16 Syawal 1443  |  Rabu 18 Mei 2022

basmalah.png

Khamenei: Trump Bermulut Kasar dan Pura-pura Idiot


Fiqhislam.com - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei enggan mengomentari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mencabut dukungan terhadap kesepakatan nuklir Iran. Khamenei menyebut Trump 'bermulut kasar' dan 'berpura-pura menjadi idiot'.

Khamenei memberikan komentar sekitar lima hari setelah Trump memutuskan untuk mengambil pendekatan lebih keras terhadap Iran. Trump mencabut dukungan atas kesepakatan itu dan menyerahkan kepada Kongres AS untuk melakukan sejumlah perubahan pada kesepakatan itu.

Dalam pernyataan yang dikutip media Iran, Press TV dan dilansir CNN, Kamis (19/10/2017), Khamenei menyatakan tidak ingin membuang-buang waktu menanggapi Trump. Khamenei berbicara di hadapan kelompok yang disebut sebagai 'ratusan elite muda dan berbakat ilmiah luar biasa'.

"Akan membuang-buang waktu untuk menanggapi omong kosong dan pernyataan tak masuk akal dari Presiden AS yang bermulut kasar," ucap Khamenei dalam pernyataannya.

"Presiden AS berpura-pura menjadi seorang idiot, tapi ini tidak boleh membuat kita lengah," imbuhnya.

"Mereka ingin membawa Iran yang maju, muda dan beriman kembali ke masa 50 tahun lalu, dan tentu hal ini tidak mungkin terjadi, tapi karena keterbelakangan, mereka tidak mampu memahami kenyataan ini, dan untuk alasan ini mereka telah melakukan salah perhitungan dan menderita, dan akan menderita kekalahan berturut-turut di tangan bangsa Iran," tegas Khamenei.

Lebih lanjut, Khamenei menyambut baik dukungan negara-negara Eropa terhadap kesepakatan nuklir itu, namun menyebut dukungan itu tidak cukup. "Eropa harus melawan langkah-langkah AS ... termasuk sanksi-sanksi yang diantisipasi akan muncul dari Kongres (AS)," ucap Khamenei.

Di bawah kesepakatan bernama Rencana Aksi Menyeluruh Gabungan (JCPoA) yang tercapai tahun 2015 itu, Iran sepakat membatasi program pengayaan uranium sebagai balasan atas pencabutan sanksi internasional. Pengawas nuklir PBB berulang kali mensertifikasi Iran selalu mematuhi kesepakatan itu.

Pekan lalu, Trump menuding Iran melanggar kesepakatan itu dan menyebut kesepakatan itu tidak cukup kuat untuk menghalangi ambisi nuklir Iran. Selain AS, kesepakatan nuklir Iran itu juga ditandatangani oleh China, Prancis, Inggris, Jerman, Rusia dan Uni Eropa. Negara-negara itu mengecam keputusan Trump dan kompak untuk memegang teguh kesepakatan itu.

Khamenei menyatakan Iran juga akan tetap teguh memegang komitmen kesepakatan nuklir itu, selama negara-negara lain tidak memutuskan untuk mengakhirinya. "Selama pihak lain tidak menghancurkan JCPoA, kami juga tidak akan menghancurkannya. Namun, jika mereka mengoyak JCPoA, kami akan mencabiknya," tandas Khamenei.

Trump tidak langsung menarik diri dari kesepakatan itu, namun hanya menolak memberikan sertifikasi reguler, hal yang harus dilakukan Presiden AS setiap 90 hari. Jika sertifikasi tidak diberikan, maka Kongres memiliki opsi untuk mengajukan aturan baru guna menerapkan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran yang sebelumnya dicabut atau ditangguhkan. Jika tidak ada aturan baru, Trump mengancam akan mematikan kesepakatan itu. [yy/news.detik]

Khamenei: Trump Bermulut Kasar dan Pura-pura Idiot


Fiqhislam.com - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei enggan mengomentari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mencabut dukungan terhadap kesepakatan nuklir Iran. Khamenei menyebut Trump 'bermulut kasar' dan 'berpura-pura menjadi idiot'.

Khamenei memberikan komentar sekitar lima hari setelah Trump memutuskan untuk mengambil pendekatan lebih keras terhadap Iran. Trump mencabut dukungan atas kesepakatan itu dan menyerahkan kepada Kongres AS untuk melakukan sejumlah perubahan pada kesepakatan itu.

Dalam pernyataan yang dikutip media Iran, Press TV dan dilansir CNN, Kamis (19/10/2017), Khamenei menyatakan tidak ingin membuang-buang waktu menanggapi Trump. Khamenei berbicara di hadapan kelompok yang disebut sebagai 'ratusan elite muda dan berbakat ilmiah luar biasa'.

"Akan membuang-buang waktu untuk menanggapi omong kosong dan pernyataan tak masuk akal dari Presiden AS yang bermulut kasar," ucap Khamenei dalam pernyataannya.

"Presiden AS berpura-pura menjadi seorang idiot, tapi ini tidak boleh membuat kita lengah," imbuhnya.

"Mereka ingin membawa Iran yang maju, muda dan beriman kembali ke masa 50 tahun lalu, dan tentu hal ini tidak mungkin terjadi, tapi karena keterbelakangan, mereka tidak mampu memahami kenyataan ini, dan untuk alasan ini mereka telah melakukan salah perhitungan dan menderita, dan akan menderita kekalahan berturut-turut di tangan bangsa Iran," tegas Khamenei.

Lebih lanjut, Khamenei menyambut baik dukungan negara-negara Eropa terhadap kesepakatan nuklir itu, namun menyebut dukungan itu tidak cukup. "Eropa harus melawan langkah-langkah AS ... termasuk sanksi-sanksi yang diantisipasi akan muncul dari Kongres (AS)," ucap Khamenei.

Di bawah kesepakatan bernama Rencana Aksi Menyeluruh Gabungan (JCPoA) yang tercapai tahun 2015 itu, Iran sepakat membatasi program pengayaan uranium sebagai balasan atas pencabutan sanksi internasional. Pengawas nuklir PBB berulang kali mensertifikasi Iran selalu mematuhi kesepakatan itu.

Pekan lalu, Trump menuding Iran melanggar kesepakatan itu dan menyebut kesepakatan itu tidak cukup kuat untuk menghalangi ambisi nuklir Iran. Selain AS, kesepakatan nuklir Iran itu juga ditandatangani oleh China, Prancis, Inggris, Jerman, Rusia dan Uni Eropa. Negara-negara itu mengecam keputusan Trump dan kompak untuk memegang teguh kesepakatan itu.

Khamenei menyatakan Iran juga akan tetap teguh memegang komitmen kesepakatan nuklir itu, selama negara-negara lain tidak memutuskan untuk mengakhirinya. "Selama pihak lain tidak menghancurkan JCPoA, kami juga tidak akan menghancurkannya. Namun, jika mereka mengoyak JCPoA, kami akan mencabiknya," tandas Khamenei.

Trump tidak langsung menarik diri dari kesepakatan itu, namun hanya menolak memberikan sertifikasi reguler, hal yang harus dilakukan Presiden AS setiap 90 hari. Jika sertifikasi tidak diberikan, maka Kongres memiliki opsi untuk mengajukan aturan baru guna menerapkan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran yang sebelumnya dicabut atau ditangguhkan. Jika tidak ada aturan baru, Trump mengancam akan mematikan kesepakatan itu. [yy/news.detik]

Netanyahu: Isu Iran Dekatkan Hubungan Israel-Negara Arab

Netanyahu: Isu Iran Dekatkan Hubungan Israel-Negara Arab


Netanyahu: Isu Iran Dekatkan Hubungan Israel-Negara Arab


Fiqhislam.com - Israel mengklaim hubungannya dengan negara-negara Arab saat ini telah semakin membaik. Beberapa pengamat mengatakan ada tanda-tanda yang menunjukkan, isu mengenai Iran telah mendorong mereka menjadi lebih dekat.

Menurut mereka, pengakuan resmi terhadap Israel oleh negara-negara Arab tentu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Namun kerja sama di balik layar telah terbuka di berbagai bidang.
 
Sebelumnya, negara-negara Arab memiliki kebijakan yang telah diterapkan puluhan tahun, yaitu tidak akan berurusan dengan Israel sampai negara Palestina merdeka. Sekarang, baik Israel maupun Arab Saudi sama-sama mengucapkan selamat kepada Presiden AS Donald Trump pekan lalu setelah ia menyatakan tidak akan mengesahkan kesepakatan nuklir Iran 2015.
 
"Saya pikir ada dua isu yang menjadi perhatian presiden dan menjadi keprihatinan kami semua, dan kebetulan Israel dan negara-negara Arab terkemuka sama-sama melihatnya," ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dikutip Arab News.
 
Bulan lalu, Netanyahu mengatakan hubungan dengan dunia Arab terjalin dengan baik, meski ia tidak merinci. Sementara, para pemimpin negara-negara Arab belum secara terbuka membuat komentar serupa, meski itu bukan berarti mereka membantah klaim Netanyahu.
 
Sejak Israel didirikan pada 1948, hanya dua negara Arab, Mesir dan Yordania yang telah menandatangani kesepakatan damai dengan negara tersebut. Sebagai negara yang memiliki kekuatan militer besar dan kemampuan intelijen yang kuat di Timur Tengah, Israel berpotensi menjadi sekutu penting bagi negara-negara Arab untuk melawan Iran.
 
Israel telah lama memandang Iran sebagai musuh nomor satu. Sementara negara-negara Arab Sunni seperti Arab Saudi, menganggap Iran sebagai saingan regional. "(Hubungan masih) di bawah radar dan tidak resmi karena budaya Timur Tengah sangat sensitif untuk masalah ini," kata Menteri Komunikasi Israel Ayoub Kara.
 
AS juga telah berusaha mempromosikan hubungan baik antara Israel dan dunia Arab. Pemerintahan Trump berharap dapat memanfaatkan kepentingan regional untuk mencapai kesepakatan damai Israel-Palestina.
 
Profesor yang fokus pada studi Teluk di Rice University di AS Kristian Ulrichsen mengatakan dasar hubungan antara Israel dan negara-negara Arab adalah musuh yang sama. "Bagi beberapa negara Arab Sunni di kawasan ini, terutama di Teluk, ada perasaan sebagian besar kesalahan mendasar di wilayah ini sekarang berkisar pada ancaman yang dirasakan dari Iran dan milisi," kata Ulrichsen. [yy/republika]