30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Assad Sebut Barat Ingin Gantikannya dengan Presiden Boneka

Assad Sebut Barat Ingin Gantikannya dengan Presiden Boneka


Fiqhislam.com - Amerika Serikat (AS) akan melanjutkan usahanya untuk menggulingkan pemerintahan Suriah yang sah. Hal itu diungkapkan olah Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

"Tujuan mereka adalah untuk mengacaukan Suriah, tujuan mereka adalah mengubah pemerintah, menggulingkan pemerintah, dan untuk membawa boneka mereka," kata Assad seperti dikutip dari Sputniknews, Sabtu (22/4/2017).

"Jadi mereka akan melakukan segalanya, karena akhirnya mereka membenarkan cara-cara mereka, tidak ada nilai, tidak ada moral sama sekali. Apapun bisa terjadi," imbuhnya.

Presiden Suriah juga mengomentari serangan kimia yang dilaporkan di Idlib. Ia mengatakan bahwa insiden itu meruapakan serangan false flag hanya untuk membenarkan serangan terhadap pangkalan udara Suriah.

Pada tanggal 4 April, sebuah insiden senjata kimia di Idlib merenggut nyawa sekitar lebih dari 80 orang dan menyebabkan 200 warga sipil lainya luka. Koalisi Nasional Pasukan Revolusioner dan Oposisi Suriah, serta sejumlah negara Barat, menuduh pasukan pemerintah Suriah melakukan serangan tersebut, sementara Damaskus membantah tuduhan itu.

Menanggapi insiden Khan Sheikhoun, Pentagon meluncurkan serangan rudal jelajah Tomahawk ke lapangan terbang militer Suriah di Ash Sha'irat, yang terletak sekitar 40 kilometer dari kota Homs. Rusia mengecam serangan tersebut sebagai tindakan agresi terhadap sebuah negara berdaulat. [yy/sindonews]

Assad Sebut Barat Ingin Gantikannya dengan Presiden Boneka


Fiqhislam.com - Amerika Serikat (AS) akan melanjutkan usahanya untuk menggulingkan pemerintahan Suriah yang sah. Hal itu diungkapkan olah Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

"Tujuan mereka adalah untuk mengacaukan Suriah, tujuan mereka adalah mengubah pemerintah, menggulingkan pemerintah, dan untuk membawa boneka mereka," kata Assad seperti dikutip dari Sputniknews, Sabtu (22/4/2017).

"Jadi mereka akan melakukan segalanya, karena akhirnya mereka membenarkan cara-cara mereka, tidak ada nilai, tidak ada moral sama sekali. Apapun bisa terjadi," imbuhnya.

Presiden Suriah juga mengomentari serangan kimia yang dilaporkan di Idlib. Ia mengatakan bahwa insiden itu meruapakan serangan false flag hanya untuk membenarkan serangan terhadap pangkalan udara Suriah.

Pada tanggal 4 April, sebuah insiden senjata kimia di Idlib merenggut nyawa sekitar lebih dari 80 orang dan menyebabkan 200 warga sipil lainya luka. Koalisi Nasional Pasukan Revolusioner dan Oposisi Suriah, serta sejumlah negara Barat, menuduh pasukan pemerintah Suriah melakukan serangan tersebut, sementara Damaskus membantah tuduhan itu.

Menanggapi insiden Khan Sheikhoun, Pentagon meluncurkan serangan rudal jelajah Tomahawk ke lapangan terbang militer Suriah di Ash Sha'irat, yang terletak sekitar 40 kilometer dari kota Homs. Rusia mengecam serangan tersebut sebagai tindakan agresi terhadap sebuah negara berdaulat. [yy/sindonews]

Assad Sebut Front al-Nusra Dibalik Pengeboman Konvoi Pengungsi

Assad Sebut Front al-Nusra Dibalik Pengeboman Konvoi Pengungsi


Assad Sebut Front al-Nusra Dibalik Pengeboman Konvoi Pengungsi


Fiqhislam.com - Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan bahwa kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Front al-Nusra melakukan pemboman terhadap sebuah konvoi pengungsi pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut menewaskan setidaknya 126 orang.

Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas pemboman tersebut. Komentar Assad tersebut dikutip oleh saluran televisi Lebanon pro-Suriah al-Mayadeen seperti disitat dari Reuters, Sabtu (22/4/2017).

Front al-Nusra adalah afiliasi formal kelompok al Qaeda di Suriah sampai akhirnya menghentikan kesetiaannya terhadap gerakan militan global tahun lalu. Kelompok ini kemudian bergabung dengan beberapa kelompok jihad lainnya dalam sebuah aliansi baru yang disebut Tahrir al-Sham pada bulan Januari.

Sebuah bom mobil bunuh diri menewaskan sedikitnya 126 orang dalam serangan di dekat bus untuk mengevakuasi warga Suriah. Insiden terjadi saat evakuasi terhadap penduduk dari dua kota Syiah yang dikepung pejuang.

Konvoi itu membawa setidaknya 5.000 orang termasuk warga sipil dan beberapa ratus pejuang pro-pemerintah. Mereka di perbolehkan melakukan perjalanan yang aman dari dua desa Syiah yang dikepung oleh pejuang.

Berdasarkan kesepakatan evakuasi, lebih dari 2.000 orang, termasuk pejuang, diberikan perjalanan yang aman dari Madaya, sebuah kota dekat Damaskus yang dikepung oleh pasukan pemerintah dan sekutu mereka.

Konvoi yang sedang menunggu di sebuah depot bus di daerah yang dikuasai pemerintah di pinggiran Aleppo ini, beberapa mil dari tempat serangan itu terjadi. Para pengungsi di Madaya mengatakan mereka mendengar ledakan itu. [yy/sindonews]