25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Mayoritas Diplomat AS Adalah Anggota CIA


Fiqhislam.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan bahwa kebanyakan duta besar Amerika Serikat meremehkan pemerintah asing tempat mereka bertugas. Sebab, kata dia, tugas mereka lebih sebagai mata-mata.

Secara khusus Duterte menyebut mantan duta besar Philip Goldberg.

Duterte mencetuskan hal itu ketika menanggapi laporan Manila Times bahwa mantan duta besar AS itu sedang berencana "menggoyang" Duterte.

Harian tersebut mengaku mendapat informasi dari "sumber dalam" bahwa Goldberg mencanangkan strategi penggulingan Duterte dalam waktu 1,5 tahun.

Seperti dikutip dari UPI pada Jumat (30/12/2016), pihak AS melalui State Department atau Departemen Luar Negeri membantah tuduhan itu pada hari yang sama.

Daniel Russel, staf menlu untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, menyatakan melalui harian tersebut, "Seperti kami katakan, hubungan kami dengan Filipina luas dan persekutuan kita adalah salah satu hubungan yang berjalan dan terpenting di kawasan Asia Pasifik."

Dalam wawancara televisi itu, Duterte bahkan memperluas tuduhannya kepada para duta besar AS lainnya, katanya, "Mengacu kepada berita yang kredibel, mungkin kalian sudah sedikit mengerti bagaimana mereka beroperasi."

"Karena kebanyakan duta besar AS, tidak semua, bukan benar-benar duta besar profesional…mereka sedang memata-matai. Mereka sangat terhubung dengan CIA."

"Duta besar suatu negara adalah mata-mata nomor wahid, tapi ada sejumlah duta besar AS bertugas menggoyang pemerintahan. Itulah yang terjadi di Bolivia," imbuhnya.

Goldberg berdinas sebagai duta besar AS untuk Filipina sejak 2 Desember 2013 hingga 4 November 2015. Sebelumnya ia adalah asisten menteri untuk intelijen dan penelitian di State Department.

Pada 2006, Presiden George W. Bush mencalonkan dia menjadi duta besar untuk Bolivia.

Pada 10 September 2008, pemerintah Bolivia memberi waktu 72 jam baginya untuk hengkang, setelah AS dicurigai memberikan jutaan dolar kepada para pemimpin oposisi dan pemikir yang berseberangan dengan Presiden Evo Morales.

Menurut State Department, tuduhan terhadap Goldberg tidak berdasar.

Kata Duterte, "Itulah yang terjadi di Bolivia. Dia diusir karena menggoyang presiden pribumi di sana."

"Dan Goldberg semakin ketahuan, menggerogoti sendi dasar kepresidenan dan diusir sebagai persona non grata (orang yang tak disuka)." [yy/atjehcyber]