22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Uang 'Panas' Mafia Rusia Danai Program Senjata Kimia Suriah?


Fiqhislam.com - Setumpuk dokumen mengungkapkan bahwa sebuah perusahaan investasi yang dijalankan mafia Rusia mengirimkan uang sebesar US$ 900 ribu kepada seorang pebisnis yang diduga memiliki keterkaitan dengan program senjata kimia Suriah. Kelompok kriminal asal Negeri Beruang Merah itu diduga masih terkait dengan Kremlin.

Dokumen yang didapat oleh CNN dan dikutip pada Minggu (18/6/2017) mengungkapkan adanya kontrak dan catatan bank pada akhir 2007 hingga awal 2008, bahwa mafia Rusia yang didukung oleh negara setuju untuk membayar lebih dari US$ 3 juta kepada perusahaan Balec Trading Ventures, Ltd untuk membeli 'furniture'.

Transaksi pengiriman uang yang dilihat oleh CNN mengonfirmasi setidaknya US$900 ribu telah ditransfer.

Kedua perusahaan itu terdaftar di British Virgin Island. Sebuah negara yang terkenal dengan tax haven.

Sementara itu, perusahaan yang diduga terkait dengan mafia Rusia bernama Quartell Trading Ltd., yang Departemen Kehakiman AS mengklaim itu adalah salah satu 'kendaraan' di mana jutaan dolar uang warga Rusia pembayar pajak dicuri dan dicuci sepuluh tahun lalu. Uang itu diduga masih ada hubungan dengan kasus 'Magnitsky Affairs', sebuah kasus korupsi terbesar dan mengerikan yang melibatkan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Balec Ventures dimiliki oleh Issa al-Zeydi, seorang warga Rusia kelahiran Suriah yang pernah diberi sanksi oleh Kementerian Keuangan AS pada 2014.

Sanksi dijatuhkan kerena hubungannya dengan Scientific Studies and Research Center, sebuah program senjata non-konvensional milik rezim Bashar al-Assad yang di dalamnya termasuk pabrik yang memproduksi sarin dan VX nerve agents serta gas mustrad.

Penipuan Pajak US$230 Juta

Menurut Kongres AS dan Kementerian Kehakiman AS, mafia Rusia lainnya yang disebut Klyuev Group di mana anggotanya adalah beberapa pejabat dari Kementerian Dalam Negeri Rusia, baik yang masih aktif maupun sudah pensiun.

Anggota lainnya adalah dua pegawai pajak Moskow, Federal Security Service atau FSB --dinas intelijen Rusia.

Pada 2007, pemerintah AS mengatakan Klyuev Group, berkolusi menipu kepemilikan tiga anak perusahaan yang terhubung ke Hermitage Capital Management yang berbasis di Moskow, yang merupakan hedge fund terbesar di Rusia.

Klyuev kemudian merekayasa kerugian ratusan juta dolar untuk perusahaan-perusahaan yang telah mereka ambil alih. Hal itu memungkinkan mereka mengajukan pengembalian pajak sebesar US$ 230 juta.

Seluruh jumlah itu diproses dalam satu hari pada Malam Natal 2007, oleh petugas pajak Rusia di namanya ada di daftar gaji Klyuev.

Sergei Magnitsky, pengacara yang dipekerjakan oleh Hermitage Capital untuk menyelidiki pencurian tersebut, menemukan konspirasi kriminal yang luar biasa dan para pemain di belakangnya.

Akibat dari temuan itu, Magnitsky justru ditangkap pada tahun 2008. Selama ditahan ia tidak mendapat perawatan medis selama lebih dari setahun dalam penahanan praperadilan dan disiksa secara fisik sebelum meninggal di penjara Moskow pada tahun 2009 pada usia 37 tahun.

Pada tahun 2012, Kongres AS mengeluarkan Undang-Undang Sergei Magnitsky Rule of Law Accountability Act, di mana sekitar tiga lusin pejabat Rusia telah mendapat sanksi.

Kremlin menolak tudingan AS. Moskow berkeras bahwa pengacara tersebut meninggal karena "gagal jantung" dan dia adalah orang yang merekayasa pajak.

Sebuah pengadilan Rusia bahkan menempatkan Magnitsky diadili secara anumerta dan menemukan dia bersalah pada tahun 2013. Ini menandai pertama kalinya dalam sejarah Rusia bahwa sebuah jenazah berhasil diadili.

Tokoh kunci yang tewas dalam lingkaran uang US$230 juta dan kematian Magnitsky lainnya adalah Alexander Perepilichnyy.

Menjelang musim dingin, November 2012, polisi Surrey di Inggris dikejutkan oleh laporan seorang warga yang melihat seorang pria yang tengah berolah raga jatuh tersungkur dan tak bergerak. Polisi segera ke tempat kejadian.

Di halaman rumahnya, Alexander Perepilichnyy yang tergeletak lengkap dengan baju jogging ditemukan polisi pada pukul 17.05 dan 25 menit kemudian, tim medis mengatakan ia telah meninggal dunia.

Menurut Hermitage, Perepilichnyy adalah saksi kunci untuk melawan Klyuev Grup. Perepilichnyy mengaku perusahaannya, Quartell Tradding, terlibat dengan Klyuev. Ia ditemukan tewas dengan kecurigaan telah diracun.

Sebuah kontrak yang ditandatangani pada 18 Desember 2007 -- beberapa hari sebelum pengembalian pajak rekayasa US$230 juta oleh Klyuev-- memperlihatkan bahwa perusahan milik Perepilichnyy (Quartell Trading) setuju untuk membeli furniture mewah dari Balec Venteres perusahaan milik Issa al-Zeydi dengan harga US$ 3,172,000.

Salinan transaksi luar negeri yang didapat CNN memperlihatkan uang sebesar US$900 ribu dari angka US$ 3,172,000 telah ditransfer dari Quartell Trading ke Balec beberapa minggu kemudian pada 25 Januari 2008.

Terkait dengan Presiden Bashar al-Assad?

Issa al-Zeydi adalah warga Rusia kelahiran Suriah. Ia tak memiliki profil mencurigakan di Negara Beruang Merah.

Profilnya hanya aktif di media sosial Rusia, VKonake, Facebook versi Negeri Beruang Merah yang ternyata perusahaan medsos tu dimiliki pria yang memiliki Balec Ventures.

Issa lulus tahun 1964 dari Bauman Moscow State Technical University sebagai insinyur.

Menurut sebuah pendaftaran perusahaan di Rusia, al-Zeydi juga pemilik dan CEO beberapa perusahaan kecil di Moskow.

Salah satu perusahaan itu adalah, Aldzhamal Interneshal, yang mengklaim usaha di bidang "perdagangan grosir non-khusus", "memproduksi produk minyak bumi" dan "pembuatan gas industri".

Dia juga direktur Enterprises Ltd. dan Fruminenti Investments Ltd., dua perusahaan yang mendapat sanksi AS pada tahun 2014 untuk koneksi mereka ke Scientific Studies and Research Center, badan pemerintah Suriah yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan memproduksi senjata non-konvensional dan rudal balistik, menurut Kantor Pengawasan Aset Asing (Treasury Asset Control / OFAC) Departemen Keuangan AS.

Tidak jelas apakah uang US$ 900.000 yang dikirimkan Quartell ke Balec adalah untuk mendukung Scientific Studies and Research Center milik rezim Bashar al-Assad.

Setelah serangan sarin di Suriah pada bulan April 2017, yang mendorong Presiden Donald Trump untuk memberi wewenang serangan udara AS terhadap pangkalan udara Suriah, Departemen Keuangan selanjutnya memberi sanksi kepada 271 karyawan dari Scientific Studies and Research Center, yang menggambarkannya sebagai "salah satu tindakan sanksi terbesar dalam sejarah."

CNN telah melakukan berbagai cara untuk menghubungi Issa al-Zeydi di Moskow untuk mendapatkan cerita ini, dengan menggunakan alamat terdaftar dari perusahaan dan nomor teleponnya yang berbasis di Rusia. Namun, hingga saat ini tidak berhasil. [yy/liputan6]