30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Warga Meksiko tak Pedulikan Trump

Warga Meksiko tak Pedulikan Trump


Fiqhislam.com - Calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Donald Trump telah bertemu dengan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, Rabu (31/8) kemarin. Namun, pertemuan itu tampaknya tidak berkesan apapun bagi warga di Meksiko. 

Setelah bertemu di Ibu Kota Meksiko City, banyak warga yang terlihat acuh tak acuh dengan kedatangan Trump. Demikian saat miliarder itu menyelesaikan pertemuan. 

Salah satu warga Meksiko bernama Alenjandra Davila Franco mengatakan dirinya tidak menyukai Trump. Menurutnya, hal itu juga dirasakan oleh banyak orang lainnya di negara itu. "Trump merencanakan pembangunan dinding yang buruk dan ingin mengirim imigran asal negara kami kembali," ujar Alejandra, dilansir NBC News, Kamis (1/8). 

Warga Meksiko lainnya, Yavira, juga menyampaikan ketidaksukaan terhadap Trump yang berencana membangun dinding pembatas di sepanjang garis perbatasan AS dengan Meksiko. Ia mengatakan, hal itu hanya menyebabkan hubungan dan batas yang semakin jauh di antara dua negara. "Dia (Trump) ingin membangun dinding pembatas sehingga kami yang ada di sini tak bisa pergi ke AS," ujar Yavira. 

Kedua warga Meksiko sependapat bahwa Trump sangat arogan. Bahkan, mereka merasa seperti melihat kebangkitan diktator yang hendak menguasai dunia. 

Banyak warga Meksiko yang selama ini melakukan perjalanan ke AS untuk mencari pekerjaan. Namun, pandangan Trump kepada mereka seolah merendahkan. "Cara Trump berbicara tentang orang Meksiko yang seolah menjadi imigran ilegal, ini menyedihkan," ujar warga lainnya, Maria Lopez. 

Trump sebelumnya mengatakan Meksiko harus membiayai secara keseluruhan pembangunan dinding perbatasan. Menurutnya, pembangunan dinding perbatasan bertujuan untuk keamanan penuh bagi AS. Ia juga menegaskan adanya kemungkinan jutaan imigran ilegal dideportasi dr AS, jika terpilih menjadi orang nomor satu di Negeri paman Sam itu. [yy/republika]

 

Tags: TRUMP | HILLARY | CLINTON