30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Gudang Senjata Abu Sayyaf Dekat Markas Polisi Filipina || Empat WNI Sandera Abu Sayyaf Diserahkan ke Keluarga

Gudang Senjata Abu Sayyaf Dekat Markas Polisi Filipina


Gudang Senjata Abu Sayyaf Dekat Markas Polisi Filipina


Fiqhislam.com - Kepolisian Nasional Filipina menemukan gudang senjata pemasok kelompok bandit Abu Sayyaf senilai 6 juta peso atau sekitar Rp1,64 miliar, di Provinsi Sulu, Filipina Selatan.

Melansir situs Inquirer, Selasa, 27 September 2016, di dalam gudang senjata, polisi menyita kotak-kotak berisi peluncur granat M203, senapan serbu M14 dan M16, serta ribuan amunisi.

Kepala Kepolisian Nasional Filipina, Ronald 'Bato' Dela Rosa, mengatakan seluruh senjata ini dipasok oleh Unding Kenneth Isa, mantan calon Wakil Gubernur Sulu yang kalah dalam pemilu kepala daerah Mei lalu, bersama tiga kaki tangannya di Barangay (Desa) West Crame, San Juan City, Sulu, pada Sabtu lalu.

Ironisnya, lokasi gudang senjata ini dekat dengan markas Polisi Filipina di Camp Crame. "Kami mendapat laporan bahwa senjata-senjata ini dipasok ke kelompok Abu Sayyaf melalui sindikat perdagangan senjata gelap," kata Dela Rosa, di Markas Polisi Filipina Camp Crame, San Juan City.

Menurutnya, kotak-kotak yang berisi amunisi ini diberi label 'Gov't Arsenal DND," mengacu pada Departemen Pertahanan Nasional (DND) Filipina.

Dela mengatakan sebagian besar amunisi yang disita telah ditelusuri kembali ke gudang senjata milik pemerintah.

"Kami menduga bahwa mereka memiliki kontak dalam divisi persenjataan pemerintah. Karena anehnya, bagaimana semua amunisi ini bisa keluar dengan bebas jika mereka tidak memiliki kontak orang dalam," ungkapnya.

Operasi penemuan gudang senjata ini berasal dari penelusuran pihak Bareskrim Polisi Filipina (CIDG) sejak Juli lalu.

Saat itu, Isa dan seorang bernama Wahid, penduduk asli Indanan, Sulu, diketahui memasok senjata ke kelompok bandit Abu Sayyaf dan pimpinan perang di Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM).

Jalur distribusi senjata dimulai dari Manila ke Zamboanga, kemudian ke Jolo, Sulu, dengan menggunakan kendaraan SUV.

CIDG juga mengungkapkan bahwa pada Agustus, Isa, Wahid dan beberapa anggota Abu Sayyaf terendus berada di Manila untuk membeli peluncur granat M203 dan senapan M14, komponen bahan peledak serta ribuan amunisi, atas perintah dari komandan Abu Sayyaf.

"Kami menduga Abu Sayyaf kini memperkuat persenjataan mereka untuk melawan habis-habisan pasukan pemerintah di Sulu dan Basilan. Mereka juga mengintensifkan penculikan dan pemboman yang menjadi bagian dari operasi mereka," kata Dela Rosa. [yy/viva]

Gudang Senjata Abu Sayyaf Dekat Markas Polisi Filipina


Gudang Senjata Abu Sayyaf Dekat Markas Polisi Filipina


Fiqhislam.com - Kepolisian Nasional Filipina menemukan gudang senjata pemasok kelompok bandit Abu Sayyaf senilai 6 juta peso atau sekitar Rp1,64 miliar, di Provinsi Sulu, Filipina Selatan.

Melansir situs Inquirer, Selasa, 27 September 2016, di dalam gudang senjata, polisi menyita kotak-kotak berisi peluncur granat M203, senapan serbu M14 dan M16, serta ribuan amunisi.

Kepala Kepolisian Nasional Filipina, Ronald 'Bato' Dela Rosa, mengatakan seluruh senjata ini dipasok oleh Unding Kenneth Isa, mantan calon Wakil Gubernur Sulu yang kalah dalam pemilu kepala daerah Mei lalu, bersama tiga kaki tangannya di Barangay (Desa) West Crame, San Juan City, Sulu, pada Sabtu lalu.

Ironisnya, lokasi gudang senjata ini dekat dengan markas Polisi Filipina di Camp Crame. "Kami mendapat laporan bahwa senjata-senjata ini dipasok ke kelompok Abu Sayyaf melalui sindikat perdagangan senjata gelap," kata Dela Rosa, di Markas Polisi Filipina Camp Crame, San Juan City.

Menurutnya, kotak-kotak yang berisi amunisi ini diberi label 'Gov't Arsenal DND," mengacu pada Departemen Pertahanan Nasional (DND) Filipina.

Dela mengatakan sebagian besar amunisi yang disita telah ditelusuri kembali ke gudang senjata milik pemerintah.

"Kami menduga bahwa mereka memiliki kontak dalam divisi persenjataan pemerintah. Karena anehnya, bagaimana semua amunisi ini bisa keluar dengan bebas jika mereka tidak memiliki kontak orang dalam," ungkapnya.

Operasi penemuan gudang senjata ini berasal dari penelusuran pihak Bareskrim Polisi Filipina (CIDG) sejak Juli lalu.

Saat itu, Isa dan seorang bernama Wahid, penduduk asli Indanan, Sulu, diketahui memasok senjata ke kelompok bandit Abu Sayyaf dan pimpinan perang di Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM).

Jalur distribusi senjata dimulai dari Manila ke Zamboanga, kemudian ke Jolo, Sulu, dengan menggunakan kendaraan SUV.

CIDG juga mengungkapkan bahwa pada Agustus, Isa, Wahid dan beberapa anggota Abu Sayyaf terendus berada di Manila untuk membeli peluncur granat M203 dan senapan M14, komponen bahan peledak serta ribuan amunisi, atas perintah dari komandan Abu Sayyaf.

"Kami menduga Abu Sayyaf kini memperkuat persenjataan mereka untuk melawan habis-habisan pasukan pemerintah di Sulu dan Basilan. Mereka juga mengintensifkan penculikan dan pemboman yang menjadi bagian dari operasi mereka," kata Dela Rosa. [yy/viva]

Empat WNI Sandera Abu Sayyaf Diserahkan ke Keluarga

Empat WNI Sandera Abu Sayyaf Diserahkan ke Keluarga


Empat WNI Sandera Abu Sayyaf Diserahkan ke Keluarga


Fiqhislam.com - Empat warga negara Indonesia (WNI) yang berhasil dibebaskan dari kelompok penyandera Abu Sayyaf, telah diserahterimakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, A. M. Fachir kepada perwakilan keluarga masing-masing.

Keempatnya diserahkan kepada keluarga dengan disaksikan oleh perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur, Senin, 26 September 2016.

"Keempat WNI yang berprofesi sebagai nelayan ini tiba di tanah air pada Sabtu 24 September lalu dengan didampingi oleh staf Kementerian Luar Negeri," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, Selasa, 27 September 2016.

Keempat WNI yakni Lorence Koten, Theodorus Kopong dan Emanuel asal Flores Timur, serta Herman Manggak asal Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mereka merupakan nelayan yang bekerja di kapal ikan Malaysia dan diculik di perairan Malaysia.

Lorence, Theodorus dan Emanuel diculik di perairan Lahad Datu pada 9 Juli, sedangkan Herman Manggak diculik dari perairan Sandakan pada 3 Agustus lalu. Pihak Kemlu menegaskan bahwa seluruh proses serah terima dilakukan sesuai permintaan keluarga.

"Seluruh proses sejak diterima secara resmi dari Pemerintah Filipina hingga diserah terimakan kepada keluarga dilakukan sesuai dengan permintaan keluarga," ujar Iqbal.

Dengan pembebasan empat WNI tersebut, saat ini masih tersisa lima WNI lainnya yang masih di tangan dua kelompok penyandera yang berbeda di Filipina Selatan. Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk membebaskan 5 WNI tersebut. [yy/viva]

 

Tags: sayyaf | sandera