27 Rabiul-Akhir 1443  |  Kamis 02 Desember 2021

basmalah.png

Akhir Perjalanan Omar Al-Bashir di Tangan Rakyat

Akhir Perjalanan Omar Al-Bashir di Tangan Rakyat


Fiqhislam.com - Penguasa itu akhirnya tumbang. Dia menyerah setelah gelombang protes besar-besaran yang melanda Sudan.

Omar al-Bashir tidak berkutik. Presiden yang telah berkuasa selama hampir 30 tahun itu mengundurkan diri dari jabatannya pada Kamis, 11 April 2019. Demonstrasi yang terjadi di Sudan selama 16 pekan, awalnya dipicu oleh kenaikan harga makanan dan penindasan selama tiga dekade.

Sudan mengalami isolasi berkepanjangan sejak 1993, ketika Amerika Serikat (AS) memasukkan pemerintahan Bashir ke dalam negara yang mensponsori teroris. AS melanjutkan sanksi itu empat tahun kemudian. Aksi massa kemudian menjalar dan menyerukan pengunduran diri al-Bashir.

BBC melaporkan, Kamis pagi, iring-iringan kendaraan militer memasuki kompleks perumahan kementerian pertahanan. Kompleks ini menjadi markas militer dan kediaman pribadi al-Bashir. Televisi dan radio pemerintah kemudian menyela acara dan mengatakan militer akan mengeluarkan pernyataan.

Rakyat akhirnya bersorak gembira ketika militer mengumumkan al-Bashir meletakkan jabatannya. Menteri Pertahanan Sudan Awad ibn Auf kemudian dilantik jadi ketua Dewan Peralihan Militer. Kurang dari 24 jam kemudian, ibn Auf mundur dan digantikan oleh Letnan Jenderal Abdel Fattah Burhan pada Jumat, 12 April 2019.

Bashir menghabiskan karier militernya dalam perang. Dia memegang kekuasaan melalui kudeta militer pada 1989. Dia memerintah dengan tangan besi.

Saat ia mengambil alih pemerintahan, Sudan sedang berada dalam perang sipil selama 21 tahun. Perang sipil berakhir pada 2005 dan hasilnya, Sudan Selatan merdeka pada 2011.

Perang diakhiri dengan kesepakatan, namun hal lain mengemuka.Britannica menyebut, Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) pada 2008 meminta perintah penahanan dikeluarkan untuk Bashir. ICC menuding Bashir melakukan kejahatan perang, genosida, dan kejahatan kemanusiaan di Darfur pada 2003.

Pemerintah Sudan menolak tuduhan itu dan menyatakan Bashir tidak bersalah. Pada 2009, ICC mengeluarkan perintah penahanan untuk Bashir atas kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan, tapi tidak genosida. Inilah pertama kalinya ICC mengeluarkan perintah penahanan pada kepala pemerintahan yang masih berkuasa.

Pada Juli 2010 ICC mengeluarkan perintah penahanan. Kali ini dengan tuduhan genosida.

Di tengah perintah penahanan internasional itu, dia menang dua kali berturut-turut dalam pemilu 2010 dan 2015. Namun, kemenangan terakhirnya dirusak oleh boikot partai-partai oposisi utama.

Perintah penahanan itu juga berujung pada larangan perjalanan internasional. Meski demikian, Bashir bisa melakukan kunjungan diplomatik ke Mesir, Arab Saudi, dan Afrika Selatan.

Dia lahir pada 1944 di tengah keluarga petani di utara Sudan yang saat itu bagian dari Kerajaan Mesir. Dia bagian dari Al-Bedairyya Al-Dahmashyya, sebuah suku Badui.

Dikutip dari BBC, dia bergabung dengan militer Mesir saat muda dan meniti kariernya dengan mulus. Dia tercatat pernah berperang dengan Israel pada 1973.

Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan pribadinya. Dia tidak memiliki keturunan. Dia menikahi istri kedua di sekitar usia 50 tahun.

Ia menikahi janda dari Ibrahim Shams al-Din yang dianggap sebagai pahlawan di wilayah utara. Bashir mengatakan pernikahannya itu adalah contoh bagi orang lain agar melakukan hal yang sama. Perang telah banyak menyisakan janda sehingga menikahi mereka akan menjadi solusi agar para janda ada yang menghidupi.

Apa yang terjadi di Sudan adalah kudeta tanpa rencana yang jelas bagaimana militer akan menyerahkan kekuasaan pada sipil. Sudanese Professionals Association (SPA) yang mempelopori demonstrasi dan kelompok masyarakat sipil lainnya mengkhawatirkan nasib perlawanan masyarakat bila Bashir telah ditumbangkan.

Mereka ingin rezim digulingkan secara keseluruhan. Karena itulah, rakyat Sudan terus berunjuk rasa. Rakyat menginginkan tampuk kepemimpinan diserahkan pada sipil.

Militer akan dengan gampangnya menekan para demonstran, tapi apa selanjutnya? Kerusuhan, demonstrasi berdarah? Tentu hal ini akan semakin membebani rakyat yang telah terbelit krisis ekonomi selama bertahun-tahun. Situasi yang labil ini jelas memerlukan kepala dingin dan kompromi dari militer.

oleh Ani Nursalikah, redaktur republika.co.id