25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Ledakan Davao, Duterte Salahkan Abu SayyafFiqhislam.com - Pemerintah Filipina menyalahkan kelompok bersenjata Abu Sayyaf berada di balik ledakan Kota Davao, Sabtu (3/9). Ledakan terjadi ketika Presiden Rodrigo Duterte pulang kampung ke sana.

Sebanyak 13 orang telah dikonfirmasi tewas. Pada reporter, Duterte mengatakan polisi dan militer akan diizinkan melakukan tindakan untuk menghentikan aksi teror seperti ini.

"Ini bukan yang pertama kali Davao berkorban, sebelumnya selalu berhubungan dengan Abu Sayyaf," kata Duterte dikutip Aljazirah. Menurutnya, kelompok tersebut sedang memberi peringatan dan pemerintah siap menghadapinya.

Menteri Dalam Negeri Mike Sueno sebelumnya mengatakan pada radio lokal DZRH, kantornya mendapat informasi awal soal serangan Abu Sayyaf. "Iya kami sudah menduganya, dua atau tiga hari lalu, ada inteligen yang melaporkan rencana serangan," kata Sueno.

Siaran radio lain juga mengatakan, Juru bicara Abu Sayyaf telah mengonfirmasi klaim tersebut. Ledakan bom terjadi pada Jumat malam di pasar malam Davao, 960 km dari Manila. Lokasi dekat dengan hotel Marco Polo yang populer bagi turis dan pengusaha.

Duterte berada di Davao saat insiden. Ia dalam keadaan aman dan berada di kantor polisi setelah insiden. Putranya, Paolo Duterte adalah wakil wali kota Davao. Keluarga ini sangat populer di sana. Duterte juga menjabat sebagai wali kota selama 22 tahun sebelum melenggang ke istana pada Mei.

Davao berada di Mindanao, pulau selatan yang identik dengan kelompok gerilyawan Muslim bersenjata. Wilayah itu juga asal kelompok Abu Sayyaf yang mengklaim ikatan dengan ISIS. Abu Sayyaf terkenal karena sering melakukan penculikan untuk meminta tebusan.

Meski rumah bagi kelompok-kelompok bersenjata, sebagian besar wilayah di sana aman. Duterte disebut berhasil mentransformasi Davao dari kota tak kenal hukum jadi penghubung komersil yang memiliki banyak pusat dan layanan bisnis. [yy/republika]

Ledakan Davao, Duterte Salahkan Abu SayyafFiqhislam.com - Pemerintah Filipina menyalahkan kelompok bersenjata Abu Sayyaf berada di balik ledakan Kota Davao, Sabtu (3/9). Ledakan terjadi ketika Presiden Rodrigo Duterte pulang kampung ke sana.

Sebanyak 13 orang telah dikonfirmasi tewas. Pada reporter, Duterte mengatakan polisi dan militer akan diizinkan melakukan tindakan untuk menghentikan aksi teror seperti ini.

"Ini bukan yang pertama kali Davao berkorban, sebelumnya selalu berhubungan dengan Abu Sayyaf," kata Duterte dikutip Aljazirah. Menurutnya, kelompok tersebut sedang memberi peringatan dan pemerintah siap menghadapinya.

Menteri Dalam Negeri Mike Sueno sebelumnya mengatakan pada radio lokal DZRH, kantornya mendapat informasi awal soal serangan Abu Sayyaf. "Iya kami sudah menduganya, dua atau tiga hari lalu, ada inteligen yang melaporkan rencana serangan," kata Sueno.

Siaran radio lain juga mengatakan, Juru bicara Abu Sayyaf telah mengonfirmasi klaim tersebut. Ledakan bom terjadi pada Jumat malam di pasar malam Davao, 960 km dari Manila. Lokasi dekat dengan hotel Marco Polo yang populer bagi turis dan pengusaha.

Duterte berada di Davao saat insiden. Ia dalam keadaan aman dan berada di kantor polisi setelah insiden. Putranya, Paolo Duterte adalah wakil wali kota Davao. Keluarga ini sangat populer di sana. Duterte juga menjabat sebagai wali kota selama 22 tahun sebelum melenggang ke istana pada Mei.

Davao berada di Mindanao, pulau selatan yang identik dengan kelompok gerilyawan Muslim bersenjata. Wilayah itu juga asal kelompok Abu Sayyaf yang mengklaim ikatan dengan ISIS. Abu Sayyaf terkenal karena sering melakukan penculikan untuk meminta tebusan.

Meski rumah bagi kelompok-kelompok bersenjata, sebagian besar wilayah di sana aman. Duterte disebut berhasil mentransformasi Davao dari kota tak kenal hukum jadi penghubung komersil yang memiliki banyak pusat dan layanan bisnis. [yy/republika]

12 Orang Tewas Akibat Ledakan di Davao

12 Orang Tewas Akibat Ledakan di Davao


Sebuah ledakan membunuh 12 orang di kota kelahiran Presiden Filipina Rodrigo Duterte di selatan kota Davao. Ledakan yang mematikan itu terjadi pada Jumat, (2/9) di sebuah jalan di luar hotel Marco Polo.

Seorang mahasiswa di Universitas Davao John Rhyl Sialmo mengatakan, saat itu ia dan teman-temannya sedang berkumpul. "Kemudian tiba-tiba kami mendengar ledakan yang sangat keras, awalnya kami berpikir itu suara bom," katanya dilansir Reuters.

Setelah itu, lanjutnya, ia melihat sejumlah laki-laki dan perempuan berdarah-darah dan mencari pertolongan. Juru Bicara Kepresidenan Filinan Ernesto Abella mengatakan, ledakan itu membunuh sedikitnya 12 orang. Sedangkan 60 orang mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.

Polisi sudah membawa sedikitnya 30 orang yang terluka untuk di bawa ke rumah sakit. Kepala Polisi Wilayah Manuel Guerlan menambahkan, saat ini pihaknya sedang menyelidiki apa penyebab ledakan yang mematikan tersebut. "Kami  meminta orang untuk lebih berhati-hati dan waspada," ujarnya. [yy/republika]

Duterte: Berantas Kekerasan tanpa Dibatasi Hukum

Duterte: Berantas Kekerasan tanpa Dibatasi Hukum


Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan tanpa dibatasi aturan hukum menyusul ledakan di sebuah pasar di Davao City yang menewaskan 14 orang pada Jumat malam, 2 September 2016. Davao City merupakan kampung halaman Duterte.

Duterte, mantan Wali Kota Davao selama lebih dari dua dekade, mengatakan ledakan terjadi di luar Hotel Marco Polo. Ini merupakan kejadian yang luar biasa di Filipina dan pasukan keamanan akan melipatgandakan upaya untuk mengatasi kejahatan, peredaran narkoba, dan pemberontakan.

"Saya harus menyatakan keadaan tanpa hukum di negara ini, namun ini bukan darurat militer," kata Duterte tanpa menjelaskan lebih rinci maksud pernyataannya, seperti dikutip dari Channel News Asia pada 3 September 2016.

Duterte berada di satu pertemuan sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Davao ketika ledakan terjadi. Menyusul ledakan tersebut, presiden berusia 71 tahun itu lantas membatalkan perjalanan ke Brunei Darussalam yang akan menjadi kunjungan luar negeri pertamanya sebagai presiden.

Ledakan tersebut datang setelah Duterte mengkampanyekan sejumlah upaya tanpa kompromi dalam memberantas gembong narkoba, pemberontak Islamis, dan birokrat yang korup.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab terkait dengan ledakan yang terjadi di depan hotel yang menjadi langganan Duterte menginap saat kampanye pemilihan presiden pada Mei lalu itu. Namun pihak berwenang telah menaruh kecurigaan terhadap kelompok militan Islam dalam negeri sebagai pelaku.

Polisi mengatakan 69 orang terluka di samping 15 orang yang meninggal disebabkan ledakan yang terjadi sekitar pukul 22.30 waktu setempat di Pasar Roxas yang terletak di luar Marco Polo Hotel.

Polisi belum mengungkapkan rincian dari penyelidikan awal mereka, tapi Wali Kota Davao Sarah Duterte mengatakan dalam sebuah wawancara televisi bahwa ledakan itu berasal dari bom. [yy/tempo]