15 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 18 Januari 2022

basmalah.png

BERITA INTERNASIONAL

Inggris tak Mau Minta Maaf kepada Rakyat Palestina || Deklarasi Balfour, 'Rahimnya' Negara Israel

Inggris tak Mau Minta Maaf kepada Rakyat Palestina


Inggris tak Mau Minta Maaf kepada Rakyat Palestina


Fiqhislam.com - Aktivis Palestina mendesak Pemerintah Inggris minta maaf kepada rakyat Palestina karena membuat Deklarasi Balfour yang menjanjikan tanah Palestina bagi orang-orang Yahudi hampir seabad lalu. Kelompok pendukung Palestina, para aktivis Palestina, dan para pendukungnya menyalahkan Pemerintah Inggris yang menjanjikan tanah Palestina bagi pendirian negara Israel yang menimbulkan penderitaan bagi rakyat Palestina hingga saat ini.

Juru Bicara Kantor Urusan Luar Negeri Inggris mengatakan, Deklarasi Balfour merupakan masalah yang sangat sensitif. "Namun Pemerintah Inggris tak akan meminta maaf mengenai hal itu," katanya, Rabu, (2/11).

Deklarasi Balfour, ujar dia, merupakan pernyataan bersejarah yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris. Namun, dengan tegas Pemerintah Inggris tak akan pernah meminta maaf mengenai hal itu.

"Saat ini Pemerintah Inggris daripada minta maaf lebih baik fokus saja pada upaya perdamaian antara Palestina dan Israel. Kami tahu sensitivitas Deklarasi Balfour dan kami akan memperingati hal itu," katanya seperti dilansir Aljazeera.

Posisi Inggris, terang dia, sejak dulu sudah jelas. "Kami mendukung pendudukan Israel untuk membangung negara Israel di samping negara Palestina," ujarnya. Batas-batas negara antara Palestina dan Israel yang diakui Inggris adalah batas-batas negara yang ditetapkan pada 1967. [yy/republika]

Inggris tak Mau Minta Maaf kepada Rakyat Palestina


Inggris tak Mau Minta Maaf kepada Rakyat Palestina


Fiqhislam.com - Aktivis Palestina mendesak Pemerintah Inggris minta maaf kepada rakyat Palestina karena membuat Deklarasi Balfour yang menjanjikan tanah Palestina bagi orang-orang Yahudi hampir seabad lalu. Kelompok pendukung Palestina, para aktivis Palestina, dan para pendukungnya menyalahkan Pemerintah Inggris yang menjanjikan tanah Palestina bagi pendirian negara Israel yang menimbulkan penderitaan bagi rakyat Palestina hingga saat ini.

Juru Bicara Kantor Urusan Luar Negeri Inggris mengatakan, Deklarasi Balfour merupakan masalah yang sangat sensitif. "Namun Pemerintah Inggris tak akan meminta maaf mengenai hal itu," katanya, Rabu, (2/11).

Deklarasi Balfour, ujar dia, merupakan pernyataan bersejarah yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris. Namun, dengan tegas Pemerintah Inggris tak akan pernah meminta maaf mengenai hal itu.

"Saat ini Pemerintah Inggris daripada minta maaf lebih baik fokus saja pada upaya perdamaian antara Palestina dan Israel. Kami tahu sensitivitas Deklarasi Balfour dan kami akan memperingati hal itu," katanya seperti dilansir Aljazeera.

Posisi Inggris, terang dia, sejak dulu sudah jelas. "Kami mendukung pendudukan Israel untuk membangung negara Israel di samping negara Palestina," ujarnya. Batas-batas negara antara Palestina dan Israel yang diakui Inggris adalah batas-batas negara yang ditetapkan pada 1967. [yy/republika]

Petisi Desak Inggris Minta Maaf kepada Rakyat Palestina

Petisi Desak Inggris Minta Maaf kepada Rakyat Palestina


Petisi Desak Inggris Minta Maaf kepada Rakyat Palestina


Fiqhislam.com - Aktivis Palestina mendesak Pemerintah Inggris minta maaf kepada rakyat Palestina karena membuat Deklarasi Balfour yang menjanjikan tanah Palestina bagi orang-orang Yahudi hampir seabad lalu.

Kelompok pendukung Palestina, para aktivis Palestina, dan para pendukungnya menyalahkan Pemerintah Inggris yang menjanjikan tanah Palestina bagi pendirian negara Israel. Jika petisi yang isinya mendesak Pemerintah Inggris meminta maaf mencapai 100 ribu tanda tangan, maka Parlemen Inggris akan membahas hal itu.

Anggota Parlemen Inggris Jenny Tonge mengatakan, para pendukung Palestina akan terus mendesak. "Saya yakin akan ada orang-orang yang mengangkat isu ini sepanjang tahun ini hingga tahun depan," katanya, Rabu (2/11).

Para aktivis Palestina yang didukung oleh misi diplomatik Palestina di Inggris mendorong Pemerintah Inggris meminta maaf. Peringatan Deklarasi Balfour akan dilaksanakan pada November 2017.


Pada 1917, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour mengirim surat kepada Kepala Federasi Zionis Inggris Lord Rothschild yang menyatakan Inggris mendukung penuh pendirian negara bagi orang-orang Yahudi di tanah Palestina. Atas dasar inilah maka Israel didirikan di tanah Palestina. 

Setelah Deklarasi Balfour dibuat, Kekaisaran Turki mengalami kekalahan dalam Perang Dunia I. Kemudian Inggris mewujudkan Deklarasi Balfour.

Kepala Palestinian Return Center (PRC) Majed al Zeer mengatakan Deklarasi Balfour merupakan deklarasi yang membuat rakyat Palestina menderita sejak seabad lalu. "Inggris berperan besar dalam penggusuran dan pengusiran rakyat Palestina yang terlunta-lunta hingga hari ini," katanya seperti dilansir Aljazirah.

Penulis Inggris keturunan Palestina, Karl Sabbagh mengatakan, Deklarasi Balfour hanya salah satu perjanjian yang dibuat oleh Inggris dengan Zionis dan menimbulkan konflik antara Yahudi dengan bangsa Arab.

Sebenarnya, ujar dia, jika Pemerintah Inggris mau mengakui peran mereka dalam pengusiran rakyat Palestina untuk memberikan negara bagi orang-orang Yahudi maka berarti Inggris mau bertanggung jawab atas peran mereka di masa lalu. Dengan mengakui kesalahan Pemerintah Inggris di masa lalu maka bisa ditemukan solusi bagi konflik Israel-Palestina.

"Dengan mengakui ketidakadilan yang mereka lakukan dulu maka Inggris sama saja sudah mau ikut bertanggung jawab atas kesalahan masa lalunya. Ini lebih baik daripada Pemerintah Inggris terus berkoar-koar mengenai solusi damai Israel-Palestina yang sesungguhnya telah mati sejak dulu," kata Sabbagh. [yy/republika]

Deklarasi Balfour, 'Rahimnya' Negara Israel

Deklarasi Balfour, 'Rahimnya' Negara Israel


Deklarasi Balfour, 'Rahimnya' Negara Israel


Fiqhislam.com - Pada 99 tahun silam, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Arthur James Balfour, memberi jalan bagi pendirian negara Yahudi. Ia pun mencanangkan Deklarasi Balfour yang memutuskan bahwa negara Yahudi ada di Palestina. Nama deklarasi ini diambil dari nama belakang sang menlu, sekaligus 'rahim' terbentuknya negara Israel pada 1948.

Deklarasi ini pula yang akhirnya menjadi pangkal konflik di Timur Tengah hingga sekarang.

Tapi anehnya, Balfour sendiri adalah seorang anti-Semit yang dikenal sebagai menteri luar negeri yang justru mendukung dan mendorong disahkannya Undang-Undang 1905 yang berusaha untuk mengekang Eropa Timur, khususnya Yahudi, berimigrasi ke Inggris.

Menurut laman History, saat itu pemerintah Inggris berharap bahwa pencanangan deklarasi ini secara resmi bakal meraup dukungan banyak warga Yahudi bagi kampanye Tentara Sekutu di Perang Dunia I dalam melawan Jerman.

Sebelum Deklarasi Balfour, satu tahun sebelumnya atau pada 1916, Inggris mencapai kesepakatan rahasia dengan Prancis dalam sebuah perjanjian bernama 'Sykes-Picot'.

Perjanjian itu menyepakati pembagian Timur Tengah dalam pengaruh Sekutu. Deklarasi Balfour disertakan dalam mandat Inggris atas wilayah Palestina, yang disetujui Liga Bangsa Bangsa pada 1922.

Tentangan dari bangsa-bangsa Arab dan gagalnya mendapat kompromi dari mereka membuat Inggris menunda keputusan atas masa depan Palestina.

Bersamaan dengan itu pecah pula Perang Dunia II, yang mengungkap pembantaian warga Yahudi di Eropa (Holocaust).

Ini menjadi momentum bagi orang-orang Yahudi untuk mendesak pembentukan negara Israel di Timur Tengah, yang dikenal sebagai Zionisme, gerakan yang dikumandangkan oleh Theodore Hertzel. [yy/viva]

 

Tags: palestina | balfour