2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Isolasi Saudi dan Bencana Kemanusiaan Akut di Yaman

Isolasi Saudi dan Bencana Kemanusiaan Akut di Yaman


Fiqhislam.com - Penutupan jalur masuk darat, laut, dan udara Yaman oleh Arab Saudi dirasakan sebagai hukuman kolektif oleh warga. Menurut mereka, tindakan penghukuman kolektif berbahaya karena akan berisiko terhadap jutaan warga sipil dan memperburuk keadaan negara. Menurut Program Pangan Dunia PBB, Yaman mengimpor lebih dari 85 persen makanan dan obat-obatan melalui laut sebelum dimulainya perang.

Khaled Abdallah, seorang warga Sanaa berusia 24 tahun, mengatakan kepada //Aljazirah//, keputusan Riyadh tersebut merupakan sebuah taktik intimidasi. Menurutnya, keputusan ini akan gagal dilakukan untuk melawan Houthi, yang telah mengendalikan Sanaa.

"Arab Saudi ingin melihat kami turun ke jalan-jalan untuk memprotes Houthi. Meskipun ini mungkin akan terjadi seiring berjalannya waktu, mereka lupa mereka adalah orang-orang yang telah meneror kami selama 24 jam terakhir, menjatuhkan bom di jam-jam paling gelap di malam hari," kata Abdallah.

"Arab Saudi tidak peduli dengan orang-orang Yaman. Mereka hanya bermain politik dengan kehidupan orang-orang yang tidak bersalah. Jika mereka peduli, mereka tidak akan membuat pengumuman yang tidak perlu dan berbahaya ini. Orang-orang Yaman sekarang secara kolektif telah dihukum karena tindakan beberapa militan Houthi," ujarnya menambahkan.

Penutupan jalur masuk ke Yaman dapat membatasi akses pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara paling miskin di dunia Arab itu. Yaman telah hancur oleh konflik yang telah terjadi selama lebih dari dua tahun.

Dokter Lintas Batas atau Médecins Sans Frontières (MSF) mengatakan, penutupan ini telah membatalkan pengiriman bantuan kemanusiaan dari Djibouti ke Sanaa pada Senin (5/11).

"Akses untuk penerbangan kemanusiaan ke Yaman sangat penting untuk operasi medis kami, dan juga untuk organisasi lain yang bekerja demi penduduk Yaman. Kami akan terus mengejar izin untuk penerbangan besok," ujar Kepala Misi MSF di Yaman, Ghassan Abou Chaar.

Arab Saudi, yang saat ini memimpin koalisi negara-negara Arab Suni dalam konflik Yaman, mengatakan pihaknya segera menutup akses ke semua jalur masuk ke Yaman setelah pemberontak Houthi menembakkan sebuah rudal balistik ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

"Untuk menghadapi situasi yang rentan ini, telah diputuskan untuk sementara semua pintu masuk darat, udara, dan laut Yaman ditutup," ujar koalisi tersebut.

Beberapa jam setelah rudal berhasil dicegat, Arab Saudi meluncurkan serangkaian serangan udara di ibu kota Yaman, Sanaa. Serangan ini menargetkan istana kepresidenan, markas keamanan nasional, dan gedung kementerian dalam negeri yang dikuasai Houthi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan melalui kantor berita Saudi Press Agency atau SPA, koalisi itu juga mendesak warga Yaman dan kelompok kemanusiaan untuk menghindari daerah-daerah operasi militer dan daerah-daerah yang dikuasai oleh Houthi.

Mereka juga harus menjauhi jalur-jalur masuk yang telah dieksploitasi oleh milisi yang didukung Iran ini untuk menyelundupkan senjata, serta daerah-daerah tempat milisi ini melancarkan serangannya terhadap Arab Saudi.

Maskapai penerbangan nasional Yaman, Yemenia, yang dimiliki bersama dengan Arab Saudi, mengatakan mereka tidak akan menyediakan penerbangan lagi dari Aden dan Seiyoun di Yaman selatan, yang berada di bawah kendali koalisi.

"Setiap penduduk Yaman sekarang akan menderita. Orang-orang miskin akan menjadi pihak yang paling menderita. Mereka yang memiliki penyakit kronis, tidak akan mendapatkan obat, dan akan menjadi korban terburuk," ujar Habib al-Maqtari, penduduk Kota Taiz yang dikuasai Houthi.

"Dan, dengan mata uang yang terus anjlok, serta tidak adanya bahan pokok, yang akan terjadi adalah lonjakan harga," kata dia.

Ia mengatakan, sebagian besar supermarket dan toko telah tutup. Sebelum perang, ia biasa menghabiskan biaya 45 dolar AS untuk belanja mingguan, tapi sekarang ia harus menghabiskan 180 dolar AS.

Menurut PBB, lebih dari 80 persen dari 28 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan darurat. Setengah juta anak di bawah usia lima tahun sangat kekurangan gizi, dan sedikitnya 2.135 orang telah meninggal dunia karena kolera dalam enam bulan terakhir. [yy/Fira Nursya'bani/republika]

Isolasi Saudi dan Bencana Kemanusiaan Akut di Yaman


Fiqhislam.com - Penutupan jalur masuk darat, laut, dan udara Yaman oleh Arab Saudi dirasakan sebagai hukuman kolektif oleh warga. Menurut mereka, tindakan penghukuman kolektif berbahaya karena akan berisiko terhadap jutaan warga sipil dan memperburuk keadaan negara. Menurut Program Pangan Dunia PBB, Yaman mengimpor lebih dari 85 persen makanan dan obat-obatan melalui laut sebelum dimulainya perang.

Khaled Abdallah, seorang warga Sanaa berusia 24 tahun, mengatakan kepada //Aljazirah//, keputusan Riyadh tersebut merupakan sebuah taktik intimidasi. Menurutnya, keputusan ini akan gagal dilakukan untuk melawan Houthi, yang telah mengendalikan Sanaa.

"Arab Saudi ingin melihat kami turun ke jalan-jalan untuk memprotes Houthi. Meskipun ini mungkin akan terjadi seiring berjalannya waktu, mereka lupa mereka adalah orang-orang yang telah meneror kami selama 24 jam terakhir, menjatuhkan bom di jam-jam paling gelap di malam hari," kata Abdallah.

"Arab Saudi tidak peduli dengan orang-orang Yaman. Mereka hanya bermain politik dengan kehidupan orang-orang yang tidak bersalah. Jika mereka peduli, mereka tidak akan membuat pengumuman yang tidak perlu dan berbahaya ini. Orang-orang Yaman sekarang secara kolektif telah dihukum karena tindakan beberapa militan Houthi," ujarnya menambahkan.

Penutupan jalur masuk ke Yaman dapat membatasi akses pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara paling miskin di dunia Arab itu. Yaman telah hancur oleh konflik yang telah terjadi selama lebih dari dua tahun.

Dokter Lintas Batas atau Médecins Sans Frontières (MSF) mengatakan, penutupan ini telah membatalkan pengiriman bantuan kemanusiaan dari Djibouti ke Sanaa pada Senin (5/11).

"Akses untuk penerbangan kemanusiaan ke Yaman sangat penting untuk operasi medis kami, dan juga untuk organisasi lain yang bekerja demi penduduk Yaman. Kami akan terus mengejar izin untuk penerbangan besok," ujar Kepala Misi MSF di Yaman, Ghassan Abou Chaar.

Arab Saudi, yang saat ini memimpin koalisi negara-negara Arab Suni dalam konflik Yaman, mengatakan pihaknya segera menutup akses ke semua jalur masuk ke Yaman setelah pemberontak Houthi menembakkan sebuah rudal balistik ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

"Untuk menghadapi situasi yang rentan ini, telah diputuskan untuk sementara semua pintu masuk darat, udara, dan laut Yaman ditutup," ujar koalisi tersebut.

Beberapa jam setelah rudal berhasil dicegat, Arab Saudi meluncurkan serangkaian serangan udara di ibu kota Yaman, Sanaa. Serangan ini menargetkan istana kepresidenan, markas keamanan nasional, dan gedung kementerian dalam negeri yang dikuasai Houthi.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan melalui kantor berita Saudi Press Agency atau SPA, koalisi itu juga mendesak warga Yaman dan kelompok kemanusiaan untuk menghindari daerah-daerah operasi militer dan daerah-daerah yang dikuasai oleh Houthi.

Mereka juga harus menjauhi jalur-jalur masuk yang telah dieksploitasi oleh milisi yang didukung Iran ini untuk menyelundupkan senjata, serta daerah-daerah tempat milisi ini melancarkan serangannya terhadap Arab Saudi.

Maskapai penerbangan nasional Yaman, Yemenia, yang dimiliki bersama dengan Arab Saudi, mengatakan mereka tidak akan menyediakan penerbangan lagi dari Aden dan Seiyoun di Yaman selatan, yang berada di bawah kendali koalisi.

"Setiap penduduk Yaman sekarang akan menderita. Orang-orang miskin akan menjadi pihak yang paling menderita. Mereka yang memiliki penyakit kronis, tidak akan mendapatkan obat, dan akan menjadi korban terburuk," ujar Habib al-Maqtari, penduduk Kota Taiz yang dikuasai Houthi.

"Dan, dengan mata uang yang terus anjlok, serta tidak adanya bahan pokok, yang akan terjadi adalah lonjakan harga," kata dia.

Ia mengatakan, sebagian besar supermarket dan toko telah tutup. Sebelum perang, ia biasa menghabiskan biaya 45 dolar AS untuk belanja mingguan, tapi sekarang ia harus menghabiskan 180 dolar AS.

Menurut PBB, lebih dari 80 persen dari 28 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan darurat. Setengah juta anak di bawah usia lima tahun sangat kekurangan gizi, dan sedikitnya 2.135 orang telah meninggal dunia karena kolera dalam enam bulan terakhir. [yy/Fira Nursya'bani/republika]

Serangan Koalisi Saudi Tewaskan 50 Milisi Houthi

Serangan Koalisi Saudi Tewaskan 50 Milisi Houthi


Serangan Koalisi Saudi Tewaskan 50 Milisi Houthi


Fiqhislam.com - Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi meluncurkan 12 serangan udara ke Kota Hajjah pada Selasa (7/11). Serangan yang menargetkan sebuah kamp militer Houthi itu menyebabkan 50 milisi tewas.
 
Koalisi juga meluncurkan serangan intensif ke pangkalan Al-Delmi di utara Sanaa, yang menewaskan 17 pemimpin Houthi. Menurut sumber lokal, presiden dewan politik Houthi, Saleh Ali al-Sammad, termasuk di antara korban tewas dalam serangan itu.

Sumber tersebut mengatakan Sammad telah meninggalkan Provinsi Al Hadidah untuk pergi ke Kota Hajjah sejak Senin (6/11). Kematiannya terjadi satu hari setelah koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan hadiah bagi siapapun yang bisa memberikan informasi mengenai daftar 40 pemimpin Houthi.
 
Al Arabiya melaporkan, Sammad berada di urutan kedua dalam daftar, setelah pemimpin pemberontak Abdul Malik al-Houthi.
 
Pada Selasa (7/11) malam, tentara Yaman mengatakan 11 pemimpin Houthi yang pendukung mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, telah tewas dalam pertempuran di timur Sanaa itu.
 
Situs resmi tentara Yaman telah menerbitkan nama-nama pemimpin yang terbunuh itu. Situs tersebut mengkonfirmasi, di antara korban ada spesialis bahan peledak, rudal, dan ranjau darat. [yy/republika]

Saudi: Iran Lakukan Agresi Militer di Yaman

Saudi: Iran Lakukan Agresi Militer di Yaman


Saudi: Iran Lakukan Agresi Militer di Yaman


Fiqhislam.com - Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman menuding Iran telah melakukan "agresi militer langsung" yang bisa dikategorikan sebagai tindakan perang terhadap Yaman dengan menyuplai rudal ke sejumlah kelompok milisi.

Komentar Pangeran Mohammad tersebut disiarkan setelah angkatan udara Saudi berhasil mencegat sebuah rudal yang diduga menyasar Riyadh pada Sabtu lalu oleh milisi Houthi yang beraliansi dengan Iran, Selasa (7/11).

Pasukan internasional yang dipimpin Arab Saudi kini berupaya menghancurkan Houthi dalam sebuah peperangan yang menewaskan lebih dari 10.000 orang dan memicu bencana kemanusiaan di salah satu negara paling miskin di kawasan Timur Tengah tersebut.

"Dukungan rudal kepada Houthi adalah "tindakan perang terhadap kerjaan," tulis kantor berita SPA yang mengutip Pangeran Salman pada Selasa (7/11) dalam sebuah pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson.

Iran sendiri membatah telah terlibat dalam serangan rudal pada Sabtu. Mereka menyebut tudingan Saudi sebagai pernyataan "provokatif dan destruktif".

Koalisi internasional sendiri saat ini telah menutup semua jalur masuk dari udara, laut, maupun darat di Yaman untuk mencegah suplai rudal.

Pada hari yang sama, PBB mendesak koalisi internasional untuk membuka kembali jalur bantuan ke Yaman, dengan mengatakan bahwa makanan dan obat-obatan kini sangat dibutuhkan bagi tujuh juta penduduk Yaman yang tengah menderita kelaparan.

"Situasinya sangat menyedihkan di Yaman, ini adalah krisis pangan terburuk yang kita hadapi pada masa ini," kata Jens Laerke dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Humaniter, di Jenewa.

Sementara itu Human Rights Watch mengatakan, bahwa serangan rudal oleh Houthi "sangat mungkin dikategorikan sebagai kejahatan perang." Namun mereka juga mendesak Arab Saudi untuk tidak menutup akses bagi warga Yaman mengingat ada 900 ribu orang yang terinfeksi kolera.

"Serangan yang melanggar hukum perang ini tidak bisa membenarkan Arab Saudi untuk memperparah situasi di Yaman," kata HRW.

Pihak koalisi sendiri berkilah dengan mengatakan bahwa para relawan kemanusiaan masih bisa mesuk maupun keluar Yaman dengan bebas. Namun, PBB mengaku, tidak memperoleh izin untuk dua penerbangan kiriman bantuan kemanusiaan pada Senin lalu.

PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan lain sering mengkritik pihak koalisi karena memblokir akses bantuan ke wilayah utara Yaman yang diduduki oleh Houthi.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN pada Senin, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menuding kelompok bersenjata asal Lebanon, Hizbullah, telah menembakkan rudal dari wilayah Houthi dengan sasaran Riyadh. "Berkaitan dengan rudal itu, rudal tersebut ditembakkan oleh Hizbullah dari wilayah yang dikuasai oleh Houthi di Yaman," kata dia. [yy/republika]