2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Lebanon Minta Saudi dan Iran Berdialog

Lebanon Minta Saudi dan Iran Berdialog


Fiqhislam.com - Politikus senior beragama Druze di Lebanon Walid Jumblatt, pada Sabtu (25/11), meminta Arab Saudi menjalin komunikasi dengan Iran. Ia menilai, penyelesaian perselisihan antara Saudi dan Iran akan membantu Lebanon tetap berada di luar konflik regional.

"Sebuah penyelesaian minimal dengan Republik Islam (Iran) memberi kita kekuatan dan tekad lebih kuat untuk bekerja sama dalam menegakkan kebijakan disasosiasi," ujar Jumblatt melalui akun Twitter pribadinya.

Disasosiasi dipahami secara luas di Lebanon sebagai penerapan kebijakan untuk tetap menjaga negara tersebut di luar konflik regional. Hal ini pula yang ditekankan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri ketika mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada awal November lalu. Hariri menyinggung perihal Hizbullah yang peran militernya menjadi sumber kekhawatiran Saudi.

Selain menyerukan tentang perlunya Iran dan Saudi untuk berkomunikasi, Jumblatt pun menyinggung perihal prose smodernisasi yang tengah dikerjakan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. Ia menilai, proses tersebut tak akan berjalan bila Saudi masih terlibat konfrontasi di Yaman, tepatnya dengan milisi Houthi.

Tantangannya sangat besar dan modernisasi Kerajaan (Arab Saudi) adalah kebutuhan Islam dan negara Arab. "Namun misi ini tidak dapat berhasil saat perang Yaman berlanjut," ujar Jumblatt.

Ia menilai, perang di Yaman akan sangat sulit diakhiri kecuali jika hal ini didiskusikan serta dibahas penyelesaiannya oleh Saudi dan Iran. Saat ini, pasukan koalisi pimpinan Saudi memang masih terlibat konfrontasi dengan milisi Houthi Yaman.

Pasukan koalisi Saudi telah mengincar gerakan Houthi yang sejalan dengan Iran sejak 2015. Perang antara pasukan Saudi dengan Houthi telah menyeret Yaman ke dalam krisis kemanusiaan. Ratusan ribu warganya dilaporkan terserang wabah kolera dan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Kendati demikian, pasokan bantuan kemanusiaan ke Yaman sulit dilakukan karena pasukan koalisi Saudi memblokade pelabuhan dan bandara di negara tersebut. Kondisi ini pun ditegaskan Jumblatt kepada Pangeran Mohammed. Ia menilai Yaman sudah cukup mengalami penderitaan dan meminta Pangeran Mohammed segera menuntaskan konflik di negara tersebut.

"Biarkan rakyat Yaman memilih siapa yang dinginkannya. Dan Anda, Yang Mulia Pangeran (Mohammed), jadilah hakim, pembaharu, dan kakak laki-laki seperti nenek moyang Anda," ujar Jumblatt. [yy/republika]

Lebanon Minta Saudi dan Iran Berdialog


Fiqhislam.com - Politikus senior beragama Druze di Lebanon Walid Jumblatt, pada Sabtu (25/11), meminta Arab Saudi menjalin komunikasi dengan Iran. Ia menilai, penyelesaian perselisihan antara Saudi dan Iran akan membantu Lebanon tetap berada di luar konflik regional.

"Sebuah penyelesaian minimal dengan Republik Islam (Iran) memberi kita kekuatan dan tekad lebih kuat untuk bekerja sama dalam menegakkan kebijakan disasosiasi," ujar Jumblatt melalui akun Twitter pribadinya.

Disasosiasi dipahami secara luas di Lebanon sebagai penerapan kebijakan untuk tetap menjaga negara tersebut di luar konflik regional. Hal ini pula yang ditekankan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri ketika mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada awal November lalu. Hariri menyinggung perihal Hizbullah yang peran militernya menjadi sumber kekhawatiran Saudi.

Selain menyerukan tentang perlunya Iran dan Saudi untuk berkomunikasi, Jumblatt pun menyinggung perihal prose smodernisasi yang tengah dikerjakan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. Ia menilai, proses tersebut tak akan berjalan bila Saudi masih terlibat konfrontasi di Yaman, tepatnya dengan milisi Houthi.

Tantangannya sangat besar dan modernisasi Kerajaan (Arab Saudi) adalah kebutuhan Islam dan negara Arab. "Namun misi ini tidak dapat berhasil saat perang Yaman berlanjut," ujar Jumblatt.

Ia menilai, perang di Yaman akan sangat sulit diakhiri kecuali jika hal ini didiskusikan serta dibahas penyelesaiannya oleh Saudi dan Iran. Saat ini, pasukan koalisi pimpinan Saudi memang masih terlibat konfrontasi dengan milisi Houthi Yaman.

Pasukan koalisi Saudi telah mengincar gerakan Houthi yang sejalan dengan Iran sejak 2015. Perang antara pasukan Saudi dengan Houthi telah menyeret Yaman ke dalam krisis kemanusiaan. Ratusan ribu warganya dilaporkan terserang wabah kolera dan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Kendati demikian, pasokan bantuan kemanusiaan ke Yaman sulit dilakukan karena pasukan koalisi Saudi memblokade pelabuhan dan bandara di negara tersebut. Kondisi ini pun ditegaskan Jumblatt kepada Pangeran Mohammed. Ia menilai Yaman sudah cukup mengalami penderitaan dan meminta Pangeran Mohammed segera menuntaskan konflik di negara tersebut.

"Biarkan rakyat Yaman memilih siapa yang dinginkannya. Dan Anda, Yang Mulia Pangeran (Mohammed), jadilah hakim, pembaharu, dan kakak laki-laki seperti nenek moyang Anda," ujar Jumblatt. [yy/republika]

Hariri Tak Terima Hizbullah Mengancam Negara-negara Arab

Hariri Tak Terima Hizbullah Mengancam Negara-negara Arab


Hariri Tak Terima Hizbullah Mengancam Negara-negara Arab


Fiqhislam.com - Perdana Menteri Lebanon, Saad al-Hariri mengatakan, ia tidak akan menerima posisi Hizbullah yang didukung Iran "mempengaruhi" atau menargetkan keamanan dan stabilitas negara-negara Arab. Begitu bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh biro pers kantor perdana menteri Lebanon.

Namun, Hariri tidak menyebutkan secara spesifik negara yang dimaksud dalam pernyataannya seperti dilansir dari Reuters, Minggu (26/11/2017).

Hariri telah mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada 4 November. Namun kemudian mencabutnya setelah kembali ke Lebanon akhir pekan lalu.

Setelah pengumumannya, yang dibuat pada hari kemerdekaan Lebanon, ratusan pendukung Hariri memadati jalan-jalan di dekat rumahnya di pusat kota Beirut. Mereka melambai-lambaikan bendera biru partai Gerakan Masa Depannya.

Pada hari Sabtu, dia mengatakan bahwa keputusannya untuk menunggu alih-alih mengundurkan diri secara resmi adalah memberi kesempatan untuk mendiskusikan dan melihat tuntutan yang akan membuat Lebanon netral dan membiarkannya menerapkan kebijakan "disasasosia"nya.

"Disasosiasi" dipahami secara luas di Lebanon berarti kebijakannya untuk tetap berada di luar konflik regional. Peran regional yang dimainkan oleh gerakan politik dan militer Hizbullah telah sangat membuat khawatir Arab Saudi, sekutu lama Hariri.

Pada hari Sabtu, pejabat Hubungan Internasional Hizbullah Ammar Moussawi mengatakan bahwa kelompok Syiah siap untuk mencapai pemahaman dengan "mitra kami di negara ini". Ia pun menyatakan kelompok tersebut terbuka untuk dialog dan kerja sama yang nyata dengan semua, kantor berita Lebanon NNA melaporkan. [yy/sindonews]

 

Tags: Lebanon | Saudi | Iran | Hizbullah