Terbunuhnya Jenderal Soleimani Sinyal Perang

Sabtu, 04 Januari 2020

Terbunuhnya Jenderal Soleimani Sinyal PerangFiqhislam.com - Komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani terbunuh dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) di Bandara Internasional Baghdad, Irak pada Jumat (3/1).

Kepala Program Studi Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi menilai serangan udara itu menjadi sinyal perang AS terhadap Iran.
Yon menjelaskan, serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad akan meningkatkan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah khususnya di Irak dan Iran.
 
Sebenarnya selama ini hubungan AS dan Irak baik-baik saja secara umum. Tetapi dengan adanya serangan udara itu akan mengakibatkan terjadinya peningkatan ketegangan antara AS dan Irak serta Iran.



"Ini (yang dilakukan AS) juga akan memicu gejolak kemarahan pemerintah Iran dan rakyat Iran, dari dulu (kelompok) yang konservatif menjadikan AS sebagai musuh utama, pada satu sisi memang AS menargetkan Iran sebagai musuh utama di Timur Tengah yang harus diperangi," kata Yon kepada Republika.co.id, Jumat (3/1).
 
Ia berpandangan, peristiwa terbunuhnya Jenderal Soleimani dalam serangan udara AS di Baghdad akan meningkatkan gejolak antara AS dan Iran. Sikap AS yang menjadikan Iran sebagai musuh utama di Timur Tengah kini telah dinyatakan secara langsung dengan melakukan serangan yang mengakibatkan terbunuhnya sang jenderal.
 
Menurutnya, secara otomatis AS telah membuka perang terbuka dengan Iran. Walau serangan udara yang mengakibatkan jenderal penting dari Iran terbunuh tidak terjadi di wilayah Iran. Tapi dampaknya langsung memberikan sinyal kepada Iran bahwa AS tidak main-main dalam hal ini.
 
"Ini pasti akan direspons secara keras oleh Iran, berkaitan dengan dinamika yang ada di Timur Tengah," ujarnya.
 
Yon menyampaikan, cara AS biasanya melakukan serangan di wilayah konflik, bukan di wilayah yang masih berdaulat seperti Iran. Oleh karena itu, kematian jenderal pasukan elit Iran ini menjadi salah satu sinyal perang tidak langsung dari AS ke Iran yang dilakukan di wilayah Irak. [yy/republika]

Terbunuhnya Jenderal Soleimani Sinyal PerangFiqhislam.com - Komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani terbunuh dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) di Bandara Internasional Baghdad, Irak pada Jumat (3/1).

Kepala Program Studi Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi menilai serangan udara itu menjadi sinyal perang AS terhadap Iran.
Yon menjelaskan, serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad akan meningkatkan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah khususnya di Irak dan Iran.
 
Sebenarnya selama ini hubungan AS dan Irak baik-baik saja secara umum. Tetapi dengan adanya serangan udara itu akan mengakibatkan terjadinya peningkatan ketegangan antara AS dan Irak serta Iran.



"Ini (yang dilakukan AS) juga akan memicu gejolak kemarahan pemerintah Iran dan rakyat Iran, dari dulu (kelompok) yang konservatif menjadikan AS sebagai musuh utama, pada satu sisi memang AS menargetkan Iran sebagai musuh utama di Timur Tengah yang harus diperangi," kata Yon kepada Republika.co.id, Jumat (3/1).
 
Ia berpandangan, peristiwa terbunuhnya Jenderal Soleimani dalam serangan udara AS di Baghdad akan meningkatkan gejolak antara AS dan Iran. Sikap AS yang menjadikan Iran sebagai musuh utama di Timur Tengah kini telah dinyatakan secara langsung dengan melakukan serangan yang mengakibatkan terbunuhnya sang jenderal.
 
Menurutnya, secara otomatis AS telah membuka perang terbuka dengan Iran. Walau serangan udara yang mengakibatkan jenderal penting dari Iran terbunuh tidak terjadi di wilayah Iran. Tapi dampaknya langsung memberikan sinyal kepada Iran bahwa AS tidak main-main dalam hal ini.
 
"Ini pasti akan direspons secara keras oleh Iran, berkaitan dengan dinamika yang ada di Timur Tengah," ujarnya.
 
Yon menyampaikan, cara AS biasanya melakukan serangan di wilayah konflik, bukan di wilayah yang masih berdaulat seperti Iran. Oleh karena itu, kematian jenderal pasukan elit Iran ini menjadi salah satu sinyal perang tidak langsung dari AS ke Iran yang dilakukan di wilayah Irak. [yy/republika]

Israel Siagakan Penuh Pasukannya Usai Terbunuhnya Soleimani

Israel Siagakan Penuh Pasukannya Usai Terbunuhnya Soleimani


Fiqhislam.com - Menteri pertahanan Israel pada Jumat (3/1) memanggil para komandan militer dan keamanan Israel ke Tel Aviv setelah komandan senior Pasukan Quds Iran, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, terbunuh dalam serangan udara Amerika Serikat.

Sementara para pejabat Iran telah menyatakan akan melakukan pembalasan. Israel, sekutu terdekat AS di Timur Tengah, tidak memberikan pernyataan terbuka atas kematian Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis di Baghdad, Irak.

Namun, Radio Tentara Israel menyebutkan bahwa militer Israel telah meningkatkan kewaspadaan di tengah kekhawatiran bahwa Iran akan menyerang melalui sekutu-sekutunya di kawasan, seperti Hizbullah dukungan Teheran ke utara atau melalui kelompok gerilyawan Palestina sertaHamas dan Jihad Islam di Gaza.

"Mereka akan menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembalasan, mungkin dengan melancarkan tembakan ke wilayah Israel dengan bantuan milisi Syiah di Suriah dan bahkan dari Gaza," tulis Ron Ben-Yishai, komentator untuk media Israel, Ynet, di laman daring media tersebut.

Di Gaza, Hamas, yang selama ini mendapatkan bantuan keuangan dan militer dari Teheran, mengutuk pembunuhan Soleimani itu dan menyampaikan "rasa duka cita yang mendalam" kepada Iran.

Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang berkunjung ke Yunani, Menteri Pertahanan Naftali Bennet memanggil para komandan senior untuk berkumpul pada Jumat pagi guna 'menilai situasi, menurut sumber beberapa pejabat kementerian.

Israel telah sekian lama menganggap Soleimani sebagai ancaman besar. Pada Agustus tahun lalu, militer Israel mengatakan pihaknya telah menggagalkan serangan Pasukan Quds, yang diatur Soleimani , dengan mengerahkan sejumlah pesawat nirawak (drone) dari Suriah. [yy/republika]

Mengenal Garda Revolusi Islam yang Disebut Trump Teroris

Mengenal Garda Revolusi Islam yang Disebut Trump Teroris


Fiqhislam.com - Setiap negara memiliki organisasi militer yang bertugas menjaga pertahanan dan keamanan negara. Demikian pula di Iran, mereka memiliki pasukan elite Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran.

Tahun lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melabeli IRGC sebagai organisasi teroris asing. Pelabelan ini merupakan langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menandai AS secara resmi menamakan teroris terhadap militer negara lain. Para ahli mengatakan, keputusan itu kemungkinan akan meningkatkan ketegangan hubungan antara kedua negara.

Lantas, apa itu IRGC? Korps Garda Revolusi Iran yang dikenal sebagai Pasdaran, didirikan pada April 1979. Elite militer ini didirikan tidak lama setelah terjadinya Revolusi Islam dan penggulingan atas raja pro-Barat Iran, Mohammad Reza Shah Pahlavi.

Sebagaimana diamanatkan oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khomeini, IRGC memiliki tugas utama melindungi sistem Islam dan nilai-nilai revolusioner negara tersebut. Seperti dilansir di VOA News, Sabtu (4/1), IRGC saat ini telah berperan menjadi pemain militer, politik, dan ekonomi utama di Iran.

Korps militer ini memiliki 150 ribu pasukan, yang terdiri dari pasukan darat, angkatan laut, dan unit udara. Organisasi ini juga bertanggung jawab atas rudal balistik dan program nuklir Iran.

Secara organisasi, IRGC berada di bawah Staf Umum Angkatan Bersenjata Gabungan sebagai bagian dari Kementerian Pertahanan. Akan tetapi, menurut organisasi kebijakan internasional Counter Extremism Project, militer ini tetap berada di bawah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dengan otoritas sipil terpilih tidak memiliki kendali nyata.

Secara internal, IRGC juga memimpin Basij Resistance Force, sebuah kelompok relawan religius yang menyalurkan dukungan rakyat kepada rezim dan menekan perbedaan pendapat domestik. Pasukan paramiliter ini memantau kepatuhan terhadap adat istiadat ketat negara itu, seperti menangkap wanita yang melanggar kode pakaian publik di bawah peraturan rezim dan mengejar pihak-pihak yang bergaya Barat di mana alkohol disajikan.

Secara eksternal, IRGC menggunakan pasukan bayangannya, Pasukan Quds, untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah dan sekitarnya. Pasukan Quds ini dipimpin oleh Mayjen Qassem Soleimani dan proksi milisi Syiah seperti Hizbullah Lebanon.

Pasukan Quds dibentuk selama Perang Iran-Irak pada 1980. Elite pasukan ini telah memiliki sekitar 15 ribu personel. Kelompok ini telah terlibat dalam konflik Timur Tengah selama beberapa dekade baik secara langsung maupun dengan memberikan dukungan kepada milisi dan pemerintah pro-Iran, khususnya di Lebanon, Suriah, Irak, Yaman, Palestina dan Afghanistan.

Baru-baru ini, Pasukan Quds begitu berperan bagi perang saudara Suriah dengan mendukung Presiden Bashar al-Assad melawan pemberontak. Di Irak, kelompok itu memainkan peran penting membantu pemerintah yang didominasi Syiah dalam perang melawan kelompok ISIS dan menggagalkan upaya Kurdi mencari kemerdekaan.

Pasukan Quds juga dianggap sebagai sumber kehidupan pemberontak Houthi dalam perjuangan mereka melawan pemerintah yang diakui secara internasional di Yaman. AS menetapkan Pasukan Quds sebagai pendukung terorisme pada 2007. Langkah ini kemudian diikuti oleh Kanada pada 2012.

Sementara Arab Saudi dan Bahrain, dua saingan utama yang bertetangga dengan Iran, menetapkan IRGC sebagai entitas teror pada 2018. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa menahan diri untuk tidak menunjuk IRGC sebagai entitas teror. Akan tetapi, mereka telah memasukkan individu-individu utama dari pasukan tersebut ke dalam daftar hitam, termasuk pemimpinnya Qassem Soleimani. [yy/republika]

Rusia: Pembunuhan Soleimani Langgar Hukum Internasional

Rusia: Pembunuhan Soleimani Langgar Hukum Internasional


Fiqhislam.com - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan pembunuhan Komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qasem Soleimani oleh Amerika Serikat (AS) melanggar norma-norma hukum internasional. Hal itu dia sampaikan saat melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Jumat (3/1).

"Lavrov menekankan bahwa tindakan sengaja dari negara anggota PBB untuk melenyapkan pejabat negara anggota PBB lainnya, terutama di wilayah negara berdaulat ketiga tanpa memberikan pemberitahuan sebelumnya, secara terang-terangan melanggar prinsip hukum internasional dan harus dikutuk," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam keterangan persnya, seperti dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Menurut Lavrov, tindakan AS penuh konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan di kawasan serta tak membantu upaya menemukan solusi bagi permasalahan-permasalahan di Timur Tengah. "Sebaliknya, tindakan AS mengarah ke gelombang eskalasi baru. Moskow mendesak Washington untuk meninggalkan taktik paksa yang melanggar hukum untuk mencapai tujuannya di arena internasional dan menyelesaikan masalah di meja perundingan," ujarnya.

Soleimani tewas saat AS melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada Jumat pagi. Washington membidik konvoi Popular Mobilization Forces (PMF), pasukan paramiliter Irak yang memiliki hubungan dekat dengan Iran. Itu merupakan serangan besar pertama AS terhadap kelompok yang terafiliasi atau terkait dengan Iran sejak menarik pasukannya dari Irak pada 2011. Perintah untuk mengeksekusi tindakan tersebut datang langsung dari Presiden AS Donald Trump.

Dia menyebut Soleimani telah merencanakan serangan yang mengancam para diplomat dan personel militer AS di Irak serta kawasan sekitarnya. "Tapi kami menyergapnya dalam serangan dan menghentikannya," ujarnya.

Trump menampik bahwa AS sedang berupaya memulai peperangan. "Kami mengambil tindakan semalam untuk menghentikan perang. Kami tidak mengambil tindakan untuk memulai perang," kata dia seraya menambahkan bahwa AS tak mencari perubahan rezim di Iran.

"Militer AS melakukan serangan presisi tanpa cacat yang menewaskan teroris nomor satu di mana saja di dunia, Qassem Soleimani. Apa yang dilakukan AS kemarin seharusnya sudah dilakukan sejak lama. Banyak nyawa akan diselamatkan," kata Trump di resornya di Florida

Soleimani merupakan tokoh militer Iran yang memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah. Ia dipercaya memimpin Pasukan Quds, sebuah divisi atau sayap dari Garda Revolusi Iran yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial, termasuk kontra-intelijen di kawasan.

Soleimani disebut sebagai "otak" pembentukan paramiliter yang membidik Israel dan kepentingan AS di seluruh Timur Tengah. Munculnya kelompok Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman diyakini berkat peranan Soleimani.

Dia sangat dipuja di Iran. Soleimani dianggap tokoh terkuat setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kendati demikian, kesetiaan dan loyalitasnya terhadap Khamenei tak pernah diragukan.

Khamenei telah mengutuk serangan AS yang menewaskan Soleimani. Dia menyatakan akan mengambil aksi balasan. [yy/republika]

 

Download hanya digunakan pada browser eksternal