5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Hillary Clinton Menangkan Debat

Hillary Clinton Menangkan Debat


Fiqhislam.com - Pertarungan debat terakhir pemilu presiden AS telah berakhir, Kamis (20/10). Kedua kandidat Republik dan Demokrat terlihat agresif dan emosional. Keduanya saling menyerang juga mengungkit-ungkit kesalahan masing-masing.

Tidak jarang keduanya saling menginterupsi dan bersikukuh dengan argumennya di waktu bersamaan. Perdebatan mengulas soal sejumlah isu-isu terhangat seperti imigrasi, terorisme, masalah perempuan, pajak dan masalah lain yang menjerat masing-masing kandidat.

Jajak pendapat yang dilakukan CNN/ORC pascadebat menyebutkan 52 persen partisipan mengatakan Clinton menang debat. Sementara 39 persen mengatakan Trump yang menang.

Sejumlah isu yang menjadi perbincangan panas di awal debat adalah soal pajak dan yayasan milik masing-masing kandidat. Trump menuduh Clinton memberikan perlakukan khusus pada orang yang memberi donasi pada Clinton Foundation.


Trump juga mengatakan orang-orang di Wall Street 'membayarnya' dengan uang yang banyak untuk mendapat perlindungan. "Ini adalah lembaga kriminal," kata Trump.

Clinton membela diri, lembaganya itu telah memberikan bantuan pada sejumlah program di dunia dan di AS sendiri, seperti memberi bantuan pada korban bencana di Haiti. Ia juga membandingkan lembaganya dengan Trump Foundation yang menurutnya digunakan untuk membeli kapal dan pesawat. Trump langsung menyangkalnya selagi Clinton masih bicara.

Clinton juga menyerangnya dengan fakta Trump satu-satunya kandidat pilpres AS yang tidak mau mempublikasikan laporan pajaknya. Dalam kesempatan ini pun Trump membersihkan citranya yang dinilai suka melecehkan perempuan.

"Tidak ada yang menghormati perempuan seperti yang saya lakukan," kata dia.

Lebih jauh ia terus menekan kekacauan di Suriah dan Irak adalah berkat keputusan yang salah dari Clinton semasa jadi Menlu. Trump berkata Aleppo sangat buruk sekarang karena invasi AS.

Sejauh ini, jajak pendapat nasional sepakat Clinton memenangkan debat itu dibanding Trump. Meski demikian, debat ketiga ini juga memberi gambaran perbedaan kebijakan juga gaya antara kedua kandidat. [yy/republika]

Hillary Clinton Menangkan Debat


Fiqhislam.com - Pertarungan debat terakhir pemilu presiden AS telah berakhir, Kamis (20/10). Kedua kandidat Republik dan Demokrat terlihat agresif dan emosional. Keduanya saling menyerang juga mengungkit-ungkit kesalahan masing-masing.

Tidak jarang keduanya saling menginterupsi dan bersikukuh dengan argumennya di waktu bersamaan. Perdebatan mengulas soal sejumlah isu-isu terhangat seperti imigrasi, terorisme, masalah perempuan, pajak dan masalah lain yang menjerat masing-masing kandidat.

Jajak pendapat yang dilakukan CNN/ORC pascadebat menyebutkan 52 persen partisipan mengatakan Clinton menang debat. Sementara 39 persen mengatakan Trump yang menang.

Sejumlah isu yang menjadi perbincangan panas di awal debat adalah soal pajak dan yayasan milik masing-masing kandidat. Trump menuduh Clinton memberikan perlakukan khusus pada orang yang memberi donasi pada Clinton Foundation.


Trump juga mengatakan orang-orang di Wall Street 'membayarnya' dengan uang yang banyak untuk mendapat perlindungan. "Ini adalah lembaga kriminal," kata Trump.

Clinton membela diri, lembaganya itu telah memberikan bantuan pada sejumlah program di dunia dan di AS sendiri, seperti memberi bantuan pada korban bencana di Haiti. Ia juga membandingkan lembaganya dengan Trump Foundation yang menurutnya digunakan untuk membeli kapal dan pesawat. Trump langsung menyangkalnya selagi Clinton masih bicara.

Clinton juga menyerangnya dengan fakta Trump satu-satunya kandidat pilpres AS yang tidak mau mempublikasikan laporan pajaknya. Dalam kesempatan ini pun Trump membersihkan citranya yang dinilai suka melecehkan perempuan.

"Tidak ada yang menghormati perempuan seperti yang saya lakukan," kata dia.

Lebih jauh ia terus menekan kekacauan di Suriah dan Irak adalah berkat keputusan yang salah dari Clinton semasa jadi Menlu. Trump berkata Aleppo sangat buruk sekarang karena invasi AS.

Sejauh ini, jajak pendapat nasional sepakat Clinton memenangkan debat itu dibanding Trump. Meski demikian, debat ketiga ini juga memberi gambaran perbedaan kebijakan juga gaya antara kedua kandidat. [yy/republika]

Operasi Anti-Hillary

Operasi Anti-Hillary


Operasi Anti-Hillary


Fiqhislam.com - Di mata warga Amerika Serikat, paling tidak menurut survei Pew Research Center beberapa bulan lalu, Hillary Rodham Clinton bukan tergolong orang yang dekat dengan gereja. Hampir separuh orang yang ditanya berpendapat Hillary bukanlah orang yang terlalu religius.

Bahkan Donald Trump, lawan politik Hillary, mempertanyakan apakah Hillary beragama. “Dalam soal agama, kita tak tahu apa pun soal Hillary,” kata Trump di muka para aktivis United in Purpose, dikutip CNN, pada Juni lalu. “Padahal dia sudah bertahun-tahun ada di depan mata publik.”

Entah memang tak tahu atau Trump pura-pura tak tahu, ada banyak berita soal keyakinan Hillary. Sebagai anggota jemaah Gereja First United Methodist, saat berkampanye di New Hampshire pada awal tahun lalu, Hillary menyitir sebagian ajaran yang dia yakini. “Kalian tahu, agama dan keluargaku mengajarkan kredo sederhana: buat kebaikan semampumu, mengikuti cara yang kamu bisa, dan untuk sebanyak-banyaknya orang yang kamu mampu,” kata Hillary. Sebelumnya, walaupun agak jarang bicara soal agama, mantan Menteri Luar Negeri Amerika itu juga berulang kali bicara soal kepercayaan dalam hidupnya. “Aku dibesarkan dengan doa, pada malam hari atau saat hendak makan.”

Hillary tak asal “jual kecap”. Sejak masih kecil, jauh sebelum urusan agama ini jadi soal politik, menurut Patrick Maney, penulis biografi Bill Clinton, Hillary memang dekat dengan agama. Adalah Don Jones, pendeta di Gereja Methodist di Park Ridge, yang jadi sumber inspirasi Hillary muda.

“Dialah yang mengajariku soal iman, juga pentingnya keadilan sosial dan hak asasi manusia,” kata Hillary, dikutip Chicago Sun Times. Pendeta Jones tak hanya berkhotbah di atas podium gereja. Dia juga mengajak “murid-murid”-nya terjun ke lapangan untuk melihat langsung masalah yang dihadapi banyak orang. “Dia membawa Hillary dan teman-temannya mengunjungi kampung-kampung kumuh di Chicago, bertemu dengan komunitas miskin kulit hitam dan keturunan Puerto Riko,” kata William Chafe, profesor sejarah di Universitas Duke.

Hillary memang tak pernah jauh dari gereja, bahkan masih selalu menyempatkan diri ke gereja di sela-sela bertumpuk-tumpuk kegiatannya. Tapi sebagian orang terus menyangsikan kepercayaannya. Survei bersama Washington Post-ABC beberapa bulan lalu menunjukkan lebih dari 73 persen jemaah Gereja Evangelis di Amerika punya pandangan buruk terhadap Hillary. Kebencian terhadap Hillary inilah yang jadi pertimbangan utama mereka menyokong Donald Trump.

Salah satu sumber kebencian itu adalah dukungan Hillary terhadap kelompok pro-choice dalam hal pengguguran janin. “Hillary seolah-olah bertanggung jawab atas setiap janin yang diaborsi,” kata Deborah Fike, mantan pemimpin Asosiasi Evangelis Nasional, kepada Washington Post. Deborah mundur dari asosiasi itu setelah terang-terangan menyampaikan dukungan kepada Hillary. Gara-gara keputusan itu, Deborah turut dimusuhi. “Mereka mengatakan aku telah mendukung putri setan dan tanganku turut berlumuran darah 60 juta janin yang diaborsi.”

Ada banyak alasan untuk tak suka kepada Hillary, entah mengada-ada atau memang punya dalih kuat. Puluhan tahun lalu, saat Hillary masih Ibu Gubernur Arkansas, Meredith Oakley menulis kolom di koran Arkansas Democrat Gazette.

Meredith menulis salah satu alasan mengapa warga Arkansas tak suka kepada Hillary. “Dia tak mencukur bulu kakinya.” Tak hanya menolak mencukur bulu-bulu di kaki, Hillary juga tidak mencukur bulu di ketiak dan tak memakai stoking ketika mengenakan rok. Satu hal yang dianggap tak lazim bagi perempuan Arkansas kala itu.

“Tak ada satu hal pun yang berbau feminin atau perempuan padanya,” ujar mantan sekretaris di Rose Law, kantor Hillary kala itu, dikutip David Brock dalam bukunya, The Seduction of Hillary Rodham. Bahkan selera makan Hillary juga jadi bahan pergunjingan para staf di kantornya. “Dia seperti tengah berdiet untuk selamanya…. Dia membawa satu kotak besar selada dan memakan itu sepanjang hari.”

Beberapa mantan pengawal Bill Clinton di Arkansas mengomel soal kecerewetan Hillary soal rokok dan sejumlah hal. “Dia selalu meneriaki kami salah arah saat kami mengantarnya ke satu acara…. Dia juga penentang berat rokok, dan sebagian besar kami merupakan perokok,” kata Larry Gleghorn, mantan pengawal Gubernur Bill Clinton, dikutip dalam buku David Brock.

David Brock, kala itu wartawan The American Spectator, merupakan salah satu tokoh kunci dalam Proyek Arkansas. Bermodal guyuran duit dari triliuner Richard Mellon Scaife, Brock bersama mantan polisi Rex Armistead dan sejumlah orang bayaran menggali segala cerita buruk soal Hillary dan Bill Clinton.

Ide untuk Proyek Arkansas ini, menurut R. Emmett Tyrrell Jr., redaktur The American Spectator, bermula dari obrolan antara politikus konservatif David Handerson dan teman-temannya pada 1993. Obrolan ringan untuk menjegal karier politik pasangan Clinton itu makin serius dan akhirnya “dijual” kepada Richard Mellon.

Kepada Washington Post bertahun-tahun kemudian, David Brock mengaku belakangan baru sadar bahwa mereka tak hanya mengungkap borok pasangan Clinton, tapi hal itu dimanfaatkan untuk menjegal karier politik mereka. Dalam buku keduanya, Blinded by the Right, Brock mengaku tak menemukan bukti ada yang “amis” pada pasangan Hillary-Bill Clinton.

Lewat majalah Esquire pada 1998, Brock minta maaf kepada pasangan Clinton. “Aku telah ikut berkonspirasi untuk menjatuhkan kalian,” Brock menulis. Menurut Brock, banyak cerita buruk soal Clinton yang dia dapat di Arkansas besar kemungkinan terlampau dibesar-besarkan oleh narasumbernya. “Aku tak bilang mereka telah berbohong, tapi besar kemungkinan cerita itu dilebih-lebihkan.”

Lantaran kelewat bersemangat mencari cerita buruk soal Clinton, menurut Brock, sikap kritisnya sebagai wartawan luntur, sehingga dia gampang termakan oleh cerita-cerita yang bombastis dari narasumber. Pengakuan Brock jadi bukti bahwa memang ada konspirasi untuk menjegal Hillary dan Bill Clinton.

“Aku punya otoritas untuk bicara soal konspirasi sayap kanan karena aku pernah menjadi bagian dari mereka,” kata Brock kepada Observer. Gara-gara pengakuan itu, Brock ditendang dari kantornya dan jadi musuh bagi kawan-kawan lamanya. Kehidupan pribadinya—dia seorang gay—dibocorkan ke sejumlah media. Brock dan pasangannya jadi bulan-bulanan. [yy/Sapto Pradityo/Luthfy Syahban/detik]

AS Negeri Para Imigran, Trump Saja 'Pakai' Mereka

AS Negeri Para Imigran, Trump Saja 'Pakai' Mereka


AS Negeri Para Imigran, Trump Saja 'Pakai' Mereka


Fiqhislam.com - Kandidat Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton, mengungkapkan bahwa negaranya merupakan negeri para imigran. Oleh karena itu, ia tidak setuju dengan ide Trump yang ingin mengusir seluruh imigran dari AS.

Meski begitu, ia sepakat kalau perbatasan harus diperkuat. "Saya kira lebih ditekankan pada penegakan hukum menyeluruh (massive law enforcement). Kita tidak bisa seenaknya mendeportasi mereka. Kita ini (AS) adalah negara para imigran dan mereka sudah berkontribusi untuk negara ini," ujar Hillary, dalam debat Capres AS ketiga di Las Vegas, Amerika Serikat, yang disiarkan di Kabar Khusus tvOne, Kamis pagi, 20 Oktober 2016.

Menurutnya, para imigran yang bersedia mengikuti Sistem Imigrasi AS dan berkontribusi untuk negara, maka mereka patut diapresiasi dengan diberi hak kewarganegaraan.

Tak hanya itu, mantan Menteri Luar Negeri AS ini menuding rivalnya, Donald Trump, yang diam-diam memakai jasa imigran ilegal untuk membangun Trump Tower lantaran murah.

"Kita jangan menutup mata. Bagi mereka (imigran) yang sudah berkontribusi pada negara harus dilindungi haknya. Tidak semua imigran seperti apa yang dikatakan Trump (merusak). Tapi, saya setuju kalau Amerika harus memperkuat perbatasan," terangnya.

Trump pernah bilang kalau ia akan berencana mendeportasi semua imigran ilegal yang jumlahnya mencapai 11 juta. Tak pelak, sikap Trump ini menimbulkan kritik dari kaum konservatif yang menginginkannya memenangkan “pertarungan” menuju Gedung Putih. [yy/viva]

Warga Sipil Harus Punya Izin Kepemilikan Senjata

Warga Sipil Harus Punya Izin Kepemilikan Senjata


Warga Sipil Harus Punya Izin Kepemilikan Senjata


Fiqhislam.com - Kandidat Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton, menegaskan kalau seluruh warga negaranya harus memiliki izin bila ingin punya senjata api. Hal ini untuk mencegah bertambahnya aksi 'koboi jalanan' yang kini masih terjadi.

"Setiap tahun, puluhan ribu warga kita mati sia-sia karena senjata. Mayoritas korbannya adalah anak-anak dan perempuan. Ini harus dihentikan," kata Hillary, dalam debat Capres AS ketiga di Las Vegas, Amerika Serikat, yang disiarkan di Kabar Khusus tvOne, Kamis pagi, 20 Oktober 2016.

Dalam konstitusi AS, Amandemen Kedua mengatur mengenai kepemilikan senjata api. Selama ini, Hillary mendorong adanya aturan ketat mengenai senjata api. Ia berniat menekan tingginya angka kematian akibat senjata api di Negeri Paman Sam.

Clinton menegaskan aturan senjata api bisa diterapkan tanpa mengganggu posisi Amandemen Kedua.

"Saya mendukung Amandemen Kedua. Saya memahami dan menghormati tradisi kepemilikan senjata api," ujar Clinton. "Namun tentu saja harus ada pengawasan yang memadai," ungkapnya.

Sementara, Donald Trump merespons ucapan Hillary dengan menuduhnya sebagai wanita yang marah dan tidak suka dengan Amandemen Kedua. Ia menilai aturan ketat tidak akan terlalu berpengaruh dan justru akan melukai Amandemen Kedua.

Trump memberikan contoh pada serangkaian kasus penembakan di Chicago, yang terjadi meski wilayah tersebut menerapkan salah satu aturan terketat mengenai senjata api. [yy/viva]

Aborsi Urusan Pribadi, Pemerintah Jangan Ikut Campur

Aborsi Urusan Pribadi, Pemerintah Jangan Ikut Campur


Aborsi Urusan Pribadi, Pemerintah Jangan Ikut Campur


Fiqhislam.com - Kandidat Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton, menekankan keterlibatan pemerintah dalam menekan aborsi.

Sebab, perempuan yang sudah mengandung selama sembilan bulan harusnya melahirkan dan merawat sang bayi, bukan mengaborsi.

"Ini fakta dan terjadi di Amerika. Anda harus bertemu sejumlah perempuan yang sudah melakukan aborsi di sini," kata Hillary, dalam debat Capres AS ketiga di Las Vegas, Amerika Serikat, yang disiarkan di Kabar Khusus tvOne, Kamis pagi, 20 Oktober 2016.

Sedangkan, Trump melihat maraknya praktik aborsi tergantung dengan peraturan negara bagian masing-masing.

Ia juga mengatakan kalau pemerintah tidak perlu mencampuri urusan pribadi, dan aborsi masuk ranah kehidupan pribadi.

"Jika itu terjadi, saya berpikir itu kembali ke masing-masing negara bagian. Saya rasa negara tak usahlah ikut campur. Itu urusan pribadi. Jika memang ingin dilakukan (aborsi), maka lakukanlah," ujar Trump. [yy/viva]

Heboh Seloroh Donald Trump

Heboh Seloroh Donald Trump


Heboh Seloroh Donald Trump


Fiqhislam.com - Dalam debat presiden ketiga dan yang terakhir, Trump mengatakan ia akan menunggu untuk memutuskan apakah hasil pemilu itu nanti sah atau tidak.

"Saya akan memberitahu anda pada saatnya nanti, saya akan membuat anda menunggu," kata Trump. Menanggapi hal itu, Clinton mengatakan dia "terkejut" dengan sikap Trump.

"Mari kita perjelas tentang apa yang dia katakan dan apa artinya: Ia merendahkan, dia berbicara merendahkan demokrasi kita dan saya tentu terkejut bahwa seseorang yang adalah calon presiden untuk satu dari dua partai besar kita akan mengambil posisi seperti itu," ujar Clinton.

Dia mengatakan Trump,seorang mantan bintang "reality show" televisi, di masa lalu juga mengeluhkan bahwa acaranya secara tidak adil tidak mendapat penghargaan Emmy televisi AS.

"Saya memang seharusnya mendapatkan (penghargaan) itu," kata Trump membalas.

Dalam perdebatan sengit yang lebih berpusat pada kebijakan daripada debat-debat sebelumnya, Trump menuduh kampanye Clinton mendalangi serangkaian tuduhan dari para perempuan, yang mengatakan Trump telah melakukan tindakan seksual yang tidak diinginkan.

Trump mengatakan semua cerita itu "benar-benar palsu" dan menunjuk Clinton berada di balik berbagai tuduhan asusila itu. Dia juga menyebut kampanye Clinton "busuk" dan berkata, "Tidak ada yang lebih menghormati perempuan daripada saya, tidak ada".

Clinton mengatakan para perempuan tersebut muncul ke publik setelah Trump mengatakan dalam debat kedua bahwa ia tidak pernah melakukan tindakan seksual yang tidak diinginkan pada perempuan.

Dalam video pada 2005, Trump terekam sedang membual tentang meraba-raba perempuan bertentangan dengan keinginan mereka.

"Donald berpikir bahwa meremehkan perempuan membuatnya lebih besar. Dia mengincar martabat mereka, harga diri merek, dan saya pikir tidak ada seorang wanita di mana pun yang tidak tahu seperti apa rasanya," kata Clinton, wanita pertama yang memenangkan nominasi dari partai politik besar di Amerika Serikat.

Dia juga menyebut kelompok minoritas lainnya yang menurut dia telah difitnah oleh Trump.

"Ini adalah sebuah pola. Sebuah pola perpecahan, dari sebuah visi yang sangat gelap dan dalam banyak hal berbahaya bagi negara kita, di mana ia (Trump) menghasut kekerasan, di mana ia memuji orang-orang yang mendorong dan menarik dan meninju dalam kampanyenya. Itu bukan Amerika," ujar Clinton.

Trump memasuki perdebatan berharap untuk membalikkan momentumnya yang memudar dalam pemilu yang hasil jajak pendapatnya makin menjauh darinya.

Pengusaha New York itu telah menyuarakan keprihatinan dengan mengklaim bahwa pemilu akan dicurangi untuk melawan dia. Trump mendesak pendukungnya untuk berpatroli ke tempat-tempat pemungutan suara di pusat kota untuk mencegah penipuan pemilih.

Kedua calon presiden yang bersaing itu melalui pembicaraan yang sulit tentang isu aborsi, hak kepemilikan senjata, dan imigrasi dalam debat selama 90 menit. Keduanya kadang-kadang bereaksi dengan marah.

Pada kesempatan itu, Clinton mengatakan dia akan menaikkan pajak terhadap orang-orang kaya untuk membantu mendanai program pensiun jaminan sosial pemerintah AS. Namun, dia menilai bahwa Trump mungkin mencoba untuk menemukan jalan keluar untuk tidak membayar pajak yang lebih tinggi.

Membalas sindiran Clinton itu, Trump berkata, "Benar-benar seorang wanita jahat". [yy/antaranews]

Pengakuan Trump tak Minta Maaf pada Istri Menjadi Blunder

Pengakuan Trump tak Minta Maaf pada Istri Menjadi Blunder


Pengakuan Trump tak Minta Maaf pada Istri Menjadi Blunder


Fiqhislam.com - Donald Trump menanggapi isu pelecehan seksual yang dituduhkan kepadanya, dalam debat ketiga yang berlangsung Rabu (19/10), malam. Sejumlah bukti menunjukkan ia telah melakukan pelecehan terhadap sembilan wanita sejak 2005.

Moderator acara, Chris Wallace, meminta kandidat Presiden AS dari Partai Republik itu untuk memberikan komentar. Trump mengakui, ia tidak pernah meminta maaf kepada istrinya terkait skandal tersebut.

Menurut Trump, para wanita yang menjadi korbannya justru memanfaatkan situasi untuk mencari ketenaran. Ia menuduh tim kampanye Hillary Clinton mengembangkan isu itu dan menuduh Presiden Barack Obama membayar pengunjuk rasa untuk menghasut.

"Saya percaya dia menggunakan orang-orang itu untuk maju. Ini kebohongan dan fiksi," ujar Trump, dikutip dari The Independent.

Trump kemudian mengatakan, tidak ada yang lebih menghormati perempuan dibandingkan dengan dirinya. Ia juga tidak akan meminta maaf kepada istrinya, Melania, karena tidak merasa bersalah. "Saya bahkan tidak meminta maaf kepada istri saya, yang duduk di sini, karena saya tidak melakukan apa-apa," kata dia.

Namun, pernyataan Trump tersebut menjadi blunder. Sebab, satu hari sebelumnya, Melania mengungkapkan, Trump meminta maaf kepadanya terkait bocoran audio pelecehan seksual. Menurut dia, kata-kata itu sangat tidak pantas diucapkan oleh Trump.

"Dan dia meminta maaf kepada saya. Saya menerima permintaan maafnya," kata Melania. [yy/republika]

 

Tags: hillary | trump