14 Safar 1443  |  Rabu 22 September 2021

basmalah.png

Anak-Anak Pengungsi Calais Rentan Jadi Korban Perdagangan Manusia

Prancis Mulai Kosongkan Calais


Prancis Mulai Kosongkan Calais


Fiqhislam.com - Prancis mengatakan, penutupan kamp di Calais perlu dilakukan atas alasan kemanusiaan. Rencananya, sebanyak 6.500 migran, korban perang dan kemiskinan di daerah asal mereka yang selama ini menetap di sana direlokasi secara tersebar di 450 pusat pengungsian negara itu.

Nantinya, para migran diberi kesempatan untuk mencari suaka. Namun, jika tidak berhasil, maka mereka dapat menghadapi kemungkinan deportasi.

"Saya berharap rencana ini berhasil. Saya hidup sendiri dan ingin pergi untuk belajar, tidak peduli di mana pun itu," ujar salah seorang pengungsi dari Guinea, wilayah Afrika Barat, Amadou Diallo.

Banyak dari para migran di Calais berasal dari Timur Tengah, seperti Afghanistan dan Suriah. Beberapa juga diketahui berasal dari wilayah Afrika seperti Eritrea, Somalia, Nigeria, dan Gambia. Mayoritas dari pengungsi diketahui bertujuan pergi ke Inggris untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
 
Protes dan bentrokan

Sebagai protes atas rencana pengosongan kamp, beberapa kelompok migran membakar blok-blok toilet di area kamp. Selain itu, mereka juga melemparkan batu ke arah petugas keamanan.

Bentrokan sebelumnya juga sempat terjadi sepanjang akhir pekan. Selama ini, kamp dihuni oleh para pengungsi dalam kondisi kumuh. Banyak penduduk setempat yang memprotes adanya tempat pengungsian di Calais.

Bahkan, saat proses penggusuran kamp dilakukan, nasib dari sekitar 1.300 anak migran tanpa pendamping masih belum jelas. Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan, negosiasi lebih lanjut atas siapa yang dapat menampung dan merawat mereka tanpa ikatan keluarga tengah dilakukan di Inggris.

Prancis telah berupaya menahan arus masuknya migran. Pada tahun lalu, sebanyak 1 juta orang dikabarkan datang ke Eropa karena melarikan diri dari Suriah.  

Calais digambarkan sebagai bagian dari dampak krisis pengungsi di Eropa. Pada Maret, Uni Eropa mencapai kesepakatan dengan Turki untuk menghentikan masuknya migran yang mencapai daratan benua itu dengan menyeberang ke Yunani.

Banyak dari pengungsi di Calais yang menolak rencana pengosongan kamp karena tetap berkeras menuju Inggris. Meski demikian, hanya anak-anak tanpa pendamping yang hingga kini dipastikan dapat diterima di negara itu.

Para migran telah ditempatkan dalam antrean yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk memastikan siapa saja yang bersama dengan keluarga, sendiri, atau mereka yang masuk dalam kategori rentan, yaitu orang tua dan perempuan lajang. Penghancuran kamp dijadwalkan dapat berlangsung pada Selasa (25/10).

Nantinya, para migran dari kamp Calais akan menaiki bus menuju pusat penerimaan Prancis. Di sana, mereka akan menjalani pemeriksaan medis.

Para pejabat berwenang Prancis mengatakan tidak akan melakukan tindakan kekerasan apa pun. Namun, hal ini harus dipertimbangkan jika ada pengungsi yang tetap menolak untuk meninggalkan kamp maupun lembaga sosial masyarakat atau aktivis. "Polisi mungkin dapat ikut campur tangan," ujar pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Prancis, dilansir BBC.

Kamp yang juga disebut sebagai "hutan" itu tepatnya terletak di dekat Pelabuhan Calais. Lokasi ini juga berdekatan sekitar 31 mil dengan sebuah terowongan bawah tanah.

Banyak dari migran yang diduga akan mencoba menyembunyikan diri dalam kendaraan kargo. Mereka kemudian berada di dalam terowongan bawah tanah atau pergi ke wilayah-wilayah sekitar Calais, menunggu untuk dapat kembali ke area kamp.

Selama pembongkaran kamp dilakukan, bukan hal tidak mungkin beberapa pengungsi kembali datang dan mencegah petugas dengan aksi protes. Bentrokan diprediksi dapat terus terjadi. [yy/republika]

Tags: calais | pengungsi | migran