16 Jumadil-Akhir 1443  |  Rabu 19 Januari 2022

basmalah.png

BERITA INTERNASIONAL

Morales Kecam Guaido yang Dukung Intervensi Militer AS

Morales Kecam Guaido yang Dukung Intervensi Militer AS


Fiqhislam.com - Presiden Bolivia Evo Morales mengecam pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido atas pernyataannya soal kemungkinan intevensi militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela. Morales dengan tegas menolak pernyataan Guaido dalam menyambut baik intervensi militer AS di Venezuela.

"Saya ingin tahu apa yang dikatakan oleh saudara-sarudara kepresidenan yang mengenalnya soal hasutan perang di Amerika Latin," katanya seperti dikutip Anadolu Agency, Ahad (10/2).

Guaido pada Jumat menolak mengenyampingkan kemungkinan intevensi militer AS untuk menggulingkan Presiden Venezuela dua periode, Nicolas Maduro. Laman Russia Today menulis, Guaido mengatakan bahwa ia akan melakukan segala sesutu yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa rakyat Venezuela, termasuk intervensi militer dari negara lain, dalam hal ini AS.

Sejak Maduro dilantik kembali sebagai presiden, Venezuela diguncang protes besar. Ketua Majelis Nasional, Guaido mengajak rakyat turun ke jalan memrotes kepeimpinan Maduro atas keterpilihannya Mei tahun lalu yang dianggap curang.

Ketegangan pun semakin meningkat saat Guaido mengukuhkan diri sebagai presiden sementara pada 23 Januari. Langkah tersebut membuat negara-negara dunia terpecah. Langkah Guaido didukung oleh AS, Kanada, Amerika Latin dan beberapa negara Eropa. Sementara, Rusia, Turki, Cina, Bolivia dan Meksiko cenderung mengakui Maduro.

Maduro sejauh ini menolak untuk mengizinkan truk berisi bantuan asing yang ia nilai sebagai konspirasi yang dirancang guna membuat negara tidak stabil. "Paket bantuan memang sangat bagus di luar, tetapi di dalam, itu membawa racun penghinaan," kata Maduro.

"Paket itu berusaha menutupi kejahatan mencuri sumber daya melalui blokade dan sanksi pemerinthan AS terhadap Venezuela," kata dia.

Di tengah pergulatan politik Venezuela, Hakim Mahkamah Agung Venezuela Juan Mendoza menuduh Guaido mencoba merebut kekuasaan presidensial. Mendoza mencatat bahwa konstitusi negara tidak memasukkan ketentuan apa pun untuk membentuk pemerintahan 'transisi'.

Mendoza menegaskan kembali bahwa Maduro telah terpilih kembali dengan suara 67,8 persen dalam pemilihan tahun lalu. [yy/republika]

Morales Kecam Guaido yang Dukung Intervensi Militer AS


Fiqhislam.com - Presiden Bolivia Evo Morales mengecam pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido atas pernyataannya soal kemungkinan intevensi militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela. Morales dengan tegas menolak pernyataan Guaido dalam menyambut baik intervensi militer AS di Venezuela.

"Saya ingin tahu apa yang dikatakan oleh saudara-sarudara kepresidenan yang mengenalnya soal hasutan perang di Amerika Latin," katanya seperti dikutip Anadolu Agency, Ahad (10/2).

Guaido pada Jumat menolak mengenyampingkan kemungkinan intevensi militer AS untuk menggulingkan Presiden Venezuela dua periode, Nicolas Maduro. Laman Russia Today menulis, Guaido mengatakan bahwa ia akan melakukan segala sesutu yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa rakyat Venezuela, termasuk intervensi militer dari negara lain, dalam hal ini AS.

Sejak Maduro dilantik kembali sebagai presiden, Venezuela diguncang protes besar. Ketua Majelis Nasional, Guaido mengajak rakyat turun ke jalan memrotes kepeimpinan Maduro atas keterpilihannya Mei tahun lalu yang dianggap curang.

Ketegangan pun semakin meningkat saat Guaido mengukuhkan diri sebagai presiden sementara pada 23 Januari. Langkah tersebut membuat negara-negara dunia terpecah. Langkah Guaido didukung oleh AS, Kanada, Amerika Latin dan beberapa negara Eropa. Sementara, Rusia, Turki, Cina, Bolivia dan Meksiko cenderung mengakui Maduro.

Maduro sejauh ini menolak untuk mengizinkan truk berisi bantuan asing yang ia nilai sebagai konspirasi yang dirancang guna membuat negara tidak stabil. "Paket bantuan memang sangat bagus di luar, tetapi di dalam, itu membawa racun penghinaan," kata Maduro.

"Paket itu berusaha menutupi kejahatan mencuri sumber daya melalui blokade dan sanksi pemerinthan AS terhadap Venezuela," kata dia.

Di tengah pergulatan politik Venezuela, Hakim Mahkamah Agung Venezuela Juan Mendoza menuduh Guaido mencoba merebut kekuasaan presidensial. Mendoza mencatat bahwa konstitusi negara tidak memasukkan ketentuan apa pun untuk membentuk pemerintahan 'transisi'.

Mendoza menegaskan kembali bahwa Maduro telah terpilih kembali dengan suara 67,8 persen dalam pemilihan tahun lalu. [yy/republika]

China Desak Pembicaraan Damai untuk Atasi Krisis Venezuela

China Desak Pembicaraan Damai untuk Atasi Krisis Venezuela


Fiqhislam.com - Cina mendesak adanya pembicaraan damai untuk menyelesaikan krisis yang terjadi di Venezuela dan menyuarakan dukungannya bagi upaya masyarakat internasional untuk mencapai tujuan tersebut.

Dilansir dari Anadolu Agency, Ahad (10/2), dalam sebuah pernyataan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying menuturkan pihaknya percaya urusan Venezuela harus diselesaikan oleh rakyat Venezuela di bawah kerangka konstitusi, hukum, dan melalui dialog damai serta cara-cara politik.

Chunying juga menunjuk sebuah kelompok kontak internasional yang dipimpin PBB yang dibentuk pada Kamis lalu dan meminta para pihak untuk memainkan peran konstruktif.

Venezuela telah diguncang protes sejak 10 Januari lalu ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua setelah pemungutan suara yang kemudian berujung pada pemboikotan oposisi. Ketegangan meningkat pada 23 Januari ketika Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara.

Guaido menyerukan protes baru pada Sabtu (26/1) kemarin yang menuntut Maduro menyerahkan kekuasaan setelah sepekan protes massa sporadis. Putaran demonstrasi terakhir berlangsung pada Rabu kemarin. AS, Kanada, dan sebagian besar negara Amerika Latin telah mengakui Guaido, presiden Majelis Nasional, sebagai pemimpin sah Venezuela.

Namun Maduro menolak seruan mundur. Maduro menuduh AS mengatur kudeta terhadap pemerintahnya. Tapi dia juga terbuka kemungkinan untuk berdialog dengan oposisi, tetapi bukan pemilihan nasional yang baru.

Rusia dan China sama-sama menentang seruan AS untuk mendukung Guaido, dan mengutuk campur tangan internasional dalam urusan Venezuela. Turki dan Iran juga menaruh perhatian pada Maduro.

Di sisi lain AS juga telah melakukan kampanye internasional untuk memberikan tekanan ekonomi dan diplomatik pada Maduro. Termasuk memberikan sanksi kepada perusahaan minyak milik negara Venezuela dan usaha patungan dengan mitra Nikaragua.

Maduro kemudian mengusulkan pemilihan awal untuk Majelis Nasional yang sebelumnya dijadwalkan digelar pada 2020. Usulan tersebut disampaikan Maduro pada Sabtu (2/2) waktu setempat. [yy/republika]