14 Jumadil-Akhir 1443  |  Senin 17 Januari 2022

basmalah.png

BERITA INTERNASIONAL

CIA: Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan Khashoggi

CIA: Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan Khashoggi


Fiqhislam.com - CIA telah menyimpulkan, Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman telah memerintahkan pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, di Istanbul. Informasi ini didapatkan The Washington Post dan dirilis pada Jumat (16/11).

The Washington Post mengatakan para pejabat AS telah memberikan kepercayaan yang tinggi pada kesimpulan CIA. Meski demikian temuan itu bertentangan dengan pernyataan Pemerintah Saudi yang mengatakan Pangeran Mohammed tidak terlibat.

The Washington Post, mengutip orang-orang yang akrab dengan masalah ini, mengatakan CIA mencapai kesimpulannya setelah memeriksa berbagai sumber intelijen. Salah satunya adalah panggilan telepon yang menyatakan saudara laki-laki Pangeran Mohammed, Khalid bin Salman, Duta Besar Saudi untuk AS, telah bersama Khashoggi.

Khalid mengatakan kepada Khashoggi, dia harus pergi ke konsulat Saudi di Istanbul untuk mengambil dokumen pernikahan, dan memberinya jaminan keamanan. Belum jelas apakah Khalid tahu Khashoggi akan terbunuh, tetapi dia kemudian menelepon Pangeran Mohammed.

Pada Jumat (16/11) di Twitter, Khalid mengatakan kontak terakhirnya dengan Khashoggi dilakukan melalui pesan teks pada 26 Oktober 2017, hampir setahun sebelum kematian wartawan itu.

"Saya tidak pernah berbicara dengannya melalui telepon dan tentu saja tidak pernah menyarankan dia pergi ke Turki untuk alasan apa pun. Saya meminta Pemerintah AS untuk mengeluarkan informasi mengenai klaim ini," kata dia.

Reuters belum dapat memverifikasi keakuratan laporan tersebut. Tetapi seorang sumber yang akrab dengan intelijen AS mengatakan kepada Reuters, pakar pemerintah AS cukup yakin Pangeran Mohammed memerintahkan operasi yang menyebabkan kematian Khashoggi.

Gedung Putih menolak mengomentari laporan The Washington Post itu, dan mengatakan itu adalah masalah intelijen. Departemen Luar Negeri AS juga menolak untuk berkomentar.

Khashoggi, seorang kolumnis yang berkontribusi untuk Washington Post, tewas di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Dia pergi ke konsulat untuk mengambil dokumen yang dia butuhkan untuk rencana pernikahannya dengan seorang perempuan Turki.

Khashoggi, yang sering mengkritik Pemerintah Saudi, dikabarkan telah menolak desakan Riyadh agar dia kembali ke Saudi. Para pejabat Saudi mengatakan satu tim elit yang terdiri dari 15 warga Saudi dikirim ke Istanbul untuk membujuk Khashoggi di konsulat.

Kemudian Khashoggi secara tidak sengaja terbunuh dalam cekikan oleh orang-orang yang mencoba memaksanya untuk kembali ke kerajaan. Para pejabat Turki mengatakan pembunuhan itu dilakukan dengan disengaja.

Turki telah mendesak Arab Saudi untuk mengekstradisi pelaku yang bertanggung jawab untuk diadili. Penasihat Presiden Turki Tayyip Erdogan pada Kamis (15/11) menuduh Arab Saudi berusaha menutupi pembunuhan itu.

Jaksa penuntut umum Arab Saudi mengatakan telah mengajukan hukuman mati untuk lima tersangka yang dituduh melakukan pembunuhan Khashoggi. Jaksa Saudi, Shalaan al-Shalaan, mengatakan kepada wartawan bahwa Pangeran Mohammed tidak tahu apa-apa tentang operasi pembunuhan itu. [yy/republika]

CIA: Putra Mahkota Saudi Perintahkan Pembunuhan Khashoggi


Fiqhislam.com - CIA telah menyimpulkan, Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman telah memerintahkan pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, di Istanbul. Informasi ini didapatkan The Washington Post dan dirilis pada Jumat (16/11).

The Washington Post mengatakan para pejabat AS telah memberikan kepercayaan yang tinggi pada kesimpulan CIA. Meski demikian temuan itu bertentangan dengan pernyataan Pemerintah Saudi yang mengatakan Pangeran Mohammed tidak terlibat.

The Washington Post, mengutip orang-orang yang akrab dengan masalah ini, mengatakan CIA mencapai kesimpulannya setelah memeriksa berbagai sumber intelijen. Salah satunya adalah panggilan telepon yang menyatakan saudara laki-laki Pangeran Mohammed, Khalid bin Salman, Duta Besar Saudi untuk AS, telah bersama Khashoggi.

Khalid mengatakan kepada Khashoggi, dia harus pergi ke konsulat Saudi di Istanbul untuk mengambil dokumen pernikahan, dan memberinya jaminan keamanan. Belum jelas apakah Khalid tahu Khashoggi akan terbunuh, tetapi dia kemudian menelepon Pangeran Mohammed.

Pada Jumat (16/11) di Twitter, Khalid mengatakan kontak terakhirnya dengan Khashoggi dilakukan melalui pesan teks pada 26 Oktober 2017, hampir setahun sebelum kematian wartawan itu.

"Saya tidak pernah berbicara dengannya melalui telepon dan tentu saja tidak pernah menyarankan dia pergi ke Turki untuk alasan apa pun. Saya meminta Pemerintah AS untuk mengeluarkan informasi mengenai klaim ini," kata dia.

Reuters belum dapat memverifikasi keakuratan laporan tersebut. Tetapi seorang sumber yang akrab dengan intelijen AS mengatakan kepada Reuters, pakar pemerintah AS cukup yakin Pangeran Mohammed memerintahkan operasi yang menyebabkan kematian Khashoggi.

Gedung Putih menolak mengomentari laporan The Washington Post itu, dan mengatakan itu adalah masalah intelijen. Departemen Luar Negeri AS juga menolak untuk berkomentar.

Khashoggi, seorang kolumnis yang berkontribusi untuk Washington Post, tewas di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Dia pergi ke konsulat untuk mengambil dokumen yang dia butuhkan untuk rencana pernikahannya dengan seorang perempuan Turki.

Khashoggi, yang sering mengkritik Pemerintah Saudi, dikabarkan telah menolak desakan Riyadh agar dia kembali ke Saudi. Para pejabat Saudi mengatakan satu tim elit yang terdiri dari 15 warga Saudi dikirim ke Istanbul untuk membujuk Khashoggi di konsulat.

Kemudian Khashoggi secara tidak sengaja terbunuh dalam cekikan oleh orang-orang yang mencoba memaksanya untuk kembali ke kerajaan. Para pejabat Turki mengatakan pembunuhan itu dilakukan dengan disengaja.

Turki telah mendesak Arab Saudi untuk mengekstradisi pelaku yang bertanggung jawab untuk diadili. Penasihat Presiden Turki Tayyip Erdogan pada Kamis (15/11) menuduh Arab Saudi berusaha menutupi pembunuhan itu.

Jaksa penuntut umum Arab Saudi mengatakan telah mengajukan hukuman mati untuk lima tersangka yang dituduh melakukan pembunuhan Khashoggi. Jaksa Saudi, Shalaan al-Shalaan, mengatakan kepada wartawan bahwa Pangeran Mohammed tidak tahu apa-apa tentang operasi pembunuhan itu. [yy/republika]

Saudi: Lima Pembunuh Khashoggi Terancam Penggal

Saudi: Lima Pembunuh Khashoggi Terancam Penggal


Fiqhislam.com - Jaksa Agung Arab Saudi Saud al-Mojeb merekomendasikan hukuman mati kepada lima orang yang di duga memerintahkan dan melakukan pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi. Laman Australia, News, menuliskan bahwa al-Mojeb menyampaikan pernyataannya di hadapan para wartawan di Riyadh, Kamis (15/11).

Dalam konferensi pers yang jarang dilakukan di Saudi, al-Mojeb menyatakan pembunuh Khashoggi telah menyusun rencana pembunuhan pada 29 September. Itu merupakan tiga hari sebelum waktu eksekusi, 2 Oktober.

Sedangkan, Deputi Jaksa Agung Shalaan bin Rajih Shalaan menyatakan bahwa deputi kepala intelijen Saudi, Jenderal Ahmed al-Assiri, telah memerintahkan tim untuk memaksa Khashoggi pulang ke Saudi. Kemudian, kepala tim negosiasi itulah yang terbang ke Istanbul dan memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

"Pangeran (Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman--Red) tidak tahu apa-apa," kata Shaalan yang dikutip BBC.

Menurut Shaalan, Khashoggi diberi suntikan mematikan oleh lima orang pelaku tadi setelah bergulat dengan sejumlah orang di Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, 2 Oktober.

Tubuh Khashoggi, ujar Shaalan, kemudian dimutilasi di dalam gedung konsulat setelah ia tewas. Potongan tubuhnya kemudian diserahkan kepada seorang agen yang berada di luar gedung konsulat.

Pernyataan ini membersihkan nama Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Namun, pengamat menilai, tidak mungkin jika MBS tidak mengetahui sama sekali tentang operasi melenyapkan Khashoggi.

Kini, ada 21 orang yang ditahan. Sebelas orang di antaranya sudah diproses di pengadilan. Sedangkan, investigasi terhadap 10 orang lainnya masih berlanjut.

Shaalan tidak menyebutkan nama lima orang yang didakwa pembunuhan. Sedangkan, al-Assiri dan penasihat utama MBS, Saud al-Qahtani, telah dipecat sejak berita pembunuhan Khashoggi mencuat di media internasional.

Respons Prancis dan Turki

Prancis langsung mengomentari pernyataan kejaksaan Saudi. Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, Kamis, proses investigasi Saudi berjalan di arah yang benar.

"Kami menuntut agar tanggung jawab dilaksanakan dengan tegas dan pelakunya mendapat ganjaran dalam pengadilan sesungguhnya," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Agnes vonder Muhll. "Pengumuman dari pihak berwenang Saudi yang menyebutkan 18 orang ditahan terkait investigasi ini berada di jalur yang benar."

Prancis pernah mengancam sanksi terhadap Saudi saat kebenaran pembunuhan Khashoggi terungkap. Namun, reaksi Prancis selama ini relatif terukur. Prancis ingin mempertahankan pengaruhnya atas Saudi dan melindungi hubungan dagang yang terentang mulai dari energi, keuangan, hingga penjualan senjata militer.

Sementara, Turki menyatakan, pernyataan Kejaksaan Agung Saudi "tidak memuaskan". Turki juga berkeras agar para pelaku diadili di Turki. [yy/republika]

Menlu Saudi: Media Qatar Eksploitasi Kasus Khashoggi

Menlu Saudi: Media Qatar Eksploitasi Kasus Khashoggi


Fiqhislam.com - Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir pada Kamis (15/11) berskeras Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) tak memiliki kaitan dengan pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.

Al-Jubeir mengeluarkan pernyataan tersebut dalam satu taklimat di Riyadh, beberapa jam setelah Jaksa Penuntut Umum Arab Saudi mengajukan tuntutan hukuman mati terhadap lima tersangka utama pembunuhan Khashoggi.

"Kerajaan Arab Saudi berkomitmen untuk menuntut pertanggung-jawaban mereka yang terlibat dalam pembunuhan itu, dan penyelidikan mengenai pembunuhan tersebut akan berlanjut sampai semua terjawab, kata Al-Jubeir.

Ia mengatakan para terdakwa dan korban dalam kasus Khashoggi adalah warga negara Arab Saudi. Peristiwa itu juga terjadi di tanah Arab Saudi yakni di Konsulat Saudi di Istanbul. Hal ini sekaligus menepis keinginan Turki yang meminta pembunuh Khashoggi diekstradisi ke Ankara.

Diplomat senior Arab Saudi tersebut mengatakan ada upaya untuk mempolitisir kasus Khashoggi. Dan hal itu patut disesalkan. "Media Qatar telah melancarkan aksi terorganisir terhadap Arab Saudi dan mengeksploitasi kasus Khashoggi," kata Al-Jubeir, sebagaimana dikutip Xinhua.

Riyadh telah memutus hubungan dengan Doha sejak Juni 2017. Alasannya, Qatar mendukung terorisme dan ekstremisme serta memiliki hubungan erat dengan Iran, pesaing utama Arab Saudi di wilayah itu.

Pada Kamis pagi, Jaksa Penuntut Umum Arab Saudi mengungkapkan perincian mengenai pembunuhan Khashoggi, dan mengatakan Khashoggi dibunuh dengan suntikan narkotika dan jasadnya dimutilasi.

Khashoggi yang juga kolomnis The Washington Post merupakan kritikus lantang Pemerintah Arab Saudi. Khashoggi hilang pada 2 Oktober lalu, setelah memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk memperoleh dokumen buat perkawinannya.

Setelah awalnya membantah, Pemerintah Arab Saudi pada penghujung Oktober mengakui Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat dan 18 orang yang memiliki hubungan dengan kasus tersebut ditangkap.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan sanksi internasional atas Arab Saudi sehubungan dengan kasus Khashoggi, Al-Jubeir mengatakan ada perbedaan antara penjatuhan hukuman atas mereka yang dituduh dan menganggap Pemerintah Arab Saudi bertanggung-jawab.

Pada saat yang sama, Departemen Keuangan AS pada Kamis mengumumkan sanksi ke 17 pejabat Arab Saudi sehubungan dengan pembunuhan Khashoggi. [yy/republika]

 

Tags: bin Salam | MBS | Kashoggi