2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Hollande Pastikan Penembakan di Paris Terkait Terorisme

Hollande Pastikan Penembakan di Paris Terkait Terorisme


Fiqhislam.com - Presiden Prancis Francois Hollande membenarkan adanya kaitan terorisme pada insiden penembakan pada polisi di pusat kota Paris, Prancis. Penembakan itu menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya.

Hollande memastikan bahwa pelaku penembakan di Champs-Elysees adalah salah satu pejuang ISIS. Militan Muslim menjadi isu besar di Prancis setelah serangkaian serangan massal yang terjadi di Prancis diklaim oleh kelompok tersebut. Salah satu serangan terbesar adalah yang terjadi pada 2015 dan menewaskan sekitar 238 orang.

Presiden Prancis mengatakan telah melakukan pertemuan dengan perdana menteri dan menteri dalam negeri untuk membicarakan soal krisis yang terjadi. Ia menegaskan, pihak keamanan mendapat dukungan penuh dari pemerintah, dan penghormatan secara nasional akan dilakukan untuk memberikan penghargaan pada jasa petugas yang tewas.

Jaksa Paris Francois Molins belakangan mengatakan, mereka sudah mendapatkan identitas pelaku, namun belum diverifikasi. "Saya tidak akan mengungkapkannya. Investigasi dan penggerebekan sudah dilakukan, terutama untuk menentukan apakah ada bukti atau tidak adanya keterlibatan dalam serangan ini," ujarnya seperti dikutip dari BBC, Jumat 21 April 2017.

Sementara itu, melalui pernyataannya yang disebarkan lewat buletin Amaq, kelompok militan ISIS mengatakan pelaku penyerangan adalah Abu Yusuf al-Baljiki.

Penembakan tersebut terjadi tak jauh dari toko Marks & Spencer. Suara tembakan menimbulkan kepanikan dan membuat ratusan warga serta turis di sekitar lokasi berhamburan.

Saat ini, seluruh wilayah Champs-Elysees sudah diamankan dan polisi memberikan garis pembatas di sekitar lokasi kejadian yang juga tak jauh dari stasiun metro George V. [yy/viva]

Hollande Pastikan Penembakan di Paris Terkait Terorisme


Fiqhislam.com - Presiden Prancis Francois Hollande membenarkan adanya kaitan terorisme pada insiden penembakan pada polisi di pusat kota Paris, Prancis. Penembakan itu menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya.

Hollande memastikan bahwa pelaku penembakan di Champs-Elysees adalah salah satu pejuang ISIS. Militan Muslim menjadi isu besar di Prancis setelah serangkaian serangan massal yang terjadi di Prancis diklaim oleh kelompok tersebut. Salah satu serangan terbesar adalah yang terjadi pada 2015 dan menewaskan sekitar 238 orang.

Presiden Prancis mengatakan telah melakukan pertemuan dengan perdana menteri dan menteri dalam negeri untuk membicarakan soal krisis yang terjadi. Ia menegaskan, pihak keamanan mendapat dukungan penuh dari pemerintah, dan penghormatan secara nasional akan dilakukan untuk memberikan penghargaan pada jasa petugas yang tewas.

Jaksa Paris Francois Molins belakangan mengatakan, mereka sudah mendapatkan identitas pelaku, namun belum diverifikasi. "Saya tidak akan mengungkapkannya. Investigasi dan penggerebekan sudah dilakukan, terutama untuk menentukan apakah ada bukti atau tidak adanya keterlibatan dalam serangan ini," ujarnya seperti dikutip dari BBC, Jumat 21 April 2017.

Sementara itu, melalui pernyataannya yang disebarkan lewat buletin Amaq, kelompok militan ISIS mengatakan pelaku penyerangan adalah Abu Yusuf al-Baljiki.

Penembakan tersebut terjadi tak jauh dari toko Marks & Spencer. Suara tembakan menimbulkan kepanikan dan membuat ratusan warga serta turis di sekitar lokasi berhamburan.

Saat ini, seluruh wilayah Champs-Elysees sudah diamankan dan polisi memberikan garis pembatas di sekitar lokasi kejadian yang juga tak jauh dari stasiun metro George V. [yy/viva]

Penembakan Paris, ISIS Mengklaim Pelaku Warga Belgia

Penembakan Paris, ISIS Mengklaim Pelaku Warga Belgia


Penembakan Paris, ISIS Mengklaim Pelaku Warga Belgia


Fiqhislam.com - Kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS mengaku bertanggung jawab atas insiden penembakan yang menewaskan seorang polisi dan pelaku serta melukai dua orang lainnya di dekat Istana Kepresidenan Prancis di Paris pada Kamis malam waktu setempat.

Seperti dilansir AFP, Jumat 21 April 2017, klaim ISIS disampaikan melalui media afiliasi mereka, Amaq. Disebutkan pelaku merupakan simpatisan ISIS berkewarganegaraan Belgia.

"Pelaku penyerangan di Champs Elysee, di tengah Kota Paris adalah Abu Yussef, seorang Belgia, dan dia adalah salah seorang pejuang ISIS," kata ISIS.

Kementerian Dalam Negeri Prancis sebelumnya telah menyatakan pelaku telah berhasil dilumpuhkan. Hanya saja belum diungkap terkait identitas pelaku.

Kantor Jaksa Prancis mengatakan badan anti-terorisme telah membuka sebuah penyelidikan. Aparat pun sedang menyelidiki kemungkinan adanya pelaku lain.

Juru bicara kepolisian Paris, Johanna Primevert, mengatakan pelaku sengaja membidik polisi yang menjaga area dekat stasiun kereta api bawah tanah di Franklin Roosevelt, di pusat jalan di pusat perbelanjaan Champs-Elysees, Paris.

Ucapan simpati dan duka cita kepada korban dan keluarganya mengalir dari petinggi pemerintahan Prancis maupun para kandidat presiden yang akan bertarung pada Ahad lusa.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menanggapi penembakan di Paris. "Lagi-lagi serangan teror. Apa yang dapat Anda katakan, ini tak pernah berakhir. Kita harus kuat.” [yy/tempo]

Buron Terkait Penembakan di Paris Serahkan Diri di Belgia

Buron Terkait Penembakan di Paris Serahkan Diri di Belgia


Buron Terkait Penembakan di Paris Serahkan Diri di Belgia


Fiqhislam.com - Seorang tersangka yang dicari oleh Prancis setelah penembakan di Champs Elysees menyerahkan diri ke kepolisian Belgia menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis pada Jumat.

"Pria yang ada dalam daftar buron yang dikeluarkan pihak berwenang Belgia menyerahkan diri ke sebuah kantor polisi di Antwerp," kata juru bicara kementerian Pierre-Henry Brandet kapada AFP.
 
Brandet mengatakan kepada radio Europe 1 bahwa "terlalu dini untuk mengatakan" apakah orang tersebut terkait dengan penembakan pada Kamis malam di lokasi terkenal Paris, tempat seorang pelaku penembakan berusia 39 tahun menembak mati seorang polisi dan melukai dua orang lainnya sebelum tewas dalam baku tembak.
 
Kelompok ISIS mengklaim penembakan tersebut, yang terjadi tiga hari sebelum putaran pertama pemilihan presiden Prancis pada Minggu ketika keamanan menjadi perhatian utama setelah serangkaian serangan ekstremis sejak 2015.
 
Seorang sumber yang dekat dengan penyelidikan Prancis mengatakan bahwa pria berusia 35 tahun diinvestigasi di Antwerp, yang disebut "sangat berbahaya", dan sudah menjadi buronan polisi Belgia sebagai bagian dari penyelidikan terpisah.
 
Saat menggeledah rumahnya, polisi Belgia menemukan senjata, penutup kepala dan tiket kereta ke Prancis yang berangkat pada Kamis pagi, beberapa jam sebelum serangan di Paris.

Sementara di Prancis, tiga orang yang dikethui sebagai penyerang diperiksa oleh polisi anti-teror menurut sumber pengadilan. Ketiganya ditangkap selama penggerebekan di pinggiran timur Paris. [yy/antaranews]

 

Tags: Paris | Hollande