2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Australia Suap Paksa Pencari Suaka

Australia Suap Paksa Pencari Suaka


Fiqhislam.com - Pejabat pusat imigrasi Australia di Papua Nugini menekan pencari suaka untuk pulang ke negaranya secara sukarela. Mereka bahkan menawarkan sejumlah besar uang atau mengancam akan memberlakukan deportasi.

Laporan eksklusif Reuters pada Selasa (14/2) menyebut para pencari suaka ini dipaksa dan disogok. Puluhan pencari suaka asal Bangladesh dan Nepal di Manus Island mengatakan pejabat Australia menawarkan uang hingga 25 ribu dolar AS.

Seorang pencari suaka yang saat ini berstatus pengungsi di Papua Nugini mengatakan, desakan datang sejak bulan lalu. Setidaknya satu pengungsi Nepal sudah pergi pekan lalu.

"Mereka mengatakan pada saya dan lainnya, jika mau pulang secara sukarela kami akan dapat uang sekitar 20 ribu dolar AS," kata Mohammad Bilal. Jika pergi secara berkelompok, mereka akan mendapat lebih banyak.

Bilal adalah seorang sopir di Bangladesh. Ia melarikan diri menuju Australia karena alasan politik. Menurutnya, pertemuan dengan pejabat Australia itu terjadi pekan lalu.

Tindakan seperti ini dianggap tidak melanggar hukum. Namun terdapat perbedaan dari fenomena yang sama tahun lalu. Jumlah uang yang ditawarkan dua kali lebih besar. Jumlahnya juga jauh lebih besar dari dana yang ditawarkan di negara mana pun.

Misalnya di Jerman, mereka hanya menawarkan 1.275 dolar AS pada pencari suaka yang bersedia pulang dengan sukarela. Dalam pernyataan pada Reuters, Departemen Imigrasi Australia mengatakan dana itu memang tersedia.

"Untuk mereka pulang dan membangun kehidupan di negara asalnya, jika menolak, pemerintah Papua Nugini mengindikasikan deportasi," kata mereka. Departemen menolak berkomentar lebih lanjut.

Langkah ini dilakukan Australia saat AS menunjukkan gelagat penolakan terhadap kebijakan transfer pengungsi. Kebijakan pertukaran pengungsi dari Australia ke AS dan sebaliknya dibuat di masa Presiden Barack Obama.

AS berkomitmen menerima hampir 1.250 pencari suaka dari Manus dan Nauru. Sebagai gantinya, Australia akan menerima pengungsi dari Amerika Tengah. Presiden Donald Trump tidak menyukai ide ini.Pejabat pusat imigrasi Australia di Papua Nugini menekan pencari suaka untuk pulang ke negaranya secara sukarela. Mereka bahkan menawarkan sejumlah besar uang atau mengancam akan memberlakukan deportasi.

Laporan eksklusif Reuters pada Selasa (14/2) menyebut para pencari suaka ini dipaksa dan disogok. Puluhan pencari suaka asal Bangladesh dan Nepal di Manus Island mengatakan pejabat Australia menawarkan uang hingga 25 ribu dolar AS.

Seorang pencari suaka yang saat ini berstatus pengungsi di Papua Nugini mengatakan, desakan datang sejak bulan lalu. Setidaknya satu pengungsi Nepal sudah pergi pekan lalu.

"Mereka mengatakan pada saya dan lainnya, jika mau pulang secara sukarela kami akan dapat uang sekitar 20 ribu dolar AS," kata Mohammad Bilal. Jika pergi secara berkelompok, mereka akan mendapat lebih banyak.

Bilal adalah seorang sopir di Bangladesh. Ia melarikan diri menuju Australia karena alasan politik. Menurutnya, pertemuan dengan pejabat Australia itu terjadi pekan lalu.

Tindakan seperti ini dianggap tidak melanggar hukum. Namun terdapat perbedaan dari fenomena yang sama tahun lalu. Jumlah uang yang ditawarkan dua kali lebih besar. Jumlahnya juga jauh lebih besar dari dana yang ditawarkan di negara mana pun.

Misalnya di Jerman, mereka hanya menawarkan 1.275 dolar AS pada pencari suaka yang bersedia pulang dengan sukarela. Dalam pernyataan pada Reuters, Departemen Imigrasi Australia mengatakan dana itu memang tersedia.

"Untuk mereka pulang dan membangun kehidupan di negara asalnya, jika menolak, pemerintah Papua Nugini mengindikasikan deportasi," kata mereka. Departemen menolak berkomentar lebih lanjut.

Langkah ini dilakukan Australia saat AS menunjukkan gelagat penolakan terhadap kebijakan transfer pengungsi. Kebijakan pertukaran pengungsi dari Australia ke AS dan sebaliknya dibuat di masa Presiden Barack Obama.

AS berkomitmen menerima hampir 1.250 pencari suaka dari Manus dan Nauru. Sebagai gantinya, Australia akan menerima pengungsi dari Amerika Tengah. Presiden Donald Trump tidak menyukai ide ini. [yy/republika]