30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Pengerahan Tentara Turki Dikritik, Erdogan: PM Irak Menghina Saya

Pengerahan Tentara Turki Dikritik, Erdogan: PM Irak Menghina Saya


Fiqhislam.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan geram dengan kritikan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi soal kehadiran militer Turki di negara tersebut. Erdogan menyebut PM al-Abadi telah menghinanya dan memperingatkannya agar tahu batasan dalam mengkritik.

Turki yang merupakan negara NATO, berbagi perbatasan sepanjang 1.200 kilometer dengan Suriah dan Irak. Negara ini menghadapi ancaman militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) secara langsung dari kedua negara tersebut. Pada Agustus lalu, militer Turki memulai serbuan ke Suriah demi memukul mundur ISIS dan mencegah milisi Kurdi yang didukung koalisi Amerika Serikat (AS) untuk menyusup ke wilayahnya.

Dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Reuters, Rabu (12/10/2016), Erdogan menegaskan, Turki bisa melakukan operasi militer yang sama di Irak. Hal ini disampaikannya di tengah menguatnya harapan untuk bisa mengusir ISIS keluar dari kota Mosul, Irak bagian utara.

"Kami akan melakukan operasi di Irak, operasi yang juga akan digelar di Mosul segera, dengan perlakuan yang sama," tegas Erdogan dalam rapat dengan jajaran petinggi Turki di Istanbul.

"Turki tidak bisa turun tangan melawan ancaman yang ada di dekatnya? Kami tidak akan bisa menerima ini ... Kami tidak perlu izin untuk ini, dan kami tidak berencana untuk meminta izin," imbuhnya, merujuk pada operasi dan pengerahan militer Turki di Irak.

Posisi kuat Turki adalah mengerahkan tentaranya ke Irak, terutama di kamp Bashiqa yang ada di Irak bagian utara, untuk melatih milisi Sunni dan unit paramiliter Kurdi yang diinginkan Turki ikut serta dalam pertempuran merebut Mosul dari ISIS. Namun pemerintah Irak yang didominasi Syiah bersikeras agar pasukannya yang ada di garis depan dalam pertempuran merebut Mosul.

Dua pekan lalu, parlemen Turki sepakat untuk memperluas pengerahan militer ke Irak bagian utara untuk memerangi 'kelompok teroris', istilah yang merujuk pada militan Kurdi dan ISIS. Diperkirakan setidaknya ada 2 ribu tentara yang dikerahkan ke wilayah tersebut.


Keputusan itu dikecam keras oleh Irak. PM al-Abadi memperingatkan Turki akan risiko perang kawasan dengan pengerahan tanpa izin itu. Irak meminta rapat darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas isu ini. Kedua negara bahkan saling memanggil Duta Besar yang ada di wilayahnya untuk membahas isu ini.

"Perdana Menteri Irak telah menghina saya, pertama, tolong tahu batasan Anda. Irak memiliki sejumlah permintaan kepada kami terkait Bashiqa, dan sekarang mereka meminta kami pergi. Tapi tentara Turki tidak kehilangan pendirian demi mematuhi perintah Anda," tegas Erdogan.

Secara terpisah, AS menanggapi persoalan ini dengan menyatakan setiap kehadiran tentara asing di Irak seharusnya mendapat persetujuan pemerintah Irak dan harus berada di bawah naungan koalisi pimpinan AS dalam melawan ISIS. "Pasukan Turki yang dikerahkan ke Irak bukan bagian koalisi internasional dan situasi di Bashiqa ada persoalan yang harus diselesaikan pemerintah Irak dan Turki," ucap juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby. [yy/news.detik]

 

Tags: erdogan | turki | irak