5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Rusia Ragu Baghdadi Telah Tewas

Rusia Ragu Baghdadi Telah TewasFiqhislam.com - Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menuturkan bahwa sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi valid mengenai kematian pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi.

Keraguan Rusia tetap terjaga, meski Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah mengkonfirmasi serangan AS di Suriah menewaskan Baghdadi.

Baghdadi dilaporkan tewas bersama dua istri dan beberapa anaknya setelah meledakkan rompi bom bunuh diri selama operasi pasukan khusus AS di Idlib, Suriah. Operasi militer berlangsung Sabtu malam atau Minggu dini hari waktu Suriah.

Peskov menuturkan, pasukan Rusia telah melihat pesawat dan drone Amerika yang beroperasi di wilayah yang disebut sebagai lokasi persembunyian Baghdadi. Dia menyebut, ada beberapa laporan tentang kematian al-Baghdadi, tetapi tidak ada konfirmasi yang dikeluarkan sebelumnya.



Seperti dilansir Sputnik pada Selasa (29/10/2019), Peskov lalu menuturkan, jika kematian Baghdadi benar adanya, maka ini adalah kontribusi nyata pemerintah Trump dalam operasi pemberantasan terorisme internasional.

"Jika memang informasi tentang tewasnya Baghdadi ini dikonfirmasi, maka kita dapat berbicara tentang kontribusi serius oleh Presiden AS dalam perang melawan terorisme internasional," ucap Peskov. [yy/sindonews]

Rusia Ragu Baghdadi Telah TewasFiqhislam.com - Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menuturkan bahwa sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi valid mengenai kematian pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi.

Keraguan Rusia tetap terjaga, meski Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah mengkonfirmasi serangan AS di Suriah menewaskan Baghdadi.

Baghdadi dilaporkan tewas bersama dua istri dan beberapa anaknya setelah meledakkan rompi bom bunuh diri selama operasi pasukan khusus AS di Idlib, Suriah. Operasi militer berlangsung Sabtu malam atau Minggu dini hari waktu Suriah.

Peskov menuturkan, pasukan Rusia telah melihat pesawat dan drone Amerika yang beroperasi di wilayah yang disebut sebagai lokasi persembunyian Baghdadi. Dia menyebut, ada beberapa laporan tentang kematian al-Baghdadi, tetapi tidak ada konfirmasi yang dikeluarkan sebelumnya.



Seperti dilansir Sputnik pada Selasa (29/10/2019), Peskov lalu menuturkan, jika kematian Baghdadi benar adanya, maka ini adalah kontribusi nyata pemerintah Trump dalam operasi pemberantasan terorisme internasional.

"Jika memang informasi tentang tewasnya Baghdadi ini dikonfirmasi, maka kita dapat berbicara tentang kontribusi serius oleh Presiden AS dalam perang melawan terorisme internasional," ucap Peskov. [yy/sindonews]

AS Kuburkan Al-Baghdadi di Laut dengan Upacara Islam?

AS Kuburkan Al-Baghdadi di Laut dengan Upacara Islam?


Fiqhislam.com - Amerika Serikat telah menguburkan jenazah Abu Bakr al-Baghdadi di laut, dengan upacara menurut Islam. Pemimpin ISIS itu terbunuh oleh pasukan penyerbu AS di Suriah pada Sabtu (26/10).

Para pejabat AS yang tidak ingin disebutkan jati dirinya, tidak menyebutkan tempat atau berapa lama upacara itu dilangsungkan. Dua pejabat mengatakan mereka meyakini bahwa jenazah Baghdadi sudah dibawa ke laut dengan menggunakan pesawat.

Jenderal Angkatan Darat AS Mark Milley, yang juga adalah kepala staf gabungan, mengatakan dalam konferensi pers di Pentagon (markas besar Departemen Pertahanan AS) bahwa militer AS memakamkan jenazah Baghdadi secara "sopan, menurut (prosedur standar) kita dan berdasarkan hukum menyangkut konflik bersenjata."

Karena Baghdadi tewas dalam kondisi yang mengerikan, kemungkinan militer AS tidak menjalankan proses secara penuh seperti yang dilakukannya setelah pasukan khusus AS Navy SEALs membunuh Osama bin Laden dalam penyerbuan pada 2011 di Pakistan. Saat itu, bin Laden tewas karena luka tembakan di kepalanya, menurut pemerintah AS.

Dalam kasus bin Laden, jenazah pendiri Alqaida itu dibawa ke kapal induk USS Carl Vinson. Jenazah dimandikan, lalu dibungkus dengan kain putih. Setelah itu, doa dibacakan dalam Bahasa Arab di depan jenazah bin Laden.

Pemakaman bin Laden di laut memicu tanggapan beragam. Seorang imam terkemuka mengatakan Amerika Serikat telah melanggar cara Islam dengan tidak memakamkan jenazah bin Laden di dalam tanah. AS tampaknya ingin menghindarkan kuburan bin Laden dijadikan tempat suci oleh para pengikutnya yang beraliran garis keras.

Sementara itu di Amerika Serikat, beberapa kalangan mempertanyakan kenapa bin Laden, sosok yang harus bertanggung jawab atas serangan 11 September 2001, menewaskan hampir 3.000 orang, dimakamkan dengan mendapat penghormatan.

Sementara itu, Milley tidak memberikan keterangan rinci soal upacara yang dilakukan bagi Baghdadi. Ia mengatakan bahwa sebelum dimakamkan, jenazah dibawa ke suatu tempat yang aman untuk kembali dipastikan jati dirinya melalui tes forensik DNA. "Sudah dilakukan dan sudah selesai," kata Milley.

Baghdadi, tokoh garis keras Irak yang tadinya tidak dikenal namun kemudian menyatakan dirinya "kalifah" bagi seluruh umat Islam sebagai pemimpin ISIS tewas setelah ia meledakkan rompi bomnya sendiri. Sebelum itu, Bagdadi sempat lari dan terpojok di sebuah terowongan buntu, yang ditutup oleh pasukan elit Amerika Serikat, menurut pemerintah AS. [yy/republika]

Iran: ISIS Tidak akan Mati karena Masih Dibutuhkan AS

Iran: ISIS Tidak akan Mati karena Masih Dibutuhkan AS


Fiqhislam.com - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ali Rabiei menuturkan, penyebaran paham-paham radikal yang dianut ISIS tidak akan mati, meski Abu Bakar al-Baghdadi telah mangkat. Alasannya, karena AS terus memelihara ideologi tersebut, untuk membantu Washington mencapai tujuan mereka di kawasan.

Rabiei mengatakan bahwa kematian Baghdadi, meskipun simbolis, tidak berarti perang melawan ISIS selesai, sama seperti membunuh mantan pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, yang tidak mengakhiri terorisme.

"Kematian Baghdadi adalah akhir dari simbol terorisme suntik-destruktif, menyuntikkan ideologi yang mematikan ke dalam hati masyarakat manusia dan menghancurkan citra Islam di mata publik. Namun, sama seperti kematian bin Laden tidak menghilangkan teror, kematian Baghdadi juga tidak akan menjadi akhir dari ISISme," ucap Rabiei.

Alasan utama untuk ini, Raebiei berpendapat, adalah fakta bahwa Washington tidak akan berhenti melakukan kebijakan yang memelihara jenis ideologi ekstremis yang sama yang diwakili oleh Baghdadi.

"Kematian bin Laden dan Baghdadi hanya mengakhiri satu bab dalam perang melawan terorisme bermerek ISIS. Konsep itu masih berkembang melalui kebijakan Amerika dan petrodolar regional. Ini adalah rawa-rawa pemelihara teror yang perlu dikeringkan," ugkapnya, seperti dilansir PressTV pada Senin (28/10/2019).

Dia mengatakan, AS melakukan yang terbaik untuk menggambarkan invasi dan sanksi kejam sebagai bagian dari perjuangannya melawan terorisme, sementara pada kenyataannya terorisme di Timur Tengah dan Afrika Utara disebabkan oleh kebijakan intelijen militer, menjarah minyak dan mendukung tirani Washington.

Rabiei lalu menuturkan, dengan membunuh Baghdadi, AS tidak bisa berharap untuk mengabaikan perannya dalam menciptakan bin Laden dan Baghdadis.

"Kita tidak boleh lupa bahwa di mata negara-negara di kawasan itu, membunuh salah satu teroris paling berbahaya di dunia tidak akan membasuh tangan para pendukungnya darah puluhan ribu orang yang kehilangan nyawa mereka karena Daesh atau kehilangan hak untuk hidup sejahtera karena efeknya yang lama," tambahnya. [yy/sindonews]

Tags: Baghdadi | ISIS