20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

Suriah Terancam Krisis Baru Kemanusiaan

Suriah Terancam Krisis Baru Kemanusiaan

Fiqhislam.com - Badan pengungsi PBB UNHCR, Jumat (11/10), mengatakan, puluhan ribu warga sipil di Suriah terpaksa mengungsi sejak Turki menggelar operasi militer pada Rabu (9/10) lalu.

Menurut organisasi kemanusiaan Syrian Observatory for Human Rights, sudah lebih 60 ribu orang yang terusir rumah mereka.

"Ratusan ribu warga sipil di Suriah utara sekarang dalam bahaya, infrastruktur sipil dan warga sipil tidak boleh menjadi target serangan," kata komisioner tinggi untuk pengungsi PBB Filippo Grandi, seperti dilansir the Guardian, Jumat.

UNHCR meminta semua pihak mematuhi hukum humaniter internasional. Termasuk, memberikan akses bantuan untuk organisasi kemanusiaan. Laman Aljazirah melaporkan, serangan Turki memasuki hari ketiga pada Jumat. Hingga berita ini ditulis, Kementerian Pertahanan Turki mengklaim telah menewaskan 342 anggota milisi Kurdi di Suriah timur laut.



Sementara itu, para pengungsi diikuti oleh puluhan pekerja kemanusiaan. Mereka menyeberang dari Suriah ke Turki setelah organisasi-organisasi kemanusiaan memerintahkan evakuasi demi mengantisipasi serangan Turki yang lebih luas di wilayah tersebut.

Organisasi kemanusiaan, pemimpin-pemimpin militer dan petinggi organisasi internasional sudah memperingatkan ratusan ribu orang akan berada dalam bahaya dari serangan Turki. Operasi militer ini mengincar pasukan Kurdi yang berperang melawan ISIS di Suriah, yaitu payung koalisi yang diikuti suku Kurdi di Suriah, Syrian Democratic Forces (SDF).

Turki mengklaim bahwa salah satu anggota SDF adalah kelompok yang mendapat label teroris di Turki. Suriah sudah menjadi salah satu negara dengan krisis kemanusian paling rumit di dunia. Jutaan orang terpaksa mengungsi baik di dalam maupun luar perbatasan.

Organisasi-organisasi kemanusiaan memperingatkan serangan Turki di timur laut Suriah mengancam nasib jutaan orang. Salah satu organisasi yang prihatin dengan serangan itu adalah International Rescue Committee (IRC).

"Ketika serangan Turki ke Suriah dimulai, IRC sangat khawatir dengan nasib dan nyawa dua juta warga sipil di sebelah timur laut Suriah yang sudah selamat dari brutalitas ISIS dan mengungsi berkali-kali," kata organisasi yang didirikan Albert Einstein itu dalam pernyataan mereka yang dilansir the Guardian, Jumat.

IRC mengatakan, serangan militer dapat memaksa 300 ribu orang mengungsi. Selain itu, juga membahayakan nyawa layanan kemanusiaan, termasuk yang disediakan oleh IRC.

Organisasi hak asasi manusia Amnesty International juga memperingatkan bahayanya serangan tanpa pandang bulu. Serangan itu dapat membuat korban dari warga sipil berjatuhan.

"Baik Turki maupun pasukan Kurdi memiliki rekam jejak untuk melakukan serangan tanpa pandang bulu di Suriah yang telah menewaskan sejumlah warga sipil, ini tidak boleh dibiarkan terjadi lagi," kata direktur peneliti Timur Tengah di Amnesty International, Lynn Maalouf.

Organisasi kemanusiaan Save the Children juga memperingatkan dampak serangan Turki ke Suriah. Mereka meminta operasi militer yang diluncurkan Ankara tidak berdampak pada warga sipil yang mungkin terpaksa mengungsi.

Save the Children mengatakan, saat ini, ada 1,65 juta orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan di wilayah timur laut Suriah. "Semua layanan pokok seperti makanan, air, tempat tinggal sementara, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan harus disedia secara konsisten kepada semua warga sipil atau kami akan melihat bencana kemanusiaan kembali terjadi di depan mata kami," kata Save the Children dalam pernyataan mereka.

Sementara, sekretaris Jenderal Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jean Stoltenberg dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker meminta Turki menghindari instabilitas baru di Suriah. Serangan Turki mengancam krisis baru kemanusiaan.

Dalam pernyataannya, Juncker mengatakan, Uni Eropa memang berkontribusi sebesar 6 miliar euro untuk membantu Turki menampung 3,6 juta pengungsi Suriah. Ia menambahkan, Eropa tidak akan menambah kontribusi mereka untuk 'zona aman' yang ingin Turki ciptakan.

"Saya menyerukan kepada Turki, juga semua aktor lain, untuk menahan aksi mereka dan berhenti menggelar operasi, seperti yang sedang berlangsung saat kami berbicara di sini," kata Juncker.

Tak dukung Trump

Presiden AS Donald Trump yang menarik pasukan AS dari Suriah mengatakan, ia berharap, dapat memediasi konflik antara Turki dengan Kurdi di Suriah. Keputusan Trump membuka jalan bagi Turki untuk melakukan serangan ke pasukan Kurdi di Suriah timur laut.

Keputusan Trump tersebut mencetuskan kehebohan di dalam partainya sendiri, Partai Republik. Anggota House of Representative dari Partai Republik ingin menerapkan sanksi ke Turki. Sanksi ini sebagai hukuman karena anggota NATO itu telah menyerang pasukan Kurdi di Suriah. "(Turki harus menerima) konsekuensi serius atas serangan tanpa ampun kepada sekutu Kurdi kami di kawasan," kata anggota Kongres Liz Cheney, seperti dilansir BBC.

Anggota Republik lain John Shimkus juga mengritik Trump. Laman CNN melaporkan, ia bahkan mengambil tindakan lebih jauh dengan menyatakan tak lagi mendukung Trump. [yy/republika]

Suriah Terancam Krisis Baru Kemanusiaan

Fiqhislam.com - Badan pengungsi PBB UNHCR, Jumat (11/10), mengatakan, puluhan ribu warga sipil di Suriah terpaksa mengungsi sejak Turki menggelar operasi militer pada Rabu (9/10) lalu.

Menurut organisasi kemanusiaan Syrian Observatory for Human Rights, sudah lebih 60 ribu orang yang terusir rumah mereka.

"Ratusan ribu warga sipil di Suriah utara sekarang dalam bahaya, infrastruktur sipil dan warga sipil tidak boleh menjadi target serangan," kata komisioner tinggi untuk pengungsi PBB Filippo Grandi, seperti dilansir the Guardian, Jumat.

UNHCR meminta semua pihak mematuhi hukum humaniter internasional. Termasuk, memberikan akses bantuan untuk organisasi kemanusiaan. Laman Aljazirah melaporkan, serangan Turki memasuki hari ketiga pada Jumat. Hingga berita ini ditulis, Kementerian Pertahanan Turki mengklaim telah menewaskan 342 anggota milisi Kurdi di Suriah timur laut.



Sementara itu, para pengungsi diikuti oleh puluhan pekerja kemanusiaan. Mereka menyeberang dari Suriah ke Turki setelah organisasi-organisasi kemanusiaan memerintahkan evakuasi demi mengantisipasi serangan Turki yang lebih luas di wilayah tersebut.

Organisasi kemanusiaan, pemimpin-pemimpin militer dan petinggi organisasi internasional sudah memperingatkan ratusan ribu orang akan berada dalam bahaya dari serangan Turki. Operasi militer ini mengincar pasukan Kurdi yang berperang melawan ISIS di Suriah, yaitu payung koalisi yang diikuti suku Kurdi di Suriah, Syrian Democratic Forces (SDF).

Turki mengklaim bahwa salah satu anggota SDF adalah kelompok yang mendapat label teroris di Turki. Suriah sudah menjadi salah satu negara dengan krisis kemanusian paling rumit di dunia. Jutaan orang terpaksa mengungsi baik di dalam maupun luar perbatasan.

Organisasi-organisasi kemanusiaan memperingatkan serangan Turki di timur laut Suriah mengancam nasib jutaan orang. Salah satu organisasi yang prihatin dengan serangan itu adalah International Rescue Committee (IRC).

"Ketika serangan Turki ke Suriah dimulai, IRC sangat khawatir dengan nasib dan nyawa dua juta warga sipil di sebelah timur laut Suriah yang sudah selamat dari brutalitas ISIS dan mengungsi berkali-kali," kata organisasi yang didirikan Albert Einstein itu dalam pernyataan mereka yang dilansir the Guardian, Jumat.

IRC mengatakan, serangan militer dapat memaksa 300 ribu orang mengungsi. Selain itu, juga membahayakan nyawa layanan kemanusiaan, termasuk yang disediakan oleh IRC.

Organisasi hak asasi manusia Amnesty International juga memperingatkan bahayanya serangan tanpa pandang bulu. Serangan itu dapat membuat korban dari warga sipil berjatuhan.

"Baik Turki maupun pasukan Kurdi memiliki rekam jejak untuk melakukan serangan tanpa pandang bulu di Suriah yang telah menewaskan sejumlah warga sipil, ini tidak boleh dibiarkan terjadi lagi," kata direktur peneliti Timur Tengah di Amnesty International, Lynn Maalouf.

Organisasi kemanusiaan Save the Children juga memperingatkan dampak serangan Turki ke Suriah. Mereka meminta operasi militer yang diluncurkan Ankara tidak berdampak pada warga sipil yang mungkin terpaksa mengungsi.

Save the Children mengatakan, saat ini, ada 1,65 juta orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan di wilayah timur laut Suriah. "Semua layanan pokok seperti makanan, air, tempat tinggal sementara, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan harus disedia secara konsisten kepada semua warga sipil atau kami akan melihat bencana kemanusiaan kembali terjadi di depan mata kami," kata Save the Children dalam pernyataan mereka.

Sementara, sekretaris Jenderal Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jean Stoltenberg dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker meminta Turki menghindari instabilitas baru di Suriah. Serangan Turki mengancam krisis baru kemanusiaan.

Dalam pernyataannya, Juncker mengatakan, Uni Eropa memang berkontribusi sebesar 6 miliar euro untuk membantu Turki menampung 3,6 juta pengungsi Suriah. Ia menambahkan, Eropa tidak akan menambah kontribusi mereka untuk 'zona aman' yang ingin Turki ciptakan.

"Saya menyerukan kepada Turki, juga semua aktor lain, untuk menahan aksi mereka dan berhenti menggelar operasi, seperti yang sedang berlangsung saat kami berbicara di sini," kata Juncker.

Tak dukung Trump

Presiden AS Donald Trump yang menarik pasukan AS dari Suriah mengatakan, ia berharap, dapat memediasi konflik antara Turki dengan Kurdi di Suriah. Keputusan Trump membuka jalan bagi Turki untuk melakukan serangan ke pasukan Kurdi di Suriah timur laut.

Keputusan Trump tersebut mencetuskan kehebohan di dalam partainya sendiri, Partai Republik. Anggota House of Representative dari Partai Republik ingin menerapkan sanksi ke Turki. Sanksi ini sebagai hukuman karena anggota NATO itu telah menyerang pasukan Kurdi di Suriah. "(Turki harus menerima) konsekuensi serius atas serangan tanpa ampun kepada sekutu Kurdi kami di kawasan," kata anggota Kongres Liz Cheney, seperti dilansir BBC.

Anggota Republik lain John Shimkus juga mengritik Trump. Laman CNN melaporkan, ia bahkan mengambil tindakan lebih jauh dengan menyatakan tak lagi mendukung Trump. [yy/republika]

Artileri Turki Diduga Tembaki Markas Pasukan AS di Suriah

Artileri Turki Diduga Tembaki Markas Pasukan AS di Suriah


Fiqhislam.com - Pentagon mengkonfirmasi bahwa markas pasukan AS di Suriah ditembaki artileri Turki. Pentagon meminta Turki untuk menghentikan seluruh operasi agar AS bisa mengambil posisi bertahan.

"Pasukan AS di sekitar Kobani berada di bawah tembakan artileri dari posisi-posisi Turki sekitar pukul 9 malam waktu setempat, 11 Oktober," kata Kapten Angkatan Laut Brook DeWalt, juru bicara Pentagon, seperti dikutip dari CNN, 12 Oktober 2019. "Ledakan itu terjadi dalam beberapa ratus meter dari lokasi di luar zona Mekanisme Keamanan dan di daerah yang diketahui oleh Turki bahwa ada pasukan AS."

Berlainan dengan Pentagon, Kementerian Pertahanan Turki pada Jumat malam membantah bahwa pasukannya telah menembaki pasukan AS di Suriah dan sebaliknya mengatakan tentara Turki menargetkan para milisi Kurdi di dekatnya.

Kementerian Pertahanan menambahkan bahwa Turki tidak menembaki pos pengamatan AS dengan cara apapun dan bahwa semua tindakan pencegahan dilakukan sebelum melepaskan tembakan untuk mencegah kerusakan pada pangkalan AS.

"Bagaimanapun, pasukan Turki berhenti menembak setelah menerima informasi dari AS," kata kementerian. "Kami dengan tegas menolak klaim bahwa pasukan AS atau Koalisi ditembaki."

Ledakan di dekat pos militer AS di Suriah utara pada hari Jumat tidak melukai personel dan sumber ledakan di dekat Kobane tidak jelas, kata seorang pejabat AS, menurut laporan Reuters.

Pentagon menekankan Turki harus menghindari aksi yang bisa membahayakan pasukan AS di dalam Suriah, yang berjumlah sekitar 1.000 personel sebelum serangan.

"Militer Turki sepenuhnya menyadari, sampai ke detail koordinat secara eksplisit, tentang lokasi pasukan AS," kata Jenderal Angkatan Darat AS Mark Milley, ketua Kepala Staf Gabungan. [yy/tempo]

Pentagon: AS tidak akan Meninggalkan Kurdi di Suriah

Pentagon: AS tidak akan Meninggalkan Kurdi di Suriah


Fiqhislam.com - Pentagon pada Jumat menyatakan bahwa serangan militer Turki ke bagian timur laut Suriah menodai hubungan Amerika Serikat dan Turki. Mereka menambahkan bahwa AS tidak meninggalkan mitranya Kurdi.

"Kami tidak meninggalkan Kurdi, biar kami memperjelas soal tu," kata Menteri Pertahanan AS Mark Esper kepada awak media di Pentagon.

"Tak seorang pun yang memberikan lampu hijau untuk operasi Turki, justru sebaliknya. Kami mendorong balik agar Turki tidak memulai operasi ini," kata Esper.

Turki melancarkan serangan udara dan artileri mereka terhadap milisi Kurdi di wilayah tersebut pada Jumat. Hal itu meningkatkan serangan yang menuai peringatan bencana kemanusiaan dan membuat para anggota dewan Republik menentang Presiden AS Donald Trump.

YPG Kurdi merupakan elemen pertempuran utama Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang menjadi sekutu utama Amerika Serikat dalam aksinya merebut kembali wilayah yang dikendalikan oleh kelompok ISIS. SDF kini mengendalikan sebagian besar wilayah yang pernah menjadi "kekhalifahan" di Suriah dan menjaga ribuan anggota ISIS di penjara serta puluhan ribu anggota keluarga mereka di sejumlah kamp.

Esper menyebutkan telah berbicara kepada mitranya Turki soal bahaya serangan Turki terhadap hubungan Amerika Serikat dan Turki, yang merupakan sekutu NATO. Selama konferensi pers, Pimpinan Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley mengatakan tidak ada tanda-tanda bahwa Turki akan menghentikan serangannya, meski serangan darat Turki kini terbatas. [yy/republika]

Turki Isyaratkan Siap Balas Sanksi AS

Turki Isyaratkan Siap Balas Sanksi AS


Fiqhislam.com - Pemerintah Turki mengisyaratkan siap merespons dan membalas sanksi yang berpotensi diterapkan Amerika Serikat (AS) sebagai dampak dari operasi militer mereka di Suriah. Ancaman sanksi tidak akan menghentikan operasi tersebut.

“Turki bertempur dengan organisasi teroris yang menciptakan ancaman bagi keamanan nasionalnya. Tidak seorang pun boleh meragukan bahwa kita akan membalas langkah apa pun yang akan diambil melawan hal ini,” kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan pada Jumat (11/10).

Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin mengatakan Presiden AS Trump siap menandatangani perintah eksekutif untuk menyetujui otoritas sanksi baru yang sangat signifikan terhadap Turki. Namun Pemerintah AS belum mengaktifkan langkah-langkah tersebut.

“Ini adalah sanksi yang sangat kuat. Kami berharap tidak harus menggunakannya, tapi kami dapat mematikan ekonomi Turki jika perlu,” ujar Mnuchin kepada awak media di Gedung Putih pada Jumat, seperti dilansir Reuters.

Menurut dia, Trump terus memantau perkembangan situasi di Suriah. “Presiden prihatin dengan serangan militer yang sedang berlangsung dan potensi penargetan warga sipil, infrastruktur sipil, etnis, atau agama minoritas,” ucapnya.

Turki mulai melancarkan operasi militer di Suriah timur laut pada Rabu malam. Mereka ingin menumpas pasukan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dan Partai Persatuan Demokratik Suriah (PYD). Ankara memandang YPG sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

PKK adalah kelompok bersenjata Kurdi yang telah melancarkan pemberontakan di Turki tenggara selama lebih dari tiga dekade. Turki telah melabeli YPG dan PKK sebagai kelompok teroris.

Turki juga membidik Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi. SDF diketahui merupakan sekutu utama AS dalam memerangi ISIS di Suriah. Kerja sama antara keduanya berhasil membenamkan kekuasaan ISIS di negara tersebut. [yy/republika]

Tags: Suriah | Turki | Kurdi