22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Rusia Sebut AS Bandit karena Curi Minyak Suriah

Rusia Sebut AS Bandit karena Curi Minyak SuriahFiqhislam.com - Kementerian Pertahanan Rusia menyebut tindakan Amerika Serikat yang mengirim pasukan untuk mengamankan ladang minyak Suriah sebagai aksi bandit. Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan langkah ini bertujuan untuk menjaga ladang minyak dari kemungkinan jatuh ke tangan ISIS.

Pada hari Sabtu, ada beberapa pergerakan pasukan di Suriah ketika berbagai kubu menyesuaikan diri dengan keputusan AS untuk menarik pasukan dari timur laut Suriah.

Konvoi AS yang terdiri atas lebih dari selusin kendaraan terlihat melaju di selatan kota Qamishli di timur laut, kemungkinan menuju ke daerah Deir Ez Zour yang kaya minyak, atau mungkin ke pangkalan lain di dekatnya. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah lembaga pemantau perang yang berbasis di Inggris, juga melaporkan konvoi tersebut, dan mengatakan itu tiba lebih awal dari Irak, menurut laporan Al Jazeera, 27 Oktober 2019.



Rusia juga merilis foto-foto yang diklaimnya menunjukkan alasan sebenarnya AS ingin mempertahankan pasukan di Suriah timur, yakni untuk melindungi perdagangan minyak ilegal dan meraup untung besar.

Dilaporkan RT.com, pada hari Sabtu Kementerian Pertahanan Rusia menerbitkan gambar udara sebagai bukti minyak mentah Suriah diselundupkan secara besar-besaran ke luar negara itu di bawah perlindungan AS.

Moskow mengatakan gambar-gambar hitam putih itu memperlihatkan sejumlah truk tanker, yang konon dimuat dengan minyak mentah, tersebar di provinsi timur laut Deir ez-Zor yang kaya minyak. Lusinan truk terlihat di dekat fasilitas pengumpulan minyak Daman, 42 km timur kota Deir ez-Zor, serta dekat Mayadin.

Konvoi besar pasukan pemerintah Suriah juga terlihat menuju jalan raya M4. Kantor berita negara Suriah SANA melaporkan pasukan telah memasuki wilayah Ras al-Ain, yang dikerahkan ke delapan desa di sepanjang jalan raya dan dekat dengan perbatasan Suriah-Turki.

Pasukan pemerintah Suriah belum menginjakkan kaki di Suriah timur laut sejak 2012, ketika pemerintah menarik diri untuk fokus pada perang di tempat lain di Suriah.

SDF, yang dipelopori oleh Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), mengambil kendali atas wilayah tersebut ketika Kurdi bersekutu dengan AS dalam pertempurannya melawan ISIS di wilayah tersebut. Sejak didirikan pada 2015, Kurdi secara signifikan memperluas kontrolnya di utara dan timur Suriah dan telah berupaya untuk menciptakan federasi otonom di sana.

Tetapi setelah Trump memerintahkan pasukannya untuk mundur dari daerah yang dikuasai Kurdi, memungkinkan serangan Turki diluncurkan pada 9 Oktober, SDF berpaling ke Rusia dan pemerintah Suriah untuk meminta perlindungan.

Menurut laporan New York Times, Trump telah menyatakan bahwa Amerika Serikat telah "mengamankan" ladang minyak di timur laut negara itu yang kacau dan menyarankan bahwa perebutan sumber daya alam utama negara itu membenarkan Amerika untuk memperluas kehadiran militernya di sana.

"Kami telah mengamankan minyak," kata Trump kepada wartawan pekan lalu di Gedung Putih.

"Aku selalu berkata, jika kamu masuk - simpan minyaknya," katanya. "Hal yang sama di sini: Simpan minyak."

Berbicara lagi di Gedung Putih pada hari Jumat, Trump mengatakan bahwa dia telah melakukan itu di Suriah. "Kami sudah mengamankan minyak," kata presiden kepada wartawan. "Kami punya banyak minyak," kata Trump setelah menarik pasukan AS dari Suriah. [yy/tempo]