25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Dengan 97 persen suara dihitung, tidak ada satupun dari partai-partai yang mengusung kandidat perdana menteri meraih suara mayoritas. Netanyahu, jelas berada dalam posisi kuat untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan faksi sayap kanan yang mendukungnya.

Kemenangan itu diraih saat Netanyahu menghadapi kemungkinan dakwaan dalam tiga kasus suap. Meski, ia membantah melakukan kesalahan tersebut.

Partai Netanyahu, Likud Party, dan partai saingannya Benny Gantz, aliansi politik Biru Putih atau Kahol Lavan sama-sama memenangkan 35 kursi. Itu berarti perolehan lima kursi untuk Likud.

"Ini adalah malam kemenangan kolosal," kata PM berusia 69 tahun itu. Ia mengingatkan bahwa pihaknya juga masih akan menunggu hasil resminya.

Jika pada Jumat ia diumumkan resmi menang, ia akan menjadi perdana menteri yang terlama dalam sejarah 71 tahun Israel. Ia pun dengan percaya diri sudah memulai pembicaraan dengan calon sekutu koalisi partainya.

Sementara, rivalnya, Gants (59 tahun) juga sebelumnya mengklaim kemenangan mengutip perhitungan suara awal. "Kami adalah pemenangnya," kata Gantz, seorang mantan kepala militer Israel (IDF). "Kami ingin berterima kasih kepada Benjamin Netanyahu untuk layanannya kepada bangsa," ujarnya menambahkan.

Meskipun keduanya mengklaim kemenangan pada Selasa malam, gambar yang lebih jelas muncul pada hari Rabu pagi ketika hasilnya mulai mengalir dengan suara hampir 100 persen dihitung, melukiskan bahwa Netanyahu sebagai pemenang. [yy/republika]

Dengan 97 persen suara dihitung, tidak ada satupun dari partai-partai yang mengusung kandidat perdana menteri meraih suara mayoritas. Netanyahu, jelas berada dalam posisi kuat untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan faksi sayap kanan yang mendukungnya.

Kemenangan itu diraih saat Netanyahu menghadapi kemungkinan dakwaan dalam tiga kasus suap. Meski, ia membantah melakukan kesalahan tersebut.

Partai Netanyahu, Likud Party, dan partai saingannya Benny Gantz, aliansi politik Biru Putih atau Kahol Lavan sama-sama memenangkan 35 kursi. Itu berarti perolehan lima kursi untuk Likud.

"Ini adalah malam kemenangan kolosal," kata PM berusia 69 tahun itu. Ia mengingatkan bahwa pihaknya juga masih akan menunggu hasil resminya.

Jika pada Jumat ia diumumkan resmi menang, ia akan menjadi perdana menteri yang terlama dalam sejarah 71 tahun Israel. Ia pun dengan percaya diri sudah memulai pembicaraan dengan calon sekutu koalisi partainya.

Sementara, rivalnya, Gants (59 tahun) juga sebelumnya mengklaim kemenangan mengutip perhitungan suara awal. "Kami adalah pemenangnya," kata Gantz, seorang mantan kepala militer Israel (IDF). "Kami ingin berterima kasih kepada Benjamin Netanyahu untuk layanannya kepada bangsa," ujarnya menambahkan.

Meskipun keduanya mengklaim kemenangan pada Selasa malam, gambar yang lebih jelas muncul pada hari Rabu pagi ketika hasilnya mulai mengalir dengan suara hampir 100 persen dihitung, melukiskan bahwa Netanyahu sebagai pemenang. [yy/republika]

Akan Ada Lebih Sedikit Perempuan di Parlemen Israel

Akan Ada Lebih Sedikit Perempuan di Parlemen Israel


Fiqhislam.com - Keterlibatan anggota parlemen baru di Knesset Israel berikutnya akan sangat jarang diisi oleh anggota parlemen perempuan. Pada periode mendatang, anggota parlemen perempuan akan ada lebih sedikit.

Dilansir Time of Israel, jika hasil saat ini tetap, berarti Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menang. Saat ini sudah 97 persen suara dihitung.

Akan ada 28 anggota parlemen perempuan dari berbagai partai berada Knesset. Angka itu turun dari 33 anggota perempuan di Knesset sebelumnya.

Hal ini pun dinilai akan mengakhiri tren peningkatan keterwakilan perempuan dalam beberapa tahun terkahir. Hanya satu partai, yakni Partai Maretz, yang akan dikepalai oleh seorang wanita.

Perempuan dari Partai Blue and White, Gadeer Mreeh akan menjadi wanita pertama dari etnis Druze yang menjadi anggota parlemen Knesset. Jajak pendapat menunjukkan keberhasilan ia di partainya dalam pemilihan kali ini.

Seorang mantan pembawa berita, ibu dua anak berusia 34 tahun ini berasal dari kota Daliyat al-Karmel, Israel utara. Orang Druze Timur Tengah secara teratur melayani di pasukan keamanan Israel (IDF) dan aspek-aspek lain dari masyarakat Israel. Politikus Druze lainnya termasuk Ayoob Kara dari Likud, juga dari Daliyat al-Karmel. [yy/republika]

Warga Israel Rela Tempuh 11.910 Km demi Tumbangkan Netanyahu

Warga Israel Rela Tempuh 11.910 Km demi Tumbangkan Netanyahu


Fiqhislam.com - Seorang pengusaha Israel menempuh jarak 11.910 kilometer untuk bisa memberi suara dalam pemilihan umum Israel, Selasa (9/4). Offir Gutelzon mengatakan ia dan sedikitnya 100 lagi orang Israel di luar negeri terbang pulang dari San Francisco Bay Area di Amerika Serikat untuk memberi suara.

Pemilu Israel menjadi persaingan ketat antara Partai Likud pimpinan Perdana Menteri konsevatif Benjamin Netanyahu dan sejumlah penantangnya dari sayap kiri-tengah. Namun, hasilnya campur-aduk buat Gutelzon, CEO teknologi yang berusia 44 tahun dan tinggal di Silicon Valley.

Jajak pendapat di luar proses resmi memberi keunggulan buat pesaing utama Partai Likud, Partai Blue and White pimpinan mantan Jenderal Benny Gantz. Namun, Netanyahu tetap berada pada posisi yang lebih baik untuk membentuk pemerintah koalisi selanjutnya di Israel.

Jajak pendapat di luar pemungutan suara resmi menunjukkan perolehan Partai Buruh sayap-kiri, yang beroposisi dan didukung Gutelson diperkirakan menyusut hampir dua-pertiga jadi tujuh anggota di Parlemen. Terdapat 120 kursi di parlemen Israel atau Knesset.

"Saya optimistis seluruh suara buat kubu sayap kiri-tengah tampaknya bagus. Ini sungguh menegangkan. Kami berusaha keras membuat perubahan," kata Gutelzon, Rabu siang (10/4).

Ia berbicara di markas kampanye Partai Buruh di Tel Aviv. Israel tak mengizinkan warganya untuk golput. Setiap warga dapat memberi suara di dalam negeri, bahkan jika ia berada di di tempat lain.

Gutelzon mengatakan identitasnya sebagai orang Israel di luar negeri dan ketidaknyamanan dengan kebijakan Netanyahu, memotivasi ia menempuh perjalanan jauh. "Kami telah menyaksikan selama empat tahun terakhir ini sudut pandang yang eksrem datang dari sayap-kanan," kata Gutelzon.

Netanyahu telah membantah ia melakukan kesalahan dalam skandal korupsi dan mendapat angin di kancah internasional. Gutelzon, yang menetap di luar negeri selama tiga pemilihan umum terdahulu, ikut mendirikan grup Facebook yang diberi nama "Orang Israel di Lembah Memberi Suara".

Grup tersebut ia dedikasikan untuk mempersatukan dia dengan orang Israel lain di seluruh dunia. Kelompok tersebut memiliki beberapa ratus anggota.

Setiap keberhasilan yang mungkin diraih Gutelzon dalam menghimpun suara orang Israel di luar negeri juga mungkin dijelaskan oleh fakta pemilihan umum Israel dilakukan 10 hari sebelum festival Paskah Yahudi. Saat itu, banyak orang Israel pulang kampung.

"Kami datang untuk perayaan Paskah, dan sepanjang jalan, kami akan memberi suara," kata Roi Zaltzman, makelar barang tak bergerak yang tinggal di Denmark, setelah ia terbang ke Bandar Udara Ben Gurion di Tel Aviv. [yy/republika]

Warga Arab-Israel Merasa Diintimidasi karena Kamera di TPS

Warga Arab-Israel Merasa Diintimidasi karena Kamera di TPS


Fiqhislam.com - Kebijakan partai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengirim pemantau yang dilengkapi dengan kamera ke sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) dengan konstituen Arab pada hari pemilihan di Israel, Selasa (9/4), dikutuk politikus Arab karena merupakan tindakan intimidasi.

Ketika ditanya mengenai penggunaan kamera-kamera di TPS, polisi Isarel memberi alasan sudah terjadi sejumlah dugaan pelanggaran di utara, tempat banyak warga Israel keturunan Arab. Warga Israel keturunan Arab berjumlah 21 persen dari penduduk.

Netanyahu adalah ketua Partai Likud yang beraliran kanan dan mendukung pengambilan gambar dengan kamera itu. Ia mengatakan kamera-kamera tersebut harus dipasang secara terbuka di TPS di mana saja untuk menjamin suara sah. Menurut jajak pendapat, ia mendapat saingan ketat dari calon beraliran tengah,

Pada hari pemilihan di Israel, wakil dari sebagian besar partai duduk di TPS untuk mengecek proses identifikasi sebelum pemungutan suara. Para pemilih kemudian diberi amplop dan pergi ke bilik suara yang sudah disediakan untuk memberikan suara mereka.

Ahmad Tibi, seorang anggota dewan keturunan Arab, mengatakan kamera-kamera yang terlihat di sejumlah TPS ilegal dan merupakan usaha langsung untuk sabotase kebebasan memberikan suara. [yy/republika]