24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Namun, laporan intelien AS menyebut, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) telah memerintahkan operasi penangkapan jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu rencananya dilakukan dengan memancing Khashoggi kembali ke negaranya dari tempat tinggalnya di Virginia, Amerika Serikat (AS).

Dilaporkan laman Washington Post, rencana Pangeran MBS untuk menangkap dan menahan Khashoggi diperoleh intelijen AS dari pejabat-pejabat Saudi yang membahas hal tersebut. Kendati demikian, Pemerintah AS belum mengonfirmasi sepenuhnya tentang informasi yang telah beredar itu.

"Meskipun saya tidak dapat berkomentar tentang masalah intelijen, saya dapat mengatakan secara definitif bahwa AS tidak memiliki pengetahuan awal tentang hilangnya (Khashoggi)," kata wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Palladino kepada awak media pada Rabu (10/10).

Ketika ditanya apakah Pemerintah AS memiliki kewajiban memperingatkan Khashoggi bila dia dalam bahaya, Palladino menolak menjawab. Ia menilai, pertanyaan itu adalah pertanyaan hipotesis.

Seorang mantan pejabat intelijen AS yang memberikan keterangan secara anonimitas mengatakan, badan intelijen AS memiliki kewajiban memperingatkan orang-orang yang mungkin diculik, dilukai, atau dibunuh. "Kewajiban untuk memperingatkan berlaku jika bahaya ditujukan kepada seseorang," ujar dia.

Menurutnya, kewajiban itu berlaku terlepas dari apakah orang tersebut merupakan warga negara AS atau bukan. Khashoggi sendiri kini telah tinggal di AS dan bekerja sebagai kolumnis di Washington Post.

Bila informasi yang didapat intelijen AS hanya sekadar penangkapan, yang juga dapat diartikan sebagai penahanan, dalam konteks ini terhadap Khashoggi, hal itu memang tidak akan memicu peringatan. Namun, bila ada indikasi tindakan kekerasan yang direncanakan, individu yang bersangkutan seharusnya diperingatkan.

Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, yang mengawasi proses peringatan, menolak berkomentar perihal apakah Khashoggi telah diperingatkan sebelum mendatang konsulat jenderal Saudi di Istanbul, Turki. Pejabat Pemerintah AS lainnya juga belum memberikan komentar.

Terlepas dari valid atau tidaknya informasi tentang rencana penangkapan tersebut, beberapa rekan Khashoggi mengatakan, selama empat bulan terakhir, para pejabat senior Saudi yang dekat dengan Pangeran MBS telah menawarkan perlindungan untuknya. Khashoggi bahkan ditawarkan jabatan tinggi di pemerintahan bila bersedia kembali ke Saudi.

"Dia (Khashoggi) berkata, 'Apakah kamu bercanda? Saya tidak memercayai mereka (Pemerintah Saudi) sedikit pun," kata Khaled Saffuri, seorang aktivis politik Arab-Amerika, menceritakan percakapannya dengan Khashoggi yang terjadi pada Mei lalu, tepatnya setelah Khashoggi menerima panggilan dari Saud al-Qahtani, seorang penasihat istana kerajaan.

Khashoggi dilaporkan hilang setelah mendatangi gedung konsulat jenderal Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu. Dua pejabat kepolisian Turki mengklaim Khashoggi telah dibunuh di dalam gedung konsulat. Namun, tuduhan tersebut segera dibantah pejabat konsulat Saudi di Istanbul.

Selama berkarier sebagai jurnalis, dia diketahui kerap melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Saudi. Pangeran MBS yang dipuji karena dianggap melakukan reformasi sosial di Saudi, tak luput dari kritikannya.

Dalam sebuah kolom di Washington Post pada 21 Mei lalu, Khashoggi menulis, “Kami diharapkan untuk dengan penuh semangat menyambut reformasi sosial dan memuji putra mahkota (MBS) sambil menghindari referensi apa pun kepada orang-orang Arab perintis yang berani mengatasi masalah ini beberapa dekade lalu.”

“Kami diminta untuk meninggalkan harapan kebebasan berpolitik, dan tetap diam tentang penangkapan dan larangan perjalanan yang berdampak, tidak hanya pada kritikus, tapi juga keluarga mereka,” kata Khashoggi dalam tulisannya.

Dalam sebuah artikel pada September lalu, Khashoggi kembali mengkritik MBS. Tulisan tersebut berjudul “Saudi Arabia's Crown Prince Must Restore Dignity to His Country-by Ending Yemen's Cruel War”. Melalui tulisannya itu, Khashoggi mendesak Saudi, terutama Pangeran MBS, untuk segera mengakhiri perang Yaman yang telah menyebabkan bencana kemanusiaan.

Presiden Turki Tayyip Erdogan menegaskan, Turki tidak akan berdiam diri atas hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. Turki sedang menyelidiki semua aspek dari kasus tersebut. Ia menyebut, kasus ini bukan persoalan biasa. Presiden AS Donald Trump juga memberikan perhatian khusus pada kasus ini. [yy/republika]

Namun, laporan intelien AS menyebut, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) telah memerintahkan operasi penangkapan jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu rencananya dilakukan dengan memancing Khashoggi kembali ke negaranya dari tempat tinggalnya di Virginia, Amerika Serikat (AS).

Dilaporkan laman Washington Post, rencana Pangeran MBS untuk menangkap dan menahan Khashoggi diperoleh intelijen AS dari pejabat-pejabat Saudi yang membahas hal tersebut. Kendati demikian, Pemerintah AS belum mengonfirmasi sepenuhnya tentang informasi yang telah beredar itu.

"Meskipun saya tidak dapat berkomentar tentang masalah intelijen, saya dapat mengatakan secara definitif bahwa AS tidak memiliki pengetahuan awal tentang hilangnya (Khashoggi)," kata wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Palladino kepada awak media pada Rabu (10/10).

Ketika ditanya apakah Pemerintah AS memiliki kewajiban memperingatkan Khashoggi bila dia dalam bahaya, Palladino menolak menjawab. Ia menilai, pertanyaan itu adalah pertanyaan hipotesis.

Seorang mantan pejabat intelijen AS yang memberikan keterangan secara anonimitas mengatakan, badan intelijen AS memiliki kewajiban memperingatkan orang-orang yang mungkin diculik, dilukai, atau dibunuh. "Kewajiban untuk memperingatkan berlaku jika bahaya ditujukan kepada seseorang," ujar dia.

Menurutnya, kewajiban itu berlaku terlepas dari apakah orang tersebut merupakan warga negara AS atau bukan. Khashoggi sendiri kini telah tinggal di AS dan bekerja sebagai kolumnis di Washington Post.

Bila informasi yang didapat intelijen AS hanya sekadar penangkapan, yang juga dapat diartikan sebagai penahanan, dalam konteks ini terhadap Khashoggi, hal itu memang tidak akan memicu peringatan. Namun, bila ada indikasi tindakan kekerasan yang direncanakan, individu yang bersangkutan seharusnya diperingatkan.

Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, yang mengawasi proses peringatan, menolak berkomentar perihal apakah Khashoggi telah diperingatkan sebelum mendatang konsulat jenderal Saudi di Istanbul, Turki. Pejabat Pemerintah AS lainnya juga belum memberikan komentar.

Terlepas dari valid atau tidaknya informasi tentang rencana penangkapan tersebut, beberapa rekan Khashoggi mengatakan, selama empat bulan terakhir, para pejabat senior Saudi yang dekat dengan Pangeran MBS telah menawarkan perlindungan untuknya. Khashoggi bahkan ditawarkan jabatan tinggi di pemerintahan bila bersedia kembali ke Saudi.

"Dia (Khashoggi) berkata, 'Apakah kamu bercanda? Saya tidak memercayai mereka (Pemerintah Saudi) sedikit pun," kata Khaled Saffuri, seorang aktivis politik Arab-Amerika, menceritakan percakapannya dengan Khashoggi yang terjadi pada Mei lalu, tepatnya setelah Khashoggi menerima panggilan dari Saud al-Qahtani, seorang penasihat istana kerajaan.

Khashoggi dilaporkan hilang setelah mendatangi gedung konsulat jenderal Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu. Dua pejabat kepolisian Turki mengklaim Khashoggi telah dibunuh di dalam gedung konsulat. Namun, tuduhan tersebut segera dibantah pejabat konsulat Saudi di Istanbul.

Selama berkarier sebagai jurnalis, dia diketahui kerap melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Saudi. Pangeran MBS yang dipuji karena dianggap melakukan reformasi sosial di Saudi, tak luput dari kritikannya.

Dalam sebuah kolom di Washington Post pada 21 Mei lalu, Khashoggi menulis, “Kami diharapkan untuk dengan penuh semangat menyambut reformasi sosial dan memuji putra mahkota (MBS) sambil menghindari referensi apa pun kepada orang-orang Arab perintis yang berani mengatasi masalah ini beberapa dekade lalu.”

“Kami diminta untuk meninggalkan harapan kebebasan berpolitik, dan tetap diam tentang penangkapan dan larangan perjalanan yang berdampak, tidak hanya pada kritikus, tapi juga keluarga mereka,” kata Khashoggi dalam tulisannya.

Dalam sebuah artikel pada September lalu, Khashoggi kembali mengkritik MBS. Tulisan tersebut berjudul “Saudi Arabia's Crown Prince Must Restore Dignity to His Country-by Ending Yemen's Cruel War”. Melalui tulisannya itu, Khashoggi mendesak Saudi, terutama Pangeran MBS, untuk segera mengakhiri perang Yaman yang telah menyebabkan bencana kemanusiaan.

Presiden Turki Tayyip Erdogan menegaskan, Turki tidak akan berdiam diri atas hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. Turki sedang menyelidiki semua aspek dari kasus tersebut. Ia menyebut, kasus ini bukan persoalan biasa. Presiden AS Donald Trump juga memberikan perhatian khusus pada kasus ini. [yy/republika]

Detik-Detik Hilangnya Khashoggi di Konsulat Saudi

Detik-Detik Hilangnya Khashoggi di Konsulat Saudi


Detik-Detik Hilangnya Khashoggi di Konsulat Saudi


Fiqhislam.com - Keberadaaan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi masih misterius. Apakah ia benar dibunuh di Konsulat Saudi? Atau ia hanya ditangkap dan diterbangkan ke Saudi?

Seperti dikutip the Guardian, berdasarkan CCTV yang dirilis televisi Turki menunjukkan Khashoggi berjalan ke dalam kantor Konsulat Saudi pada 2 Oktober. Setelah itu sebuah van hitam meninggalkan lokasi dekat kediaman konsul.

Sementara gambar CCTV secara terpisah menunjukkan personal khusus Saudi datang ke Istanbul menggunakan jet pribadi. Diduga personel Saudi tersebut mengetahui keberadaan kolomnis the Washington Post itu.

Berikut CCTV detik-detik jelang hilangnya Khashoggi seperti dilansir the Guardian.



Khashoggi hilang saat sedang mengurus dokumen pernikahannya. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberikan perhatian khusus atas kasus ini. Erdoga mengaku tak diam atas hilangnya Khashoggi. [yy/republika]

Erdogan: Kami tak akan Bungkam untuk Kasus Khashoggi

Erdogan: Kami tak akan Bungkam untuk Kasus Khashoggi


Erdogan: Kami tak akan Bungkam untuk Kasus Khashoggi


Fiqhislam.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya tidak akan berdiam diri atau bungkam perihal peristiwa hilangnya jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi. Ia mengatakan Turki sangat konsen terhadap kasus tersebut.

"Kami sedang menyelidiki semua aspek peristiwa (hilangnya Khashoggi). Tidak mungkin bagi kami untuk tetap diam mengenai kejadian seperti itu karena ini bukan kejadian biasa," ujar Erdogan dikutip surat kabar Turki Hurriyet pada Kamis (11/10).

Erdogan mempertanyakan tentang pernyataan otoritas Saudi yang menyebut bahwa konsulatnya di Istanbul tidak memiliki rekaman pengawas yang menunjukkan Khashoggi meninggalkan gedung. Hal itu karena kamera di konsulat hanya menunjukkan kejadian langsung tanpa merekamnya.

"Apakah mungkin tidak ada sistem kamera di konsulat Arab Saudi, di mana peristiwa (hilangnya Khashoggi) terjadi?" kata Erdogan.

Kasus hilangnya Khashoggi diperkirakan akan memperdalam perselisihan antara Turki dan Saudi. Hubungan kedua negara telah menegang ketika Turki memutuskan mengerahkan pasukan militer ke Qatar tahun lalu. Pasukan itu dikirim saat Saudi dan sekutunya memberlakukan embargo terhadap Doha.

Khashoggi dilaporkan hilang saat mendatangi gedung konsulat jenderal Saudi di Istanbul pada 2 Oktober. Pejabat kepolisian Turki mengklaim bahwa Khashoggi telah dibunuh di dalam gedung konsulat. Namun tudingan tersebut segera dibantah oleh pejabat konsulat Saudi di Istanbul.

Surat kabar Turki, Daily Sabah, pada Rabu (10/10), telah memuat nama serta foto-foto dari 15 orang yang diduga terlibat dalam kasus hilangnya Khashoggi. Mereka berada di gedung konsulat jenderal Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, yakni hari ketika Khashoggi dinyatakan hilang.

Salah satu terduga tersangka itu bernama Maher Abdulaziz M. Mutreb. Ia diketahui seorang perwira intelijen Saudi yang pernah ditempatkan di kedutaan Saudi di Inggris. Selain Mutreb, nama lainnya yang diduga menjadi tersangka dalam kasus hilangnya Khashoggi adalah S. Muhammed A Tubaigy. Ia teridentifikasi sebagai pejabat forensik di Departemen Keamanan Umum Saudi.

Khashoggi merupakan jurnalis Saudi yang kini menjadi kolumnis di The Washington Post. Selama berkarier sebagai jurnalis, dia diketahui kerap melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Saudi. [yy/republika]