25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Seperti dilansir CNN dan Associated Press, Senin (9/3/2020), Perdana Menteri (PM) Italia, Giuseppe Conte, menandatangani dekrit karantina pada Minggu (8/3) pagi, yang isinya mengatur pemberlakuan langkah-langkah karantina di sebagian besar wilayah utara negara itu, yang menjadi pusat penyebaran virus Corona.

Hingga kini, sudah 7.375 orang yang dinyatakan positif virus Corona di wilayah Italia. Jumlah korban meninggal dilaporkan bertambah menjadi 366 orang.

Dekrit yang ditandatangani PM Conte itu mulai berlaku sejak Minggu (8/3) waktu setempat dan berdampak pada kehidupan nyaris 16 juta orang -- lebih dari seperempat total populasi Italia. Pemberlakuan isolasi atau lockdown ini membatasi perjalanan untuk seluruh wilayah Lombardy -- pusat wabah virus Corona -- dan 14 provinsi lainnya di Italia.



Area-area yang dikarantina termasuk Milan -- pusat finansial Italia dan kota utama di Lombardy, dan Venice yang merupakan kota besar di wilayah Veneto. Langkah luar biasa ini akan diberlakukan hingga 3 April mendatang.

Kementerian Transportasi Italia menyatakan bahwa para turis yang ada di wilayah-wilayah yang diisolasi, termasuk turis asing, dibebaskan untuk pulang ke negara masing-masing. Ditekankan bahwa bandara dan stasiun kereta masih tetap beroperasi seperti biasa.

Langkah yang diambil pemerintah Italia ini belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi langkah paling tegas yang diambil pemerintahan sebuah negara di luar wilayah China daratan sejak virus Corona muncul pada Desember 2019. [yy/news.detik]

Seperti dilansir CNN dan Associated Press, Senin (9/3/2020), Perdana Menteri (PM) Italia, Giuseppe Conte, menandatangani dekrit karantina pada Minggu (8/3) pagi, yang isinya mengatur pemberlakuan langkah-langkah karantina di sebagian besar wilayah utara negara itu, yang menjadi pusat penyebaran virus Corona.

Hingga kini, sudah 7.375 orang yang dinyatakan positif virus Corona di wilayah Italia. Jumlah korban meninggal dilaporkan bertambah menjadi 366 orang.

Dekrit yang ditandatangani PM Conte itu mulai berlaku sejak Minggu (8/3) waktu setempat dan berdampak pada kehidupan nyaris 16 juta orang -- lebih dari seperempat total populasi Italia. Pemberlakuan isolasi atau lockdown ini membatasi perjalanan untuk seluruh wilayah Lombardy -- pusat wabah virus Corona -- dan 14 provinsi lainnya di Italia.



Area-area yang dikarantina termasuk Milan -- pusat finansial Italia dan kota utama di Lombardy, dan Venice yang merupakan kota besar di wilayah Veneto. Langkah luar biasa ini akan diberlakukan hingga 3 April mendatang.

Kementerian Transportasi Italia menyatakan bahwa para turis yang ada di wilayah-wilayah yang diisolasi, termasuk turis asing, dibebaskan untuk pulang ke negara masing-masing. Ditekankan bahwa bandara dan stasiun kereta masih tetap beroperasi seperti biasa.

Langkah yang diambil pemerintah Italia ini belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi langkah paling tegas yang diambil pemerintahan sebuah negara di luar wilayah China daratan sejak virus Corona muncul pada Desember 2019. [yy/news.detik]

Corona Sudah Renggut 366 Nyawa di Italia, 133 Orang dalam Sehari

Corona Sudah Renggut 366 Nyawa di Italia, 133 Orang dalam Sehari


Fiqhislam.com - Jumlah kematian di Italia akibat wabah virus corona baru, COVID-19, bertambah dari 233 orang menjadi 366 orang hingga hari ini (9/3/2020). Lonjakan angka kematian yang drastis ini terjadi dalam sehari, artinya 133 orang meninggal dalam 24 jam.

Wabah Covid-19 di Italia merupakan yang terparah kedua setelah China. Di negara Eropa itu terdapat 7.375 kasus infeksi, menyalib Korea Selatan yang memiliki 7.373 kasus dengan 50 orang meninggal.

Di China sendiri ada 80.703 kasus infeksi COVID-19 dengan 3.098 orang meninggal. Sedangkan secara global, jumlah kasus mencapai 109.936 dengan 3.806 orang meninggal dan 60.973 pasien disembuhkan.

Seperempat populasi Italia dikurung atau dikarantina. Langkah-langkah tersebut, diberlakukan sampai 3 April, melarang orang memasuki atau meninggalkan wilayah luas di utara negara tersebut. Larangan itu sudah diterbitkan secara online kemarin.

Gara-gara wabah COVID-19, Kota Roma telah dipaksa menutup pameran blockbuster yang menandai 500 tahun sejak kematian master Renaissance Raphael.

Otoritas wilayah Puglia selatan memohon kepada siapa pun yang berpikir untuk bepergian ke sana dari daerah yang terkunci untuk berhenti dan berbalik. "Jangan membawa wabah ke Puglia," kata otoritas tersebut, seperti dikutip Reuters.

Meski demikian, penguncian sejumlah wilayah masih memungkinkan warga setempat untuk kembali ke rumah mereka yang berada di daerah yang terkena dampak tetapi tinggal di tempat lain, termasuk wisatawan.

Pertandingan sepak bola di Italia juga berlangsung secara tertutup. Hal itu disampaikan presiden Asosiasi Sepak Bola Italia Damiano Tommasi. "Menghentikan sepak bola adalah hal yang paling berguna bagi negara kita saat ini ketika tim-tim bersorak di rumah sakit kami, di ruang gawat darurat," tulis dia di Twitter.

Zona karantina Italia adalah rumah bagi lebih dari 15 juta orang dan termasuk daerah di sekitar Venesia dan ibukota keuangan; Milan. Itu artinya, lebih dari 15 juta orang di Italia hidup di bawah karantina. [yy/sindonews]

Apa Penyebab Ledakan Kasus Virus Corona di Italia?

Apa Penyebab Ledakan Kasus Virus Corona di Italia?


Fiqhislam.com - Italia jadi negara dengan kasus virus corona (COVID-19) tertinggi kedua di dunia setelah China. Pada hari Senin (9/3/2020), Italia melaporkan peningkatan sekitar 25% kasus virus corona dari sebelumnya 5.883 menjadi 7.375 dan total korban meninggal 366 orang.

Melihat situasi jumlah kasus yang terus meningkat, otoritas setempat mengambil langkah drastis yaitu mengisolasi 16 juta orang di 14 provinsi. Langkah ini mendapat sorotan terutama dari negara-negara sekitar Italia.

"Italia mengambil langkah drastis karena virusnya sudah menyebar luas," kata ahli penyakit infeksi Bharat Pankhania dari University of Exeter Medical School, Inggris, seperti dikutip dari The New York Times, Senin (9/3/2020).

Studi yang dilakukan Rumah Sakit (RS) Sacco di Milan meneliti tiga sekuen genetik berbeda yang ditemukan di wilayah Lombardy. Hasilnya ditemukan jejak-jejak genetik yang mengonfirmasi virus corona sudah beredar di Italia bahkan sebelum kasus pasien pertama muncul pada 20 Februari 2020.

"Ada kemungkinan ketika COVID-19 tiba di negeri ini, ia masih dalam masa inkubasi dan infeksi berkembang pada orang dengan gejala ringan atau malah tanpa gejala sekali," kata Kepala Departemen Penyakit Infeksi RS Sacco, Massimo Galli.

Dikutip dari Al Jazeera, pada Desember tahun lalu beberapa rumah sakit di wilayah Utara Italia sebetulnya melaporkan sejumlah kasus pneumonia. Beberapa pasien bisa jadi membawa virus corona, namun dokter menanganinya seperti penyakit musim dingin biasa.

Pada akhirnya menurut Walter Ricciardi, anggota eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekaligus penasihat Kementerian Kesehatan Italia, fasilitas kesehatan turut berkontribusi terhadap penyebaran virus corona. Para tenaga kesehatan bolak-balik ke daerah yang terdampak tanpa menyadari ancaman virus.

"Rumah sakit menjadi pengganda kasus," pungkas Walter. [yy/health.detik]