Dunia 1 April: 185.180 Pasien Berhasil Disembuhkan


Fiqhislam.com - Pandemi virus corona baru, COVID-19, sudah menyebar ke 203 negara, beberapa wilayah dan dua kapal pesiar. Hingga malam ini (31/3/2020) tercatat sudah 185.180 pasien berhasil disembuhkan.

Jumlah kasus atau orang yang terinfeksi virus di 203 negara, beberapa wilayah, dan dua kapal pesiar mencapai 884.190. Dari jumlah itu, 44.169 di antaranya telah meninggal.

Berikut data 10 negara dengan kondisi terparah akibat pandemi COVID-19 yang dikutip SINDOnews.com dari situs pelaporan online worldometers.info pada pukul 21.18 WIB:

Amerika Serikat: 188.881 kasus, 4.066 meninggal, 7.251 sembuh
Italia: 105.792 kasus, 12.428 meninggal, 15.729 sembuh
Spanyol: 102.136 kasus, 9.053 meninggal, 22.647 sembuh
China: 81.554 kasus, 3.312 meninggal, 76.238 sembuh
Jerman: 74.508 kasus, 821 meninggal, 16.100 sembuh
Prancis: 52.128 kasus, 3.523 meninggal, 9.444 sembuh
Iran: 47.593 kasus, 3.036 meninggal, 15.473 sembuh
Inggris: 29.474 kasus, 2.352 meninggal, 135 sembuh
Swiss: 17.137 kasus, 461 meninggal, 2.967 sembuh
Belgia: 13.964 kasus, 828 meninggal, 2.132 sembuh

Sementara itu, Indonesia melaporkan ada 1.677 kasus, 157 meninggal dan 103 pasien sembuh. Data ini setiap saat bisa berubah sesuai laporan otoritas kesehatan masing-masing negara di dunia. [yy/sindonews]