22 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 25 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

Viral Video Pendemo Iran Tolak Injak Bendera Israel dan Amerika

Viral Video Pendemo Iran Tolak Injak Bendera Israel dan AmerikaFiqhislam.com - Pendemo Iran menolak menginjak Bendera Israel dan Amerika Serikat ketika mereka memprotes para pemimpin Iran karena militer keliru menembak pesawat Ukraina yang menewaskan 176 orang.

Pendemo Iran di Teheran, yang mayoritas mahasiwa, berhati-hati saat berjalan selama demonstrasi agar tidak menginjak Bendera Israel dan Amerika yang dicat di jalan, menurut laporan Jerusalem Post, 13 Januari 2020.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan massa mahasiswa Iran memecah diri saat mereka mendekati bendera besar, bersusah payah untuk tidak menginjaknya. Beberapa orang yang memang berjalan di atas bendera dikecam oleh pengunjuk rasa diteriaki, "Malu Kalian!".



Beberapa laporan mengatakan bahwa para pengunjuk rasa di dekat bendera meneriakkan, "Musuh kita ada di Iran, bukan Amerika."

"Para mahasiswa Iran yang berani ini, yang menolak untuk menginjak-injak bendera AS & Israel, mewakili harapan untuk Timur Tengah yang lebih baik," tweet Hillel Neuer, direktur eksekutif NGO UN Watch, sebagai tanggapan atas video viral tersebut.

Akun Twitter jurnalis juga mengunggah video demonstrasi tersebut. Salah satunya jurnalis The Independent untuk Timur Tengah, Borzou Daraghi, dengan menulis bahwa mahasiswa Iran enggan menginjak jalan yang dicat Bendera Israel dan Amerika Serikat.


https://twitter.com/borzou/status/1216317550478405633


Yang lain adalah koresponden Turki untuk Middle East Eye, Ragip Soylu, yang menyebut di Twitter bahwa para pendemo menolak menginjak gambar Bendera AS dan Israel di jalan yang dicat pemerintah lokal.

Para pengunjuk rasa berkumpul di jalan-jalan Iran pada hari Minggu untuk demonstrasi hari kedua melawan rezim, menyusul pengakuan yang terlambat dari kepemimpinan Iran bahwa mereka tidak sengaja menjatuhkan pesawat Ukraina minggu lalu, menewaskan semua 176 orang di dalamnya.

Dikutip dari Times of Israel, ratusan pendemo berunjuk rasa di berbagai lokasi di seluruh Iran, termasuk di luar sebuah universitas di Teheran, menurut unggahan media sosial.

Surat kabar Haaretz melaporkan mereka yang berjalan di atas bendera disoraki oleh pengunjuk rasa lain. Video tidak mengidentifikasi universitas mana yang terlibat.

Pada Minggu, ketegangan meningkat di jalan-jalan ibu kota, dengan kehadiran polisi di sekitar alun-alun Azadi di selatan pusat ibu kota.

Polisi anti huru-hara yang dipersenjatai dengan meriam air dan pentungan terlihat di Amir Kabir, Sharif dan Universitas Teheran, serta Lapangan Enqelab. Sekitar 50 milisi Basij mengacungkan senjata paintball, untuk menandai para pendemo yang rusuh.

Protes menyebar di seluruh Teheran dan beberapa kota Iran lainnya setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengaku bertanggung jawab pada hari Sabtu atas jatuhnya sebuah pesawat sipil Ukraina pada hari Rabu, menewaskan semua penumpang yang mayoritas adalah warga Iran. [yy/tempo]

Viral Video Pendemo Iran Tolak Injak Bendera Israel dan AmerikaFiqhislam.com - Pendemo Iran menolak menginjak Bendera Israel dan Amerika Serikat ketika mereka memprotes para pemimpin Iran karena militer keliru menembak pesawat Ukraina yang menewaskan 176 orang.

Pendemo Iran di Teheran, yang mayoritas mahasiwa, berhati-hati saat berjalan selama demonstrasi agar tidak menginjak Bendera Israel dan Amerika yang dicat di jalan, menurut laporan Jerusalem Post, 13 Januari 2020.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan massa mahasiswa Iran memecah diri saat mereka mendekati bendera besar, bersusah payah untuk tidak menginjaknya. Beberapa orang yang memang berjalan di atas bendera dikecam oleh pengunjuk rasa diteriaki, "Malu Kalian!".



Beberapa laporan mengatakan bahwa para pengunjuk rasa di dekat bendera meneriakkan, "Musuh kita ada di Iran, bukan Amerika."

"Para mahasiswa Iran yang berani ini, yang menolak untuk menginjak-injak bendera AS & Israel, mewakili harapan untuk Timur Tengah yang lebih baik," tweet Hillel Neuer, direktur eksekutif NGO UN Watch, sebagai tanggapan atas video viral tersebut.

Akun Twitter jurnalis juga mengunggah video demonstrasi tersebut. Salah satunya jurnalis The Independent untuk Timur Tengah, Borzou Daraghi, dengan menulis bahwa mahasiswa Iran enggan menginjak jalan yang dicat Bendera Israel dan Amerika Serikat.


https://twitter.com/borzou/status/1216317550478405633


Yang lain adalah koresponden Turki untuk Middle East Eye, Ragip Soylu, yang menyebut di Twitter bahwa para pendemo menolak menginjak gambar Bendera AS dan Israel di jalan yang dicat pemerintah lokal.

Para pengunjuk rasa berkumpul di jalan-jalan Iran pada hari Minggu untuk demonstrasi hari kedua melawan rezim, menyusul pengakuan yang terlambat dari kepemimpinan Iran bahwa mereka tidak sengaja menjatuhkan pesawat Ukraina minggu lalu, menewaskan semua 176 orang di dalamnya.

Dikutip dari Times of Israel, ratusan pendemo berunjuk rasa di berbagai lokasi di seluruh Iran, termasuk di luar sebuah universitas di Teheran, menurut unggahan media sosial.

Surat kabar Haaretz melaporkan mereka yang berjalan di atas bendera disoraki oleh pengunjuk rasa lain. Video tidak mengidentifikasi universitas mana yang terlibat.

Pada Minggu, ketegangan meningkat di jalan-jalan ibu kota, dengan kehadiran polisi di sekitar alun-alun Azadi di selatan pusat ibu kota.

Polisi anti huru-hara yang dipersenjatai dengan meriam air dan pentungan terlihat di Amir Kabir, Sharif dan Universitas Teheran, serta Lapangan Enqelab. Sekitar 50 milisi Basij mengacungkan senjata paintball, untuk menandai para pendemo yang rusuh.

Protes menyebar di seluruh Teheran dan beberapa kota Iran lainnya setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengaku bertanggung jawab pada hari Sabtu atas jatuhnya sebuah pesawat sipil Ukraina pada hari Rabu, menewaskan semua penumpang yang mayoritas adalah warga Iran. [yy/tempo]

Trump Bersimpati ke Pendemo, Pemerintah Iran: Air Mata Buaya

Trump Bersimpati ke Pendemo, Pemerintah Iran: Air Mata Buaya


Fiqhislam.com - Juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei, geleng-geleng kepala perihal tweet Presiden Donald Trump yang meminta pemerintah Iran untuk tidak memberangus pendemo Iran. Menurut Ali, cuitan Trump hanyalah simpati bualan.

"Dia (Presiden AS Donald Trump) menitikkan air mata buaya," ujar Ali sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin, 13 Januari 2020

Beberapa hari terakhir, pemerintah Iran menjadi sorotan pasca penembakan pesawat Ukraine International Airlines. Pemerintah Iran, secara tidak sengaja, menembakan rudal yang menewaskan 176 penumpang pesawat tersebut. Sebelumnya, Iran berkali-kali mengklaim tidak bertanggung jawab atas peristiwa itu.

Penembakan yang terjadi memicu protes besar dari warga Iran. Pengunjuk rasa menuntut tanggung jawab dari pemerintah, bahkan hingga ke titik bahwa pemerintah lah musuh mereka yang sesungguhnya, bukan Amerika yang belum lama ini membunuh petinggi militer Iran, Qassem Soleimani.

Aksi pengunjuk rasa dimanfaatkan Presiden AS Donald Trump untuk mendulang simpati. Lewat tweetnya, ia meminta pemerintah Iran untuk tidak memberangus pengunjuk rasa dan membiarkan media meliput demonstrasi yang berlangsung.

Meski warga Iran tengah memprotes pemerintah, Ali yakin mereka tidak akan melupakan dosa Trump. Ia mengatakan, Trump adalah akar dari masalah yang terjadi sekarang, terutama terkait penembakan Qassem Soleimani.

"Warga Iran akan ingat bahwa dia (Trump) lah yang membunuh jenderal (Qassem Soleimani)," ujar Ali yakin. [yy/tempo]

Pemimpin Garda Revolusi Iran Menyesal Tembak Pesawat Ukraina

Pemimpin Garda Revolusi Iran Menyesal Tembak Pesawat Ukraina


Fiqhislam.com - Komandan Korps Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami mengatakan dirinya menyesal pasukannya telah menembak jatuh pesawat Ukraina di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran.

"Saya berharap saya berada di dalam pesawat itu, jatuh dan terbakar bersama dengan orang-orang terkasih daripada menyaksikan insiden tragis ini," ungkapnya di depan parlemen Iran, dikutip dari televisi Hizbullah, Al-Manar TV, 13 Januari 2020.

"Saya bersumpah pada kehidupan anak-anak saya bahwa kami di IRGC (Garda Revolusi Iran) tidak memiliki keinginan lain selain hancur demi keamanan, kesejahteraan dan kedamaian rakyat kami," katanya.

"Setelah pembunuhan dan kemartiran komandan kita yang tercinta (Jenderal Qassem Soleimani) dan rekan-rekannya oleh pasukan AS di Irak, kami mendapati diri kami berada dalam suasana psikologis perang yang tidak diketahui dengan Amerika Serikat," kata Mayor Jenderal Salami.

Sementara Parlemen Iran bersikeras bahwa tindakan Garda Revolusi Iran yang menjatuhkan pesawat Ukraina di luar Teheran adalah kesalahan korps, namun mereka tidak akan membiarkan "musuh" untuk mengeksploitasi insiden ini, menurut laporan Radio Farda.

Pernyataan itu, yang ditandatangani oleh 186 anggota parlemen dan dibacakan di Parlemen Iran pada hari Minggu, telah memuji IRGC sepenuhnya ketika pidato komandan tinggi IRGC Hossein Salami selama sesi tertutup.

Parlemen Iran juga berterima kasih Garda Revolusi Iran bertanggung jawab atas penembakan pesawat Ukraina.

Pesawat Ukraine International Airlines Boeing 737-800, dalam perjalanannya ke Kiev dan lanjut menuju Toronto, ditembak jatuh secara tidak sengaja pada 8 Januari, beberapa jam setelah Iran menembakkan rudal di dua pangkalan militer AS di Irak. Seluruh 176 penumpang beserta awaknya tewas, dan 147 di antaranya adalah warga Iran.

Otoritas Iran sempat menyangkal pesawat jatuh karena ditembak. Mereka mengklaim ada kesalahan teknis sebelum pesawat jatuh.

Namun, setelah dugaan dan bukti video serta serpihan rudal ditemukan, Iran secara resmi mengakui tak sengaja menembak jatuh pesawat pada Sabtu.

Permintaan maaf pemerintah tak membendung kemarahan warga Iran yang memprotes penembakan dan mempertanyakan kenapa pemerintah menutupi fakta.

Para kritikus mengatakan bahwa jika Iran sedang siaga terhadap serangan balasan militer AS, mengapa Iran tidak menangguhkan penerbangan sipil. Garda Revolusi Iran mengklaim mereka tidak bertanggung jawab atas penutupan wilayah udara Iran, dan Jenderal Hossein Salami rupanya mengulangi argumen itu selama kemunculannya di parlemen, menurut seorang anggota Parlemen Iran. [yy/tempo]

 

Tags: Iran | Soleimani | Ukraina