30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

HAM, Bungkam untuk Palestina

HAM, Bungkam untuk Palestina


Fiqhislam.com - Sampai saat ini, Palestina masih membara. Penembakan terhadap individu hingga bombardir pemukiman warga Palestina oleh Israel tetap terjadi. Kian hari derita Palestina kian menyayat hati.

Semakin bertambah perih, tatkala pesta demokrasi berlangsung di Israel. Tanpa basa-basi, para petarung pemilu menyatakan kebencian mereka terhadap Palestina.

Salah satunya, dikutip dari Republika.co.id, diungkapkan dengan tegas oleh Benjamin Netanyahu dalam kampanyenya. Bahwa Ia berjanji, jika Ia terpilih kembali sebagai Perdana Menteri, maka ia akan mencaplok permukiman Israel di tepi Barat dari Palestina.

Inilah derita Palestina. Teror Israel selalu membayangi tanpa henti. Derita Palestina semestinya adalah derita kita bahkan Muslim di seluruh dunia. Namun sungguh sayang, dunia internasional hanya diam. HAM tiba-tiba bungkam. Tidak ada empati apalagi pembelaan. Inilah wajah asli dari HAM berkelindan kemunafikan.

Fakta ini seharusnya membuka mata kita. Bahwa berharap pada dunia internasional untuk pembebasan Palestina adalah kesia-sia-an. Bukankah Allah Swt. telah peringatkan dalam QS. Al Imran ayat 118. Bahwa telah nyata kebencian dari mulut mereka (orang kafir) dan apa yang ada di hati mereka itu lebih besar lagi. Naudzubillah!

Karenanya, hanya dengan bersatunya seluruh kaum muslim  dalam naungan syariat-Nya saja Palestina bisa dibebaskan. Ibarat lidi, ia mudah dipatahkan jika bersendirian. Lain hal jika lidi-lidi disimpul jadi satu.

Ia akan kokoh, tidak mudah dilumatkan. Semoga, persatuan umat Islam segera terwujud dan pembebasan palestina tidak lagi sekedar pepesan kosong di meja perdamain dunia. Semoga!

Wulan Citra Dewi, S.Pd, Pekanbaru

HAM, Bungkam untuk Palestina


Fiqhislam.com - Sampai saat ini, Palestina masih membara. Penembakan terhadap individu hingga bombardir pemukiman warga Palestina oleh Israel tetap terjadi. Kian hari derita Palestina kian menyayat hati.

Semakin bertambah perih, tatkala pesta demokrasi berlangsung di Israel. Tanpa basa-basi, para petarung pemilu menyatakan kebencian mereka terhadap Palestina.

Salah satunya, dikutip dari Republika.co.id, diungkapkan dengan tegas oleh Benjamin Netanyahu dalam kampanyenya. Bahwa Ia berjanji, jika Ia terpilih kembali sebagai Perdana Menteri, maka ia akan mencaplok permukiman Israel di tepi Barat dari Palestina.

Inilah derita Palestina. Teror Israel selalu membayangi tanpa henti. Derita Palestina semestinya adalah derita kita bahkan Muslim di seluruh dunia. Namun sungguh sayang, dunia internasional hanya diam. HAM tiba-tiba bungkam. Tidak ada empati apalagi pembelaan. Inilah wajah asli dari HAM berkelindan kemunafikan.

Fakta ini seharusnya membuka mata kita. Bahwa berharap pada dunia internasional untuk pembebasan Palestina adalah kesia-sia-an. Bukankah Allah Swt. telah peringatkan dalam QS. Al Imran ayat 118. Bahwa telah nyata kebencian dari mulut mereka (orang kafir) dan apa yang ada di hati mereka itu lebih besar lagi. Naudzubillah!

Karenanya, hanya dengan bersatunya seluruh kaum muslim  dalam naungan syariat-Nya saja Palestina bisa dibebaskan. Ibarat lidi, ia mudah dipatahkan jika bersendirian. Lain hal jika lidi-lidi disimpul jadi satu.

Ia akan kokoh, tidak mudah dilumatkan. Semoga, persatuan umat Islam segera terwujud dan pembebasan palestina tidak lagi sekedar pepesan kosong di meja perdamain dunia. Semoga!

Wulan Citra Dewi, S.Pd, Pekanbaru

Usulan Perdamaian AS tidak Cantumkan Kemerdekaan Palestina

Usulan Perdamaian AS tidak Cantumkan Kemerdekaan Palestina


Fiqhislam.com - Proposal Amerika Serikat (AS) untuk perdamaian Israel dan Palestina yang disebut 'Kesepakatan Abad Ini' tidak mencantumkan kedaulatan Palestina. Dilansir dari Aljazirah, Selasa (16/4) isi kesepakatan tersebut dilaporkan surat kabar AS the Washington Post. 

Salah satu sumber yang dekat dengan rencana tersebut mengatakan kesepakatan itu berjanji untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat Palestina. Tapi, rencana itu tidak menjamin keamanan negara Palestina.

Gedung Putih diharapkan akan mengumumkan kesepakatan yang sudah lama ditunggu pada 2018. Kesepakatan tersebut dipimpin oleh menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner.

Sementara itu, pemerintah AS masih merahasiakan rincian rencana kesepakatan tersebut. Washington Post melaporkan komentar Kushner dan pejabat-pejabat AS lainnya mengisyaratkan kesepakatan itu akan 'menghilangkan status kenegaraan sebagai landasan upaya perdamaian'. 

Kemungkinan besar kesepakatan itu akan menititikberatkan pada keamanan Israel seputar proposal yang pembangunan infrastruktur dan industri terutama di Jalur Gaza yang dikepung Israel. Agar rencana itu sukses atau bahkan melewati gerbang awal, setidaknya diperlukan persetujuan awal dari Israel dan Pelestina serta negara-negara Teluk Arab. Para pejabat AS mengatakan negara-negara Teluk akan diminta untuk membantu mendanai rencana itu. 

Para pakar berpendapat kemungkinannya sangat kecil bagi Kushner untuk berhasil. AS sudah gagal mendamaikan kawasan itu sejak Perjanjian Oslo pada 1993. 

Dalam upaya mempertahankan elemen-elemen Perjanjian Oslo, termasuk masalah permukiman, pengungsi Palestina dan hak mereka untuk pulang, mantan Presiden AS Bill Clinton sudah mencoba melakukan negosiasi dan mencapai kesepakatan final dalam Pertemuan Kamp David tahun 2000. Tapi Clinton pun gagal. 

Pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina berkali-kali menggagalkan upaya perdamaian. Trump yang memiliki hubungan lebih baik dengan Israel dibandingkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya sudah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada tahun lalu. 

Ia memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem yang merusak kebijakan luar negeri AS selama beberapa dekade. Sebab, status Yerusalem menjadi titik konflik Israel-Palestina.   

Israel menjajah setengah Yerusalem timur pada 1967. Pada 1980, mereka mengeluarkan undang-undang yang menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.   

Washington Post melaporkan pejabat negara Arab yang terlibat dalam kesepakatan Kushner tersebut mengatakan menantu Trump itu tidak menawarkan sesuatu yang spesifik. Tapi menurutnya rencana tersebut akan memberikan kesempatan ekonomi untuk rakyat Palestina dan mensahkan pendudukan Israel. [yy/republika]

Jerman Tetap Dukung Penyelesaian Dua Negara Palestina-Israel

Jerman Tetap Dukung Penyelesaian Dua Negara Palestina-Israel


Fiqhislam.com - Kanselir Jerman Angela Merkel telah menegaskan kembali komitmen Jerman, bagi "penyelesaian dua-negara" Palestina-Israel, dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (15/4).

"Kanselir telah menggarisbawahi kepentingan yang berlanjut mengenai penyelesaian dua-negara, yang dapat dicapai melalui perundingan antara kedua pihak," kata Juru Bicara Merkel, Steffen Seibert, di dalam satu pernyataan.

 

"(Penyelesaian dua-negara) ini harus tetap menjadi sasaran upaya internasional," ia menegaskan.

Pernyataan keras Merkel untuk mendukung penyelesaian dua-negara dikeluarkan di tengah laporan media bahwa rencana perdamaian Timur Tengah Presiden AS Donald Trump tampaknya tak sampai pada pewujudan negara Palestina secara penuh.

Washington Post melaporkan pada Ahad bahwa rencana Trump diperkirakan menyarankan "otonomi" Palestina dan bukan "kedaulatan". Pada Senin, kalangan mantan politisi Eropa mengecam Trump karena melanjutkan kebijakan "satu-pihak" dalam konflik Palestina-Israel.

"Eropa mesti menolak setiap rencana yang tidak menciptakan Negara Palestina yang berdampingan dengan Israel, dengan Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota kedua negara itu," kata mereka di dalam surat kepada pemerintah Eropa dan Uni Eropa serta harian Inggris, The Guardian.

Surat tersebut ditandatangani oleh lebih dari 30 mantan menteri luar negeri dan perdana menteri. [yy/republika]