30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

China Bongkar Borok Amerika Salah Diagnosa Corona, 34 Juta Terinfeksi

China Bongkar Borok Amerika Salah Diagnosa Corona, 34 Juta TerinfeksiFiqhislam.com - Pernyataan rasis yang dilontarkan Presiden Amerika Donald Trump dalam pidato penanganan Virus Corona atau COVID-19 terhadap Pemerintah China ternyata semakin memanaskan suhu politik kedua negara.

China yang marah karena ucapan rasis Trump yang mengganti kata corona dengan Chinese virus, hingga saat ini terus menyerang Amerika Serikat dengan berbagai pernyataan yang menohok.

Kali ini, China membongkar borok Amerika terkait corona. China menuduh Amerika telah berbohong soal virus mematikan itu dan China sangat yakin belum memiliki kemampuan untuk menanggulangi wabah virus corona di AS.

Borok Amerika itu lagi-lagi dibongkar Juru Bicara sekaligus Wakil Direktur Jenderal, Departemen Informasi, Kementerian Luar Negeri China, Lijian Zhao.



Dalam pernyataan tertulisnya, Zhao mengungkapkan bahwa Amerika telah melakukan kesalahan dalam mendiagnosa pasien corona. Amerika mendiagnosa pasien corona hanya sebagai penderita flu biasa saja dan yang parahnya hal itu terjadi sejak akhir 2019 atau saat corona pertama kali muncul di Kota Wuhan, China.

Yang parahnya lagi, menurut Zhao, hal itu diakui sendiri oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Badan Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat atau CDC.

"CDC AS mengakui beberapa hal, pasien COVID-19 salah didiagnosis sebagai flu selama musim flu 2019," kata Zhao dalam tulisan resminya seperti dikutip VIVA.co.id, Senin 23 Maret 2020.

Akibat kesalahan diagnosa itu, diperkirakan 34 juta penduduk Amerika telah terinfeksi dan 20 ribu di antaranya meninggal dunia.

Menurut Zhao, sudah saatnya Trump menyelidiki kebenaran kapan sebenarnya pertama kali corona sudah menyerang negaranya. Dan berapa jumlah penduduk Amerika yang sebenarnya telah positif corona.

"Jika COVID-19 mulai September lalu, dan AS belum memiliki kemampuan pengujian, berapa banyak yang akan terinfeksi? US harus mencari tahu kapan pasien nol muncul," kata Zhao.

Memang saat ini kondisi Amerika sedang memburuk, AS sudah berada di peringkat 4 dunia dalam jumlah penderita corona terbanyak. Hingga saat ini total 27 ribu lebih, 347 meninggal dunia dan baru bisa menyembuhkan 176 korban saja. [yy/vivaNews]

China Bongkar Borok Amerika Salah Diagnosa Corona, 34 Juta TerinfeksiFiqhislam.com - Pernyataan rasis yang dilontarkan Presiden Amerika Donald Trump dalam pidato penanganan Virus Corona atau COVID-19 terhadap Pemerintah China ternyata semakin memanaskan suhu politik kedua negara.

China yang marah karena ucapan rasis Trump yang mengganti kata corona dengan Chinese virus, hingga saat ini terus menyerang Amerika Serikat dengan berbagai pernyataan yang menohok.

Kali ini, China membongkar borok Amerika terkait corona. China menuduh Amerika telah berbohong soal virus mematikan itu dan China sangat yakin belum memiliki kemampuan untuk menanggulangi wabah virus corona di AS.

Borok Amerika itu lagi-lagi dibongkar Juru Bicara sekaligus Wakil Direktur Jenderal, Departemen Informasi, Kementerian Luar Negeri China, Lijian Zhao.



Dalam pernyataan tertulisnya, Zhao mengungkapkan bahwa Amerika telah melakukan kesalahan dalam mendiagnosa pasien corona. Amerika mendiagnosa pasien corona hanya sebagai penderita flu biasa saja dan yang parahnya hal itu terjadi sejak akhir 2019 atau saat corona pertama kali muncul di Kota Wuhan, China.

Yang parahnya lagi, menurut Zhao, hal itu diakui sendiri oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Badan Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat atau CDC.

"CDC AS mengakui beberapa hal, pasien COVID-19 salah didiagnosis sebagai flu selama musim flu 2019," kata Zhao dalam tulisan resminya seperti dikutip VIVA.co.id, Senin 23 Maret 2020.

Akibat kesalahan diagnosa itu, diperkirakan 34 juta penduduk Amerika telah terinfeksi dan 20 ribu di antaranya meninggal dunia.

Menurut Zhao, sudah saatnya Trump menyelidiki kebenaran kapan sebenarnya pertama kali corona sudah menyerang negaranya. Dan berapa jumlah penduduk Amerika yang sebenarnya telah positif corona.

"Jika COVID-19 mulai September lalu, dan AS belum memiliki kemampuan pengujian, berapa banyak yang akan terinfeksi? US harus mencari tahu kapan pasien nol muncul," kata Zhao.

Memang saat ini kondisi Amerika sedang memburuk, AS sudah berada di peringkat 4 dunia dalam jumlah penderita corona terbanyak. Hingga saat ini total 27 ribu lebih, 347 meninggal dunia dan baru bisa menyembuhkan 176 korban saja. [yy/vivaNews]

Seluruh Gubernur di AS Kecam Respons Pemerintah Pusat

Seluruh Gubernur di AS Kecam Respons Pemerintah Pusat


Fiqhislam.com - Para gubernur di AS mengatakan, tuntutan mereka untuk disediakan lebih banyak masker dan alat medis, tidak dipenuhi. Mereka terpaksa harus bersaing satu sama lain demi memenuhi pasokan, karena pandemi virus corona kian meningkat.

"Ini seharusnya merupakan upaya terkoordinasi dari pemerintah pusat. Ini adalah wild west di luar sana. Tentu kita membayar lebih untuk PPE karena kompetisi itu," ujar Gubernur Illinois, JB Pritzker. PPE merupakan Personal Protection Equipment, yang mencakup pasokan medis penting seperti masker wajah.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan, pemerintah pusat perlu menasionalisasi pembelian pasokan medis yang diperlukan. Dia menyebut, kekurangan alat pelindung diri seperti masker dan peralatan medis lain seperti respirator, mengarah pada eksploitasi harga.

Cuomo mengatakan, masker yang dulu harganya 85 sen sekarang menjadi 7 dollar karena New York bersaing dengan negara bagian lain. New York saat ini membeli mesin jahit untuk membuat masker mereka sendiri.

“Saat ini, ketika negara melakukannya, kami bersaing dengan negara bagian lain. Dalam beberapa kasus, kami ganas ke negara bagian lain. Ini situasi yang mustahil untuk dikelola, jika kita tidak mendapatkan peralatan, kita bisa kehilangan nyawa yang bisa kita selamatkan," ujar Cuomo.

Administrator FEMA Pete Gaynor, tidak menjelaskan, kapan waktu persediaan masker nasional akan didistribusikan, dan tidak memberitahu jumlah masker yang saat ini sedang dikirim. Dia mengatakan, masih ada masker dalam persediaan nasional, tetapi persiapan FEMA nihil untuk memenuhi permintaan.

Sedangkan Gubernur New Jersey, Phil Murphy mengatakan, kebutuhan negara bagiannya dalam pemenuhan masker sangat diperlukan untuk melindungi pekerja medis, dan masker bagi yang sakit juga belum terpenuhi. Menurut dia, selain topeng, pemerintah pusat perlu memberikan bantuan ekonomi.

“Kami sangat membutuhkan lebih banyak peralatan medis (pelindung pribadi). Kami sudah banyak bertanya tentang persediaan strategis di Gedung Putih. Mereka memberi kami sebagian kecil dari permintaan kami," ujar Murphy.

"Kami pikir New Jersey, New York, Pennsylvania, dan Connecticut, adalah empat negara bagian yang membutuhkan bantuan tunai langsung $ 100 miliar untuk memungkinkan kami melanjutkan perjuangan kami," kata Murphy.

Gubernur Michigan, Gretchen Whitmer mengatakan, negara bagiannya telah bekerja sama dengan perusahaan dalam membeli masker yang dibutuhkan, dan dia ingin membantu mereka yang berada di garis depan wabah. Michigan juga tidak memiliki kit pengujian virus corona.

"Jika pemerintah pusat benar-benar mulai fokus sejak seluruh dunia mulai menghadapi ini, kita akan berada dalam posisi yang lebih kuat sekarang," kata Whitmer.

Dia merekomendasikan pemerintah pusat untuk memberikan strategi nasional, dalam menangani wabah. Dia juga mengkritik kurangnya kesiapan dari pemerintah pusat.

"Nyawa akan hilang karena kita tidak siap. Kita harus berjuang untuk perekonomian negara ini, karena kita tidak menganggap pandemi ini hal yang cukup serius sebagai sebuah negara," ungkap dia. [yy/republika]

 

Tags: Corona | COVID-19