25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Khashoggi merupakan pengkritik kebijakan kerajaan yang meninggalkan negaranya pada September tahun lalu dan kini tinggal di Amerika Serikat (AS).

Pernyataan ini kembali disampaikan beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi yang berat jika Khashoggi terbukti dibunuh di kantor konsulat.

"Kerajaan menegaskan penolakan sepenuhnya terhadap setiap ancaman atau upaya melemahkan negara baik melalui ancaman sanksi ekonomi atau penggunaan tekanan politik," kata seorang sumber resmi, seperti dilaporkan kantor berita Saudi Press Agency (SPA).

Bahkan, negara kaya minyak itu tak segan-segan menjatuhkan sanksi balasan yang dampaknya bisa mengguncang perekonomian dunia.

"Merespons terhadap setiap tindakan dengan (balasan) yang lebih besar, memainkan peran efektif dan vital terhadap ekonomi dunia," kata dia.

Tuduhan bahwa Khashoggi dibunuh di dalam kantor konsulat disampaikan pejabat pemerintah yang tak disebutkan identitasnya berdasarkan rekaman suara. Hal ini juga memicu pertanyaan bagaimana bisa Turki mendapat rekaman suara di dalam kantor diplomatik.

Saudi membantah tuduhan itu dan menegaskan Khashoggi sudah meninggalkan kantor konsulat begitu urusannya selesai. [yy/iNews]

Khashoggi merupakan pengkritik kebijakan kerajaan yang meninggalkan negaranya pada September tahun lalu dan kini tinggal di Amerika Serikat (AS).

Pernyataan ini kembali disampaikan beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi yang berat jika Khashoggi terbukti dibunuh di kantor konsulat.

"Kerajaan menegaskan penolakan sepenuhnya terhadap setiap ancaman atau upaya melemahkan negara baik melalui ancaman sanksi ekonomi atau penggunaan tekanan politik," kata seorang sumber resmi, seperti dilaporkan kantor berita Saudi Press Agency (SPA).

Bahkan, negara kaya minyak itu tak segan-segan menjatuhkan sanksi balasan yang dampaknya bisa mengguncang perekonomian dunia.

"Merespons terhadap setiap tindakan dengan (balasan) yang lebih besar, memainkan peran efektif dan vital terhadap ekonomi dunia," kata dia.

Tuduhan bahwa Khashoggi dibunuh di dalam kantor konsulat disampaikan pejabat pemerintah yang tak disebutkan identitasnya berdasarkan rekaman suara. Hal ini juga memicu pertanyaan bagaimana bisa Turki mendapat rekaman suara di dalam kantor diplomatik.

Saudi membantah tuduhan itu dan menegaskan Khashoggi sudah meninggalkan kantor konsulat begitu urusannya selesai. [yy/iNews]

Trump Janjikan Sanksi Berat ke Saudi Jika Khashoggi Dibunuh

Trump Janjikan Sanksi Berat ke Saudi Jika Khashoggi Dibunuh


Trump Janjikan Sanksi Berat ke Saudi Jika Khashoggi Dibunuh


Fiqhislam.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjanjikan sanksi berat ke Arab Saudi jika terbukti terlibat dalam kasus Jamal Khashoggi.  Seperti dilansir the Guardian, Ahad (14/10), Trump mengatakan, status Khashoggi sebagai seorang reporter  membuat kasus ini menjadi begitu mengerikan.

"Ada sesuatu yang sangat mengerikan karena Khashoggi adalah wartawan, jadi kami harus melihatnya. Kami akan sampai ke dasar dan akan ada sanksi yang berat," kata Trump.

Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan CBS untuk program  "60 Minutes". Khashoggi, penduduk tetap AS, adalah seorang kritikus terkemuka dari pemerintah Saudi.

Dia belum terlihat sejak 2 Oktober lalu saat memasuki konsulat Saudi di Istanbul. Para penyelidik Turki yakin Khashoggi dibunuh berdasarkan bukti rekaman audio dan video yang didapatkan. Sumber-sumber AS mengatakan, badan-badan intelijen tahu Khashoggi dalam bahaya.

Riyadh telah membantah keterlibatannya dalam kasus Khashoggi. Namun tekanan internasional semakin berkembang dengan perusahaan-perusahaan terkemuka menarik diri dari KTT ekonomi.

Di Gedung Putih pada Sabtu, Trump bertemu dengan Andrew Brunson, pendeta AS yang dibebaskan dari penjara Turki. Menurut beberapa analis, pembebasan  ini menunjukkan bahwa Ankara mencoba untuk mendapatkan dukungan Washington dalam kasus Khashoggi.

Namun menurut Trump, pembebasan Brunson yang bertepatan dengan kasus Khashoggi hanyalah sebuah kebetulan saja.  Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan, AS sedang mengevaluasi situasi dan telah berbicara dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin terkait kehadiran AS di KTT ekonomi Saudi.

Trump  mengaku  telah mengundang tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz.  Dia juga mengaku belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Istanbul.

Trump mengindikasikan belum mendengar rekaman audio  kematian Khashoggi. Dia mengatakan akan berbicara dengan Raja Salman secepatnya.

Pemerintah Trump memiliki hubungan yang erat dengan rezim Saudi. Pemerintahannya telah melakukan pendekatan yang hati-hati terhadap kasus Khashoggi. Pada  Sabtu Trump kembali mengulangi pernyataannya bahwa AS tidak akan membatalkan perjanjian senjata dengan Riyadh.

“Ada hal-hal lain yang dapat kami lakukan yang sangat, sangat kuat, sangat kuat dan kami akan melakukannya,” katanya tanpa merinci apa yang mungkin terjadi.

Wawancara CBS berlangsung di Gedung Putih pada  Kamis. Menurut rekaman wawancara yang dirilis pada  Sabtu, Trump ditanya apakah dia percaya Khashoggi dibunuh oleh Saudi. Ia juga ditanya terkait peran  putra mahkota Muhammad bin Salman (MBS) dalam kasus Khashoggi.

"Belum ada yang tahu. Tapi kita mungkin bisa mengetahuinya. Itu sedang diselidiki, itu sedang dilihat sangat. Kami akan sangat marah  jika itu kasusnya. Sampai saat ini mereka menyangkalnya dan mereka menolaknya dengan keras. Mungkinkah mereka? kata Trump.

Trump mengatakan Jared Kushner telah berbicara dengan MBS. Dan pihak Saudi menyangkal semua tuduhan. Trump juga menanggapi usulan senator AS yang menginginkan sanksi terhadap Riyadh.

"Itu tergantung pada jenis sanksinya. Biarkan saya memberi Anda sebuah contoh. Mereka memesan peralatan militer. Semua orang di dunia menginginkan pesanan itu. Rusia menginginkannya, Cina menginginkannya, kami menginginkannya. Kami mendapatkannya dan kami mendapatkan semuanya," kata Trump.

"Saya tidak ingin kehilangan pesanan seperti itu. Dan Anda tahu ada cara lain untuk menghukum, misal dengan memberi pernyataan keras," tambah Trump. [yy/republika]