5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Fidel Castro dan 11 Presiden Amerika Serikat

Fidel Castro dan 11 Presiden Amerika Serikat


Fiqhislam.com - Fidel Castro merupakan pemimpin Kuba yang paling lama menjabat di negeri komunis itu. Dia bahkan merupakan kepala negara yang menjabat terlama ketiga di dunia setelah Ratu Inggris Elizabeth dan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej.

Berkuasa sejak revolusi tahun 1959, Castro memimpin Kuba selama hampir 50 tahun. Semasa hidupnya, Castro yang menentang pemerintah Amerika Serikat, telah 'berhadapan' dengan 11 presiden AS.

Mulai dari presiden Dwight Eisenhower yang memutus hubungan diplomatik AS dengan Kuba, hingga Barack Obama yang memutuskan untuk memulihkan hubungan kedua negara. Berikut nama-nama ke-11 presiden AS tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (26/11/2016).

-- Dwight Eisenhower (Republikan, 1953-1961): Menyediakan persenjataan pada diktator Fulgencio Batista, yang memerangi para pemberontak yang dipimpin Castro. Mempersiapkan invasi ke Kuba yang dikenal sebagai invasi Bay of Pigs dan memutus hubungan diplomatik dengan Kuba pada Januari 1961.

-- John F. Kennedy (Demokrat, 1961-1963): Memberikan lampu hijau untuk invasi Bay of Pigs, Kuba pada April 1961. Menetapkan embargo AS pada Februari 1962 sebelum krisis rudal Kuba terjadi pada Oktober 1962, yang hampir membuat dunia mengalami perang nuklir.

-- Lyndon Johnson (Demokrat, 1963-1969): Memperkuat embargo dan mencoba mencegah penjualan nikel Kuba ke negara-negara blok Uni Soviet. Menyetujui plot CIA untuk membunuh Castro dan mendukung kelompok-kelompok gerilya anti-Castro.

-- Richard Nixon (Republikan, 1969-1974): Meningkatkan aktivitas anti-Castro, termasuk penangkapan para nelayan Kuba. Juga berupaya mencegah penjualan nikel Kuba ke negara-negara blok Uni Soviet.

-- Gerald Ford (Republikan, 1974-1977): Menjabat di saat serangan-serangan terhadap misi-misi diplomatik Kuba di luar negeri meningkat dan serangan terhadap sebuah pesawat Kuba yang menewaskan 73 orang. Mengizinkan kunjungan pertama para pebisnis AS ke Kuba dan meringankan embargo.

-- Jimmy Carter (Demokrat, 1977-1981): Makin mengurangi embargo terhadap Kuba. Membuka sebuah bagian kepentingan AS di Havana dan mengizinkan sebuah bagian kepentingan Kuba dibuka di Washington. Memungkinkan warga Kuba di pengasingan bepergian ke tanah air mereka. Menandatangani traktat perbatasan maritim. Berkunjung ke Kuba sebagai mantan presiden AS pada tahun 2002 dan 2011.

-- Ronald Reagan (Republican, 1981-1989): Hubungan kedua negara kembali memburuk. Terbentuknya Yayasan Nasional Kuba-Amerika, organisasi pengasingan utama bagi warga Kuba, dan berdirinya Radio dan TV Marti yang anti-Castro. Perjanjian imigrasi pertama kalinya diteken pada tahun 1984.

-- George H. W. Bush (Republikan, 1989-1993): Memperketat kembali embargo dengan UU Torricelli Act, seiring runtuhnya blok Uni Soviet. Anak-anak perusahaan AS di negara-negara ketiga dilarang berbisnis dengan Kuba.

-- Bill Clinton (Demokrat, 1993-2001): Memberlakukan UU Torricelli Act dan menyetujui UU Helms-Burton Act, yang kembali memperketat embargo. Pada tahun 1994, sekitar 36 ribu warga Kuba kabur ke AS dengan menggunakan perahu-perahu darurat dan rakit. Perjanjian imigrasi baru diteken dan Clinton mendukung para aktivis anti-Castro.

-- George W. Bush (Republikan, 2001-2009): Meningkatkan bantuan finansial untuk kelompok-kelompok anti-Castro dan kembali meningkatkan embargo. Membatasi perjalanan ke Kuba oleh warga Kuba yang mengasingkan diri ke AS dan membatasi jumlah uang yang bisa mereka kirimkan ke keluarga di Kuba. Menyetujui perdagangan makanan dengan beberapa batasan. Adik Castro, Raul secara resmi memimpin Kuba semasa pemerintahan Bush.

-- Barack Obama (Demokrat, 2009-sekarang): Mencabut batasan-batasan perjalanan dan jumlah uang yang bisa dikirimkan oleh warga Kuba ke keluarga mereka. Pada Desember 2014, Obama dan Raul Castro mengumumkan bahwa kedua negara akan menormalisasi hubungan. Kedua negara membuka kembali kedutaan besar mereka pada Juli 2015. Obama pun melakukan lawatan bersejarah ke Kuba pada Maret 2016, pertama kalinya seorang presiden AS yang masih menjabat, berkunjung ke Kuba sejak tahun 1928. [yy/news.detik]

Fidel Castro dan 11 Presiden Amerika Serikat


Fiqhislam.com - Fidel Castro merupakan pemimpin Kuba yang paling lama menjabat di negeri komunis itu. Dia bahkan merupakan kepala negara yang menjabat terlama ketiga di dunia setelah Ratu Inggris Elizabeth dan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej.

Berkuasa sejak revolusi tahun 1959, Castro memimpin Kuba selama hampir 50 tahun. Semasa hidupnya, Castro yang menentang pemerintah Amerika Serikat, telah 'berhadapan' dengan 11 presiden AS.

Mulai dari presiden Dwight Eisenhower yang memutus hubungan diplomatik AS dengan Kuba, hingga Barack Obama yang memutuskan untuk memulihkan hubungan kedua negara. Berikut nama-nama ke-11 presiden AS tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (26/11/2016).

-- Dwight Eisenhower (Republikan, 1953-1961): Menyediakan persenjataan pada diktator Fulgencio Batista, yang memerangi para pemberontak yang dipimpin Castro. Mempersiapkan invasi ke Kuba yang dikenal sebagai invasi Bay of Pigs dan memutus hubungan diplomatik dengan Kuba pada Januari 1961.

-- John F. Kennedy (Demokrat, 1961-1963): Memberikan lampu hijau untuk invasi Bay of Pigs, Kuba pada April 1961. Menetapkan embargo AS pada Februari 1962 sebelum krisis rudal Kuba terjadi pada Oktober 1962, yang hampir membuat dunia mengalami perang nuklir.

-- Lyndon Johnson (Demokrat, 1963-1969): Memperkuat embargo dan mencoba mencegah penjualan nikel Kuba ke negara-negara blok Uni Soviet. Menyetujui plot CIA untuk membunuh Castro dan mendukung kelompok-kelompok gerilya anti-Castro.

-- Richard Nixon (Republikan, 1969-1974): Meningkatkan aktivitas anti-Castro, termasuk penangkapan para nelayan Kuba. Juga berupaya mencegah penjualan nikel Kuba ke negara-negara blok Uni Soviet.

-- Gerald Ford (Republikan, 1974-1977): Menjabat di saat serangan-serangan terhadap misi-misi diplomatik Kuba di luar negeri meningkat dan serangan terhadap sebuah pesawat Kuba yang menewaskan 73 orang. Mengizinkan kunjungan pertama para pebisnis AS ke Kuba dan meringankan embargo.

-- Jimmy Carter (Demokrat, 1977-1981): Makin mengurangi embargo terhadap Kuba. Membuka sebuah bagian kepentingan AS di Havana dan mengizinkan sebuah bagian kepentingan Kuba dibuka di Washington. Memungkinkan warga Kuba di pengasingan bepergian ke tanah air mereka. Menandatangani traktat perbatasan maritim. Berkunjung ke Kuba sebagai mantan presiden AS pada tahun 2002 dan 2011.

-- Ronald Reagan (Republican, 1981-1989): Hubungan kedua negara kembali memburuk. Terbentuknya Yayasan Nasional Kuba-Amerika, organisasi pengasingan utama bagi warga Kuba, dan berdirinya Radio dan TV Marti yang anti-Castro. Perjanjian imigrasi pertama kalinya diteken pada tahun 1984.

-- George H. W. Bush (Republikan, 1989-1993): Memperketat kembali embargo dengan UU Torricelli Act, seiring runtuhnya blok Uni Soviet. Anak-anak perusahaan AS di negara-negara ketiga dilarang berbisnis dengan Kuba.

-- Bill Clinton (Demokrat, 1993-2001): Memberlakukan UU Torricelli Act dan menyetujui UU Helms-Burton Act, yang kembali memperketat embargo. Pada tahun 1994, sekitar 36 ribu warga Kuba kabur ke AS dengan menggunakan perahu-perahu darurat dan rakit. Perjanjian imigrasi baru diteken dan Clinton mendukung para aktivis anti-Castro.

-- George W. Bush (Republikan, 2001-2009): Meningkatkan bantuan finansial untuk kelompok-kelompok anti-Castro dan kembali meningkatkan embargo. Membatasi perjalanan ke Kuba oleh warga Kuba yang mengasingkan diri ke AS dan membatasi jumlah uang yang bisa mereka kirimkan ke keluarga di Kuba. Menyetujui perdagangan makanan dengan beberapa batasan. Adik Castro, Raul secara resmi memimpin Kuba semasa pemerintahan Bush.

-- Barack Obama (Demokrat, 2009-sekarang): Mencabut batasan-batasan perjalanan dan jumlah uang yang bisa dikirimkan oleh warga Kuba ke keluarga mereka. Pada Desember 2014, Obama dan Raul Castro mengumumkan bahwa kedua negara akan menormalisasi hubungan. Kedua negara membuka kembali kedutaan besar mereka pada Juli 2015. Obama pun melakukan lawatan bersejarah ke Kuba pada Maret 2016, pertama kalinya seorang presiden AS yang masih menjabat, berkunjung ke Kuba sejak tahun 1928. [yy/news.detik]

Marxisme Castro Adalah 'Produk' Gagal Washington

Marxisme Castro Adalah 'Produk' Gagal Washington


Marxisme Castro Adalah 'Produk' Gagal Washington


Fiqhislam.com - Fidel Castro, pemimpin revolusi Kuba dan tokoh sosialis terbesar di Amerika Latin, tutup usia pada Sabtu, 26 November 2016. Kepergian tokoh besar dalam sejarah dunia itu memunculkan tak sedikit kisah kilas balik perjalanannya menjadi sosok yang tak ada duanya.

Castro dapat dikenang sebagai tokoh anti-imperialisme, kemanusiaan, antiglobalisasi, revolusioner dan bahkan diktator. Tapi menilik sepak terjangnya di panggung politik, Castro adalah produk dari kegagalan politik luar negeri Amerika Serikat.

Klaim ini tak berlebihan mengingat Castro bukanlah seorang Marxist-Leninis sejati, sebagaimana dikira oleh Washington. Castro juga bukan semata-mata boneka Uni Soviet. Anggapan yang salah inilah yang justru membuat Amerika Serikat keliru mengambil kebijakan.

Kekeliruan --yang nampak dalam insiden invasi Teluk Babi, percobaan pembunuhan, dan embargo gula-- tersebut membantu kelahiran Castro yang dunia kenal sekarang, seorang Marxist-Leninis nanggung yang bertindak pragmatis sesuai situasi.

Kekhawatiran Amerika Serikat terhadap Castro sekilas memang bisa dipahami. Lahir dari perselingkuhan seorang tuan tanah di Havana dengan pembantunya 90 tahun lalu, karakter pembangkang mengalir deras dalam darah Castro.

Castro menghina bapak kandungnya sendiri sebagai bagian dari kelompok borjuasi yang eksploitatif terhadap kaum miskin.

Darah pembangkangan itu kemudian menurun ke anak perempuannya, Alina Fernandez, yang juga lahir dari perselingkuhan Castro dengan Natalia Revuelta. Alina berkhianat terhadap Castro dengan lari ke Amerika Serikat dan menyebut bapaknya sebagai "despot".

Ketakutan berlebihan Amerika Serikat terhadap Castro diperparah oleh situasi gawat Perang Dingin tahun 1950an. Jika jatuh menjadi negara komunis dengan ideologi Leninis a la Uni Soviet, Kuba akan menjadi ancaman mengingat lokasi geografis yang berdekatan --bisa ditempuh hanya dalam satu jam penerbangan atau setara dengan jarak Jakarta-Yogyakarta.

Semua anasir-anasir yang dekat dengan Uni Soviet di Amerika Latin akan segera dihabisi dengan sponsor agen-agen intelejen CIA kiriman Washington. Lihat saja insiden kudeta berdarah terhadap mantan pemimpin sosialis Cili, Salvador Allende.

Namun dalam kasus Castro, Amerika Serikat salah menilai situasi. Setelah memimpin revolusi dengan menggulingkan pemerintahan diktator Fulgencio Batista pada tahun 1959, tidak ada yang tahu ke mana arah politik Kuba di bawah Castro.


Harian The New York Times melaporkan bahwa niat awal Castro adalah mengembalikan demokrasi kepada rakyat Kuba, setelah tujuh tahun direnggut oleh otoritarianisme Batista. Pada masa revolusi dia tidak pernah mengucapkan slogan Marxisme ataupun Leninisme meski telah menjalin persahabatan bertahun-tahun dengan tokoh sosialis Che Guevara.

Salah Langkah Amerika Serikat pun tidak curiga Castro akan mendekat ke Uni Soviet. Tapi tetap saja Washington salah langkah dalam menanggapi kepemimpinan Castro di Kuba.

Salah langkah Washington yang pertama terjadi saat mereka merespon hukuman mati terhadap 500 pendukung Batista oleh pemerintahan Castro. Presiden Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower pada saat itu memotong kuota impor gula dari Kuba sebagai hukuman atas tindakan yang dinilai melanggar hak asasi manusia itu.

Saat itulah Castro mulai berkenalan dengan Uni Soviet yang dengan cepat membaca situasi dengan membeli sebagian besar ekspor unggulan Kuba seperti gula. Dari sinilah Havana mulai mendekat ke Moskow.

Kesalahan pertama kemudian diperparah dengan kesalahan kedua. Pada tahun 1961, Presiden John F. Kennedy menyetujui bantuan senjata kepada 1.500an pelarian asal Kuba di Florida yang ingin memberontak kepada Castro.

Mereka kemudian diberangkatkan ke Teluk Babi, daerah timur Kuba, pada pertengahan April untuk memulai upaya penggulingan terhadap Castro. Sang pemimpin yang sudah mengetahui rencana tersebut sudah siap menunggu sehingga perlawanan hanya bertahan selama tiga hari.

Hubungan kedua negara kemudian jatuh ke titik nadir. Amerika Serikat pada tahun yang sama memutus hubungan diplomatik dengan Kuba. Sejak saat itu Washington semakin keras terhadap Havana dengan menerapkan embargo di hampir semua produk perdagangan kecuali makanan dan obat-obatan.

Selain itu, kabarnya dokumen resmi hasil investigasi parlemen Amerika Serikat menunjukkan persekongkolan para petinggi negara itu untuk melenyapkan Castro dengan segala cara.

Tidak heran jika kemudian Castro kemudian menjadi salah satu tokoh dunia yang paling keras menentang "imperialisme Amerika Serikat." Tidak heran pula jika pada tahun yang sama Fidel Castro mengeluarkan pernyataan kesetiaan terhadap sebuah ideologi yang mendekatkan Kuba ke Uni Soviet.

"Saya adalah seorang Marxist-Leninis," kata Castro pada 1961, dua tahun setelah memimpin revolusi Kuba. Setelah Amerika Serikat merencanakan invasi di Teluk Babi, memberlakukan embargo, serta membangun persekutuan upaya pembunuhan.

Padahal sebagaimana nampak dalam kebijakan-kebijakan yang dia ambil selama hampir 50 tahun berkuasa, Castro bukanlah pengiman ideologi Marxist-Leninis yang taat. Dia juga tidak sepenuhnya despot anti-demokrasi sebagaimana yang dituduhkan anak perempuannya sendiri.

Dalam hal demokrasi, Castro berhasil meruntuhkan segregasi sosial antara para pendatang kulit putih asal Spanyol dengan keturunan budak asal Afrika. Kota Havana kini menjadi lebih lebih berwarna setelah Castro mengundang para penduduk desa berkulit hitam untuk hijrah ke kota.

Dalam hal ekonomi, Castro mengizinkan sejumlah petani dan pemilik restoran untuk menjual produk serta makanan mereka dengan harga pasar di luar mekanisme subsidi negara. Dia membiarkan modal asing dari Spanyol dan Kanada untuk masuk membangun hotel dan perumahan elit bagi pelancong demi meningkatkan pemasukan negara dari sektor pariwisata.

Castro juga menutup mata terhadap warganya yang menyimpan mata uang dolar AS yang sangat dia benci saat Kuba kehilangan sekutu dagang utama usai Uni Soviet bubar tahun 1990.

Kebijakan-kebijakan ekonomi itu tidak mungkin dilakukan oleh tokoh yang mengaku diri penganut Marxisme-Leninisme, sebuah ideologi yang mengharuskan perencanaan ekonomi terpusat dan anti-pasar.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa Castro adalah seorang pemimpin pragmatis, bukan ideolog berkepala batu.

Pada level politik internasional, Castro belajar dari pengalaman kudeta Allende di Cili dan sanksi dunia terhadap Iran usai revolusi. Castro sadar bahwa permusuhan dengan Amerika Serikat harus dibarengi dengan membangun persahabatan bersama negara-negara lain.


Mungkin itu sebabnya Castro menggagas diplomasi kesehatan yang sangat mengagumkan itu. Ini adalah diplomasi halus yang membuat Amerika Serikat gagal membangun koalisi internasional untuk menjatuhkan sanksi kepada Kuba.

Dari awal berkuasa sampai akhir kekuasaan tahun 2008, Castro telah mengirim hampir 70.000 pekerja kesehatan ke negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin--termasuk ke Banda Aceh saat terkena tsunami.

Para dokter, perawat, dan teknisi kesehatan itu datang ke medan perang, tempat bencana, dan pusat wabah penyakit untuk merawat para korban dengan biaya murah. Kebijakan ini kemudian diteruskan oleh penggantinya, Raul Castro, yang mengirim ratusan dokter ke kawasan Afrika Tengah saat virus Ebola mewabah dua tahun lalu.

Kuba tanpa diplomasi kesehatan mungkin sudah bernasib sama dengan Iran yang harus menanggung sanksi-sanksi ekonomi dari hampir semua negara besar. Tapi nyatanya, Uni Eropa dan Kanada masih mau berdagang dengan Havana meski Washington sudah berbusa-busa menyerukan embargo internasional.

Diplomasi kesehatan dan kebijakan soal ekonomi Castro sebenarnya menunjukkan bahwa anggapan Amerika Serikat soal tokoh Kuba tersebut salah. Jika saja Washington tidak ceroboh, mungkin sejarah akan sampai pada titik yang berbeda dan Castro tidak akan membebek pada Uni Soviet.

Kesalahan-kesalahan strategi Amerika Serikat itulah yang nampaknya sudah disadari oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat mengembalikan hubungan diplomatik dengan Kuba pada tahun lalu. Mungkin dia sadar persahabatan dengan negara tetangga lebih produktif dibanding permusuhan.

Tapi kemenangan Donald Trump sebagai pengganti Obama memunculkan pertanyaan lain. Tokoh ini pernah menyebut negara-negara tetangga sengaja mengirim imigran pemerkosa dan pengedar narkoba untuk menghancurkan Amerika Serikat.

Dalam skala kecil mungkin tuduhan Trump memang ada benarnya jika klaim yang menyebutkan Castro mengirimkan ribuan tahanan bersama warga yang ingin mengungsi ke AS saat peristiwa "Mariel boatlift" terbukti.

Insiden itu tentu saja adalah persoalan sejarah yang seharusnya sudah selesai di meja perundingan saat Obama memulai kembali hubungan diplomatik dengan Kuba. Tapi jika Trump kembali mengungkit sejarah tersebut untuk mengalihkan perhatian publik Amerika Serikat, bukan tidak mungkin hubungan Washington dan Havana kembali ke titik semula. [yy/tempo]

Fidel Castro 638 Kali Dicoba Dibunuh CIA

Fidel Castro 638 Kali Dicoba Dibunuh CIA


Fidel Castro 638 Kali Dicoba Dibunuh CIA


Fiqhislam.com - Bekas Presiden Kuba, Fidel Casto, telah meninggal hari Jumat malam waktu Havana dan telah diumumkan oleh Presiden Kuba Raul Castro, hari ini (26/11/2016). Semasa hidupnya, Fidel Castro pernah dicoba dibunuh oleh CIA Amerika Serikat (AS) hingga 638 kali, tapi selalu gagal.

Salah satu pembunuhan oleh Central Intelligence Agency (CIA) terhadap Castro yang paling terkenal adalah ketika pil beracun dimasukkan ke minuman susu coklatnya pada tahun 1963. Selain itu, rokok cerutu Castro pernah disisipi bahan peledak.

Kisah itu pernah diterbitkan Reuters pada tahun 2007, dan kini diulas kembali sejumlah media internasional bertepatan dengan meninggalnya mantan pemimpin komunis Kuba ini.

Upaya meracuni Castro itu terjadi di tempat persembunyiannya di sebuah kantin di Havana Libre Hotel. ”Saat itu, yang paling dekat adalah CIA harus membunuh Fidel,” kata pensiun pejabat keamanan Kuba, Fabian Escalante kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Menurutnya, Castro yang merebut kekuasaan dalam revolusi 1959 telah mengubah Kuba menjadi negara komunis. Escalante mengatakan, Castro selamat dari ratusan upaya pembunuhan oleh musuh-musuhnya, termasuk penyergapan mobil untuk serangan granat di stadion bisbol.

Jubah palsu berisi belati gagasan CIA, kata Escalante, juga pernah jadi upaya untuk membunuh Castro.

Escalante melanjutkan, bahan peledak pernah dimasukkan ke rokok cerutu Castro di lokasi pemancingan ikan favoritnya di Kuba. Upaya itu pun gagal.

Kemudian pada tahun 1960, CIA berupaya menyelipkan bubuk kimia di sepatu Castro. Bubuk kimia itu akan menyebabkan jenggotnya rontok ketika dia berada di New York untuk berbicara di sidang PBB. Tapi, upaya CIA itu juga gagal.

Ketika rencana dengan bubuk kimia itu gagal, CIA merencanakan untuk memasukkan kembali zat narkotika jenis LSD ke rokok cerutu Castro. Tujuannya, agar Castro tertawa terbahak-bahak saat wawancara di stasiun televisi. Upaya CIA ini pernah didokumentasikan Escalante dalam sebuah buku berisi 167 plot melawan Castro.

CIA pada pekan lalu untuk pertama kalinya mengakui adanya plot untuk membunuh Castro secara pribadi yang disetujui oleh direktur CIA saat itu Kennedy Allen Dulles. [yy/sindonews]

 

Tags: Fidel | Castro | kuba