5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Kisah Anak-Anak yang Dibesarkan ISIS Kembali ke Chechnya

Kisah Anak-Anak yang Dibesarkan ISIS Kembali ke Chechnya


Fiqhislam.com - Setiap hari Belant Zulgaveya tertekan melihat cucu-cucunya memainkan permainan yang mereka sebut perang kecil. Sambil berbicara dengan volume kecil, mereka berlarian dan bersembunyi. Terkadang, mereka saling membanting tubuh satu sama lain ke tanah dengan ganas.

Pada awalnya, Hamzat (enam tahun), Abdullah (lima) dan Malik (empat) jarang berbicara ketika pindah bersama sang nenek di sebuah pedesaan di Pegunungan Kaukasus, Chechnya yang merupakan bagian dari Federasi Rusia. Mereka hanya asyik bermain perang. "Tapi, seiring waktu, mereka mulai melunak," ucap Zulgaveya, dilansir di New York Times, baru-baru ini.

Tiga bersaudara itu sempat tinggal di Tal Afar, Irak ketika pasukan yang didukung Amerika mengepung kota tersebut. Ayah mereka meninggal dalam pertempuran. Setelah sebuah bom meratakan rumah, ibu mereka Fatima memutuskan pergi bersama adik perempuan mereka.

Tapi, Hamzat, Malik dan Abdullah terpisah dengan Fatima saat berada di sebuah pos pemeriksaan. Ia tetap ditahan di irak, sementara pemerintah Rusia mengembalikan tiga bersaudara dan adiknya, Halima (satu bulan). "Ini adalah sebuah keajaiban mereka kembali dalam keadaan hidup," ucap Zulgaveya.

Zulgaveya kini tengah berjuang merawat tiga cucunya yang sempat dibesarkan kelompok militan ISIS. Cucu Zulgaveya merupakan tiga dari 71 anak yang berhasil dipulangkan pemerintah Rusia dari tangan ISIS, bersama dengan 26 perempuan lain.

Keputusan pemerintah Rusia memiliki dasar. Senator Rusia, Ziyad Sabsabi menjelaskan lebih baik anak-anak tersebut dibawa kembali ke kakek dan nenek mereka dibandingkan harus tumbuh di kamp dan mungkin saja kembali sebagai orang dewasa radikal.

"Apa yang harus kami lakukan, meninggalkan mereka di sana sampai orang merekrut mereka. Anak-anak ini memang sudah melihat hal mengerikan. Tapi, ketika kita menempatkan mereka di lingkungan berbeda, bersama kakek nenek, mereka bisa berubah dengan cepat," ujar Sabsabi.

Selain Rusia, Inggris juga mengambil pendekatan serupa, memulangkan perempuan dan anak-anak yang terpaksa harus melihat pertempuran di Suriah. Sejauh ini, Prancis diketahui sudah membawa 66 anak dari ISIS ke rumah asuh. Beberapa telah bergabung dengan keluarga. Beberapa di antara mereka yang sudah dewasa, yang merupakan kombatan, dipenjara.

Diperkirakan, ada 5.000 anggota keluarga rekrutan teroris asing yang kini terdampar di kamp dan panti asuhan di Irak dan suriah. Menurut penulis Children of the Caliphate, Liesbeth van Der Heide, Rusia dan Georgia berada di garis depan dari negara-negara yang membantu pemulangan anggota keluarga.

Seperti yang disampaikan Sabsabi, banyak anak telah terpapar tindakan mengerikan, termasuk mengambil peran dalam video eksekusi. Beberapa di antaranya juga secara tidak langsung mengalami kekerasan melalui indoktrinasi, pelatihan paramiliter dan partisipasi dalam berbagai kejahatan lain tanpa henti.

Salah satu anak yang berhasil dipulangkan adalah Bilal (empat). Anak laki-laki Rusia dengan rambut pirang dan lengan kurus ini menjadi anak pertama yang dikembalikan ke Rusia dari kelompok ISIS. Sang nenek, Rosa Murtazayeva mengatakan Bilal hanya berbicara sedikit tentang kegiatannya di Irak.

Tapi, yang bisa dipastikan, Bilal selalu menempel erat pada ayahnya saat bertahan di ruang bawah tanah di Mosul, kawasan yang dikuasai ISIS selama tiga tahun. "Saya bersama Papa. Tidak ada anak laki-laki lain," ujar Bilal.

Setelah mereka ditangkap, ayahnya lenyap ke penjara Irak. Bilal ditemukan dalam kondisi kurus dan kotor. Kini, kondisi Bilal sudah membaik. Menurut Murtazaveya, cucunya sudah bisa bersosialisasi di taman kanak-kanak dan memiliki banyak teman.

Tapi, kondisi anak-anak yang berhasil dipulangkan dari ISIS tidak semuanya sebaik Bilal. Tidak sedikit di antara mereka yang tetap terdiam setelah beberapa bulan pulang. Sekali pun sudah melewati terapi dan dimanjakan kakek-nenek, mereka tetap tutup mulut.

Hadizha (delapan) merupakan salah satu anak dengan kasus tersebut. Ia ditemukan di jalanan Mosul. Sang nenek, Zura bisa mengidentifikasinya dari sebuah foto yang diambil kelompok bantuan. Hadizha ditemukan terbaring di selokan dengan lengan dan dagunya mengalami luka bakar.

Kini, Hadizha dan Zura tinggal di desa kecil di Chechnya. Ibu bersama dua saudara laki-laki dan perempuan Hadizha belum diketahui keberadaannya. "Saya sering bertanya dengan lembut, apa yang terjadi di sana. Tapi, ia tidak mau mengatakan apa pun. Saya berharap mereka tetap hidup. Tapi, dia (Hadizha) yakin, dia mengatakan mereka ditembak," ujar Zura.

Masih berdasarkan cerita Hadizha, ia berhasil selamat setelah melambaikan tangan dan berkata Jangan tembak dalam bahasa Arab. Saat ini, Hadizha menghabiskan hari-harinya dengan meringkuk di sofa sambil menonton film kartun. Matanya tampak marah. "Ia hanya diam," ujar Zura.

Lainnya bernasib lebih baik. Adlan (sembilan) berangkat ke Suriah bersama ibu, ayah dan dua saudara kandung. Tapi, ia kembali sendiri, dikirim orang Rusia yang bekerja untuk program repatrasi.

Adlan mengatakan, di sana ia bisa bersekolah, bersepeda dan bermain dengan anak berbahasa Rusia lain. Selama pertempuran Mosul, ada ledakan di rumahnya. Ia selamat, tapi tidak dengan keluarganya. "Dia bilang, dia melihat ibu dan saudara laki-lakinya, dan mereka sedang tidur," ujar kakek Adlan, Eli.

Perilaku Adlan masih menunjukkan kondisi baik. Ketika diminta seorang psikolog anak untuk menggambar dengan krayon, Adlan membuat sebuah rumah dan bunga di atas kertas yang merupakan pertanda baik. Eli berharap, memori masa kecil Adlan tidak akan rusak dengan kejadian di Suriah.

Tidak hanya anak, kaum perempuan pun mengalami hal serupa. Hava Beitermurzayeva (22) pergi dari rumah orang tuanya pada 2015 di desa Gekhi, Chechnya untuk menikahi seorang tentara ISIS yang ditemuinya secara online. Mereka akhirnya tinggal di Raqqa, ibu kota kelompok militan yang disebut sebagai kekhalifahan di Suriah.

Beitermurzayeva mengatakan ia menghabiskan sebagian besar waktu di rumah bersama anak laki-lakinya. Militan ISIS menerapkan peraturan agama dan melakukan eksekusi publi dengan pemancungan atau rajam untuk kejahatan seperti perzinahan. "Orang-orang yang lewat bisa berhenti dan menonton," ujarnya.

Ketika kembali ke rumah sekarang, Beitermurzayeva tampak tidak terganggu oleh pengalamannya. Ia bahkan masih antusias dengan kekhalifahan. "Semua yang terjadi pada saya takdir dari Tuhan. Jika saya menyesalinya, saya berarti tidak senang dengan takdir yang Tuhan berikan ke saya," ucapnya. [yy/republika]

 

Tags: Chechnya